
Yera membatu dalam rangkulan Noel. Perempuan itu hampir tak bergerak sama sekali karena takut membuat Noel terjaga. Semalaman ia tak tidur sama sekali. Menjelang pagi, secara tak sadar Yera tertidur hingga tidak mengetahui Noel telah bangun.
Pria itu hanya tersenyum menatap Yera yang tak sadarkan diri sama sekali. Bahkan ketika Noel bangkit dari sana Yera sama sekali tak terusik. Rasa sakit di kepala Noel bisa terabaikan dengan menatap perempuan yang ia anggap istrinya itu. Ia pun pergi ke kamar mandi. Seusai mandi Yera masih juga tak terjaga. Pria itu lagi-lagi hanya tersenyum sembari meninggalkan kamar itu.
*
Cahaya matahari yang masuk lewat celah tirai yang menutupi jendela membangunkan Yera dari tidurnya. Sadar sesuatu, Yera bergegas bangun. Kamar itu kosong. Ke mana pria itu?
Pertanyaan itu dengan segera terjawab karena Noel tiba-tiba masuk ke kamar itu.
"Syukurlah kau sudah bangun. Aku khawatir karena hari hampir siang dan perutmu belum terisi," ujarnya seraya melangkah menuju lemari. Noel mengambil handuk dari sana lalu mendatangi Yera yang masih terdiam tanpa berani menatapnya.
"Mandilah, setelah itu makan. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita," ujar Noel sembari menudungkan kepala Yera dengan handuk tadi.
"Aku tunggu di meja makan," ujarnya lagi seraya keluar dari sana.
Yera memejamkan matanya seraya memijit keningnya sendiri. Harga dirinya sebagai wanita serasa patah mengetahui seorang pria bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Padahal dirinya tak memiliki pekerjaan apa pun yang menjadikan lelah sebagai alasan untuk bangun siang sampai seorang pria menyiapkan sarapan. Kali ini Yera benar-benar malu dengan dirinya sendiri.
*
"Maaf ... biar aku yang menyiapkan makanan setelah ini," ujar Yera setiba di meja makan.
Perempuan itu baru selesai mandi dan berpakaian.
"Kenapa kau meminta maaf?" ujar Noel seraya mengambil nasi dan meletakan piring tadi di hadapan Yera.
"Kau tak perlu melakukan ini!" Yera tiba-tiba bangun lantaran terkejut dengan perlakuan Noel.
"Kenapa?" Tanya Noel bingung.
"Aku benar-benar tidak nyaman, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku bisa mengambilnya sendiri.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang kuimpikan selama ini. Memiliki keluarga sendiri di rumah.
Aku selalu ingin melakukan semua ini. Melakukan apa yang selayaknya dilakukan sesama keluarga di rumah. Kau tak perlu khawatir. Aku sedang menikmati impian itu sekarang," ujar Noel seraya tersenyum tulus.
Yera menatapnya tak percaya.
"Biasanya aku melakukan hal ini pada Chen juga Baekhyun. Jika di masa lalu hanya mereka yang aku punya. Sekarang aku memilikimu di rumah ini, di rumahku sendiri. Rasanya sangat sempurna," ujar Noel seraya memejamkan matanya.
Dada Yera terasa sesak akan ledakan perasaan yang sebisa mungkin ia tahan. Entah kenapa ia menyesal pernah berpikiran buruk pada pria ini. Jika kisah masa lalu Noel kemarin sempat membuat Yera simpati. Entah kenapa pengakuan Noel kali ini meremas perasaannya. Entah kenapa ia terluka dan hancur mendengarnya. Yera terlalu larut dalam kesengsaraannya sendiri juga kebenciannya sehingga tak menyadari ada yang merasa hidup dengan kehadirannya.
A
"Akh ... makanlah ... kau ingin sayur apa? Lauk apa?"
"Aku, aku akan mengambilnya sendiri," ujar Yera lagi
***
26 panggilan tak terjawab ...
Baekhyun menghela nafasnya, lelah. Meski bertolak belakang dengan batinnya sendiri yang sebenarnya gundah. Baekhyun masih mencoba tersenyum. Ia mencoba menegarkan hatinya.
"Maaf ... aku sedang sibuk latihan untuk penampilanku minggu depan. Ada apa meneleponku?"
"Kau masih bertanya ada apa?" Suara Mory merengek kesal. "Kau bahkan tak punya waktu untukku. Tidak bisakah mengurangi jadwalmu dan membagi waktu untuk kita? Kau bisa mengatur ulang jadwalmu bukan?"
"Jika aku mengatur ulang jadwalku, akan banyak yang kecewa padaku."
"Kau memikirkan perasaan mereka, tapi tidak memikirkan perasaanku. Bahkan saat aku sakit pun aku harus mengutus diriku sendiri."
"Kau sakit? kenapa tidak mengabariku?"
"Bagaimana aku mengabarimu? Menghubungimu saja susah."
"Apa kau masih sakit, aku ... aku akan menemuimu nanti malam."
"Akh ..." keluh Mory.
"Maafkan aku. Jadwalku terdaftar hingga 3 bulan ke depan. Setelahnya aku akan mengaturnya agar ada waktu kosong untuk bisa bersamamu. Aku akan menemui malam nanti "
"Terserah kau saja. Aku juga tidak begitu berharap." ujar Mory seraya memutuskan sambungan teleponnya.
"Akh ..." Baekhyun menyandarkan keningnya ke dinding.
Bukankah seharusnya ia lebih bersemangat dan bahagia setelah mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. Tapi kenapa keadaan malah jadi serumit ini.
*
Baekhyun menyambar gelas anggur yang dipegang Mory, lalu meletakkannya di meja.
"Apa yang kau lakukan?! Kau bilang kau sakit! Kenapa kau malah minum?!"
"Apa pedulimu? Aku sakit, aku sendiri yang merawat diriku? Kenapa kau marah-marah," jawab Mory sembari duduk di kasurnya.
Baekhyun menghampiri Mory dan menyentuh kening perempuan itu dengan tapak tangannya. Namun, dengan cepat pula Mory menepisnya.
"Aku sudah tidak sakit lagi, tapi hatiku yang sakit."
"Aku tidak bisa mengubah jadwalku saat ini. Aku akan memberi jeda untuk jadwalku dikemudian hari agar bisa bersamamu. Aku akan menemanimu ke mana pun kau mau."
"Berapa lama yang bisa kau berikan? Sehari? Dua hari? Lebih baik tidak usah! Kau urus saja pekerjaanmu!"
"Kenapa kau jadi seperti ini?"
"Kau menyahkanku?"
__ADS_1
"Dahulu kau tak seperti ini! Kau tidak menuntut apa pun dariku karena kau sudah paham keadaanku? Kenapa sekarang kau bersikap seakan tak mengerti?!"
"Perempuan mana yang sanggup menjalin hubungan seperti ini. Pacaran diam-diam, bahkan bertemu saja susah!"
"Jika penggemarku tahu kita menjalin hubungan, sesuatu bisa saja terjadi padamu. Apa kau tidak takut itu?"
Mory terdiam sejenak ... "Apa di masa depan aku akan benar-benar menjadi milikmu?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Jika tidak, aku tidak mungkin melakukan semuanya untukmu."
"Kalau begitu tidurlah di sini malam ini. Tidur denganku!"
"Apa!?" Baekhyun menatap Mory tak percaya.
Mory membuka pakaian tidur berbentuk kimono yang ia kenakan. Nyatanya ia tak menggunakan apa pun di tubuhnya.
Baekhyun tersentak bangun lalu memalingkan tubuhnya.
"Kenakan itu sekarang!!"
"Kenapa? Kau tak mau?" Tanyanya seraya melepas kimononya. Ia berjalan perlahan mendekati Baekhyun yang masih membelakanginya.
"Aku tidak bisa. Tolong kenakan itu sekarang."
"Aku tidak mau. Aku menginginkan itu sekarang." Mory menyandarkan keningnya di pundak punggung Baekhyun. Kedua tangannya merayap ke bagian depan tubuh Baekhyun dengan perlHan melepas jaket yang Baekhyun kenakan.
"Baekhyun memejamkan matanya. Pria itu membiarkan Mory melakukan keinginannya. Baekhyun akhirnya turun tangan membuka jaketnya sendiri jaketnya lalu melepadnya. Dengan gerak cepat ia berbalik menutup tubuh kekasihnya itu dengan jaket itu.
"Kau baik-baik saja bukan? Aku harus pergi," pamitBaekhyun sembari meninggalkan perempuan itu.
*
Kepala Mory hampir meledak karena amarah. Ia merasa terhina dengan sikap Baekhyun. Pada akhirnya perempuan itu hanya bisa menangis di kamarnya.
Ia mengambil handphonenya. Ia butuh seseorang saat ini. Butuh seseorang yang ia pikir paling bisa mengobati perasaan sakit di hatinya kini.
*
"Ada apa?"
"Kau sibuk?"
"Kau menangis?"
"Bisakah kau datang ke tempatku sekarang. Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa."
Noel terdiam sejenak. Biar bagaimanapun, Mory adalah kekasih sahabatnya sendiri sekaligus temannya.
"Baiklah ... aku akan ke sana."
Noel mematikan sambungan teleponnya. Ia mengetikan sebuah pesan di handphonenya.
"*(sayang ... aku akan pulang telat. Mory menghubungiku sambil menangis. Sepertinya ada masalah Aku akan ke sana melihatnya sebentar. Aku mencintaimu)" Noel mengirim pesan itu sembari tersenyum.
***
Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatian Yera dari kesibukannya di dapur. Perempuan itu heran. Tak biasanya pula Noel mengetuk pintu seperti ini. Ia meninggalkan pekerjaannya dan bergegas membuka pintu. Chen ada di sana, dan tersenyum menatap Yera yang terkejut menatapnya. Sedikit ketakutan menghampiri perasaan perempuan itu. Ia sendirian, dan Chen mampir malam-malam begitu.
"Bolehkah aku masuk?" Tanyanya seraya tersenyum lagi pada Yera.
"Akh ... iya," Yera tergagap.
"Kau sedang masak?" Tanya Chen yang mencium aroma masakan.
"Iya ..."
Chen tersenyum lagi. Tanpa menunggu dan bertanya tentang keberadaan Noel. Ia langsung duduk di ruang tamu.
"Masakanmu sudah selesai?"
Yera mengangguk. Pekerjaannya memang sudah selesai. Ia hanya perlu menghidangkannya saja.
"Kau baik-baik saja semalam?"
Yera terdiam... wajahnya perlahan memerah. Ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Chen yang serasa memeriksa perasaannya itu.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kau pasti mendatanginya."
Akh ia... itu tak sepenuhnya salah Chen. Sebagian besar adalah salahnya sendiri karena nekat mendatangi Noel yang mabuk. Untung saja itu hanya ciuman.
"Tapi sepertinya kalian baik-baik saja. Kurang bahkan memasak makan malam. Aku senang kau mulai menerimanya. Aku berharap kehadiranmu bisa mengubahnya. Membuatnya meninggalkan pekerjaan itu. Memiliki keluarga adalah impiannya. Aku dan Baekhyun bagian dari mimpinya yang terwujud. Hanya tentu belum lengkap tanpa kehadiran seorang wanita di sisinya. Mungkin kau bisa mengubah pola pikirnya yang salah.
"Jangan terlalu berharap padaku. Rasanya itu mustahil terjadi. Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Apalagi berniat ikut campur urusan hidupnya. Aku di sini karena janji. aku di sini karena tidak ada tempat untuk berlindung lagi. Suatu saat nanti, bila aku tak diperlukan lagi. Aku juga akan dibuang dari sini."
"Kalau aku tidak salah, bukanlah seperti itu yang kuketahui.
Masalah perasaanmu, jika Noel bisa menaklukkan banyak wanita di luar sana, maka itu tidak menutup kemungkinan akan berlaku padamu."
"Itu karena mereka membutuhkannya. Mereka menyukai sentuhan itu."
"Kau juga banyak berubah semenjak pertama tinggal di sini. Dahulu kau membencinya sampai ingin bunuh diri. Setelahnya, ada begitu banyak kesempatan untuk kabur tapi kau tidak mengambil kesempatan itu. Kau bahkan menyiapkan makan malam untuknya."
"Itu ... sudah kubilang aku punya janji yang harus kutepati. Aku hidup menumpang di sini dan bergantung padanya, tidak mungkin aku tak melakukan apa-apa."
"Benarkah?"
"i ... iya ... " jawab Yera ragu. Kenapa ia jadi ragu sendiri
__ADS_1
"Baiklah ..."
Suara notifikasi handphone terdengar nyaring dan panjang. Yera dan Chen terkejut.
"Kau punya handphone?"
Yera menggeleng, "Mungkin itu punya Noel."
"Setahuku Noel hanya punya satu handphone. Coba kau cek."
Yera menurut. Perempuan itu bergegas menuju kamar yang menjadi asal suara tadi. Noel memang sengaja menyetel suaranya sampai volume tertinggi agar Yera mendapati kejutannya.
Tak lama, Yera kembali ke ruang tamu dengan handphone di tangannya. Ia menyerahkan handphone tadi ke pada Chen.
"Buka saja "
"Aku tidak berani."
"Hanya membukanya saja, itu tidak jadi masalah."
Yera menurut. Sebuah pesan dari seseorang yang di Noel beri nama 'My love'.
"Itu dari kekasihnya. Aku tidak ingin membacanya," ujar Yera seraya memberikan handphone tadi pada Chen.
"Dia tidak punya kekasih."
"Lalu kenapa pengiri pesan itu ia beri nama 'my love'?"
Chen mengalah dan mengambil handphone tadi dari tangan Yera.
Pria itu tersenyum sendiri setelah memeriksanya. '
sayang ... aku akan pulang telat. Mory menghubungiku sambil menangis. Sepertinya ada masalah aku akan ke sana melihatnya sebentar. Aku mencintaimu.'
"Ini nomor handphone Noel. Pesan ini untukmu. Di sini juga ada fotonya. Coba kau lihat, " ujar Chen seraya menyerahkan handphone tadi.
Yera menerimanya dengan ekspresi tak percaya. Setelah memeriksanya sendiri perkataan Chen tadi. Wajahnya memerah menahan malu.
Yera memeriksa kontaknya juga. Hanya ada dua nama di sana : My love dan dokter Chen.
"Berikan padaku, kau harus menyimpan nomorku juga," ujar Chen sembari mengulurkan tangannya.
"Dia ... dia sudah menyimpan nomormu di sini. Hanya ada dua kontak di sini," jawan Yerasembari menyerahkan handphone tadi.
Chen memeriksanya, dan menghubungi kontaknya sendiri. Handphone tadi ia kembalikan pada Yera.
"Hubungi aku bila terjadi sesuatu. Karena kau bagian dari Noel, maka kau termasuk pasien pribadiku juga," ujar Chen.
***
Mory memeluk erat tubuh Noel ketika pria itu tiba di apartemennya. Ia menangis terisak di sana dan Noel hanya bisa mengelus lembut kepalanya, berupaya menenangkan perempuan itu.
"Bisakah kita duduk dulu. Kau juga akan kelelahan jika terus begini."
Perempuan itu menurut dan mempersilahkan Noel duduk di kursi tamunya. Ia juga duduk rapat di sisi Noel seraya menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Dia meninggalkanku begitu saja tadi. Padahal belum beberapa menit kami bertemu hari ini."
"Pasti ada alasan kenapa dia meninggalkanmu tiba-tiba."
"Aku lelah seperti ini terus. Dia tak pernah punya waktu untukku."
"Jadwalnya memang padat. Aku bahkan kesulitan untuk bertemu dengannya. Kalaupun ada waktu, paling cuma se jam."
Noel tak mau menyinggung soal jadwal Mory yang jauh berkurang dibandingkan dahulu. Setelah kasus pemerkosaan itu. Popularitas Mory sempat naik, namun secara perlahan menurun lagi hingga ia lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen ketimbang menjadi pengisi acara. Hal itulah yang membuat intensitas pertemuannya dengan Baekhyun juga berkurang. Dahulu mereka kerap berada di tempat kerja, atau bertemu karena menghadiri acara yang sama. Kini hal itu agak jarang terjadi. Dan mory juga frustasi karena itu.
"Mory ... cobalah untuk mengerti. Apa pun yang ia lakukan saat ini adalah demi masa depan kalian juga. Andai pun ia tahu keadaannya akan seperti ini. Dia pasti akan membagi waktunya untukmu. Cobalah bersabar beberapa bulan saja. Kelak di masa depan kalian juga akan selalu bersama bukan?"
"Aku tidak tahu itu, aku juga ragu," ujar mory seraya menegakkan tubuhnya. Perempuan itu mengambil gelas minumannya sendiri lalu meneguk isinya.
"Kau tidak boleh ragu karena keraguan bisa mengikis kepercayaan juga kesetiaan. Kau harus percaya dan menyemangatinya karena dari sanalah kekuatan cinta itu."
"Terima kasih. Aku merasa beruntung memiliki sahabat sepertimu. Aku merasa lega sekarang.
Ah ... minumlah sebelum pergi," ujar Mory seraya menuangkan anggur ke gelas yang masih kosong.
Noel mengangguk. Ia mengambil gelasnya tanpa menyadari senyum penuh kemenangan mengambang di wajah Mory.
Namun baru saja gelas itu menyentuh bibir Noel, handphone yang tersembunyi di saku jaketnya berbunyi. Noel buru-buru meletakan gelasnya di meja untuk mengambil handphonenya.
Nama Baekhyu muncul layar handphonednya.
"Ada apa?"
"Aku tidak menemukan Chen di rumahnya, jadi aku ke rumahmu sekarang. Kau ada di sana bukan?" Suara Baekhyun terdengar seperti sedang mabuk.
"Apa?!!" Noe lseketika bangun dari tempat duduknya. Lututnya menghantam sisi meja dan membuat gelasnya tadi tumbang menumpahkan isinya.
"Tunggu! Aku ... aku akan segera ke sana," Noel memutuskan panggilannya.
"Maaf, sepertinya aku harus segera pulang. Aku harap kau akan baik-baik saja setelah ini."
Mory hanya menggangguk sembari tersenyum penuh dusta.
Sepeninggalan Noel, perempuan itu melempar gelasnya sendiri ke dinding hingga pecah berderai.
__ADS_1
Rencananya gagal malam itu.