Pria Penghibur

Pria Penghibur
4. Menyerahkan Diri


__ADS_3

"Malam ini ...


Malam ini aku akan menemuinya dan mengatakan semuanya."


***


Noel mengenakan apa pun pada tubuh Yera yang dapat menyamarkan penampilan perempuan itu. Raut wajah yang penuh pengharapan tampak di wajah Yera, dan Noel hanya tersenyum kecut melihat ekspresi itu sembari menyerahkan masker penutup muka pada Yera.


Tanpa kata-kata ajakan, Noel melangkah lebih dahulu meninggalkan Yera. Sampai akhirnya perempuan itu menyadari, dan berlari kecil membuntuti pria itu.


***


Di tempat yang sudah dijanjikan, Baekhyun sudah menununggu. Sebuah tempat dengan pemandangan alam yang tidak terlihat karena gelapnya malam. Hanya lampu perkotaan yang tampak berkelap-kelip di kejauhan sana. Tidak ada siapa pun di sana karena rumah dan lingkungan itu milik pribadi Chen sendiri. Chen sengaja membangun tempat itu sebagai tempat bersantai atau sekedar menenangkan diri.


Baekhyun tidak menyadari kehadiran mereka. Ia tampak asyik menikmati pemandangan di depannya sembari menikmati minumannya. Noel menggenggam tangan Yera dan membawanya perlahan mendekat.


"Aku akan masuk ke sana. Kau mendengarkan kami dari sini saja," bisik Noel pada Yera.


Noel melangkah menghampiri Baekhyun yang tampak terkejut dengan kehadirannya.


"Aku tidak mendengar suara langkahmu."


"Itu karena kau asyik dengan lamunanmu."


"Aku tidak melihat Chen."


"Dia pasti sibuk bekerja sekarang," jawab Noel sembari menuangkan minuman ke gelasnya lalu meminumnya.


"Kenapa kau mengajakku bertemu di sini?"


"Ada yang ingin kusampaikan tentang Mory."


"Apa dia marah karena kau membawa Yera bersamamu?"


"Tentu saja. Dia menghubungiku beberapa hari kemudian. Tapi aku tidak akan membiarkannya mencampuri urusan hidupku."


"Lalu apa yang ingin kau sampaikan tentang Mory?"


"Aku pernah tidur dengannya," Jawab Noel tanpa ragu sama sekali.


Baekhyun terkejut, tapi ia berupaya menyembunyikannya.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


"Aku harus menjaga privasi orang-orang yang kulayani. Aku mengatakannya agar ini tak kan jadi masalahmu di kemudian hari. Kau sahabatku, dan aku pelakunya. Aku merasa terbeban jika harus menyembunyikan ini sampai akhir."


"Kalau begitu, simpan ini sampai akhir."


Noel heran mendapati reaksi Baekhyun yang tampak tenang. Bahkan tanpa kemarahan sedik pun.


"Kau tak marah sama sekali. Aku terkejut."


Baekhyun tak mengatakan apa pun. Tapi jelas ia terlihat tak setenang tadi. Sejujurnya ia sudah mengetahui hal itu dari orang lain. Tapi Baekhyun mencoba untuk tidak mempercayainya. Sekarang ia mendengar sendiri hal itu dari Noel. Satu hal yang membuat Baekhyun kecewa adalah tidak jujuran perempuan itu.


"Atau jangan-jangan kau sudah tahu?" tebak Noel sembari menatap Baekhyun.


Baekhyun hanya menunduk


"Kau sudah mengetahuinya? Sejak kapan? Apa Mory sendiri yang memberitahumu?"


"Aku tahu dari teman dekatnya sendiri. Kau juga pernah berkencan dengannya."


"Baguslah jika kau sudah tahu. Itu artinya kau menerima Mory apa adanya. Aku yakin dia juga tak punya keberanian untuk jujur padamu. Dia takut kehilanganmu."


"Aku rasa begitu. Dia pasti mengatakan yang sebenarnya suatu saat nanti."


"Apa itu penting bagimu?"


"Ya, karena itu yang paling mengganjal di hatiku. Aku ingin dia jujur bahkan tentang hal terburuk sekalipun. Aku ingin memahami dan menerimanya."

__ADS_1


"Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Kau sudah punya sesuatu yang kau pahami seutuhnya, tapi kau membuangnya begitu saja."


"Aku juga tidak mengerti. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan perasaanku. Aku jatuh hati pada wanita lain.


Aku jatuh hati sampai aku tidak peduli dengan keburukkan yang ia sembunyikan.


Aku juga bosan.


Aku tidak tahu .... Aku hanya bosan dengannya, juga hubungan kami.


Dan sekarang aku membencinya karena ..." Baekhyun tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Kau tak bisa menyalahkannya. Polisi bahkan tak menemukan kesalahannya."


"Lalu bagaimana ia bisa bertemu dan mengenal Yera. Kecemburuan bisa saja membuatnya nekat melakukan apa pun."


"Kau yakin? Kau lebih mengenalnya dibandingkan Mory."


"Manusia bisa saja berubah karena keadaan."


"Akh baiklah ... Tidak ada gunanya mendebatkan ini. Kita punya sudut pandang yang berbeda, dan tidak tahu mana yang benar. Ini tidak akan ada akhirnya.


Kau masih ingin di sini?"


"iya," jawab Baekhyun pendek.


"Aku pergi dulu."


*


Yera sudah tak berada di tempatnya tadi. Entah sejak kapan dia pergi. Noel hanya menghela nafasnya. Kesal juga kecewa. Tentu saja Yera mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Noel berusaha untuk tidak peduli. Masih banyak gadis-gadis di luar sana yang bisa ia miliki tanpa susah payah. Kenapa harus mempertahankan satu perempuan hanya karena ia menjadi yang pertama tidur dengan perempuan itu.


"Dia menghilang?" Chen bertanya tak percaya. "Bagaimana bisa?"


"Dia berjanji akan menyerahkan diri seutuhnya padaku dengan syarat; aku harus mengatakan rahasia Mory pada Baekhyun. Agar ia mendengar sendiri tanggapan Baekhyun, aku membawanya, dan memintanya menunggu di luar sementara aku berbicara pada Baekhyun. Tanpa diduga Baekhyun ternyata sudah tahu lebih dahulu rahasia itu. Setelah pembicaraan kami selesai, aku keluar dan Yera tidak ada di tempatnya."


"Kenapa dia pergi? Bukankah aku tampan? Bahkan artis-artis itu menyukaiku."


"Haaaaa ... Apa kau pikir Baekhyun itu biasa saja? Kalian sama saja, tapi Baekhyun punya kelebihan dibandingkan dirimu. Dia seorang artis yang penampilannya selalu menarik perhatian banyak orang. Jadi pria sepertimu tidak ada apa-apanya bagi Yera. Terlebih pekerjaanmu itu. Lagi pula tak semua wanita itu langsung tertarik padamu. Sebelumnya, kau juga mesti tebar pesona bukan? Kenapa kau tak berbuat hal yang sama pada Yera? Kau pikir dia langsung jatuh hati padamu? Karena itu kau langsung menyerangnya? Sekarang ia kabur karena takut padamu.


Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Masih banyak gadis-gadis lain di luar sana yang bisa kau miliki tanpa susah payah.


Tanpa harus mencari pun mereka datang sendiri padamu. Kau hanya tinggal memilihnya.


Noel mengangguk. Namun ia tak bisa menyangkal perasaannya sendiri yang masih memikirkan Yera. Yang akan ia lakukan sekarang adalah berusaha melupakan perempuan itu. Ia tidak mau bersusah payah mencarinya lagi.


"Sesuatu yang memang diperuntukkan untukmu akan diberikan untukmu. Jadi, santai saja. Jangan terlalu dipikirkan," nasehat Chen.


***


Yera duduk diam sembari menyaksikan berita di layar besar di depannya. Setiap hari rumah kontrakannya didatangi penggemar Mory yang tidak terima dengan keputusan polisi yang membebaskan Yera. Polisi juga dibuat sibuk dengan penggemar Mory yang berbuat ulah di depan kontrakan Yera. Beberapa dari penggemar itu ditangkap polisi karena dianggap telah mengganggu ketenteraman lingkungan tempat Yera tinggal. Sementara Yera sendiri diduga bersembunyi kerena merasa terancam dengan ulah penggemar itu."


Layar itu menunjukkan Mory yang tampak sedih dengan ulah penggemarnya.


"Polisi sudah berusaha keras menemukan bukti, dan kenyataannya dia memang tak bersalah sama sekali. Ini hanya kesalah pahaman, dan kebetulan dia yang menjadi sasarannya. Tapi kenyataannya ia tak melakukan itu sama sekali. Ini salahku juga karena mabuk saat itu, dan ... " Mory tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Aku mohon jangan lakukan tindakan apa pun lagi setelah ini. Aku akan baik-baik saja bila kalian tidak melakukannya lagi. Aku merasa sedih mendengar sampai ada yang ditahan polisi demi membelaku. Jika ini terus terjadi, ini hanya akan membuatku sakit. Jadi sekali lagi aku mohon. Jangan lakukan ini lagi ya?"


Air mata Yera mengalir di pipinya. Mory pandai memutar balikan keadaan. Wajar saja, dia seorang artis yang dicintai banyak orang. Sementara dirinya?


Satu lagi beban perasaan ditambahkan padanya. Hati Yera serasa tak berbentuk lagi. Di tempat yang jauh dari keramaian Yera berusaha menenangkan dirinya. Setelah puas. Yera melangkah menyusuri jalanan perkotaan dengan segala kekacauan perasannya. Yera berjalan menuju tempat di mana ia harus kembali menempati janjinya.


***


Menjelang siang Noel terbangun dari tidurnya. Seketika kehampaan memeluk perasaannya. Perempuan yang ia urus selama ini sudah tidak ada lagi. Noel meraup wajahnya sendiri, seakan dengan demikian ia bisa menghapus Yera dari pikirannya.


Noel bangun. Saat membuka kulkasnya Noel menyadari tidak ada satu pun yang bisa ia temukan untuk mengobati rasa laparnya saat ini. Noel juga membuka lemari di dapurnya, namun tak mendapatkan apa-apa juga. Perasaan Noel makin kacau. Ia memijit keningnya sendiri. Seakan hal itu bisa mengurangi beban pikirannya. Dengan terpaksa Noel pun harus keluar rumah. Siapa tahu keresahannga bisa sedikit berkurang, atai mungkin ia menemukan Yeta. Akh ... apa yang akan ia lakukan? Menyeretnya kembali ke rumah? Rasanya Noel tidak sudi lagi melakukan itu. Kabur diam-diam merupakan suatu penghinaan bagi Noel sendiri. Untuk apa dirinya menahan perempuan seperti itu.


*

__ADS_1


Jalanan menuju rumah Noel memang terbilang sangat sepi. Jarang ada kendaraan yang lewat karena hanya ada beberapa bangunan yang ada di sana termasuk rumah Noel sendiri. Lingkungan masih didominasi hutan yang luas. Lokasinya terutama rumah Noel sendiri berada cukup jauh dari perkotaan. Mungkin karena itulah tidak ada yang berminat mendirikan bangunan di sana.


"Chiiiiiiiiiiit" mobil yang direm tiba-tiba itu berbunyi.


Noel sendiri terkejut bukan main. Sosok yang baru saja ia lewati menarik perhatiannya. Noel menjalankan mundur mobilnya lalu memalang mobilnya tak jauh dari hadapan sosok tadi.


Yera yang sudah lemah dan keletihan itu menghentikan langkahnya. Noel baru saja keluar dan menatapnya terkejut. Tanpa menunggu lama lagi Noel menghampirinya, meraih tangan Yera dan membawanya ke mobil. Namun sekali sentakan, Noel merasakan beban di belakangnya seperti jatuh. Yera pingsan kelelahan dan jatuh di jalanan tanpa sempat di tahan.


***


Yera baru sadar saat Chen menusukkan jarum infus ke tangannya. Yera menatap ke sekelilingnya. Tempat itu asing baginya.


"Kau di rumahku. Noel yang membawamu ke sini. Sekarang dia ke dapur membuat makanan untuk kita." jelas Chen sembari tersenyum.


"Kami pikir kau sudah pergi. Kenapa kau menghilang dan memilih pulang dengan berjalan kaki?"


"Aku ingin hanya ingin menenangkan diri dulu.


Aku ingin sendirian."


"Seharusnya kau tak melakukan itu. Keadaan di luar saat ini sangat tidak baik untukmu. Bagaimana kalau penggemar Mory menemukanmu."


Yera terdiam.


"kau sudah sadar?" Noel muncul dari balik pintu, lalu tergesa-gesa menghampiri Yera untuk melihat keadaan perempuan itu.


"Kau ke mana saja semalaman? Kenapa kau pulang dengan berjalan kaki?"


"Aku tidak punya uang untuk naik taksi," jawab Yera.


Chen berusaha menawan tawanya lagi. Noel begitu perhatian, tapi lupa memberikan uang untuk Yera. Tapi untuk apa juga. Toh Yera tidak bisa ke mana-mana juga tanpa Noel.


"Maaf ..." ujar Noel.


Noel tak berniat menanyakan alasan Yera menghilang. Mengetahui Yera akan pulang ke rumahnya itu sudah membuat hatinya senang.


"Tunggu di sini. Aku ambilkan makanan untukmu." ujar Noel seraya beranjak dari sana.


***


Sesampai di rumah, Yera langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Sikapnya tak seperti biasanya. Ia tampak lebih tenang juga tidak terlihat sungkan lagi di rumah itu. Sekeluarnya dari kamar mandi, perempuan itu merapikan diri di depan cermin. Ia sengaja tak mengenakan pakaiannya. ia hanya mengenakan jubah mandi yang membalut tubuhnya. Selesai merapikan penampilannya. Yera duduk di atas ranjang menanti kehadiran Noel.


Noel masuk dan melihatnya sesaat tanpa mencurigai apa pun.


"Kau sudah mandi?" Sapanya sembari menghampiri lemari pakaiannya.


"ya ..." jawab Yera pendek.


"Pakaianmu ada di lemari ini. Aku membelikan beberapa pasang kemarin. Lain kali kita membelinya bersama agar kau bisa memilihnya sendiri sesukau."


"Aku tak perlu berpakain dulu. Kau tidak menggunakanku malam ini?"


Gerakan Noel seketika terhenti. Ia menatap Yera seakan mencari sesuatu pada pikiran perempuan itu.


"Apa kau menginginkannya?" Tanyanya dengan sorot mata yang sama.


"Aku sudah berjanji padamu. Aku akan menyerahkan diri padamu. Kau bisa melakukan apa padaku, sesukamu. Tapi mungkin aku tak bisa memuaskanmu. Jadi ... aku harap kau sabar sampai aku terbiasa dan tahu cara menyenangkanmu."


Jantung Noel berdesir. Kata-kata Yera yang terucap demikian pasti itu entah kenapa seperti pisau yang secepat kilat menyayat hatinya dan meninggalkan perih di sana.


Sesaat kemudian senyum kemenangan mengembang di wajah Noel. Pria itu melangkah menghampiri Yera, meraih tengkuknya lalu menunduk mencium bibir perempuan itu. Mata Yera baru saja terpejam, dan Noel sudah melepas ciumnya.


"Aku ada pekerjaan malam ini. Kenakan pakaianmu dan tidurlah," ujar Noel seraya mengelus sisi wajah Yera lalu mengecup kening perempuan itu.


Noel beranjak dari sana mengambil jaketnya yang tersampir di sofa. Pria itu masih sempat tersenyum pada Yera seraya keluar dari kamar itu.


Yera tertegun. Di saat yang sama ia menyadari pakaian yang barusan Noel letakkan di pangkuannya.


***

__ADS_1


__ADS_2