
Kota S
Seorang gadis baru saja keluar dari sebuah mansion mewah
dengan didampingi oleh seorang pelayan. Sebuah mobil limosin hitam terlihat
sedang terparkir di depan gerbang mansion yang tinggi dan terlihat sangat
kokoh. Melihat sang gadis datang, si supir segera turun dan membukakan pintu
penumpang agar sang gadis dapat segera masuk. Pelayan yang mendampingi gadis
tersebut juga ikut masuk ke dalam limosin tersebut. tak menunggu lama, akhirnya
mereka pergi meninggalkan gerbang yang semakin lama terlihat semakin mengecil.
Elizabet Anderson, seorang pelajar SMA yang baru saja
diterima di salah satu sekolah paling elit di kota S adalah nama gadis yang
sekarang sedang duduk di dalam sebuah limosin yang sedang menuju ke sekolah barunya.
Penampilannya yang sangat anggun seperti sebuah boneka yang sedang diam di
samping jendela. Kulitnya yang putih dan rambut hitamnya yang lurus membuat
dirinya bagai dipahat tanpa kecacatan sedikitpun. Dengan tatapannya yang
setajam elang ditambah dengan mata biru yang dalam, siapapun yang melihat
sosoknya pasti akan segera menunduk hormat tanpa terkecuali. Aura yang
dipancarkannya pun seperti sebuah patung es yang dapat membekukan siapapun yang
bertemu dengannya.
“Anne, apakah ayah dan ibu akan pulang nanti malam ?”
Elizabeth bertanya kepada pelayan pribadinya yang sedang duduk di hadapannya.
Suaranya yang merdu membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tenang.
“sepertinya tidak nona. Tuan besar sedang dinas di luar kota,
juga nona besar sedang sibuk mengurus proyek baru.” Jawab Anne.
“hmm... begitu ya. Seperti biasa aku akan di rumah
sendirian.” Gumam Elizabeth. Sebagai anak tunggal dari orang tua yang memiliki
kedudukan tinggi, Elizabeth sejak kecil sudah dituntut untuk mandiri. Ayah
Elizabeth adalah seorang pengusaha besar yang memiliki banyak sekali cabang di
seluruh dunia, sedangkan ibunya adalah direktur di salah satu perusahaan milik
ayahnya. Sekolah barunya juga merupakan salah satu lembaga yang mendapatkan
sokongan dana dari keluarganya.
“huh... sepertinya hari ini akan menjadi hari yang berat”
Elizabeth mendesah saat melihat tujuannya sudah semakin dekat.
Tak berapa lama kemudian mobilnya sampai di depan gerbang
sekolahnya yang megah. Para siswa mulai berbisik dan bertanya-tanya mobil siapa
yang sekarang ada di depan gerbang sekolah. Seperti biasa, sang supir segera
turun dan membukakan pintu untuk sang nona. Seorang gadis yang sangat cantik
dan anggun keluar dari dalam mobil. Siapa lagi kalau bukan Elizabeth sang tokoh
utama kita. Semua orang langsung berhenti dan melihat sang gadis yang sedang
berjalan masuk ke arah gerbang. Murid-murid yang lain otomatis membukakan jalan
untuk Elizabeth agar dapat melintas ke dalam sekolah.
Banyak yang menatapnya dengan pandangan kagum, terutama para
__ADS_1
lelaki jones yang menatapnya dengan panas. Tidak sedikit pula gadis-gadis yang
merasa iri dengan kecantikannya. Elizabeth yang mendapatkan begitu banyak
perhatian hanya bisa pasrah menerimanya. Baginya hal seperti ini sudah biasa
dia dapatkan kapan pun dia keluar.
“semoga sekolah hari ini cepat berakhir” ucapnya dalam hati.
***
Bel istirahat sudah berbunyi dan banyak teman-teman
sekelasnya keluar untuk mencari makan. Sebagian masih sibuk berbicara dengan
teman barunya dan membentuk kelompok.
“...”
Elizabeth hanya diam dan memperhatikan sekitarnya. Tidak ada
seorang pun dikelasnya yang berani mendekat dan mengobrol dengannya. Sepertinya
mereka takut dan sungkan dengan latar belakang yang dia miliki. Samar-samar dia
mendengan teman-temannya sedang membicarakan sebuah game yang akan segera
dirilis tiga hari lagi.
“hmm... sebuah game ya. Aku tidak pernah bermain yang seperti
itu sejak kecil”
Elizabeth memang tidak pernah bermain sejak dulu. Dia hanya
disuruh orang tuanya untuk selalu belajar dan mengembangkan semua kemampuan
yang dimilikinya. Tak heran jika dirinya sering memenaggkan berbagai perlombaan
dan kejuaraan sejak SD. Ini juga yang membuat dirinya menjadi pribadi yang
pendiam dan cenderung menjauh dari orang lain.
sudah berbunyi.
***
Hari ini kelas selesai lebih awal karena merupakan hari
pertama masuk sekolah. Sepanjang jalan dia masih mendengar orang-orang yang
membahas tentang game baru tersebut. Entah karena dirinya sedang dalam
masa-masa remaja atau memang karena rasa penasaran yang tinggi, dia berniat
mencari tau lebih banyak tentang game ini.
“sepertinya aku pernah mendengar nama game ini tapi dimana ya ?” dirinya berjalan sambil
mengingat-ingat kapan dirinya pernah mendengar nama game tersebut.
Sesampainya di rumah dia segera masuk ke dalam kamar dan
menyalakan komputer yang ada di meja belajar. Dia akan mencari segala informasi
tentang game tersebut. Dimulai dari latar belakang, perusahaan, pasar, sampai
video-video promosi serta pengalaman orang-orang yang bermain dalam beta
teaster. Setelah membaca banyak info seputar game tersebut, dirinya merasa
tertarik dan segera menghubungi kontak yang ada di website game tersebut. nomor
yang dia hubungi adalah salah satu perusahaan yang mengembangkan IR sekaligus
pencipta game baru tersebut.
Sekarang dia ingat kapan dirinya mendengar nama game
tersebut. Ayahnya beberapa tahun lalu pernah membahas tentang proyek
__ADS_1
pengembanyan teknologi baru. Kalau tidak salah berhubungan dengan VR atau apa
gitu. Tak berapa lama telponnya diangkat oleh seorang perempuan.
“Halo! Dengan Fantasia Company, ada yang bisa saya bantu ?”
tanya seseorang di seberang telpon.
“ya, saya menginginkan sebuah game yang bernama Another World
Online. Apakah bisa ?” jawab Elizabeth.
“apakah anda sudah melakukan pemesanan ?” tanya orang
tersebut.
“belum, apakah ada persyaratan khusus untuk dapat memesan
game tersebut ?”
“anda harus memiliki peralatan IR untuk dapat memainkan game
tersebut” ucapnya menjelaskan.
IR? Elizabeth bertanya dalam hati. Apa itu? Apakah merek
sebuah komputer keluaran terbaru? Kekolotannya tentang teknologi membuatnya
bingung.
“di mana saya dapat memesan IR tersebut” akhirnya dia
bertanya dan akan mencari tahu tentang IR lebih lanjut nanti.
“maaf tetapi kami sekarang sedang kehabisan stok karena
banyaknya peminat game tersebut”
Bagaimana bisa? Elizabeth pun segera mengetik pencarian
mengenai IR tersebut di komputer. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa
produk tersebut sudah laku sebanyak 10 juta unit dalam waktu kurang dari
sebulan.
“luar biasa” ucapnya tanpa sadar. Tidak mau menyerah diapun memikirkan
cara lain agar dapat memiliki barang tersebut.
“saya akan membeli 1% saham perusahaan anda dengan jaminan
mendapatkan produk tersebut” tanpa pikir panjang dirinya memberi penawaran.
“maaf, bisa diulangi perkataan anda”
“saya akan membeli 1% perusahaan Fantasia Company tetapi
perusahaan harus menyediakan barang tersebut untuk saya”
“anda bisa mengatakan kepada atasan anda agar datang ke
mansioan keluarga Anderson di kota S besok malam” lanjutnya.
Setelah beberapa percakapan alot karena si penerima tidak
percaya pada perkataan Elizabeth, akhirnya telpon ditutup setelah dirinya
menerima kontak dari manajer pemasaran perusahaan tersebut.
“Anne, tolong bilang pada Dafe untuk menghubungi nomer ini
dan mengatur pertemuan untuk membeli 1% saham besok malam” aku menyuruh Anne
untuk menghubungi salah satu asisten ayahku sambil menyerahkan kertas yang
berisi nomer telpon.
“sepertinya cukup untuk hari ini” ucap Elizabeth sambil
berjalan menuju tempat tidurnya.
__ADS_1
\==================================================================
Jangan lupa favorit dan like ya~