
Rena kini tengah duduk di kantin bersama teman-teman satu kelasnya yang lain setelah tadi lelah olahraga. Zacky sang ketua osis yang kebetulan juga berada di kantin yang sama datang menemui Rena.
"Rena, nanti sepulang sekolah jangan langsung pulang dulu, ada rapat penting dari Pembina Osis." Rena memang mengikuti keanggotaan Osis di sekolahnya begitu juga dengan Raga.
Rena hanya mengagguk saja sembari mengacungkan tangannya berbentuk huruf "O" , karena ia sedang sibuk menyantap makanan yang ada di depannya.
"Jangan lupa bilang juga sama Raga, susah nyariin tuh anak." titah Zacky lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan kantin.
Setelah makanan yang mereka makan habis , mereka langsung bergegas masuk ke dalam kelas. Masih ada satu lagi mata pelajaran setelahnya.
Sebelum memasuki kelasnya Rena menyempatkan diri untuk menghampiri kelas Raga yang memang tidak jauh dari kelasnya.
Rena tidak masuk hanya melongokkan kepalanya, tidak didapati sosok yang ia cari. Ia lalu memundurkan kepala, berbalik. Namun tiba-tiba sosok yang Ia cari sudah berdiri tegap tepat di depan matanya.
Seketika Rena terlonjak kaget " Dih ngagetin aja sih, kaya hantu tau gak. Tau tau muncul aja, kasih salam kek" decak Rena kesal.
Raga tersenyum miring " Ada apa?" tanyanya.
"Nanti jangan pulang dulu, ada rapat osis, penting ada mandat langsung dari Pembina katanya, jan mangkir." Jelas Rena.
"Kenapa, biasanya juga gitu." Jawab Raga santai.
"Dateng aja sih, paling cuma denger arahan udah."
"Iya" Jawab Raga singkat. Entah mengapa perkataan Rena sperti titah sang Ratu. Raga mendadak jadi penurut.
"Sip, sekalian aja pamitan sama pacar baru kamu, biar gak salah paham."
__ADS_1
Raga memutar bola matanya malas "Udah putus juga."
" Hahhh, beneran? Kok bisa? " Tanya Rena terkejut.
Pasalnya petuah yang sering Ia lontarkan tempo hari nyatanya tidak berguna.
"Ya mau gimana lagi coba."
"Jadi selama ini kamu gak pernah dengerin aku ya selama ini." Raut wajah Rena tampak berubah, Ia kecewa dengan sahabatnya itu.
"Bukan begitu, maksudku, mereka yang nembak duluan tapi mereka juga yang memutuskan. Aku bisa apa?" Ucap Raga mendramatisir sok mellow drama.
Pada dasarnya dari sekian banyak deretan barisan para mantan tidak ada satupun diantara mereka yang benar-benar menarik hatinya. Namun entah mengapa mendapat tawaran untuk menjadi pacar mereka Ia iyakan begitu saja. Meski tanpa rasa. Atau memang hanya sekedar untuk coba-coba?. Entahlah hatinya masih enggan untuk berlabuh.
"Ya udahlah, terserah." Hanya itu yang mampu Ia ungkapkan pada sahabatnya. Kecewa? tentu saja. Meski Rena belum pernah menjalin suatu hubungan , tapi mengetahui sahabatnya seperti pemain wanita rasanya dia sangat kecewa.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Bel pulang sekolah sudah nyaring terdengar. Sebelum pergi ke ruangan osis, Rena memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu memastikan sesuatu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat kode dari sang ketua osis untuk segera berkumpul, Renapun mengurungkan niatnya.
Disana sudah banyak anggota osis lain yang sudah berkumpul di ruang osis duduk rapi di kursi masing-masing. Tidak terkecuali Raga yang biasa mangkir dalam rapat malah sekarang dia sudah datang terlebih dahulu. Raga melambaikan tangan pada Rena untuk duduk berada di sampingnya.
Setelah sedikit sambutan dari sang ketua osis kini giliran Pak pembina yang amju kedepan menyampaikan hal-hal untuk dibahas.Waktu yang di tafsir hanya memakan eakru 1 jam nyatanya harus duduk dalam berjam-jam. Hal itu membuat Rena gelisah. Menyadari gerak gerik tak biasa dari sahabtnya itu Raga pun pertanya dengan sedikit berbisik.
"Kenapa sih Ren? Kayak gak nyaman banget, kesemutan ya? Pegel ya duduk mulu daritadi?"
"Eh, i-iya." Jawab Rena gusar.
"Gak biasanya sih kamu kayak gini. Kenapa sih? Ngomong aja." Raga menatap Rena dengan curiga, ternyata kepekaan pria itu terhadap gadis di sampingnya itu cukup tinggi juga.
__ADS_1
"Emang ya Pak Wandi itu kalo udah ngomong gak ada berentinya, aku juga udah ngantuk ini." Ucap Raga dengan menguap.
Setelah sekian lama pertemuan rapat yang tidak terlalu penting menurut Raga itupun akhirnya selesai juga. Satu per satu teman-temannya beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Raga mengenyitkan dahi ketika Rena tidak kunjung beralih dari tempat duduknya.
Rupanya gadis itu menunggu semua teman-temannya pergi terlebih dahulu sehingga tak ada seorang pun masih masih tertinggal.
"Ayo Ren kita pulang, kenapa malah diem di tempat?"
"Em itu, itu...." Rena bingung mau bilang apa.
"Itu, itu apasih? nggak jelas banget deh kamu." Raga tidak begitu sabar melihat gadis di sampingnya tidak menunjukkan reaksi apapun,Ia lalu menarik paksa Rena untuk berdiri.
Rena terkejut dan reflek menutup wajahnya. Malu. Itu yang ia rasakan. Terlihat jelas ada bercak berwarna merah menempel pada kursi yang baru saja ia duduki.
"Ck, jadi karena ini. Kenapa gak bilang daritadi." Raga pergi berlari begitu saja meninggalkan Rena yang masih terpaku di tempatnya.
Sejenak Rena termangu, Ia pikir Raga juga akan mengoloknya, merasa jijik dengan apa yang di lihatnya. Rena akan beranjak ketika Raga tiba-tiba kembali dengan menyodorkan benda kotak kecil berwarna putih kepadanya.
"Cepat pakai ini, aku yang akan membereskan ini." Ucap raga memerintah
"Kamu...." Suara Rena tercekat, Ia terharu. Baru kali ini Ia merasa di perhatikan. Dan lagi dia seorang lelaki, yang seharusnya tidak melihat ini.
Raga menoleh sekilas dengan tersenyum lalu mengibaskan sebelah tangannya mengisyaratkan Rena untuk cepat pergi.
"Terimakasih." Kata Rena dgn mata yang berkaca kaca. Bukan sedih tapi haru
"Jangan sungkan, Lain kali apa apapun yang terjadi padamu, katakan saja, bukankah kita sahabat?" Ucap Raga sembari mengacak lembut rambut gadis itu. "Udah cepetan ganti sana, keburu banjir beneran, aku gak mau ya bersihin seluruh lantai." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Ih nyebelin." Baru saja Rena terharu dibuat Raga, kini pria itu malah membuat kesal. Sungguh Raga tidak pernah sebijak itu.