REANO

REANO
Chapter 37


__ADS_3

Padatnya lalu lintas di tambah teriknya matahari membuat Chaterine dan Reano seperti ikan asin yang sedang


dikeringkan. Entah kenapa lalu lintas menjadi sangat-sangat macet, biasanya jam-jam seperti saat ini masih tidak terlalu ramai. Sedari tadi Reano merutuk tak jelas di dalam hati.


“Aishhh... macet bener!” Reano menekan-nekan klakson motornya berulang kali, membuat suasana yang gerah


semakin memanas karena ributnya klakson para pengendara lain. Sial sekali, hari ini ‘kencannya’ dengan Chaterine tidak berjalan mulus. Disaat alam mendukung tetapi Chaterine menjadi tidak penurut, sekarang giliran Chaterine tidak melawan dan jauh lebih penurut, sepertinya alam tidak menerimanya. Dunia benar-benar tidak adil!


Ting! Ting! Ting! “Yang di depan cepet woy!” Reano yang mulai tidak sabar berteriak keras, sembari tangannya memencet klakson tanpa henti.


Chaterine yang duduk di jok belakang hanya bisa mengelus pundak Reano agar pria itu bersabar. “Udah-udah, jangan teriak. Malu di lihat orang, udah lagi lo nya jelek.” Chaterine berusaha membujuk Reano agar sedikit tenang, lagi pula sekeras apa pun pria itu berteriak, kemacetan tidak akan berlalu dengan cepat.


Reano mencubit tangan Chaterine membuat gadis itu meringis kesakitan. “Lo lagi ngebujuk atau lagi ngejek sih?!”


Ucap pria itu galak. Raut kesal dapat Chaterine tangkap dengan jelas dari kaca spion. Helm yang di lepas membuat wajah tampannya terekspos dengan jelas.


“Pfftt... dua-duanya, hehehe.” Gadis itu terkekeh geli sambil menarik-narik rambut Reano gemas.


Reano menatapnya datar. “Serah lah.”


Hampir 20 menit kedua remaja tersebut menunggu di antara ramainya pengendara lainnya, hingga akhirnya lalu lintas berangsur-angsur kembali berjalan normal. Jalanan yang senggang akhirnya memudahkan Reano meliuk liukkan motornya dengan bebas. Sesekali Chaterine mencubit pinggang Reano saat pria itu mulai mengemudi ugal-ugalan. Enak saja pria itu membawanya untuk mati bersama dalam kecelakaan, Chaterine masih ingin hidup lebih lama.


“Btw kita mau kemana sebenarnya? Lo bukan mau culik gw kan? Trus mau minta uang tebusan ke ayah gw?” Tanya Chaterine berturut-turut.


Reano mengusap pelipisnya dengan tangan yang satunya. Pertanyaan macam apa itu? Apakah dirinya terlihat seperti orang yang kekurangan uang dan bermaksud memanfaatkan Chaterine. “Lo habis makan apaan sih? Aneh bener pertanyaanya. Atau bang Nathan kasih terlalu banyak micin di bekal lo?” Ujar Reano sesekali mencuri pandang kepada Chaterine.


Chaterine berdecak. “Cih, sok tau.”


“Lo yang lebih sok tau.” Titah Reano yang langsung dibalas decakkan dari bibir Chaterine.


Suasana menjadi hening, Reano yang fokus dengan jalanan dan Chaterine yang terhanyut dalam lamunannya. Rentetan demi rentetan peristiwa yang terjadi satu hari ini terlintas satu persatu di dalam pikirannya. Tak ayal gadis itu tanpa sadar tersenyum geli sendiri kala mengingatnya. Betapa bahagianya bisa punya banyak sahabat yang dekat dengannya, berbagi tawa, materi, bahkan tidak jarang membagi siksa kepada yang lain. Tidak cukup hanya itu saja, deretan peristiwa mulai dari beberapa minggu yang lalu terulang kembali di pikirannya. Namun mendadak Reano muncul di dalam pikirannya, seperti film foto yang memunculkan satu-persatu kebersamaannya bersama pria itu. Sudah banyak yang mereka lalui selama berbulan-bulan, jujur saja Chaterine terkadang berpikir bahwa dirinya beruntung sekali bisa bertemu Reano. Kehadirannya seakan menjadi obat bagi hati nya yang sempat tersayat akibat kejadian dua tahun yang lalu. Mungkin kalau bagi Chaterine, Reano bisa di definisikan seperti matahari, menjadi penyinar dalam dirinya. Sinar itu yang kemudian menciptakan senyum dan tawa di bibir gadis itu. Walau tidak jarang juga, pria itu sering sekali membuat dirinya kesal, namun entah kenapa gadis itu terkadang tersenyum saat di jahili. Meski tidak Chaterine tunjukkan secara langsung, namun sebenarnya gadis itu diam-diam mengulum senyum di bibirnya.


“Lexa? Are you okay?” Panggilan seseorang seketika membuyarkan lamunan Chaterine, film foto yang tadinya terus berputar perlahan-lahan menghilang entah kemana.


Chaterine mengerjapkan matanya lalu menepuk-nepuk pelan kedua pipinya. “Eh, sorry gw ngelamun. Emang ada apa?” Tanya gadis itu kepada pria di depannya.


“Turun, kita udah sampai.” Ujar pria itu menoleh kebekang, memastikan apakah kondisi gadis itu baik-baik saja atau


tidak.


“Eh.”Betapa memalukannya, dirinya melamun sampai-sampai tidak tahu kala mereka sudah sampai.


Dengan muka memerah karena menahan malu, gadis itu buru-buru turun. Satu tangannya memegang pipinya yang memerah, satunya lagi memegang ransel berwarna soft purple miliknya. Setelah gadis itu turun, tanpa berlama-lama pria yang tadinya masih betah di atas motor itu ikut turun.

__ADS_1


Selagi Reano sedang merapihkan rambutnya yang kacau akibat terjangan angin saat berkendara, Chaterine mengamati daerah sekitar yang mereka kunjungi. Terlihat seperti gang namun sedikit lebih lebar dan bersih. Tidak seperti gang yang biasanya sempit serta di penuhi genangan. Remang-remang lampu para peduduk disana seakan beradu dengan hamparan jingga menyala dilangit. Tidak heran, karena sekarang sudah sangat sore. Kucing-kucing liar duduk di atas tembok pembatas menunggu datangnya malam.


“Eum, Re, ini dimana?” Tanya Chaterine masih melihat-lihat tempat sekitar yang cukup asing baginya.


Reano menunduk sedikit kecewa,  diangkatnya lagi kepalanya dan ia lemparkan tatapan tidak enak pada Chaterine. “Gw tadinya pengen ngajak lo ke lapangan yang waktu itu buat lihat kunang-kunang , tapi karna tadi macet trus sekarang udah mau malam jadi bisanya cuman bawa lo makan disini doang. Gk apa-apa kan?” Pria itu menjelaskannya sembari menatap lautan jingga di atasnya, angin yang tiba-tiba datang menyapu lembut wajah pria itu membuat rambutnya ikut menari mengikuti arah angin.


Chaterine mematung di tempat, entah kenapa melihat Reano seperti itu membuat degup jantungnya bekerja dua kali lebih besar dari biasanya.


Reano menoleh kearah Chaterine yang sedari tadi menatap intens ke arahnya. “Iya gw tau gw ganteng, tapi gk perlu liatin se serius itu, pfft...” Reano tertawa memperlihatkan rentetan gigi putihnya.


‘Sial! Ada apa dengan gw?!’ Di dalam hati Chaterine merutuki dirinya sendiri karena terhanyut dalam pesona pria di hadapannya itu. Sial sekali bisa ketahuan seperti ini langsung oleh orangnya.


Chaterine membuang pandang cepat ke arah lain. “Siapa yang liatin lo, geer amat.” Ucapnya acuh tak acuh, yang mana membuat Reano semakin gemas ingin menelangadis dihadapannya bulat-bulat.


“Pfft... iya deh gw kalah. Ya udah sini makan dulu, perut gw konser mulu dari tadi.” Reano berjalan kesalah satu rumah kecil yang pencahayaannya cukup terang dari yang lain, mau tak mau Chaterine mengikuti kemana Reano pergi, kalau tidak bisa saja ia tersesat di tempat ini.


Punggung Reano menghilang kala memasuki sebuah rumah disana, takut- takut Chaterine ikut masuk kedalam sana. Mata Chaterine berlinang  seketika masuk kedalam sana. Suasana hangat terpacar jelas dari dalam sana, tawa bahagia terdengar jelas dari mulut pengunjung disana, aroma makanan yang kuat namun tetap lembut membuat perut Chaterine ikut berbunyi.


Chaterine berjalan kearah Reano yang sudah duduk manis di salah satu meja di pojok. “Gw gk nyangka bisa ada rumah makan di tempat ini.” Ucap Chaterine kepada Reano saat sampai di meja sana.


“Gw udah biasa makan disini kalau keburu, masakan rumahan disini enak menurut gw.” Ucap Pria itu mengetuk-ngetuk meja kay dihadapannya.


“Nak Reano datang lagi yah?” seorang nenek datang menghampiri meja mereka, dari gaya bicaranya nenek itu sepertinya sudah kenal dekat dengan Reano.


“Ahhh... nenek terlalu melebih-lebihkan.” Reano mencoba merendahkan dirinya diluar, namun sebenarnya di dalam hati dirinya sedang memuji-muji dirinya yang terlalu sempurna itu.


“Hahaha.” Tawa bahagia nenek itu.


“Aku pesan sayur capcay satu sama mie kuah ya nek. Udah laper, hehehe.” Reano dengan tanpa tidak tahu malunya mengatakan hal seperti itu sambil mengusap-ngusap perut ratanya. Seperti anak kecil saja pikir  Chaterine.


“Eh ket lo mau apa?” Tanya Reano pada Chaterine yang terlihat kebingungan memilih menu.


“Eum mie kuah aja deh.” Ucap Chaterine tersenyum kepada nenek itu.


“Tunggu sebentar ya, nenek mau masakin dulu.” Ucapnya cepat lalu segera berlalu meninggalkan kedua remaja tersebut.


Chaterine cepat-cepat mencondongkan wajahnya dekat dengan Reano, membuat pria itu kaget. “Itu nenek lo?” Tanya Chaterine dengan rasa penasaran yang sangat-sangat tinggi.


Reano menelan ludahnya kasar kala hembusan nafas Chaterine menyapu lembut wajahnya. Pria itu menggeser kepalanya kebelakang bermaksud membuat jarak di antara mereka, takutnya ia tidak tahan dan akan mimisan jika terlalu lama dalam kondisi itu.


“Bukan nenek dari keluarga, gw karna udah sering kesini jadi dekat sama nenek itu, gw juga udah anggap dia kayak nenek gw sendiri.” Ucap Reano menjelaskan.


Chaterine kembali duduk di kursinya. “Owh, gitu.” Ucapnya manggut-manggut paham atas penjelasan Reano.

__ADS_1


“Hai Re!” Suara seorang gadis seketika mengalihkan perhatian Chaterine, begitu juga dengan Reano.


“Eh, sissy? Lama gk ketemu.” Ucap Reano kala melihat gadis tersebut.


Chaterine yang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu siapa gadis itu hanya diam saja. Reano yang menangkap tatapan


bingung itu segera menjelaskannya pada Chaterine. “Kenalin ini teman SMP gw, namanya Sissy.” Ucap Reano pada Chaterine.


Gadis itu mengulurkan tangan pada Chaterine, “Kenalin gw Sissy.” segera Chaterine meraih tangan itu lalu menjabatnya, “Gw Chaterine.”


“Btw gw boleh gabung makan gk? Gk enak kalau sendiri.” Ucap gadis itu meminta izin.


“Boleh kok.” Ucap Reano mengijinkan.


Sissy itu gadis yang baik, sopan, tidak kalah cantik juga, dan lagi Sissy sepertinya sudah lama dekat dengan Reano. Entah kenapa ada sedikit rasa iri dalam diri Chaterine. rasanya sedikit sesak, seperti akan kehilangan sesuatu yng dia miliki.


“Eh, gimana sekolah lu Re? Baik-baik aja kan?” Tanya Sissy antusias.


“Baik kok, kalau lo gimana?” Tanya pria itu balik bertanya.


Sedangkan Chaterine lebih memilih diam, entah kenapa dirinya menjadi tidak mood, bahkan saat makanan sudah datang gadis itu sama sekali idak menghabiskan makanannya.


Beberapa menit berlalu, Chaterine, Reano dan Sissy sudah selesai makan.


“Ya udah gw pulang dulu ya Re, bye! Bye Chaterine!” Ucap gadis itu tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Reano dan Chaterine yang sudah berada di tempat motornya di parkir.


“bye.” Ucap Chaterine lemah.


Reano menatap intens Chaterine, pria itu sedikit membungkuk mensejajarkan tinggi dengan Chaterine.


“Lo kenapa?” Tanya pria itu bingung.


“Gpp.” Ucapnya ketus.


Reano tertawa dalam hati, sepertinya gadis ini cemburu karena kedatangan Sissy. “Cemburu sama Sissy ya?” Tanya Reano geli.


Chaterine membulatkan mata. “Gk, cemburu buat apaan emang, gk gw banget tuh.” Ucap Chaterine tidak mau mengakui.


“Intinya gw sama Sissy gk ada hubungan apa-apa selain teman, itu aja.” Jelas Reano santai.


“Gw gk minta penjelasan lo, ngapain dijelasin.” Ketus Chaterine membuang pandangan ke arah lain, namun tidak dapat di pungkiri jika ada sedikit rasa lega ketika mendengar penjelasan itu.


“Yahh siapa tau ada yg cemburu kan, makanya gw jelasin.” Ucap Reano menggoda Chaterine.

__ADS_1


“IHHH! REANO!”


__ADS_2