
“Dengerin gw baik-baik Reano Calvin Putra, Gw Alexa Chaterine suka sama lo!”
Blushh...
Reano terdiam mencoba menyerapi apa yang baru saja gadis dihadapannya ini katakan.
“Mungkin selama ini gw selalu nolak lo, selalu bilang kalau gw gk suka sama lo, itu semua salah Re.”
“Sekarang gw sadar, gw sadar kalau sebenarnya gw suka sama lo. Cuman gw nya aja yang di penuhi ego dan gengsi sampai-sampai perasaan gw ke lo itu gk bisa tersampaikan.”
Reano masih terdiam, terdiam dalam ketidak percayaan dan bahagia yang datang bersamaan. Tanpa ada yang sadar sebuah senyum terukir di sana, tanda dirinya bahagia.
Reano spontan memeluk gadis di hadapannya. “Makasih.”
Chaterine terkekeh geli melihat pria yang memeluknya itu, dengan sigap Chaterine membalas pelukannya, membuat niwarna merah muda menutupi pipi keduanya.
Cklek!
Suara gembok pintu yang terbuka menghantarkan cahaya silau dari luar, membuat mereka menyesuaikan diri dengan cahaya dari luar.
“Ututut... co cwit banget adek gw...” Dari luar datang Nathan dengan ekspresi terharunya, membuat keduanya jengkel kala mengingat perbuatan yang Nathan pada lakukan pada mereka.
Reano dan Chaterine bangkit dan saling berdiri bersebelahan, namun keduanya masih enggan membalas celotehan Nathan.
“Lah kok diem, lanjut peyuk-peyuk lagi aja-AHHHHH!”
Sepersekian detik Chaterine mengambil kunci gembok di tangan Nathan dan Reano segera mendorong Nathan ke dalam gudang.
Cklek! Terkunci!
Reano dan Chaterine mengunci Nathan dari luar gudang, anggap saja sebagai tanda balas dendam.
“Woy Ket! Re! Buka nyet!”
Kedua pelaku yang mengunci Nathan saling menatap acuh tak acuh mendengar permohonan Nathan di dalam sana.
“Nanti deh bang, gw lagi gk mood bukain gemboknya.” Ucap Chaterine enteng.
“Gk bisa gitu dong! Cepet buka atau gw bunuh diri nih di dalam.” Ancam Nathan sedikit melebih-lebihkan ucapannya agar kedua orang di luar sana mau membukakann pintunya.
“Gk.”
Pupus sudah harapan Nathan, adiknya telah menghianatinya.
“Reano bantuin gw njir!” Teriak Nathan beralih tolong kepada Reano.
Pria yang di panggil mengangkat bahu tak peduli.
“Gk deh, gw mau pacaran dulu, bye.” Ucap Reano kemudian pergi dari sana dengan Chaterine di dalam rangkulannya.
“AWAS LO BERDUA! GK BAKALAN GW RESTUIN!”
Chaterine dan Reano terkekeh bersamaan.
“Hahaha... gpp nih kalau dikunci terus?” Tanya Reano pada gadis kesayangannya itu.
Chaterine menggeleng. “Jangan dulu, biarin dia...” Chaterine menggantungkan kalimatnya.
“Menderita... xixixixi...” Ucap keduanya berasamaan, membuat mereka terlihat seperti pasangan psikopat.
*****
Lembabnya gudang membuat sepasang remaja yang tadi terkurung di sana kehausan. Sebelum kembali ke kelas keduanya mampir dulu ke kantin untuk membeli minuman dingin.
“ini minumannya sayang.” Ucap Reano menghampiri Chaterine dengan dua botol minuman dingin di tangannya.
Chaterine mencubit pria itu cukup keras, membuatnya meringis kesakitan.
“Sttt... sakit neng.” Ringis pria itu sesekali menatap kesal kepada Chaterine.
“Huh, biarin. Siapa suruh manggil sayang-sayang segala.” Ujarnya tidak terima dengan panggilan baru yang di berikan Reano.
__ADS_1
“Kan lo pacar gw sekarang, masa gk panggil sayang-sayang?” Balas Reano tak terima.
Chaterine menggembungkan pipinya kesal, “Siapa yang pacaran sama lo, orang gw tadi cuman bilang suka doang gk ada bahas pacar-pacaran.”
Reano terdiam, mencoba berpikir sejenak. “Oh iya gw lupa, hehehe.” Ucapnya sembari menyengir-ria.
Chaterine menggeleng tak percaya dengan daya ingat rendah pria di sebelahnya.
“Re.”
Panggil Chaterine kepada Reano.
Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya?”
“Sorry kalau untuk sekarang gw gk bisa jadi pacar lo.” Ucap Chaterine pelan.
Reano terdiam, dari luar saja mudah sekali diketahui jika pria itu merasa sedih.
“But, gw pastiin gw bakalan jadi pacar lo kedepan. Bagaimanapun caranya gw bakalan jadi pacar lo.”
Reano terbelalak dengan kalimat Chaterine selanjutnya, ia pikir semuanya akan berakhir hari ini namun ternyata masih ada harapan, bukan hanya harapan namun sebuah kepastian yang akan di genapi di kemudian hari.
Chaterine menatap mata Reano intens, menguncinya agar tetap menatap maniknya. “So, gw minta lo buat tunggu gw, sampai gw siap okay?”
Reano tak tahan lagi, segera ia memeluk gadis di hadapannya dan mengecup keningnya. “Iya, gw bakalan berusaha buat nungguin lo walau gw tau kedepan bakalan banyak problem yang datang. Semuanya karna gw sayang sama lo Lexa.”
Pipi Chaterine memerah, jantungnya yang berdegup kencang dapat dirasakan langsung oleh Reano.
“Lo gemes juga ya kalau malu-malu gini.” Ucap Reano menangkap raut wajah Chaterine.
Plak!
“Awh... salah gw apaan lagi?” Ucap Reano meringis kesal kala Chaterine memukul kepalanya.
Chaterine terkejut bukan main, “Sorry Re! Tangan gw spontan mukul lo tadi.” Jelas Chaterine sambil meminta maaf pada pria itu.
“Etdah, karna keseringan mukul jadinya sekarang jadi kebiasaan. Haishh gw harus siapin fisik yang kuat kalau jadi
“Udah-udah, balik ke kelas yuk.” Ajak Chaterine yang langsung di setujui Reano.
Keduanya berjalan santai di korridor, sambil sesekali tertawa. Namun Tawa itu perlahan sirna kala Suara keras yang menghantam telinga keduanya.
“Kalian dari mana saja, hah?!”
Teriakan itu spontan membuat Reano dan Chaterine menutup telinganya.
“Astaga bu jangan marah-marah. Kasian make-up nya luntur bu.” Ucap Chaterine sembarangan.
“Udah telat masih berani ngatain ibu lagi! Bener-bener ya kalian!” Marah guru cantik itu, namun apa daya kedua siswa tersebut tak memperdulikan ocehannya.
“Suruh mereka bersihin toilet aja bu Ian!” Teriak seseorang dari dalam kelas.
“Hugo, ibu tidak minta pendapat kamu!” Balas wanita tersebut teriak ke arah kelas.
“Huh! Saya pusing mengurus kelas kalian! Kalian berdua silakan ke ruang BK saja, biar pak Haru yang urus kalian!”
“Siap delapan enam!” Ucap Reano dan Caterine dengan gesture seorang militer.
“Haishh... dasar anak-anak itu.”
*****
Di dalam sebuah ruangan putih polos, tiga orang sedang dengan serius membahas sesuatu.
“Hmm, apa lagi sekarang Reano Chaterine?” Tanya salah satu dari mereka yang duduk dibalik meja kebanggannya.
“Telat pak.” Ucap Chaterine tanpa dosa.
“Eitsss... tapi bapak jangan marah dulu ya, saya sama Chaterine ada urusan yang penting banget pak.” Potong Reano sebelum Pak Haru membuka suara.
Guru tersebut terkekeh sinis. “Sepenting apa urusan kalian itu hah?! Jangan bilang akan mengancam keselamatan
__ADS_1
bumi.”
Reano dan Chaterine terkekeh kecil. “Ini bukan masalah keselamatan dunia lagi pak, tapi mengancam masa depan saya.” Ucap Reano percaya diri sembari membusungkan dada.
Pak Haru memijit kepala pusing. “Lanjut.”
Reano berdiri lalu mengambil napas dalam, mengambil ancang-ancang untuk menceritakan semuanya dari awal.
“Ceritakan yang penting saja.”
Mendengar itu Reano duduk kembali di kursinya. “Ekhm, jadi gini pak, intinya ini pendiskusian hubungan saya dengan calon pacar saya kedepan. Kalau tidak cepat-cepat di bicarakan takutnya orang yang saya suka malah di tikung. Kan saya gk mau jadi sad boy kayak salah satu murid yang pernah sekolah di sini belasan tahun yang lalu.” Ucap Reano panjang lebar serta mengungkit kisah pak Haru yang merupakan mantan murid dari SMA Budi Sakti juga.
“Kamu menyindir saya?!” Ucap pria tersebut mulai emosi.
Chaterine berusaha manahan tawa, bahkan perutnya sampai ikutan keram.
“Kamu juga jangan menertawakan saya!” Marah Pak Haru menangkap gerak-gerik Chaterine.
Segera Chaterine mengubah ekspresinya. “Enggak kok pak, enggak. Saya tidak sekurang hajar itu.” Alibi Chaterine.
“Sudah-sudah, bapak minta kalian keluar dari ruangan bapak sekarang!”
Chaterine dan Reano beranjak dari duduknya, “Ya udah, papay pak Haru cayang...”
Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruang BK, “Tobat nak, tobat.” Ucap Chaterine kepada Reano.
“Dih, lo juga kali gk gw doang.”
“Hahaha...”
Chaterine mengetuk dagu dengan telunjuk, matanya mengawang ke atas sedang memikirkan sesuatu.
“Btw, pak Haru gk ada kasih hukuman kan tadi?” Tanya Chaterine berusaha mengingat ‘diskusinya’ bersama pak Haru tadi.
Reano segera menarik Chaterine dari tempat tersebut. “Shuutt... jangan keras-keras. Tuh orang bisa denger nanti trus ngasih hukuman ke kita.” Potong Reano langsung.
“Xixixixi... dasar serigala licik.”
“Hooh, gw serigala lu kelinci nya.” Ucap Reano mencubit kedua pipi Chaterine gemas.
*****
Waktu berlalu sangat cepat, langit berubah menjadi orange cerah di lengkapi dengan burung-burung yang beterbangan di angkasa.
“Makasih Re, gk mampir dulu nih?” Chaterine menyodorkan helm yang ia pinjam kepada Reano.
“Gk dulu deh, gw masih ada latihan.” Ucap Reano sedikit tidak enak kepada Chaterine.
Chaterine mengangguk paham, “Ya udah sana, gw tunggu lo disini sampai keluar komplek.” Ucap Chaterine dengan senyum manisnya.
Reano tersenyum, lalu memakai kembali helm nya di kepala. “Oke, bye calon pacar...” Ucap Reano berlalu pergi dengan motor maticnya.
“Bye- calon pacar.” Balas Chaterine malu-malu.
Setelah merasa Reano sudah menghilang dari pandangan, Chaterine berlalu memasuki rumahnya. Di dalam dirinya di sambut oleh bunda dan ayahnya.
“Udah pulang sayang, bareng siapa?” Tanya Gilang menurunkan berkas yang tadi sembat ia baca.
“Bareng temen yah.” Balas Chaterine dengan wajah berseri.
“Seneng banget bunda lihat. Ngomong-ngomong abang kamu dimana?”
Chaterine spontan menjatuhkan tas nya.
Sepersekian detik setelahnya ia kembali mengambil tas nya yang jatuh lalu berlari keluar rumah.
“AKU PAMIT LAGI YA!” Teriak Chaterine membuat kedua orang tuanya bingung.
“Anak kamu kenapa tuh ayah?” Tanya Lena pada Gilang. Pria itu membalas dengan gelengan.
Di lain tempat seorang pria dengan kondisi menyedihkan berteriak-teriak sedari tadi di dalam ruangan yang terkunci rapat.
__ADS_1
“ALEXA CHATERINEEEEEE!”