
Dia melihat sekeliling dan melihat seorang siswa yang sedang duduk di bawah pohon, membaca buku. Dia merasa penasaran dan berjalan mendekat. "Permisi, apa yang sedang kamu baca?" tanya Lefyn.
Siswa itu mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Ini buku tentang sihir elemen, saya belajar di kelas sihir elemen hari ini."
"Bagaimana saya bisa menemukan buku itu ? "Apakah kamu bisa memberi tahu saya di mana lokasi kelas itu?"
Setelah siswa memberi tahu Lefyn lokasi perpustakaan , dia pergi ke sana untuk membaca buku yang mungkin dia ingin pelajari sebelumnya , dia bertemu dengan teman-teman baru dan profesor sihir yang mencoba mencari referensi buku utuk menambah wawasannya .
Lefyn kembali ke asramanya dan mulai mempraktekkan apa yang telah dia baca di perpustakaan . Dia menghasilkan mantra sihirnya dengan indah dan memperkuat kekuatan sihirnya.
Ketika malam tiba, Lefyn kembali ke kamarnya, merasa sangat lelah setelah hari yang panjang dan penuh dengan keajaiban. Dia berbaring di tempat tidur dan tertidur dengan damai, siap untuk menghadapi kehidupan baru di akademi kerajaan.
Sinar matahari pagi yang cerah menerangi kamar Lefyn ketika dia membuka matanya, menandakan bahwa hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan. Hari tes masuk Akademi Kerajaan. Dengan hati yang berdebar, Lefyn segera mandi dan mengenakan seragam putih dan khusus pakaian Akademi. Setelah menyelesaikan persiapan, dia berjalan menuju ruangan tes dengan penuh semangat.
Namun, begitu masuk ke ruangan tes, hatinya yang semula penuh semangat langsung merosot. Di sana, dia melihat Evelyn, gadis yang ditemuinya saat investigasi terakhirnya. Lefyn merasa kikuk dan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
"Evelyn? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lefyn sambil tersenyum sedikit gugup.
"Eh, Lefyn? Kamu juga ikut tes masuk ke Akademi?" balas Evelyn dengan tatapan terkejut.
Keduanya saling bertatap muka dengan wajah canggung, tak tahu harus berkata apa. Namun, akhirnya mereka tersenyum dan duduk di dekat satu sama lain, menunggu tes dimulai. Lefyn merasa senang bisa bertemu dengan Evelyn lagi setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, di balik senyumnya, hatinya masih terbebani dengan rahasia besar yang dia simpan.
__ADS_1
Dengan berdebar-debar, Lefyn memandang kertas soal yang ada di hadapannya. Begitu banyak pertanyaan sulit yang ia belum pernah dengar sebelumnya. Namun, dengan semangat yang membara, ia memutuskan untuk mengerjakannya dengan tekun. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, Lefyn menyadari betapa sulitnya soal-soal tersebut. Keraguan pun menyelimuti pikirannya, tak mampu memprediksi apakah ia bisa menjawabnya dengan benar.
Lefyn memandang kertas ujian dengan wajah penuh kebingungan. Ia merasa sulit untuk menjawab soal-soal yang ada, dan tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika gagal pada test ini. Namun, meski tanpa pelatihan tertulis dari guru Felyn, Lefyn bertekad untuk terus berjuang sampai akhir dan memberikan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengikuti jejak ibunya, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Setelah bel berbunyi, Lefyn menghela nafas panjang dan melepaskan pensil dari tangannya. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan melihat wajah-wajah yang terlihat letih setelah menjawab ujian pertama. Kemudian pandangannya terpaku pada Evelyn yang berdiri tegak dengan wajah yang tidak berekspresi sama sekali. Lefyn menghela nafas lagi, memperhatikan gadis itu dengan rasa penasaran yang terus bertambah. Apa yang dipikirkan Evelyn? Tidak ada tanda-tanda kekhawatiran atau kegembiraan di wajahnya, dan Lefyn merasa semakin penasaran.
Lefyn merapikan pakaian dan berjalan ke kantin. Ia memilih makan siang sendirian, sambil mengunyah makanan yang sedikit tawar. Ia terus berpikir tentang tes pertama dan menyesali dirinya tidak mempersiapkannya dengan baik. Tiba-tiba, suara duduk di sebelahnya mengalihkan perhatiannya.
"Lefyn-chan, apakah boleh aku duduk di sini?" Ternyata itu suara dari seorang gadis dengan rambut pirang dan mata hijau.
"Oh, tentu saja." Lefyn tersenyum ramah dan menunjuk ke tempat duduk kosong di sebelahnya.
"Iya, aku Lefyn. Baru masuk akademi ini." Lefyn juga tersenyum.
"Aku tahu itu," kata Mira sambil tertawa kecil. "Kamu terlihat seperti orang yang sedang menunggu hasil tes pertama. Jangan khawatir, aku yakin kamu pasti bisa melewati tes kedua dan ketiga. Aku sudah berada di sini selama dua tahun dan bisa memberi kamu beberapa tips jika kamu mau."
Lefyn mengangguk dan tersenyum, terima kasih atas bantuan Mira. Gadis itu mulai bercerita tentang pengalamannya di akademi, memberikan Lefyn beberapa saran tentang bagaimana menghadapi ujian berikutnya. Lefyn merasa senang bisa berteman dengan seseorang yang begitu baik dan ramah.
Dengan perut kenyang, Lefyn bergegas kembali ke ruangan test yang sama untuk melanjutkan ujian. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Mira dan memohon pamit karena harus kembali ke ruangan test. Mira yang baik hati memberikan semangat dan berpesan agar Lefyn tidak menyerah. Tanpa berlama-lama, Lefyn pun melanjutkan perjalanannya dengan penuh semangat dan tekad untuk berhasil dalam ujian.
Dengan degup jantung yang semakin kencang, Lefyn menanti-nantikan pengumuman hasil ujian. Saat pengawas ujian mulai mengumumkan daftar nama yang lulus, Lefyn menutup matanya dan berdoa dengan sangat kencang. Setelah beberapa nama diumumkan, akhirnya suara pengawas menyebutkan nama Lefyn sebagai salah satu yang lulus. Lefyn merasa sangat senang dan lega, namun ia tak bisa menahan kekagumannya ketika pengawas ujian menyebutkan nama Evelyn sebagai peraih peringkat tertinggi dalam test pertama tersebut. Tak ada satupun jawaban yang salah dari dirinya. Bagaimana bisa? Pikir Lefyn dengan terheran-heran.
__ADS_1
Sekarang hari sudah sore, cahaya matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat. Anak-anak yang telah menyelesaikan ujian pertama diperbolehkan kembali ke asrama mereka untuk beristirahat dan menunggu tes kedua besok. Lefyn merasa lelah namun senang karena ia berhasil melewati tes pertama dan menjadi salah satu dari sedikit yang lulus. Ia berjalan dengan langkah ringan menuju asrama, menikmati udara segar di sekitar akademi kerajaan. Besok akan menjadi hari yang sibuk, dan ia harus siap menghadapi tes berikutnya.
Lefyn berjalan menuju kamar asrama dengan langkah hati-hati. Namun, tiba-tiba ia merasakan kehadiran energi iblis yang sangat besar. Ia mencoba mencari sumber energi itu dan terkejut menemukan bahwa sumber energi itu berasal dari Evelyn.
Lefyn ingin bertanya pada Evelyn tentang hal tersebut, namun ia takut dianggap aneh. Ia berpikir untuk mengamati situasi ini dengan lebih hati-hati dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang Evelyn dan rahasia yang ia sembunyikan.
Dengan langkah hati-hati, Lefyn terus berjalan ke kamar asrama nya. Namun, kegelisahan dalam hatinya semakin bertambah ketika merasakan energi iblis yang semakin kuat. Meskipun merasa takut, Lefyn tidak ingin mengabaikan tanda-tanda tersebut. Dia memutuskan untuk melaporkan temuannya kepada Felyn besok pagi, dan meminta guru itu untuk menyelidiki kejadian misterius yang terjadi pada Evelyn. Dengan hati yang gelisah, Lefyn pun melanjutkan perjalanan menuju kamar asramanya, berharap bahwa keesokan hari semuanya akan terungkap dengan jelas.
Dalam keheningan malam yang pekat, Lefyn tertidur dengan lelap setelah melewati hari yang panjang. Namun, ketika mentari mulai memancarkan sinarnya dan menyinari matanya, ia merasakan energi yang segar dan bersemangat memenuhi tubuhnya. Lefyn bangun dari tidurnya dengan penuh semangat,
Lefyn memulai paginya dengan menyiapkan diri untuk pergi ke akademi. Dia berharap bisa menemukan Felyn dan membicarakan tentang aura iblis yang dirasakannya kemarin malam di dekat Evelyn. Namun, ketika dia mencapai kantor Felyn, dia tidak menemukannya di sana. Lefyn merasa sedikit kecewa.
Ketika Lefyn hendak mencari Felyn, tiba-tiba terdengar bunyi bel dan suara panggilan dari petugas akademi agar segera memasuki ruangan, karena test kedua akan segera dimulai. Lefyn pun bergegas menuju ruangan ujian dengan perasaan cemas, masih teringat akan energi iblis yang dirasakannya semalam. Dia bertekad untuk menyelesaikan test kedua dengan baik, namun dalam hatinya masih merasa gelisah dengan misteri yang mengelilingi Evelyn.
Dengan langkah ringan, Lefyn melangkah menuju ruangan kedua untuk mengikuti tes selanjutnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Lefyn berbalik dan melihat Evelyn yang tersenyum manis, mengajaknya untuk jalan bersama. Meski Lefyn awalnya ragu, namun ia setuju karena tidak ingin menolak ajakan teman sekelasnya itu. Mereka berjalan bersama, menikmati indahnya pagi yang cerah sambil berbincang-bincang ringan.
Lefyn berjalan menuju ruangan kedua, tetapi dia tidak merasakan adanya energi iblis seperti yang dirasakannya kemarin, meninggalkan dirinya bingung dan tidak yakin di dalam hatinya. Apa yang terjadi dengan kehadiran kuat yang dirasakannya sebelumnya? Apakah itu hanya imajinasi atau ada yang lain terjadi? Saat dia memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, dia tidak dapat melepaskan perasaan bahwa ada lebih dari situasi yang terlihat.
Lefyn berjalan menuju ruangan kedua dengan pikirannya terus menerus melayang, dan seolah-olah ia tidak sadar bahwa ia telah sampai di tujuan. Dia hanya tersadar ketika seseorang memanggil namanya, dan saat itu Lefyn sadar bahwa dia telah sampai di ruangan kedua. Setelah itu, Lefyn merasa sedikit kebingungan, seolah-olah dunia di sekelilingnya berubah secara tiba-tiba.
Setelah Lefyn mencari-cari dirinya sendiri, dia sadar bahwa Evelyn telah berdiri di sampingnya dan memanggil namanya. Setelah Lefyn berpamitan dengan Evelyn, dia masuk ke ruangan kedua dengan pikirannya yang masih terus menerus merenung. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Mengapa dia merasa seperti tidak ada yang berubah di dunia di sekelilingnya, padahal dia tahu bahwa ada banyak hal yang berubah? Semua pertanyaan itu masih terus terpikir oleh Lefyn, bahkan ketika test kedua sudah dimulai.
__ADS_1