Reincarnated as a Hero, Love for the Queen of Demons

Reincarnated as a Hero, Love for the Queen of Demons
Perdebatan pengawas , hasil test kedua


__ADS_3

Dalam ruang pengawas, Felyn dan pengawas lainnya tengah sibuk membahas tentang hasil test kedua, terutama mengenai kecurangan yang diduga dilakukan oleh Evelyn.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Evelyn benar-benar melakukan kecurangan?" tanya salah satu pengawas dengan suara bergetar.


Felyn mengangguk, "Saya tidak yakin, tapi saya pernah melihat Evelyn belajar dengan sangat giat. Mungkin saja ia memang memiliki kemampuan yang luar biasa."


"Percuma saja, jika kemampuan itu diperoleh dengan cara yang tidak fair," sahut pengawas yang lain dengan nada tegas. "Kita harus menindaknya dengan tegas jika memang ada bukti kecurangan."


Felyn menggelengkan kepala, "Tapi kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat. Kita harus mencari tahu lebih dulu sebelum menentukan keputusan."


Setelah berunding berjam-jam, akhirnya para pengawas memutuskan bahwa siswa terbaik tahun ini adalah Evelyn. Meskipun sempat terjadi debat mengenai kemungkinan kecurangan yang dilakukan, namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor, hasilnya tetap tidak berubah. Setelah keputusan diumumkan, para pengawas membubarkan rapat dengan harapan ke depannya tidak akan ada lagi masalah serupa.


Lefyn melangkah dengan langkah ringan menuju perpustakaan, menikmati hembusan angin senja yang sejuk di pipinya. Ia merasa lega setelah menyelesaikan tes yang melelahkan hari ini. Namun, ketika ia memasuki perpustakaan, ia terkejut melihat bahwa Evelyn juga ada di sana, sedang sibuk membaca buku tebal.


"Lefyn? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Evelyn sambil mengangkat kepalanya dari bukunya.


"Aku hanya ingin membaca buku sejenak sebelum kembali ke asrama," jawab Lefyn sambil tersenyum.


"Baiklah, mau baca buku apa?" tanya Evelyn ramah.

__ADS_1


Lefyn tersenyum, merasa senang dengan kebaikan hati Evelyn. Mereka lalu memilih buku yang ingin dibaca dan duduk di sudut perpustakaan yang sunyi. Waktu pun berlalu, mereka terus asyik membaca buku sampai hampir larut malam.


"Terima kasih sudah mengajakku membaca buku bersama," ucap Lefyn saat mereka berdiri dan bersiap meninggalkan perpustakaan.


"Tidak apa-apa, aku senang bisa membaca buku bersama kamu. Sampai jumpa besok," balas Evelyn sambil melambaikan tangannya.


Lefyn tersenyum kecil, merasa bahagia dengan pertemanannya dengan Evelyn. Ia berjalan pulang dengan hati yang bahagia, berharap bahwa keindahan persahabatan mereka akan terus bertahan lama.


Dengan langkah ringan, Lefyn meninggalkan perpustakaan dan berjalan menuju asrama. Setelah 30 menit berlalu, ia merasa cukup puas dengan membaca buku sejenak.


Tanpa menunda-nunda lagi, Lefyn langsung pamit kepada Evelyn yang masih asyik membaca buku di perpustakaan. "Maaf, Evelyn. Aku harus pergi duluan ke asrama. Aku ingin membersihkan diri sebelum tidur," ujarnya dengan sopan.


Dengan senyum ramah, Evelyn mengangguk. "Tidak apa-apa, Lefyn. Aku masih ingin membaca buku ini sebentar lagi," jawabnya.


Lefyn merasa lelah setelah berjalan selama 10 menit menuju asrama laki-laki. Ia menaiki tangga hingga ke lantai 3, tempat kamarnya berada. Sepanjang jalan, ia melihat beberapa teman sekelasnya yang sedang berjalan menuju kamar masing-masing dengan wajah letih setelah hari yang panjang di sekolah.


Sampai di depan kamar, Lefyn mengeluarkan kunci dan membuka pintu dengan hati-hati. Di dalam kamar, ia merapikan tempat tidurnya yang sudah berantakan dan menyalakan lampu kecil di atas meja belajarnya. Ia merasa lega bisa kembali ke tempat yang nyaman setelah seharian melakukan test akademi yang kedua.


Setelah mandi dan memakai pakaian yang nyaman, dia memutuskan untuk tidur dan memulihkan kelelahannya. Namun, sebelum itu, dia membaca beberapa bab buku yang diambilnya dari perpustakaan untuk meredakan pikirannya yang gelisah. Setelah itu, Lefyn merasakan kelelahannya mulai menghampirinya dan ia merelakan dirinya terlelap dalam tidurnya, menanti hari esok yang akan datang.

__ADS_1


Dengan mata yang masih terpejam, Lefyn merasakan kehangatan sinar matahari yang perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam kamar. Dia menggeliat lemas di atas kasur, menyesuaikan tubuhnya dengan posisi yang nyaman. Lalu, dengan perlahan ia membuka matanya dan memandangi langit-langit kamar yang masih agak gelap.


Lefyn bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan semangat yang membara. Dia menyadari bahwa hari itu adalah hari penting di akademinya. Hari itu adalah hari di mana seluruh siswa akan diberi pengumuman hasil test kedua yang telah mereka lakukan. Lefyn memastikan bahwa ia siap secara mental dan fisik untuk menerima pengumuman tersebut. Setelah mandi dan memakai pakaian , Lefyn merapikan tasnya dan memastikan bahwa ia membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk hari itu. Dia memeriksa jadwal dan menemukan bahwa ia harus berangkat sekarang juga jika ia tidak ingin terlambat. Dengan langkah mantap, Lefyn meninggalkan asrama dan menuju ke akademi dengan hati yang penuh semangat.


Dengan langkah yang mantap, Lefyn tiba di depan gerbang akademi yang megah. Namun, tatapan matanya tercurah pada wajah-wajah para siswa yang terlihat begitu gugup dan tegang, mengingat hasil test kedua yang akan diumumkan hari ini. Lefyn menghela nafas, merasakan adrenalin yang mulai terpacu di dalam dirinya. Ia merasa iba pada teman-temannya yang terlihat begitu tertekan dan cemas. Ia memutuskan untuk mencoba meredakan kekhawatiran mereka dan memberikan semangat.


Lefyn berjalan dengan mantap, berusaha menenangkan dirinya sendiri, meskipun dia juga merasa sedikit gugup. Saat ia tiba di ruangan tes, dia melihat wajah-wajah yang tegang dari siswa-siswa yang hadir. Namun Lefyn tidak tergoyahkan, ia tetap berdiri dengan tegar dan percaya pada dirinya sendiri. Dengan senyum kecil di wajahnya, dia menunjukkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Dalam suasana yang hening, Lefyn duduk di kursi yang telah ditentukan oleh pengawas pada hari sebelumnya. Ia melirik sekitar ruangan, melihat bahwa teman-temannya juga sudah menempati kursi masing-masing. Wajah-wajah mereka terlihat tegang dan cemas, membuat Lefyn merasa prihatin.


Lefyn duduk tegak di kursi kayu yang telah disediakan di ruangan ujian. Pikirannya merenungkan tentang hasil ujian yang ia kerjakan kemarin. Terlebih lagi, ia sempat kehilangan konsentrasinya saat guru pengawas memasukkan segelas es teh ke meja ujiannya. Karena itu, Lefyn sangat khawatir jika hasilnya buruk.


Tapi pikiran Lefyn terputus ketika pengawas ujian tiba-tiba masuk ke ruangan, membawa secarik kertas kecil yang tampaknya berisi nama-nama peserta yang lolos ujian. Pengawas itu berjalan perlahan ke depan ruangan, mengambil mikrofon, dan menyatakan bahwa ia hanya akan mengumumkan nama-nama peserta yang lulus ujian.


Lefyn merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia menundukkan kepalanya dan menutup matanya dengan erat. Setelah beberapa detik, ia membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling. Ia bisa merasakan ketegangan di seluruh ruangan, di mana hampir semua orang tampak sangat gugup menunggu hasil ujian. Lefyn merasakan rasa bersalah atas perasaannya yang buruk, terlebih lagi ia seharusnya merasa senang karena guru pengawas akan mengumumkan peserta yang lulus saja.


Akhirnya, pengawas itu memulai pengumuman. Lefyn menahan nafasnya saat ia mendengar nama-nama teman sekelasnya yang satu persatu diumumkan lulus. Dan akhirnya, suara pengawas mengumumkan namanya.


"Lefyn!"

__ADS_1


Lefyn merasakan kegembiraan meluap dari dalam dirinya.


Sang pengawas memberikan pengumuman penting yang membuat seluruh peserta tes tercengang. “Siswa dengan nilai tertinggi pada tes ini adalah Evelyn,” ucapnya dengan tegas.


__ADS_2