
Wahyu dan Kartika adalah pasangan muda yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan.
Berbagai cara telah ditempuh dari cara secara medis dan atau non medis telah mereka lakukan, seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan.
"Kenapa kau termenung sayang? apakah ada yang menjadi ganjalankah dihatimu?" Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil mendekati suami dan memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak?" Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
"Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan waktu itu, aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama."
"Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok)".
"Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelek, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya.
Tatapan Kartika menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya dan tanah kelahiranya.
Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegun saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Kartika menepuk bahu suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu pada Kartika istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
__ADS_1
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kartika dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika melalui mimpi Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar."
"Tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis dengan menyia nyiakan atau membuatnya marah, atau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak dengan penuh ketenangan, karena jika dia marah maka akan berakibat buruk pada kalian."
"Dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak Herman kepada Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untuk test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika.
__ADS_1
Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.