
Kehidupan Dewi Rengganis setelah kesadaran sang Ayah kini berangsur membaik, kekuatan yang dimilikinya secara perlahan mulai dapat dikendalikanya.
Seperti saat adanya kesurupan masal disekolahnya, yang tak lain akibat ulah dari Jin Penunggu Situ Belakang sekolah yang hendak di urug dan dijadikan sebagai fasilitas olah raga yaitu sebagai lapangan futsal.
Dewi Rengganis melakukan negosiasi dengan Jin tersebut tanpa pengetahuan siapapun kecuali sang adik.
"Siapa kau manusia, kenapa kau bisa berada di istanaku." Ujar Jin Air penunggu situ belakang sekolah.
Wujud aslinya adalah siluman dengan wajah yang penuh lendir..mulut bibirnya seperti ikan mujaer dan gigi giginya runcing.
Yang menjadi pertanda adalah jin tersebut jika sudah tua dan kesaktianya perlu diperhitungkan adalah kakinya, jika kakinya seperti kaki kuda maka termasuk Jin yang tua dan jika masih seperti kaki bebek maka jin masih mudah.
"Aku perintahkan agar anak buahmu keluar dari semua tubuh teman temanku, atau kau akan menerima akibatnya." Ujar Rengganis, dia juga tidak sadar dengan apa yang diucapkanya.
"Hahahahaha, Cukup berani kau anak manusia, rupanya kau bosan hidupnya, akan ku jadikan kepalamu sebagai penyanggah tahtaku." Ujar Jin Air tersebut.
Dewi Rengganis tidak banyak bicara, tanganya mengeluarkan sesuatu seperti pedang dan mengeluarkan kobaran api.
Belum sempat Jin Air tersebut menghindar, senjata yang ada digenggaman tangan rengganis tiba tiba bisa memanjang dan mengenai tubuh Jin air tersebut.
"Sial, itu adalah cambuk kolo munyeng, aku bisa hancur jika terkena cambuk tersebut, hawa panasnya sudah membuat tubuhku melemah." Bathin Jin Air tersebut.
"Tttt...tunggu, jangan cambuk lagi, aku akan memrintahkan anak buahku untuk pergi dari tubuh teman temanmu."
"Ada satu lagi yang harus kau penuhi, kau dan seluruh rakyatmu harus segera pindah dari situ ini, pergilah kalian ke hutan cemoro kandang disana ada situ yang cocok buat kalian." Ujar Dewi Rengganis.
Kali ini rengganis sendiri tidak paham dengan apa yang diucapkan, kata kata tersebut melintas begitu saja di fikiranya dan langsung terungkap.
Setelah pertarungan dengan Jin Air disitu belakang sekolah, Rengganis mulai sekedar belajar dari bebwrapa kejadian yang ia alami, dan juga beberapa petunjuk yang dia dapatkan dari membaca peristiwa alam.
Kini rengganis telah remaja dan memasuki sekolah menengah atas SMA, sedangkan adiknya masih di kelas 2 SMP, sekarang dia adan sang adik tidak lagi dalam satu kawasan lingkup sekolah yang sama.
__ADS_1
Sesuai dengan keinginan sang ayah, Rengganis bersekolah di SMA NUSANTARA, sekolah yang berisi anak anak tajir melintir dan orang orang borjuis.
Ayah dari Dewi Rengganis telah kekuar dari perusahaan yang membesarkanya dan mempunyai perusahaan sendiri dan kini perusahaan tersebut telah memiliki beberapa anak perushaan dan cabang baik di dalam negeri atau diluar negeri.
Walaupun dengan ekonomi sang ayah yang memungkinkan Rengganis untuk bergaya Hedonisme, akan tetapi Rengganis tumbuh menjadi remaja yang rendah hati.
Tidak seperti anak SMA Nusantara yang lainya, yang datang dengan diantar mobil atau mereka sendiri yang membawa mobil kesekolah, Tapi Rengganis hanya menggunakan transportasi Ojek Online.
Sampai saat ini teman teman sekolahnya tidak ada yang mengetahui latar belakang dari Rengganis, dan bagaimana kemewahan yang rengganis punya.
Yang mereka tahu adalah, rengganis dikira anak yang mendapatkan fasilitas biasiswa atau hanya orang biasa yang ngotot sekolah disekolah elit.
"Hari ini senin, ada upacara bendera, semoga aku tidak telat." Rengganis berpamitan kepada ayahnya, lagi lagi ayahnya heran mengapa anaknya tidak pernah mau diantar dengan sopir kesekolah.
"Sayang, diantar pak Giman ya Nduk?" Ujar Wahyu sambil mengusap kepala sang anak, tapi Rengganis hanya tersenyum, mencium tangan ayahnya.
"Ayah, hari ini senin loh, pasti macet, lagi pulah ini hari pertama setelah kegiatan orientasi siswa baru kemarin, lagian Rengganis ngga papa kok naik ojek lebih cepat dan adem hehehehe." Ucap Rengganis asal kepada ayahnya.
semua mata memandang kearah Rengganis, membuat gadis tersebut merasa risih, "Apa ada yang salah dengan ku, kenapa mereka memperhatikanku dengan tatapan seperti tidak suka kepadaku?"
Rengganis tetap santai berjalan dan menuju kelasnya, sesampainya dikelas, Rengganis dikejutkan dengan kedatangan Riana dan teman temanya yang langsung mengelilinginya.
Rengganis mencoba bersikap tenang dan berfikiran positif.
"Hei kau anak mana sih? kok bisa bisanya anak miskin bisa sekolah di Nusantara, kehadiran loh menjadi aib disini." Ujar Riana yang langsung menggebrak meja dari Rengganis.
Rengganis tetap diam, tapi tidak melakukan reaksi apapun.
"Sudah Na, jangan kotori tangan kita dengan orang melarat kayak dia, toh dia akan sadar dengan sendirinya dimana tempatnya seharusnya." Ujar Dita sambil menunjuk sinis kearah Rengganis.
Upacara bendera segera dimulai, Rengganis tiba tiba berdiri dan mendorong dita agar bisa terbuka jalan untuk dia keluar.
__ADS_1
"Sial dasar cewek melarat, gak punya mata loe ya." Teriak Dita sambil menahan tubunya yang hampir terjatuh.
Berbeda dengan Rengganis yang hanya menoleh kearahnya dan tersenyum simpul.
Sebenarnya bukan karena masalah harta yanh membuat geng Riana membenci Rengganis, akan tetapi pesona dari Rengganis yang memang tidak bisa ditolak oleh seluruh mata laki laki.
Kecantikanya Rengganis memang tidak bisa tolak oleh lelaki manapun, Rengganis sosok yang ramah, Cantik putih, tinggi dan auranya membuat semua laki laki tidak akan mampu berpaling dari kecantikanya.
Seperti sekarang, saat rengganis keluar menuju lapangan, membuat teman teman perempuan cemburu melihatnya, bagaimana tidak para laki laki langsung menyerbu untuk berkenalan dengannya.
"Awas kau Rengganis, bukan Riana jika aku tidak bisa menjadi yang tercantik di sekolah ini." Riana sangat dongkol melihat para lelaki semuanya memuja dan membicarakan Rengganis.
****
"Pak, ijin ketoilet sebentar." Rengganis berdiri setelah gurunya memberikan ijin.
Rengganis langsung melangkah kearah toilet yang ada dipojokan sekolah bagian bawah.
Saat sepi begini lorong sekolah begitu sepi sehingga terkesan menyeramkan.
Sesampainya ditoilet, Dewi Rengganis langsung buang air kecil kemudian membasuh mukanya.
Tiba tiba Rengganis menghentikan aktifitasnya membasuh mukanya, wajahnya tertuju pada gadis yang berpakaian lusuh yang berdiri di pojok toilet.
"Siapa kau, dan sejak kapan kau disini?" Sosok yang berdiri tersebut terkejut, ternyata Dewi Rengganis bisa melihatnya.
Kemudian gadis tersebut menyeringai dengan tatapan yang sangat menyeramkan, dan tiba tiba kepalanya terlepas dan menggelinding ke arah Dewi Rengganis.
Dewi Rengganis hanya tersenyum dan mengangkat kepala tersebut. "Kalau kau ingin menggangguku, kau salah alamat." Dewi Rengganis kemudian melempar kepala tersebut keluar, dan terdengar suara jeritan dan kemudian tubuh gadis tersebut tiba tiba menghilang.
Tolong....tolong aku., terdengar suara gadis terngiang ditelinganya.
__ADS_1