
..."Awal yang tak bahagia apa bisa berakhir bahagia?"...
...- Andira Khoirunisa...
...•••...
Di sisi lain, Andira atau akrab dipanggil Dira bersama dengan Sang Bunda telah tiba di rumahnya. Tetapi dia merasa aneh karena mengapa keadaan rumah terasa sangat sepi dan tak terlihat adanya orang di dalam rumah.
Dira pun bertanya kepada bundanya, "Bunda, kok rumah sepi gini? bukannya tadi Bion dan Rara ada ya sebelum kita pergi?"
"Eh iya juga ya, sepi gini rumahnya. Coba kamu cari nak ke setiap ruangan disini, bunda mau masukin kantong kresek ini ke kulkas," Ujar Dewita.
"Okee bun, Dira mau cari mereka dulu," Ucap Dira.
Lantas, ia pun mencari-cari keberadaan adiknya yakni Bion dan Rara ke setiap ruangan yang ada di rumah ini. Setelah beberapa menit, gadis berumur 22 tahun itu tak kunjung mendapati batang hidung adik-adiknya. Lalu, ia pun memutuskan untuk menghampiri kembali Dewita yang berada di dapur.
Terlihat bundanya itu sedang mencuci tangannya di wastafel dapur tersebut.
Dira pun langsung berlari kecil ke arah Dewita sambil memgucap, "Bunda! Bion sama Rara ngga ada bun! Dira udah cari mereka dari depan rumah sampe belakang rumah, tetep ngga ada."
Mendengar hal itu, membuat Dewita seketika panik karena biasanya Bion dan Rara tak pernah tiba-tiba pergi tanpa memberitahu atau meminta izin kepada dirinya terlebih dahulu.
"Apa?! kalau hp mereka ada ngga?!" Tanya Sang Bunda.
"Ada bun! ini hp mereka, kayaknya mereka lupa bawa deh," Jawab Dira sembari menunjukkan hp Bion dan Rara kepada bundanya.
Apa yang dikatakan oleh Dira itu adalah faktanya, karena pada saat Bion dan Rara bertemu dengan ayahnya. Saking senangnya mereka sampai lupa membawa hp dan juga lupa untuk mengabarkan kakak dan bundanya.
"Aduh, gimana inii. Bunda khawatir kalau mereka tersesat atau terjadi sesuatu Dir," Ucap Dewita dengan raut wajah yang panik, khawatir, dan bingung menjadi satu.
Karena melihat raut wajah bundanya yang seperti itu, membuat Dira jadi ikut khawatir. Ia pun berucap, "Bundaa, bunda jangan khawatir yaa. Pasti Dira cariin mereka sampai dapat. Sekarang bunda ganti baju aja terus habis itu istirahat ya? nanti biar Dira aja yang masakin makanannya."
"Gapapa? jangan deh, biar bunda aja yang masak. Lebih baik kamu yang istirahat." Ucap Sang Bunda.
"Iya gapapaa bunda, Dira ngga capek ini kok tenang ajaa."
Dewita pun akhirnya menyetujui anaknya itu, karena saat ini ia merasa kelelahan dan dia sepertinya tak bisa membantah perkataan Dira. Dia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian dan istirahat sejenak.
Sementara itu, Dira akan mencuci tangannya lalu memasak hidangan makanan untuk siang ini. Di sela-sela memotong bahan masakan, Dira terus memikirkan tentang keberadaan adiknya.
"Kemana ya tu dua bocah, ngga biasanya kayak gini. Tapi kok firasatku agak gak enak gini ya?" Ucap Dira di dalam hatinya, karena ia takut jika bundanya mendengar hal ini.
***
Mari kita lihat keadaan Bion dan Rara, terlihat keduanya kini sedang duduk di sofa yang dimana di hadapannya terdapat Tante Linda yang sedang menawarkan cemilan dan minuman kepada mereka.
__ADS_1
"Ayo dimakan, ini enak enak loh makanannya. Pasti kalian suka, minumannya juga diminum ya. Pasti kalian haus kan," Ujar Tante Linda.
"Eh gausah repot-repot Lin," Ucap Pratama.
"Iya tante, ngga usah repot-repot," Ucap juga Bion yang merasa tidak enak kepada wanita di hadapannya ini.
"Udah gapapaa, makan ajaa. Kalo gak dimakan nanti dibuang terus sayang loh," Ujar Wanita tersebut.
Rara? dia hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Tapi jika dilihat-lihat, matanya seperti melirik ke arah makanan yang ada di depannya. Mungkin dia ingin memakannya tapi rasa malunya lebih besar daripada rasa laparnya.
"Oke kalo gitu, Bion makan ya tantee," Tanpa bass-basi lagi, Bion melahap biskuit coklat yang ada berada di atas meja.
Begitu pula Rara yang ikut mengambil makanan di atas meja, tetapi ia hanya mengambil permen coklatnya saja.
"Kalian tuh ya malah langsung ambil gitu, bukannya nunggu Tante Linda minum ato makan dulu," Ucap Pratama kepada anaknya yang sedang memakan cemilan tersebut.
"Udh gapapa mas, namanya juga anak anak," Ujar Tante Linda.
"What?! Mas?!" Kata Bion dan Rara dalam hati.
Mendengar hal itu dari bibir Linda, membuat Pratama tampak tenang. Lain halnya dengan Bion juga Rara. Mereka sangat terkejut karena mendengar kata "Mas" yang diucapkan oleh Tante Linda.
Terlihat Rara yang sedang berpikir keras untuk mengingat kembali memori yang tampaknya ia lupakan. Sejak Rara berkenalan dengan Tante Linda, ia terasa familiar dengan mukanya. Oleh karena itu ia sedari tadi tak berbicara apapun.
Linda pun menjawab, "Tentu boleh dong sayangg"
"Mainnya yang tertib ya, kalian jangan berbuat macem macem," Ujar Sang Ayah.
Setelah mendengar perkataan Tante Linda dan Pratama. Rara pun mengajak serta Bion untuk ikut.
"Iyaa iyaa, ayo kak Bion," Ajak Rara.
Kalau boleh jujur, Bion kaget karena Rara tiba-tiba mengajaknya keluar. Tapi apa boleh buat, jika dia diam disini. Pasti dirinya nanti menjadi nyamuk dadakan.
"Oke, ayo," Balas Bion.
Kakak beradik itu pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke luar rumah. Sesampainya disana, dengan tiba-tiba Rara menarik tangan kakaknya.
Seketika Bion terkejut karena ulah Rara itu, "Eh kenapa nih tarik tarik begini"
"Udah jangan banyak nanya, sini aku kasih tau sesuatu," Jawab Rara.
"Apaan tuh," Tanya Bion yang mulai penasaran.
"Ginii, tadi tuh pas aku ngeliat mukanya si tante itu, aku ngerasa kayak familiar sama muka dia. Kayak pernah liat di suatu tempat," Ucap Rara.
__ADS_1
"Eh masa sih? Kamu liat dia dimana?" Tanya Bion.
Rara pun menerangkan semua kepada Bion, bahwa dia pernah melihat Tante Linda di kantor ayahnya. Pada saat itu, kebetulan Rara sedang mengantarkan bekal makan siang buatan ibundanya kepada sang ayah. Saat ia sampai di depan pintu kantor ayahnya, dan hendak membuka knop pintu itu. Tanpa diduga pintu tersebut tidak dikunci sama sekali, Rara pikir ayahnya sedang di dalam dan lupa mengunci pintu. Karena setahu Rara, ayahnya itu jika saat berada di ruang kerja, pasti ia mengunci pintunya. Pratama pun sering melakukan itu di ruang kerja yang ada di rumahnya.
"Tau ngga apa yang aku liat?" Tanya Rara dengan mendadak.
"Emang apa yg kamu liat?" Kata Bion.
"Pas itu aku liat si Tante Linda ada diatas pangkuan ayah!" Tutur Rara.
"Apa?! Kamu serius?!" Kata Bion yang seketika itu tercengang oleh perkataan Rara.
"Sshuutt, jangan keras keras kak. Nanti ayah dan nenek sihir itu denger," Ujar Rara.
"Ehiya, habisnya kakak kaget dengernya. Habis itu kamu labrak ato langsung pulang?" Tanya Bion.
"Ya pulanglah, mana berani aku ngelabrak ayah sama si tante waktu itu," Jawab Rara.
"Ouhh kan kirain, pantesan aja kamu tadi diem terus," Ujar Bion.
"Mwehehehe habisnya aku tadi lagi inget inget, ehiya kak kita harus jaga rahasia ini ya. Jangan sampe ada yg tau, kecuali kak Dira. Nanti aku kasih tau juga ke kak Dira," Tutur Rara.
"Sipp, pasti kakak tutup mulut kok," Ucap Bion.
"Baguss, nah sekarang kita masuk lagi kak. Nanti mereka curiga," Ajak Rara.
"Eh bentar, gak jadi main kucing nih?" Tanya Bion.
Asal kalian tahu, Rara menjadikan kucing di halaman rumah ini sebagai alasan dia agar bisa mengobrol dengan kakaknya perihal tadi.
"Ck, kakak mah gak pahamm. Itu tuh cuma alesan aku aja biar bisa bahas soal yg aku kasih tau tadii. Lagian kucingnya lagi tidur gituu," Jawab Rara.
Bion pun menjawab,"AHAHAHA kakak kira kamu beneran pengen main sama dia, ternyata akting toh"
Rara kesal mendengar tawa dari kakaknya itu. Ia pun berucap, "Kakak tuh sama aja deh kayak ayah, nyebelin!"
Karena kesal, Rara lebih dulu berjalan ke dalam rumah meninggalkan kakaknya seorang diri. Melihat itu, Bion berhenti menertawai Rara kemudian menyusul adiknya itu yg mukanya seperti mau meledak karena emosi.
Di perjalanan dari depan rumah. Bion berkata dalam hatinya, "Gimana ya reaksi kak Dira nanti? Trus kalo suatu saat bunda tahu, pasti bunda kecewa berat sama ayah."
...•••...
Thanks for reading⚘
Jangan lupa like dan komen yaa-!😻
__ADS_1