REMONO

REMONO
- Perintah -


__ADS_3

..."Manusia punya dua sisi, sisi yang baik dan sisi yang buruk." - Rania Asteria...


...•••...


"Eh, kalian udah selesai main-mainnya?" Tanya Tante Linda yang melihat Bion dan Rara masuk kembali ke dalam rumah.


Rara pun menjawab, "Udah tante"


"Kalo gitu kayaknya kita bakal pamit pulang Lin, soalnya nanti orang rumah curiga," Ujar Pratama kepada Linda.


"Kenapa cepet banget? Padahal aku pengen kalian nginep juga disini loh," Balas Linda.


"Maaf tante ngga usah repot-repot, Bion sama Rara juga besok harus berangkat sekolah" Kata Bion sembari tersenyum kepada Linda.


"Bener apa kata Bion, mereka harus sekolah besok dan jarak rumah ini ke sekolah lumayan jauh Lin," Ucap Pratama.


Seketika raut wajah Linda berubah menjadi murung, ia terlihat sedih setelah mendengar perkataan Pratama dan Bion barusan. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa memaksa mereka.


"Ouhh, yaudah deh gak apa-apa. Lain waktu kalian main lagi yaa kesini," Pinta Linda.


Setelah berbincang sedikit, Pratama, Bion, Rara dan juga Linda, mereka beranjak dari tempat duduk lalu berjalan menuju parkiran rumah tempat mobil Pratama berada.


"Rara pamit dulu ya tante, makasih banyak buat makanan dan minumannya," Pamit Rara sembari bersalaman dengan Tante Linda.


Sama halnya dengan Rara, Bion pun berpamitan dan tak lupa untuk bersalaman, "iya tante makasih banyak ya, Bion pamit juga".


Linda pun membalas, "iya sama-sama sayangg, kalian hati hati ya dijalan."


"Iya tantee," Balas Bion dan Rara.


"Aku pamit dulu ya," Pamit Pratama sambil tersenyum ke arah Linda.


"Iyaa, hati-hati dijalan," Ucap Linda sembari membalas senyum ayah dari kedua anak tersebut.


Bion, Rara dan ayahnya pun memasuki mobil mereka. Tak berlama-lama lagi, mobil fortuner berwarna putih itu meninggalkan kediaman Linda.


Saat di perjalanan, suasana didalam mobil diselimuti oleh rasa canggung. Pratama tidak berbicara sepatah kata apapun, begitupula dengan Bion juga Rara. Selang 10 menit, mobil yang Bion dan Rara tumpangi mendadak berhenti. Sontak mereka pun menoleh ke arah Pratama yang berada di kursi pengemudi. Sampai pada akhirnya Pratama mengatakan sesuatu.


"Bion, Rara. Ayo turun sebentar," Ajak Pratama dengan tiba-tiba.


Bion dan Rara pun terheran-heran, tapi mereka pada akhirnya akan tetap menuruti ajakan ayahnya itu. Saat pintu mobil terbuka, Bion dan Rara disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah, dimana ada sebuah pekarangan bunga yang indah dan rerumputan yang sangat luas. Tak lupa di taman itu ada beberapa meja serta kursi yang menemani.


Terlihat Pratama melangkahkan kakinya menuju salah satu bangku yang ada disana. Oleh karena itu, Bion dan Rara pun mengikuti langkah kaki sang ayah.

__ADS_1


"Kalian duduk di depan ayah ya," Titah Pratama.


"Iya yah," Jawab Bion dan Rara sembari duduk di kursi yang berada tepat di depan ayahnya itu.


"Jadi gini, ayah mau ngobrol sebentar sama kalian," Ujar Pratama kepada anak-anaknya.


Rara pun bertanya, "Tentang apaan yah?"


"Tentang kita di rumah Tante Linda tadi," Jawab Pratama.


"Ouhh itu, ngomong aja yah. Kita bakal dengerin kok," Balas Rara.


"Menurut kalian, Tante Linda bagaimana? Dia tadi sangat baik kan?" Tanya Sang Ayah.


"Dih, baik di mukanya doang yah. Padahal aslinya mah bikin istigfar yang ada." Jawab Bion di dalam hati tanpa sepengetahuan ayah dan juga adiknya.


Rara pun menjawab pertanyaan ayahnya barusan, "Baik kok yah, Tante Linda tuh baiiikk banget"


Terlihat senyum Pratama yang merekah pada bibirnya. Jika dilihat dari raut wajahnya, ia sepertinya senang mendengar perkataan Rara tadi.


"Kalo Bion? Menurut kamu gimana?" Tanya Pratama kepada Bion.


"Bion juga sama kayak Rara yah, Tante Linda orang yg baik," Jawab Bion.


Bion dan Rara hanya membalasnya dengan mengangguk-anggukan kepala mereka.


"Tapi yah, ayah sama perempuan itu ada hubungan apa? Kok keliatannya kalian kayak akrab gitu," Tanya Rara yang memberanikan diri karna dia kelewat penasaran.


"Ayah sama dia gak ada hubungan apa-apa kok, cuma temen biasa. Kalian jangan mikir yang aneh aneh," Jawab Pratama dengan matanya yang menajam, seolah olah Bion dan Rara dipaksa untuk tak bertindak macam-macam.


"Dan lagi, jangan sampai bunda kalian tahu kalau kalian udah ketemu sama ayah, dan juga jangan sampai bunda kalian tahu tentang hal ini. Pokoknya kalian harus tutup mulut ya, kalian kan anak yang baik," Titah Pratama.


"Apa?! Kenapa bunda ngga boleh tahu tentang tante linda yah?! Maksud ayah apaan?!" Ujar Bion yang emosinya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Sebenarnya ia paham tentang bahasan ini, dia tidak sebodoh itu untuk bisa ditipu oleh ayahnya.


BRAK!!


"Kamu udah berani melawan ayah ya Bion?! Intinya kalian harus tutup mulut kalian itu, ikuti saja perintah ayah dan jangan membantah, mengerti?!" Bentak Pratama kepada Bion dan Rara sembari menggebrakan meja diikuti oleh dirinya yang berdiri dari tempat duduk.


Lama-lama Rara jadi geram kepada ayahnya, ia pun memutuskan untuk angkat bicara dan ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah pikir kita gak tau apa-apa?! Udah deh gak usah basa basi yah, bilang aja ayah selingkuh kan sama si Tante Linda itu?! Iya kan?!" Ujar Rara dengan nada tinggi.


"Asal ayah tahu, Tante Linda bukan perempuan yang baik seperti apa yang ayah lihat," Ucap Rara di dalam hatinya

__ADS_1


Seketika Pratama terdiam tak berkutik. Dia pikir Bion dan Rara tidak seberani ini kepada dia. Padahal nyatanya, mereka sudah cukup bisa menyadari apa yang salah saat ini.


"Benar kan yah? Dengan ayah cuma diem aja kayak gitu, itu bisa jadi jawaban dari ayah loh," Ujar Bion yang menundukkan kepalanya sedari tadi.


"Terserah kalian mau nganggep ayah selingkuh atau ngga sama Tante Linda, yang jelas kalian harus ikuti perintah yang udh ayah katakan tadi. Kalau tidak, kalian akan mengetahui akibatnya nanti," Ucap Pratama. Setelah mengatakan hal itu, sang ayah berjalan menuju mobil dan memasuki mobil miliknya itu.


"Kak... jadi kita harus gimana?" Tanya Rara sambil memandang kakaknya itu.


"Kamu jangan cemas yaa, untuk sementara ini kita tutup mulut dulu aja sesuai perintah ayah tadi. Habis mau bagaimana lagi? Kita melawan pun akan sia-sia, dan kakak takut akan terjadi sesuatu pada bunda dan kak dira," Jawab Bion.


Rara pun menyetujui arahan kakaknya itu dengan menggangukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Bion barusan ada benarnya juga, jika melawan pun mereka harus berpikir-pikir lagi. Karna ada bunda dan kak dira yang harus mereka lindungi.


"Ayok kita masuk lagi kedalam mobil, nanti kita ditinggalin sama ayah loh," Ajak Bion sambil meraih lengan adiknya itu.


Mereka akhirnya kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Atmosfer di dalam mobil itu sangat canggung. Jika dibandingkan dengan sebelumnya, saat ini mereka seperti berada di hutan yang gelap, yang membuat Bion dan Rara ridak tahu harus mengambil jalan yang mana.


Bion dan Rara sedang bingung saat ini, apa yang harus mereka lakukan? Mereka tidak pandai untuk menutupi kebohongan ini semua.


Rara melihat ayahnya yang menyetir tanpa berbicara apapun, dia juga melihat ke arah sampingnya yang dimana kakaknya itu sedang memandang ke arah luar lewat kaca mobil.


"Kak Bion.... apa kakak baik-baik aja?" Gumam Rara dalam hatinya.


Meski terlihat kuat, kakaknya itu tidak bisa sepenuhnya menutupi rasa khawatir yang ada di dalam dirinya. Seringkali Rara bertanya-tanya, mengapa kakaknya itu sangat kuat dan hebat. Padahal Bion juga pasti merasakan hantaman yang kuat pada hatinya. Belum lagi orang-orang suka berprilaku tak adil pada kakaknya itu.


Rara pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang Bion juga lakukan. Dan betapa kagumnya dia saat melihat pemandangan indah yang ada di luar. Sambil menikmati pemandangan itu, Rara pun termenung yang dimana saat ini otaknya terus-menerus memikirkan kondisi Sang Bunda serta Kak Dira. Bagaimana jika suatu saat nanti hal buruk terjadi pada dirinya atau keluarganya?


"Semoga ini semua akan baik baik saja," Kata Rara di dalam hati.


Langit yang sudah mulai senja


Dan tak lupa disertai awan putih yang indah


Semua itu merupakan saksi bisu bahwa dirinya merasa rapuh


Seperti terjatuh kedalam jurang yang dalam


Dadanya terasa sesak dan air matanya seperti mau mengalir deras


*T*api, dia harus menahan itu semua


Tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa


...•••...

__ADS_1


__ADS_2