Rencana Yang Indah

Rencana Yang Indah
Bab 5 - Meminta Ijin


__ADS_3

Dan disinilah felicia berada, didalam mobil pria yang sangat cia cintai. Hatinya sedari tadi tidak berhenti berdetak dengan sangat cepat.


"Kalo ni jantung kayak gini terus, bisa bisa kena penyakit jantung" ucap felicia dalam hati.


didalam mobil mereka terdiam, karena martin tidak tau harus mengobrol tentang apa. Martin segera menghidupkan radio yang sudah tersedia didalam mobil tersebut. Namun sayangnya saat radionya dihidupkan malah lagu dari Maliq & D'Essetials - Untitled.


Mungkin memang, ku yang harus mengerti


Bila ku bukan yang ingin kau miliki


Salahkah ku bila


Kaulah yang ada dihatiku


Adakah ku singgah dihatimu, mungkinkah kau rindukan adaku


Adakah ku sedikit dihatimu


"Kak, apa kau sengaja?" tanya felicia


"Sengaja apa maksudmu?" tanya martin balik


"Lagu ini sungguh cocok mewakilkan perasaanku, cintaku yang bertepuk sebelah tangan" ucap felicia


"Kak, aku menyerah ya? mulai besok jangan jemput aku lagi. Nanti aku yang akan memberitahu airin untuk tidak repot repot menjemputku" ucap felicia.


"8 tahun aku memendam perasaan ini, aku jujur tentang perasaanku tapi kau tetap acuh, mungkin memang saatnya aku harus sadar diri" ucap felicia dalam hati.


"Kak, kenapa kau diam? ah iya diammu sudah pasti Iya kan? baiklah mulai sekarang aku akan belajar melupakanmu" ucap felicia, kedua kakinya dia naikkan dan bersila kemudian dia memejamkan matanya, felicia sungguh pusing menghadapi hatinya.


"Kau salah memilih tambatan hati cia" ucap felicia dalam hatinya.


Steve melirik kearah felicia yang kini telah tertidur lelap, dengan kakinya yang diangkat bersila.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepasmu" ucap martin, tangannya diarahkan untuk mengelus rambut felicia.


***


Mobil martin kini sudah sampai dipekarangan rumah felicia, setelah mematikan mobilnya, martin beralih untuk membangunkam felicia, namun yang dibangunkan sudah tertidur lelap.


"Dasar kerbau, nyenyak sekali tidurnya" gerutu martin yang melihat felicia tidak bangun bangun. Dengan kesal martin turun dari mobilnya dan akan menggendong felicia.


"Berat sekali" rutuk martin, martin kemudia berjalan meendekati pintu rumah"


"Permisi" ucapnya.


"Nak martin? cia kenapa?" tanya ibu cia sedikit khawatir, setelah membukakan pintu


"tidak papa tante, hanya ketiduran tadi sudah martin bangunkan tapi cia tidak mau bangun" ucap martin


"Oh tante kira cia kenapa, memang cia agak susah ddibangunkan jika dia sudah tertidur lelap maaf cia sudah sangat merepotkanmu nak" ucap ibu cia


"Itu disebelah kamar tante, yang pintunya warna pink"


"Baiklah tante, martin mau antar cia kekamarnya dulu"


"Iyaa nak"


ibu nisa tersenyum melihat martin yang menunjukkan sedikit kepeduliannya untuk anaknya.


****


"Siapa itu? kenapa banyak sekali fotonya dikamar ini?" tanya martin setelah dirinya berada didalam kamar, dirinya begitu terkejut mendapati kamar cia yang berisikan banyak foto pria yang menurutnya sedikit lebih tampan darinya. martin segera menurunkan cia keranjangnya dengan perlahan


"Sial, kenapa banyak sekali fotonya" ucap martin setelah mengedarkan pandangannya keseluruh kamar martin, matanya menuju foto dimana dirinya dan cia sewaktu SD yang cia letakkan dimeja samping tempat tidurnya.


"Kenapa fotoku hanya yang ini saja, disaat aku masih kecil dan tidak tampan sama sekali" rutuk martin. Martin ingat foto itu, dimana felicia merengek ingin sekali berfoto dengannya, dan cia hingga menangis akhirnya martin pun mau berfoto dengan cia. Sebuah foto yang dimana cia menaruh tangannya di leher martin, satu tangannya berpose *peace* lalu martin? tentu saja dengan tatapan matanya yang seperti malas berfoto.

__ADS_1


"Ehh itu seperti fotoku" ucap martin setelah melihat kaca rias felicia. martin mendekati foto itu


"Ck, fotonya sedikit dan kebanyakan candid" keluh martin, tapi sesaat kemudian dirinya tersenyum, terdapat 30 foto dirinya yang sedang tertawa, melirik tajam, dan banyak lagi lainnya.


"Akan aku buang semua foto pria itu, bisa bisanya dia tiap hari memandangi ciaku yang tertidur pulas" ucapnya martin


kemudian mulai mencabut foto foto pria itu, satu foto dia masukkan ke kanton celananya, dirinya ingin tahu siapa sebenarnya pria ini. Martin hanya menyisakan 15 foto dari 100 foto polaroid pria yang dipajang dikamar cia itu.


"Harusnya fotoku yang lebih banyak, bukan pria ini" ucapnya setelah selesai melakukan pekerjaannya. yang mencabuti foto pria itu. Setelah kemudian martin berjalan keluar untuk menemui ibu dari felicia.


"Tante, boleh martin bicara sebentar?" ucap martin, yang melihat ibu cia sedang menjahit.


"Tentu saja boleh nak, kita keruang tamu ya" jawab ibu nisa


Martin mengikuti langkah ibu nisa menuju ruang tamu keluarga itu.


"Mau bicara apa nak?" tanya ibu nisa yang kini sudah duduk diruang tamu bersama martin.


"Martin mau minta ijin tante, jumat depan kebetulan sekolah libur sampai hari selasa. Mama dan Papa martin mau mengajak felicia liburan ke London, kalo memungkinkan diijinkan ya tante, biar airin ada temannya disana" ucap martin to the point


"Tapi nak, london itu sangat jauh dan biayanya sangat besar. Tante tidak merepotkan keluargamu nak" ucap ibu nisa sedikit tidak setuju.


"Tante bicara apa, tentu saja keluarga martin tidak merasa terbebani karena mereka sudah menganggap cia bagian dari keluarga martin. Jadi diizinkan ya tante" ucap martin dengan nada sedikit memelas


"Baiklah martin, tante memberimu ijin untuk membawa cia"


"Terimakasih tante, martin janji akan melindungi dan menjaga cia saat libura nanti" ucap martin


"Iya nak"


Martin pun berpamitan untuk pulang. Setelah meminta ijin dari ibu nisa, martin merasa lega karena bisa liburan dengan cia. Entahlah dirinya sangat senang akan hal itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2