REUNI (Seandainya)

REUNI (Seandainya)
Bagian 1 Pulang


__ADS_3

Yang ku ingat dari jingga 7 tahun yang lalu senyum yang terukir indah di bibirnya, candanya yang has, dan godanya atau jahilnya yang membuat se isi kelas menjadi berwarna.


7 tahun lalu.


Akhirnya masa masa MOPD berakhir, sungguh aku malu jika ingat tadi di lapangan saat bermain kucing dan tikus, saya jelas kan permainan ini terdiri dari dua orang, orang yang pertama menjadi kucing dan orang ke dua menjadi tikus, dan sisanya melingkar saling bergandengan tangan agar menjadi batas pagar untuk si tikus kabur dan yang menjadi kucing bisa melewati batas dari dalam keluar tapi terkadang jika sang kucing keluar dari batas lingkaran berarti tugas kami melindungi agar sang kucing tidak bisa masuk kelingkaran untuk menangkap sang tikus kira kira seperti itu permainannya. Dan saat itu pula pertama kalinya dia melihat ku dan berbicara kepada ku.


"Masih betah ya pegangan tangan sama saya." Ucap jingga


"Eh . . . Eh . . . Maap." Jawab ku binggung saat permainan sudah berakhir sedari tadi.


"Kalo masih betah pegangan sama saya gpp ko, tapi tangan situ ko basah ya, jangan bilang kalo situ saat ini lagi takut sama saya atau jangan jangan suka ya sama saya." Ucapnya mengoda ku.


Tapi ya gengamannya hangat, tangannya halus hanya kasar di bagian jari jemarinya, kenapa sampai saat ini aku malah memikirkan dia mustahil jika saya suka, hanya dengan berpegangan tangan.


"HEI, ELO ANAK BARU KAN !!!" Sentak seorang lelaki yang sedang merokok dengan teman temanya.


"I. . Iya ka," ucap ku takut.


Oh iya saya akan menjelaskan saat ini aku jalan memutar dari biasanya karena jalannya sepi dan terbilang indah dilingkuan ini, tapi biasanya anak anak seperti kaka kelas dari SMAN ku nongkrong di sini.


"Nongkrong dulu lah sini, biar kita kenal, elo jangan galak galak bro, cewe tuh harus dibaikin." Ucap seseorang dengan pirsing/tindikan dialis kiri. Dan berjalan mendekati ku.

__ADS_1


"Hai kenalin gua herman, ayolah manis kita nongkrong dulu, kita happy happy dulu baru pertama masuk kan, perkenalan sedikit ajah." Dia berbicara terlalu dekat tercium aroma bau alkohol dan roko dan dia memegang dagu ku dan nyaris bibir kami akan bersentuhan, pandangan kaka kelas ini mengintimidasi


"Ayo kita pulang bareng." Di tariknya pergelangan tangan ku oleh seseorang dengan kasar, dan yang kulihat hanya badan bagian belakang hanya terlihat jaket orang berpostur tinggi. yang ku tau dia mendorong ka herman dengan lengan kirinya.


"Dia pacar gua, jangan ganggu dia." Ucap seseorang yang sedang berada didepan ku, tangan dari lelaki ini sama dengan jingga.


"Ohh, gua kira dia masih singgel oke oke maaf silakan jalan." Ucap ka herman santai dan tangan seperti membuka jalan kepada kami.


Setelah agak jauh dari gerombolan ka herman lelaki ini berbicara. "Besok besok jangan lewat sini lagi, herman tuh bahaya gua ga yakin kalo elo bakal lepas dari dia kalo gua ga ada, dan yang lebih parah dia bisa rusak kehormatan elo." Ucap lelaki yang masih menggenggam tangan ku erat dan kuat.


Dan saat dia berbalik melihat ku dan melepas tudung jaketnya dia adalah jingga. melihat ku dengan mata yang mengintimidasi lebih parah dari herman dan nada bicara yang sedikit naik seperti marah tapi bukan membentak dan genggaman tangannya semakin kuat dan erat.


"Aw. . ." Aku meringis pelan, sakit genggaman tangannya terlalu kuat.


"Genggaman tangan elo aduh," ku beranikan untuk berbicara jika dia marah aku hanya akan cukup mendengarkan.


Saat aku melihat nya experesi aneh dari wajah nya dan dia melepaskan gengamanya.


"Ohhh ya maap gua kebawa emosi, tapi tangan elo gpp kan bentar tunggu sini." Ucapnya hebo sendiri.


"Gua ga apa apa ko," ucap ku.

__ADS_1


"Ga apa apa gimana itu tangan elo merah, bentar tunggu sini."


Entah berapa lama aku harus menunggunya tapi jingga bilang aku harus tunggu sini.


Dan terlihat dari jauh jingga sedang berlari cepat sekali apa yang telah dia lakukan terlihat dari wajahnya seperti ketakutan.


Di tarik lagi tangan ku, dan dia berbicara "ARINI AYO CEPAT LARI !!!"


Aku mengertukan alis dalam benak ku ada apa ini kenapa wajahnya pucat dan ketakutan, kami pun berlari cepat berhubung saat itu aku memakai baju olah raga jadi aku bisa mengerakan kaki ku bebas, saat berlari aku sempat melihat kebelakang dan ternyata ada anjing yang mengejarnya, saat kami memasuki gang yang menghubungkan dengan perumahan ku, aku pun reflek tertawa dan ya jingga mengerutkan alisnya yang wajahnya masih pucat pasi.


Jingga bertanya. "Kenapa situ ketawa ?" Berbicara sambil mengatur nafas dan mengelap keringatnya.


"Gua kira elo dikejar sama gerombolan herman, eh tau nya malah dikejar anjing kecil." Jawab ku.


"Yee ngeledek, itu kecil kecil juga kalo digigit bisa bisa rabies saya." Jingga menjawab sambil tersenyum, dan masih mengatur nafas


Tapi disaat itu dia membuka tas ku lihat dia mengeluarkan kertas plastik warna hitam dan ditarik tangan ku yang sebelumnya memerah dan ya dia membeli batu es dan diletakanya sapu tangan dan diatasnya ditaruh es batunya. "Maaf ya kalo gua tadi narik tangan elo lagi, pegang dulu bentar ini sapu tangan dan esnya." Ucap jingga, dan aku pun menurut, dikeluarkan lagi dari tasnya dan ku lihat botol air putih "ini minum saya tau situ haus maaf ya dua kali saya narik tanggan situ, sekali lagi maaf."


Entah kenapa hati ini berdebar kembali, melihat wajahnya yang bersalah dan melihatnya merawat tanggan ku yang memerah, sungguh indah saat itu.


Kembali ketempat di ruang kerja ku arini.

__ADS_1


Dan aku menghela nafas panjang. "Seandainya jika waktu itu bisa ku hentikan, meskipun hanya sekejap bisa kah kita lebih banyak berbicara satu sama lain dan mengenal lebih jauh dan aku arini akan berkata pada mu, AKU TELAH JATUH HATI PADA MU DAN KAU LAH CINTA PERTAMA KU JINGGA."


__ADS_2