
Dua hari kemudian, Rey telah mempersiapkan semua barang barang yang ingin dibawa kemah. Rey kali ini bangun sangat pagi sekali untuk mempersiapkannya.
"Ting."
Ada bunyi di handphone Rey. Rey mengankat handphonenya lalu terlihat bahwa ada pesan dari Lina. Rey membuka pesannya.
"Rey, kita kumpulnya jam 8. Ayo berangkat bareng." Pesan yang Lina kirim.
"Baik." Balas Rey.
"Sekarang masih jam setengah 6, kalau begitu mandi dulu saja."
Rey membuka pintu kamarnya lalu keluar dari kamar dan berjalan ke arah tangga lalu berjalan menuruni tangga untuk ke kamar mandi. Rey membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Rey membuka kran air panas ke bak mandinya lalu mambuka air dingin agar air yang dipakai Rey untuk mandi menjadi hangat.
Di area dapur terdapat Ibu Rey yang sedang menyiapkan bekal milik Rey. Setelah menyiapkannya, Ibu Rey menaruh makanan tersebut ke kotak makan. Setelah beberapa menit Rey muncul dan bersiap untuk berangkat.
"Rey, ayo sarapan dulu." ucap ibu Rey.
"Baik." jawab Rey.
"Saat mendaki kamu hati hati di jalan ya, lalu jangan lupa jaga Lina juga."
"Eh, kenapa ibu tau kalau aku akan pergi dengan Lina juga."
"Tentu saja ibu tau, kan kalian selalu bersama sejak kecil. Ibu juga tau kalau yang mengajak kamu itu Lina."
"Waaah, seram." ucap Rey dalam hatinya.
"Terima kasih makanannya." Rey sudah selesai sarapan, dia berjalan menuju pintu.
"Ibu, aku berangkat." Rey berpamitan kepada ibunya.
"Hati-hati di jalan." Balas ibu Rey.
Rey membuka pintu lalu keluar dan menutup pintunya kembali. Saat sudah keluar pagar Rumah, Rey menengok ke kiri dan melihat Lina yang sedang menunggunya.
"Yo, maaf lama." sapa Rey.
"tidak apa apa, kita masih punya banyak waktu luang." jawab Lina.
"Kalau begitu, ayo berangkat." ajak Rey
"Iya." Lina menjawab sambil mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju ke tempat berkumpul untuk menaiki kendaraan yang akan menjadi transportasi untuk menuju ke gunung.
Saat di jalan mereka mengobrol tentang dimana tempat mereka berkumpul.
"Lina, kita mau kumpul di mana?" tanya Rey.
"Oh iya, kata salah satu temanku mengatakan kita kumpul di rumah Aisha." jawab Lina.
"Eh."
"Ya aku belum pernah kesana. Tapi salah satu temanku juga mengatakan bahwa rumahnya besar."
__ADS_1
"Berarti Aisha adalah orang kaya?" tanya Rey.
"Kayaknya iya." jawab Lina.
"Berarti dia juga yang memesan kendaraannya?"
"Begitulah."
"Waah, orang kaya memang hebat." ucap Rey sambil memasang wajah yang datar.
"Benar sekali." ucap Lina sambil menganggukan kepalanya.
Aisha adalah salah satu teman kelas Rey dan Lina. Aisha memiliki banyak teman, bahkan sampai di luar negeri. Dia memiliki wajah yang imut dengan rambut coklatnya yang indah.
Mereka berdua berjalan melewati sekolah mereka. Setelah melewati sekolah, mereka berdua lurus terus sampai di depan rumah dengan pagar yang tinggi.
"Dimana sebenarnya rumahnya?" tanya Rey.
"Sepertinya ini."
"Eh, benarkah?" tanya Rey sambil memasang wajah terkejut.
Rey dan Lina terkejut karena pagar rumah tersebut sangatlah luas, bahkan luasnya seperti luas sekolah mereka.
"Lalu bagaimana kau bisa tau kalau ini rumah milik Aisha?"
"Dari temanku."
"Putri Lina memang hebat."
"Ahahahaha."
"Bagaimana kalau kita memutari pagarnya dulu, siapa tau kita menemukan pintu gerbangnya."
"Baiklah."
Mereka akhirnya memutari pagar rumah tersebut agar menemukan pintu gerbangnya.
"Seberapa besar rumah ini?" tanya Rey
"Iya juga, pagarnya saja panjangnya kira-kira 200 meter lebih kayaknya." jawab Lina.
"Itu ada belokan, kayaknya setelah belokan itu gerbangnya." ucap Rey.
Mereka berbelok ke kanan dan mereka melihat ada Teman-Teman Lina yang sedang menunggu Aisha dan kendaraanya di depan pintu gerbang.
"Oy Lina, sini sini."
"Anna, akhirnya ketemu pintu gerbangnya. Panjang sekali pagarnya."
"Benar sekali."
Rey melihat ternyata lumayan banyak yang ikut. Salah satu teman kelas Rey mendekati Rey untuk mengobrol.
"Yo, kau ke sini dengan Lina ya?" tanya temannya.
__ADS_1
"Ya, siapa kau?"
"Oh, maaf. Kita baru sekali ini mengobrol jadinya belum kenal ya. Perkenalkan namaku Marvin, salam kenal ya."
"Ya, namaku Rey, salam kenal."
Mereka berdua berkenalan sambil bersalaman.
Tiba tiba gerbang terbuka dan muncul seorang gadis. Dia adalah Aisha dan langsung menyapa temannya.
"Halo teman-teman, maaf menunggu lama. Aku akan segera memanggil kendaraannya sekaligus sopirnya." sapa Aisha sambil melambaikan tangan lalu memberi kabar soal kendaraanya.
"Hai Aisha." Lina membalasnya.
"Wah ada Lina, terima kasih sudah mau pergi bersama kami."
"Tidak apa apa, aku juga senang pergi bersama kalian."
"Yang datang sedikit ya."
"Iya, katanya yang lain sibuk semua." balas Lina.
"Ooh."
Mereka berdua mengobrol sambil menunggu kendaraanya datang. Tiba tiba terdengar suara mobil mendekat. Mobil warna hitam mulus dan panjang.
"Wah, itu mobilnya sudah datang." ucap Aisha.
"Yah, wajar saja mewah. Putri orang kaya memang hebat." ucap Rey di dalam hatinya yang terkesan karena mobilnya kelihatan mahal dan mewah.
"Ayo kita masuk." ajak Aisha.
"Baiklah, ayo teman teman." ajak Lina.
"Rey ayo masuk." ucap Marvin mengajak Rey masuk mobil.
Mereka semua masuk mobil dan melihat sekitar yang penuh dengan barang mewah dan mahal.
"Waah, ada kulkas didalam mobil." ucap Lina yang terkejut ternyata di mobil juga ada kulkas.
"Bukan cuma itu saja loh, Lina." ucap Aisha.
"Eh, masih ada lagi barang selain kulkas di dalam mobil?" tanya Lina.
"Ya." jawab Aisha.
"Aku ingin tau, iyakan Anna?"
"Ya, tentu saja." jawab Anna.
"Nanti akan aku jelaskan di jalan."
"Baiklah, ayo kita jalan." ucap Lina dengan semangat sambil mengangkat tangannya.
"Ayo, pak sopir ayo jalan." ucap Aisha.
__ADS_1
Mereka akhirnya berangkat berkemah dengan penuh semangat menggunakan mobil yang mewah dan mahal.