Romantice In Love

Romantice In Love
Keinginan Ku Terkabul. Pasti Dia Akan Datang :)


__ADS_3

*Aku sudah tak tahu lagi, sudah berapa lama aku menunggumu disini, huuuhh.” Fika menghembuskan nafasnya dalam dalam. Ia masih terbuai dalam lamunannya.


“Setiap setiap sore, setiap senja aku selalu datang di tempat ini hanya untuk menunggumu. Aku tak tahu dengan diriku sendiri. Aku begitu yakin dengan perasaanku, aku begitu yakin dengan rasa cintaku. Tapi dalam kenyataannya, aku tak meyakini diriku. Sampai sekarang, entah sudah seberapa puluh kali, aku datang ke taman ini hanya untuk menunggumu. Bodohnya, sampai sekarang aku tak kunjung juga mendapat kabar darimu.


Pernah aku berusaha untuk menghubungimu, namun sial nomermu di kontakku sudah tak ada. Mungkin karena kemarin aku tak sengaja menghapusnya karena banyak nomor-nomor tak dikenal masuk di ponselku. Kebodohan keduaku, kenapa aku tak menghubungi Samuel untuk menanyakan kabar dan keberadaanmu. Aku merasa malu jika harus jujur pada Samuel akan perasaanku yang suka dengan Fiki. Aku selalu berharap jika kamu baik-baik saja disana Fiki. Aku begitu menghawatirkan keadaanmu. Aku ingin bertemu denganmu, dan sekarang aku rindu denganmu Fiki. Aku teringat disaat kita pertama bertemu. Awalnya aku tak begitu menyukaimu, karena aku menganggap semua orang asing itu menyebalkan. Ternyata anggapanku itu salah. Awal pertama bertemu denganmu, aku langsung akrab denganmu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti itu. Kamu bukan seperti orang asing menurutku. Aku seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi kapan? Aku rasa itu hanya perasaanku saja. Kedua kalinya tanpa sengaja aku bertemu denganmu di stasiun kereta. Hehehhee... saat itu kamu mentraktirku, kamu tau gak kalau aku sebenarnya tak suka dengan makanan Rawon, apa lagi jika makanan tersebut sangatlah pedas. Dan begitu kamu memesankan untukku. Tak sepatah katapun aku menolaknya, aku kaget sebenarnya ketika kamu memesan Rawon Setan level lima. Sumpah, baru kali ini aku makan sepedas itu. Tapi waktu itu aku tak keberatan dengan menu makanan pilihanmu. Aku begitu lahap bahkan agak menahan raut mukaku yang kepedesan. Dan sampai rumah aku terkena diare. Hahhahaa.. untung saja aku punya beberapa obat diare dan obat sakit perut. Aku sangat mengingat kejadian itu. Dan pertemuan ketiga saat kamu memaksaku untuk menemanimu jalan-jalan. Walaupun aku tak merasa kamu paksa, dan aku tak keberatan untuk mengantarmu waktu itu. Ternyata kamu mempunyai kesamaan denganku, kamu suka membaca novel sama sepertiku. Dan sangat jarang sekali jika ada seorang cowok yang begitu menggilai novel sepertimu. Aku seperti mendapatkan seorang teman yang sealiran denganku. Aku bisa dengan mudah bertukar cerita padamu tentang beberapa novel yang pernah aku baca. Dan kamu mengerti akan apa yang aku bicarakan. Mungkin karena novelmu yang terlampau banyak dan kamupun sudah membaca semuanya, membuatmu tak banyak berfikir untuk menjawab pertanyaanku.Itu salah satu alasan mengapa aku begitu nyaman saat bersama denganmu. Begitu enak mengobrol denganmu. Dan kamu adalah seorang cowok yang sangat pintar menaruh perhatian dengan seorang cewek. Ditaman ini kamu menunjukkan perhatianmu padaku. Disaat aku merasakan sakit, kamu begitu khawatir dengan keadaanku. Itulah yang membuat aku luluh denganmu. Sayangnya hari itulah terakhir aku bertemu denganmu. Semenjak hari itu aku tak pernah mendapatkan kabar darimu. Aku rindu kamu Fiki. Aku kangen kamu. “Gumam Fika dalam hati.


Seperti hari-hari kemarin, Fika masih menunggu kehadiran Fiki di taman itu. Ia sangat berharap jika hari ini ia akan bertemu dengannya. walaupun sebenarnya bertemu dengan Fiki, tak semudah yang dibayangkan. Kepergian Fiki sudah masuk pada bulan ke tiga. Ia tak menyangka jika begitu cepat Fiki meninggalkannya, tanpa kabar dan tanpa pesan. Namun Fika tak putus asa. Ia selalu berharap dan berdoa agar dipertemukan kembali dengan Fiki di taman itu.


Terlihat langit-langit yang begitu gelap. Mendung telah menutupi senja sore itu. Begitu gelap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30. Fika tak beranjak dari tempat duduknya. Ia masih asyik menunggu dan melamun akan kehadiran Fiki. Gerimispun mulai turun. Tetes demi tetes air hujan mulai membasahi tubuhnya. Fika tak langsung memilih untuk cepat-cepat berteduh dari hujan, ia tetap saja tak beranjak dari tempatnya. Kali ini hujan turun dengan begitu deras. Tapi tak sedikitpun membuatnya ingin beranjak hanya untuk sekedar berteduh.


“Fiki...” Fika kembali menangis, bersamaan dengan turunnya air hujan. “Lihatlah sekarang diriku bak seperti orang gila. Aku gila akan perasaanku. Aku gila akan cintaku. Aku sangat menanti kehadiranmu saat ini. Biarlah saat ini hujan mengguyur diriku. Setidaknya dengan hujan ini tak membuatku terlihat menangis, Serta bisa menutupi kesedihanku. Biarkan air mataku ini bercampur dengan air hujan. Setiap hari, setiap aku mengingatmu, serasa air mata ini tak bisa lagi aku membendungnya. Aku kangen kamu Fiki. Aku begitu merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Sampai kapan aku harus seperti ini? Aku tersiksa dengan diriku yang sekarang. Tapi aku tak pernah lelah untuk menunggumu.”


Dari arah kejauhan terlihat Niko menghampiri Fika dengan sebuah payung. Niko adalah salah satu cowok yang berusaha untuk mendekati Fika saat ini.


“Fika sampai kapan kamu harus sepeti ini, ayo kita pulang. Hujan ini sudah terlampau deras. Aku tak mau kamu sakit nantinya.” Teriak Niko.


“Aku tak mau pulang Niko, aku mau disini saja. Kamu pulang sana. Biarkan aku disini.” tolak Fika yang tak mau diajak untuk pulang.


“Kamu boleh keras kepala. Tapi kamu juga harus peduli dengan dirimu sendiri. Kamu masih menunggu Fiki?” Tanya Niko. Fika hanya mengangguk.


“Ahh.. sampai kapan kamu harus keras kepala? Ayo kita pulang! Fiki mungkin sudah tak peduli denganmu, namamu mungkin sudah ia lupakan dalam ingatannya. Ayo pulang!” Niko tetap memaksa Fika untuk pulang bersama. Hujan turun dengan begitu lebatnya. Bak seperti air laut yang ditumpahkan ke bumi.


“Fiki tak mungkin melupakanku, aku yakin itu Niko. sekarang tinggalkan aku sendiri. Aku tak membutuhkanmu. Percuma kamu memaksaku, karena aku tak akan ikut pulang bersamamu.” Fika tak menerima tawaran Niko untuk pulang bersamanya.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan meninggalkanmu sekarang, tunggulah pangeran impianmun itu. Sampai kapanpun dia tak akan menjemputmu disini!!” Niko meninggalkan Fika ditaman sendirian. Niko kecewa tidak bisa mengajak Fika untuk pulang.


Hujan yang turun begitu deras. Halilintar dan kilatpun silih berganti menyambar. Tubuh Fika sudah sangat basah kuyup. Bahkan bibirnya kini mulai membiru. Fika kedinginan dan tubuhnya menggigil kaku. Kepalanyapun mulai pusing. Dan akhirnya Fika jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Nampak dari kejauhan ada seorang pria yang melihat Fika jatuh dari kursi taman ditengah hujan deras. Ia berlari menghampiri Fika, ia menggendong Fika dan membawanya ke pos taman untuk berteduh dari derasnya air hujan yang turun. Saat itu Fika masih tak sadarkan diri. Pria itu merebahkan tubuh Fika dan menyelimutinya dengan jaket yang tebal. Pria itu tersenyum melihat wajah Fika. Ia berusaha membersihkan wajah serta tangan Fika dari tanah akibat, terjatuh saat pingsan tadi. Pria itu mengambil sapu tangan untuk mengelap wajah Fika yang sudah membiru akibat kedinginan.


Hujan masih sangat lebat. Pria itu masih menemani Fika sembari menunggu hujan reda. Fika mulai sadar. Ia mulai membuka matanya perlahan-lahan.


“Fika....” Panggil Pria tersebut. Sepertinya Pria itu mengenali Fika.


Fika masih tak mempedulikan panggilan itu. Kepalanya masih terasa sangat berat. Penglihatanyapun masih kabur.


“Fika, sadarlah.”


Fika mulai membaik. Penglihatannya samar-samar sudah mulai terlihat jelas. Ia melihat sesosok Pria duduk disampingnya yang mencoba membangunkanya. Setelah ia bisa melihat dengan jelas. Serasa air mata ini tak bisa di tahan. Begitu deras mengalir seperti derasnya hujan sekarang.

__ADS_1


“Fika...” Panggil Pria itu lagi. Fika terus saja menangis memandang pria itu. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat. Tak henti-hentinya ia menangis.


“Fi..Fiki...apakah itu kamu?”


“Fika ini aku Fiki. Kenapa kamu pingsan? Ada apa denganmu?” Ternyata Pria yang menolong Fika adalah Fiki. Orang yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Fika masih saja menangis saat itu.


“Fiki...” Fika terus menangis dan tak bisa membendung tangisannya, melihat orang yang selama ini ia nantikan ada disampingnya.


“Fiki...” Panggil Fika.


“Ia Fika. Ada apa?” Jawab Fiki.


“Boleh Fika.” Fiki memeluk Fika. Tangan-tangan Fika yang mungil melingkari tubuh Fiki saat itu. Fikipun memeluk Fika dengan lembut. Fika kembali menangis dalam pelukan Fiki.


“Aku kangen kamu Fiki.” Sambil memeluk Fiki, ia masih terus menanis.


“Aku juga kangen kamu Fika. Maafkan aku jika kemarin aku meninggalkanmu tanpa pamit.”


“Biarkan aku merasakan pelukanmu untuk saat ini. Bahkan aku menginginkan waktu berhenti berputar. Aku menginginkan momen seperti ini. Aku kangen dengan kehadiranmu. Aku kangen dengan dirimu Fiki.”


“Peluk diriku sesuka hatimu, jika memang pelukan ini bisa mengobati hatimu akibat kebodohanku. Maafkan aku Fika, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.” Fiki terus memeluk Fika dengan kasih.


“Iya Fiki. Terima kasih atas pelukannya.” Fika melepaskan pelukan Fiki dan tersenyum kepadanya.


“Iya Fika?”


“Kamu jahat.”


“Aku tahu... Maafkan aku.”


“Kamu jahat Fiki.”


“Maafkan aku Fika, aku tak bermaksud meninggalkanmu seperti ini.”


“Kenapa kamu tidak menghubungiku.”


“Ponselku kecopetan Fika, selepas aku menelfon Samuel malam itu dan aku tak mempunyai nomermu ataupun nomer Samuel. Semua nomer ada di ponselku.”


“Terus kenapa kamu memutuskan untuk balik ke jakarta?” Tanya Fika.

__ADS_1


“Pamanku kritis. Aku harus cepat-cepat menemuinya. Pamanku juga menyuruhku untuk sementara waktu mengurus perusahaannya. Mengingat kondisi beliau yang tidak memungkinkan memantau perusahaan.”


“Terus!”


“Terus aku dengan senang hati membantu pamanku menyelesaikan proyek-proyeknya.”


“Dan sekarang?”


“Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Keadaan pamanku juga sudah mulai membaik. Sehingga aku kembali lagi ke Surabaya untuk mengurusi pekerjaanku disini.”


“Oohhh..”


“Maafkan aku Fika, aku tau kamu pasti marah denganku saat ini.”


“Iya aku marah..”


“Aku tau....” Sela Fiki.


“Tau dari mana?”


“Tuh kamu jutek denganku sekarang.” Jawab Fiki.


“Ohh..”


“Fika..”


“Iya...”


“Aku selalu merindukanmu.” Fiki sambil membelai rambut Fika yang basah dengan air hujan. “Aku selalu ingat kamu Fika, setiap malam, bahkan setiap hari, kamu selalu ada di fikiranku.”


Fika hanya diam dan mendengarkan perkataan Fiki. Suasana begitu hening. Yang terdengar hanyalah suara gemericik hujan.


“Fika aku kangen kamu, selalu ingin mengingatmu, aku tak tahu dengan perasaanku sekarang. Perasan ini sungguh menyiksaku setiap harinya. Aku mencintaimu Fika.” Fiki mengungkapkan perasaannya kepada Fika. Fika tak bisa berkata apa-apa. Serasa ini semua hanya sebuah mimpi. Apa yang Fika impikan semua terasa nyata. Dan ini memang terjadi. Tak terasa air mata Fika keluar lagi, ia sangat senang hari ini. Orang yang selalu ia nanti kehadirannya telah kembali. Bahkan sekarang ia mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.


“Fiki..”


“Iya...”


“Bolehkah sekali lagi aku memelukmu?” Pinta Fika.

__ADS_1


“Boleh..” Fiki mengulurkan kedua tangannya melingkari tubuh Fika. mereka berdua saling berpelukan.


“*Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Ini seperti mimpi. Tahu nggak setiap sore, setiap senja aku selalu menunggumu di taman ini. Aku seperti orang gila yang tak mempunyai tujuan hidup. Aku layaknya seorang yang tak pernah bangun dari mimpinya. Dan sekarang aku tak tau. Apakah aku masih bermimpi, ataukah aku sudah bangun dari pingsanku dan sekarang memelukmu. Aku menunggumu selama tiga bulan di taman ini. Aku percaya kamu akan menemuiku disini. Dan akhirnya kepercayaanku itu terwujud. Kamu datang menemuiku, dan aku sangat senang hari ini. Hari dimana cintaku telah kembali. Bunga yang selama tiga bulan telah layu kini mulai mekar dan mulai berkembang. Terima kasih Fiki, aku begitu mencitaimu, dan sangat mencintaimu.”❤️**


__ADS_2