
Pagi ini cahaya matahari menyusup dari tirai jendela, awan yang begitu indah menggantung diatas bumi. Langit-langit yang begitu cerah disertai hembusan angin semilir, membuat jiwa ini semakin tenang. Kicauan burung menambah pagi semakin damai. Ditambah dengan aroma semangat cinta yang baru dipupuk tadi malam. Ya, pagi ini adalah pagi terindah untuk mengawali semua aktifitas. Mengingat semalam mimpi itu telah terwujud menjadi sebuah kenyataan. Mimpi akan datangnya cinta dan sebuah harapan.
*** Terdengar bunyi SMS di ponsel Fika. Fika membaca pesan dari Fiki.***
“Dear my love. Selamat pagi cintaku. Pagi ini terlihat begitu cerah. Secerah hatiku, dan hubungan kita. Lihatlah ke langit. Awan begitu indah, bahkan aku melihat awan membentuk wajahmu. Apakah itu hanya hayalanku belaka? Jaga kesehatanmu! Selamat beraktifitas.” Satu pesan dari Fiki. Fika hanya senyam-senyum setelah membaca SMS dari Fiki. Cepat-cepat ia menuju ke jendela dan melihat awan yang menggantung di langit.
“Mana ada awan yang membentuk wajahku. Gak ada tuh!” Fika kembali ke tempat tidur dan membalas SMS Fiki.
“Pagi juga cinta, aku sudah melihat langit-langit pagi ini, dan aku tak menjumpai awan yang menyerupai diriku. Aku rasa kamu sekarang lagi sakit. Tepatnya sakit akibat cinta. Aku akan selalu menjaga kesehatanku. Dan aku akan sekuat tenaga menjaga cinta kita.” Fika memencet tombol send, dan SMS terkirim ke nomornya Fiki.
Pagi ini begitu indah, pagi dengan sejuta cinta dari orang terkasih. Satu pesan dari Fiki membuatnya sangat bersemangat untuk menjalani aktifitas hari ini. Terlihat senyuman indah di bibir Fika.
***
“Hai, selamat pagi buat para pendengar, bertemu lagi dengan saya Fika di acara Salam Pagi.” Seperti biasa Fika mengisi acara On Air di radio.
*** “Di hari yang cerah ini, Fika harap semua pendengar diberi kesehatan yang berlimpah, sehingga dapat menjalankan aktifitas dengan lancar. Oh ya.. sore kemarin terlihat cuaca sangat buruk sekali bukan? Hujan deras telah mengguyur kota Surabaya. Tetapi setelah hujan reda, terlihat pelangi yang sangat indah menggantung di langit. Apakah dari sahabat pendengar ada yang sempat melihat pelangi? Hahaha.. pada kesempatan kali ini, saya akan membuka sesi curhat kawula muda. Tema yang diambil adalah? “Peristiwa apa yang terjadi setelah hujan deras kemarin?” seperti contoh, hari kemarin setelah hujan deras, aku disibukkan dengan mengepel lantai rumah, membersihkan selokan dan lain-lain, atau hari kemarin setelah hujan deras, aku disuruh untuk datang ke rumah sang pacar untuk membetulkan atap genting yang bocor. Hahaha.. semua bisa terjadi di hari kemarin. Silahkan dibuka untuk semua sahabat pendengar menceritakan pengalamannya. Untuk via telfon bisa menghubungi (031)897030. Saya tunggu curhatan anda sekarang juga.” Tak beberapa lama telfon berbunyi.***
“Hallo.. Salam Pagi?”
“Hallo salam pagi juga?”
“Dengan siapa dimana?”
“Dengan Erni di jalan Diponegoro.”
“Ia silahkan ceritanya mbak Erni!”
“Hari kemarin setelah hujan deras aku melakukan berbagai hal, seperti mengepel lantai, menguras bak mandi dan membereskan tanaman yang berantakan akibat terkena angin kencang, tapi dibalik itu semua aku sangat senang kemarin.”
“Senang kenapa mbak Erni?” Tanya Fika kepada Sahabat pendengar.
“Aku melakukan aktifitas itu tak seorang diri. Suamiku tercinta ikut membantuku. Kami melakukan aktifitas itu berdua. Kami saling membantu dan begitu romantis. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, saya membuatkan secangkir kopi untuk suami tercinta. Setelah kopi saya hidangkan, saya memasak nasi goreng kesukaannya, dengan dua telur ceplok mata sapi dengan irisan bawang goreng diatasnya. Setelah matang, kami berdua makan di meja makan keluarga. Waktu mencicipi makanan yang baru saya masak, saya agak deg-degan. Apakah yang akan terlontar dari mulutnya? Setelah mencicipi makanan yang selesai saya buat? Ternyata dia memuji masakan saya. Alhamdulillah hari itu saya menjadi istri yang baik bagi suami saya. Saya begitu sangat mencintainya.”
“Wah.. wahh.. so sweet mbak Erni ceritanya.”
“Hehhee.. terima kasih.”
“Oh ya anda mau titip salam kah kali ini?”
“Saya titip salam kepada suami saya tercinta, selamat bekerja ya sayang di Kalimantan. Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu menunggumu di sini. Peristiwa tadi malam adalah peristiwa terakhir, sebelum ia berpamitan untuk pergi ke Kalimantan.”
“Semoga suami anda mendengarkan curhatan mbak disini. Ada lagi mbak yang perlu disampaikan?” Tanya Fika kepada sahabat pendengar.
“Sudah cukup terima kasih banyak ya mbak Fika.”
“Sama-sama mbak Erni.” Setelah itu telfon terputus. “Itulah tadi curhatan dari sahabat pendengar yang sangat bagus. Cerita yang bagus untuk mengawali sesi curhatan kali ini. Dia begitu mencintai suaminya, dan ia telah menjadi istri yang baik bagi suaminya. Oke ditunggu satu penelfon lagi untuk acara ini. hallo?”
“Hallo.. Salam Pagi?”
“Salam Pagi, dengan siapa dimana?”
“Dengan Vino di Jalan Pahlawan.”
“Ia Vino silahkan bercerita.”
“Sore itu aku melihat awan begitu mendung. Langit-langit begitu gelap. Kulihat beberapa kilatan-kilatan dilangit membuat diri ini takut berlama-lama untuk keluar dari rumah. Waktu itu aku baru pulang dari jakarta. Setibanya dari stasiun aku tak langsung pulang, aku teringat suatu tempat dimana aku menemukan cinta yang pernah aku tinggalkan disana. Aku menuju tempat itu.” Fika mendengarkan curhatan sahabat pendengar dengan seksama, entah mengapa cerita dari Vino membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
“Tak jauh dari stasiun untuk menuju ke tempat itu, sekitar seratus kilo meter. “Vino kembali meneruskan ceritanya. "Aku jalan kaki. Ku lihat lagit begitu gelap. Hujan mulai turun dengan derasnya. Aku tak mempedulikan itu. Aku lebih mementingkan fikiran yang selalu mengusikku setiap harinya. Aku melangkahkan kaki menuju tempat itu. Hujan deras telah membuatku sangat basah kuyup. Bahkan seperti diriku telah tercebur kedalam lautan. Aku melihat seorang gadis di tempat itu. Gadis itu duduk disebuah kursi seorang diri.” Jantung Fika semakin berdegup kencang dengan cerita Vino, kejadian tersebut seperti apa yang Fika alami sore kemarin.
“Tiba-tiba terlihat seorang cowok yang membawakan payung untuknya. Tapi kenapa ia menolak ajakan cowok untuk meninggalakan tempat itu? Hujan deras sempat mengaburkan penglihatanku, bahkan aku tak mendengar percakapan mereka. Aku melihatnya dari jauh. Tak beberapa lama, cowok itu meninggalkannya sendirian di taman, dan si cewek tetap saja tak mau beranjak dari tempat duduknya. Ia memilih untuk kehujanan. Aku sangat iba melihatnya. Tak selang beberapa lama aku melihat cewek itu terjatuh dari kursi taman. Aku tak melihat seorangpun ada di sekitar sana. Aku berlari cepat saat itu, beruasaha menolong cewek yang telahterjatuh pingsan. Aku membawanya ke pos taman untuk berteduh. Aku tersenyum saat melihat wajahnya. Cewek yang aku tolong adalah cewek yang selama ini selalu mengganggu fikiranku, dan aku senang, aku bisa menemuinya di taman itu. Instingku benar, membawaku ke tempat itu. Aku membersihkan tanah yang menempel ditangan dan wajahnya, saat ia terjatuh tadi. Aku membelai rambutnya yang basah. Aku sangat kangen dia saat itu. Dia belum juga sadarkan diri. Aku berikan jaket tebal yang aku simpan di tas rangsel untuk menyelimutinya, agar ia tidak kedinginan.Tak beberapa lama cewek itu sadarkan diri. Aku begitu senang. Ternyata dia menungguku sekian lama di tempat itu.Aku begitu menyesal telah meninggalkannya, tanpa memberi kabar apapun. Sekarang aku telah menemukan cintaku ditaman itu. Kami berdua saling berpelukan, saling melepas rindu. Aku utarakan isi hatiku ke dia. Dan akhrinya dia menerima cintaku.” Cerita dari Vino. Tak terasa Fika meneteskan air matanya. Ia teringat akan kejadian sore itu, “hujan deras,” di taman itu dan “bertemu dengan Fiki.” Cerita itu sama seperti apa yang dialaminya sore kemarin. Apakah sahabat pendengar yang telah menelfon itu adalah Fiki? Ternyata benar. Fiki yang menelfon. Fika tak menyangka jika Fiki ikut menceritakan kejadian sore itu di acaranya. Fika tak bisa berkata apa-apa waktu itu itu.
“Mbak Fika?” panggil Vino didalam telfon.
“Iya mas Vino. Maaf saya sangat menikmati alur cerita mas Vino. Cerita mas Vino sangat romantis, bahkan aku saja menangis mendengarnya. Mungkin anda mau nitip salam kali ini?” Tanya Fika terhadap sahabat pendengar.
“Ohh iya. Aku nitip salam kepada orang yang sekarang sangat aku cintai, “Selamat pagi cintaku. Pagi ini terlihat begitu cerah. Secerah hatiku, dan hubungan kita. Lihatlah ke langit. Awan begitu indah, bahkan aku melihat awan membentuk wajahmu. Apakah itu hanya hayalanku belaka? Jaga kesehatanmu, selamat beraktifitas.” Salam dari sahabat pendengar. Fika teringat akan pesan yang dikirim Fiki pagi tadi. Pesan itu sama seperti salam yang di sampaikan sahabat pendengar yang bernama Vino. Dan tak salah lagi, Vino adalah Fiki pacarnya yang saat ini ikut On Air dalam siarannya. “Hemmm.. awas saja ya Fiki kalau ketemu aku, bakalan aku cakar-cakar mukamu.” Gumam Fika dalam hati.
“Ohh.. so sweet mas Vino, terima kasih banyak, telah mau berbagi cerita di acara ini. Sukses selalu.” Telfon terputus. “Demikian tadi acara curhat sahabat pendengar kali ini. Acara akan kami lanjutkan setelah pemutaran satu single lagu romantis dari “Ada band” dengan lagunya surga cinta. Tetap stay di radio kesayangan anda.”
***
Setelah beberapa jam Fika On Air, akhirnya pekerjaan yang melelahkanpun usai. Fika bersiap-siap untuk pulang. Tak lupa ia ber make-up, sekedar menyapukan bedak tipis di pipinya. Dan menulis indah dengan lipstik di bibir mungilnya. Setelah dirasa cukup cantik, ia memasukkan alat make-upnya kedalam tas. Fika mengambil ponselnya. Satu pesan masuk dari Fiki.
“Selamat sore cinta, aku harap kamu tak keberatan untuk makan bersamaku kali ini. Aku tahu kamu sedang kelaparan. Jadi aku harap kamu tak menolak dengan ajakanku.” Satu pesan dari Fiki.
***Fika tersenyum didepan layar ponselnya. “Tahu saja kalau aku sedang kelaparan. Okey...” Fika berfikir sejenak. “Hemm.. awas saja kalau bertemu denganku, siapa suruh kamu ngerjain aku.” Gumam Fika dalam hati. Ia masih dendam dengan Fiki yang menyamar menjadi Vino saat On Air tadi. ***
Fika memencet tombol nama My Love dan mulai menelfonnya
__ADS_1
“Hallo.. Aku menerima ajakanmu. Ketemuan dimana?” Sahut Fika dalam telfon.
“Dihatimu... Nanti aku kabari lagi. Bye-bye. Sahut Fiki, kemudian telfonpun terputus. Fika memasukkan ponselnya di dalam tas dan bersiap untuk pulang. Fika melangkahkan kaki keluar dari tempat kerjanya. Ia buka pintu dan melihat sekeliling jalan, ia melihat Fiki sudah berdiri di sebrang jalan untuk menunggunya. Terlihat Fiki melambaikan tangan kearah Fika. Fika membalas lambaian tangannya dan dengan cepat ia mengayunkan langkahnya menuju sebrang jalan. “Awas saja nanti” Gumam Fika dalam hati.
“Fiki.. Sudah lama ya?” Tanya Fika.
“Ahh.. tak lama juga, baru sampai kok ditempat ini.”
“Puas kamu ngerjain aku hari ini, berpura-pura menjadi Vino, dan menceritakan semua kejadian yang kita alami kemarin sore. Puas kamu hampir membuatku menangis Fiki?” Fika berbicara dengan nada yang sangat tinggi. Ia meluapkan kekesalannya kepada Fiki. Fiki hanya tersenyum tipis.
“Dan akhirnya menangis, bukan? Fiki tertawa menyindir. “Hehehhee.. awalnya aku tak mempunyai fikiran untuk On Air di acaramu saat itu. Kebetulan waktu itu aku mendengar siaranmu, aku tertarik dengan acara itu. Yah itung-itung aku berkirim salam untuk dirimu. Hehehehe..” Fiki terlihat membela diri dan tersenyum kecut.
Fika tersenyum mendengar pembelaan dari Fiki. “Ahh.. kamu sayang, membuatku bisu diacaraku sendiri. Tapi terimakasih ya sayang. Berkat kamu menelfon tadi, rating penyiaran ikut naik. Banyak orang yang menyukai ceritamu.”
“Tuh kan, itu semua juga buat kebaikanmu. Gara-gara aku, ratingmu naik kan?” Fiki terus saja memuji dirinya.
“Ia sayang, sudah deh jangan memuji diri berlebihan. Eh.. Mau kemana kita kali ini? Bye the way ini hari kencan pertama kita ya?” Seru Fika yang terlihat senang.
“Emmm.. kan kemarin kita sudah kencan pertama, yang ini yang kedua lah?” Jawab Fiki dengan senyum yang melebar.
“Terserahlah. Yang penting perutku sudah keroncongan, sudah pada maen mercing band ini lambung. Ayo cari tempat makan!” Fika mengajak Fiki untuk makan.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengawali kencannya dengan mengisi perut terlebih dahulu. Fiki mengajak Fika ke restauran bergaya eropa klasik. Terlihat restauran dengan gedung yang sangat megah dan artistik. Di depan restauran tergantung beberapa lukisan-lukisan eropa yang sangat indah. Mereka berdua duduk dikursi bernomor 14. Fika melihat sekeliling restauran. Terlihat begitu ramai. Suasana begitu romantis. Dengan dua lilin yang ada dimeja dan asbak yang berbentuk hati yang sangat indah menghiasai meja makan yang mereka duduki. Tak beberapa lama terlihat pelayan laki-laki datang membawa nampan dan menyerahkan setumpuk menu yang disajikan restauran itu. Telinga ini masih mendengarkan alunan live music yang dibawakan group band restauran itu.
“Silahkan tuan menunya.” Pelayan itu menyerahkan setumpuk menu kepada Fiki.
“Terima kasih.” Fiki tersenyum kearah pelayan. Fiki mulai memilih menu yang ditawarkan. Fika juga sibuk memutuskan sendiri menu pilihannya. tak seperti biasa, ia menentukan sendiri menunya kali ini. Fika terlihat bingung dan akhirnya menyerah.
“Kamu saja sayang, yang memilih menuku.” Dan seperti biasa, ia menyerahkan sepenuhnya menu pilihannya kepada Fiki. Fiki hanya tersenyum. Fiki memberitahu menu yang akan mereka pesan. Pelayanpun mencatat menu yang Fiki pesan.
“Oke. Selamat menikmati suasana di restauran ini. Selamat bersenang-senang.” Pelayan laki-laki itu meninggalkan meja Fika dan Fiki.
Terdengar alunan musik yang menggema. Begitu indah dan merdu. Live music itu membawakan lagu “Reason” yang dijadikan sountrack film korea Autumn in my heart, mereka memainkannya not-not yang indah. Fika kembali melihat sekeliling ruangan di restauran itu. Melihat beberapa perabot antik dan klasik. Beberapa lukisan yang indah juga nampak menghiasi diding yang terbuat dari kayu jati. “Terlihat artistik dan menawan.” Gumam Fika dalam hati. Fika kembali mendengarkan alunan musik, sungguh enak didengar. Not-not yang keluar dari piano itu telah menggetarkan hati seisi raungan.
“Fika..” Panggil Fiki yang tersenyum ke arahnya.
Senyum Fika merekah. “Iya sayang.” Fika menatap Fiki. Ia terlihat senang dengan suasana restauran ini.
“Bagaimana menurutmu dengan restauran ini?” Fiki takut jika Fika tak menyukai restauran pilihannya.
“Aku begitu menyukainya.” Fika tersenyum indah. Fiki hembuskan nafas leganya.
“Syukurlah kamu menyukainya.” Fiki tersenyum senang. “Fika bagaimana kalau orang yang kamu cintai menyatakan cintanya didepan banyak orang dan menyanyikan sebuah lagu di panggung itu?” Fiki menunjuk ke arah grup band yang sedang memainkan Live Music.
“Baiklah..” Fiki merapikan baju dan kerahnya. Ia beranjak berdiri. “Tunggu sebentar.” Fiki menuju ke atas panggung dan membisik ke salah satu pemain band. Hanya terlihat anggukan dari salah satu pemain band.
“Apa yang akan dilakukan Fiki? Jangan-jangan.. ahhh..” Fika tersenyum malu melihat Fiki yang akan siap-siap tampil di atas panggung.
Anggukan dari salah satu pemain band menandakan ia setuju apa yang yang Fiki utarakan. Seluruh personil band turun dari panggung. Tinggal terlihat Fiki yang ada di atas panggung. Ia menuju piano. Ia duduk tepat di depannya piano klasik yang begitu indah. Fiki meletakkan tangannya di atas tuts-tuts piaono. Fiki mulai memainkan dengan nada yang terdengar pelan dan lembut, kemudian iya menambah power supaya banyak orang mendengar permainannya. Jemarinya memainkan dengan penuh irama. Sangat piawai Fiki merangkai not-not yang indah untuk didengarkan. Fika hanya bisa berdecak kagum melihat penampilan dari pacarnya. Serasa ia ingin sekali menangis haru. Begitu romantis saat itu. Nada-nada permainan Fiki telah membius semua yang pengunjung restauran. Semua mata tertuju padanya. Begitupun Fika, ia ingin sekali menangis. Melihat pacarnya yang begitu romantis didepan panggung.
Permainan piano Fiki dihentikan. Tepuk tangan begitu riyuh didengar, menandakan semua pengunjung suka dengan penampilannya. Fikapun juga antusias ikut tepuk tangan. Ia kerahkan seluruh tenaganya supaya tepuk tangannya didengar oleh Fiki. Dari atas panggung Fiki menatap Fika dan tersenyum.
Fiki mengambil microphone. Ia benarkan posisi stand mic. “Ehemm..” Fiki mulai bersuara. “Terima kasih.” Ucap Fiki diatas panggung. Pengunjung kembali bertepuk tangan sebagai simbol kepuasan. Fiki kembali membenarkan posisi stand mic. Fiki kembali bersuara dalam microphonnya “Sebuah lagu akan saya nyanyikan untuk seseorang yang sangat aku sayangi.” Fiki menatap Fika yang duduk sedang memperhatikannya diatas panggung. “Orang yang aku cintai lebih dari apapun. Dia ada di sana.” Fiki menunjuk kearah Fika. Semua pengunjung menoleh kearah Fika. Fika dengan malu-malu menundukkan wajahnya. Pengunjung kembali bertepuk tangan dan bersiul. Suasana restauran sangat meriah.
Wajah Fika memerah. Ia sangat malu ketika semua pengunjung tertuju padanya. Tepuk tangan pengunjung seperti air es yang tiba disiram ke seluruh tubuhnya. “Nyeesss....” Fika tak menyangka jika apa yang Fiki ucapkan barusan adalah suatu kebenaran. Fiki memang akan mengungkapkan perasaan cintanya di atas panggung itu. serasa tubuh Fika membeku. Wajahnya memerah malu. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia tersipu malu. Suara piano itu terdengar lagu. Nada-nada yang begitu indah.
Fiki kembali memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano. Intro lagu yang sangat indah. Ia membawakan lagu “Pelangi di matamu” dari Jamrud. Tepuk tangan yang riuh kembali terdengar.
Tiga puluh menit kita disini, tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.
Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini.
Fika kembali menatap panggung, ia tersenyum. Memang benar-benar Fiki telah membuat hati Fika menjadi mencair saat ini. Sungguh sangat romantis.
Jam dindingpun tertawa, karna ku hanya diam, dan membisu.
Ingin ku maki diriku sendiri, yang tak berkutik didepanmu
Pengunjung begitu menikmati lagu yang dibawakan Fiki. Begitu indah dan enak sekali didengar.
Ada yang lain disenyummu
Yang membuat lidahku, gugup tak bergerak
Ada pelangi, di bola matamu
__ADS_1
Yang memaksa diri tuk bilang
Aku sayang padamu...
Aku sayang padamu...
Fika tersipu malu, hatinya telah mencair saat itu. Penampilan Fiki dipanggung telah memukau banyak orang, termasuk dirinya.
Aku sayang padamu...
Fiki menyelesaikan lagu itu dengan sangat apik.
“Special for my girl friend, Fika.” Ucap Fiki di atas panggung.
Semua mata pengunjung mengarah pada tempat duduk Fika, disertai tepuk tangan yang sangat meriah. Fika hanya bisa menundukkan kepala dan malu. Hatinya sudah mencair, seperti air es. Fiki menghentikan permainanya dan kembali di meja Fika. Tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar memeriahkan seisi restauran.
“Bagaimana sayangku?” Fiki tersenyum ke arah Fika.
“Aku tak bisa berkata apa. Aku gugup.” Komentar Fika yang masih merasa malu.
“Nah loh.. yang tampil kan aku, kenapa kamu yang gugup.” Tawa Fiki menyindir. Fika hanya tersenyum getir dengan wajah yang masih memerah malu.
“Aku senang dengan penampilanmu. Terima kasih sayang, kamu membuat diriku mencair.” Fika tersenyum ke arah Fiki, yang masih memperlihatkan wajah yang malu-malu. “Aku sayang kamu Fiki. Begitu sangat menyayangimu.” Fika meremat erat tangan Fiki.
“Aku juga begitu mencintaimu Fika.” Fiki tersenyum dan mengecup tangan Fika.
Tak beberapa lama, pelayan laki-laki datang membawa menu yang Fiki pesan. Ia meletakkan makanan beserta minuman di atas meja. “Makanan yang begitu menggoda, sepertinya enak.” Gumam Fika dalam hati setelah melihat makanan yang telah terhidang di atas meja.
Pelayan laki-laki itu tersenyum ke arah Fika dan Fiki. “Pasangan yang serasi.” Pelayan laki-laki itu menepuk bahu Fiki. “Permainanmu piano sangat mengagumkan anak muda. Begitu romantis.” Ucap pelayan itu sembari tersenyum manis ke arah Fiki. Senyuman seorang laki-laki sekitar berumur lima puluh enam tahun, yang sangat mengagumi permainan piano Fiki diatas panggung tadi. “Beruntunglah kamu nona, kamu mempunyai pacar seperti dia.” Ucap pelayan itu kepada Fika. Pelayan laki-laki itu terus memuji. Fika hanya tersenyum malu dengan pujian-pujian itu.
“Terima kasih.” Fiki membalas senyuman pelayan laki-laki itu. Pelayan itu meninggalkan meja mereka berdua.
Makanan yang lezat sudah terhidang di atas meja. Begitu banyak yang Fiki pesan. Dari makanan dessert sampai makanan inti. Mata Fika mengerjap-ngerjap. Ia bingung mulai dari mana ia makan. Semuanya begitu enak, dan menurutnya asing baginya.
“Sayang ini nama makanannya apa?” Fika menunjuk ke dessert yang terlihat enak.
“Oh ini namanya “Baklava” adalah makanan khas Balkan, Turkey.” Fiki mengambil roti dessert dan menjelaskan setiap detail makanan tersebut. “Baklava adalah kue yang sangat manis dengan kenari atau pistacio cingcang dengan sirup gula atau madu sebagai bahan utama.”
“Ohh.. terus kalau ini apa sayang.” Fika menunjuk satu makanan yang begitu menggoda selera. Terlihat beberapa daging sapi, wortel serta potongan roti.
“Kalau ini namanya “Beef Bourguignon.” Fiki kembali menjelaskan dengan detail makanan tersebut. “Jika indonesia punya “Rendang” makan Perancis punya makanan “Beef Bourguignon.” Kelebihan dari makanan ini adalah daging sapinya yang mempunyai tekstur yang sangat lembut, karena dimasak dengan anggur merah dan membutuhkan waktu yang sangat lama.”
Kali ini Fika berdecak kagum. Rasa penasarannya kembali muncul. “Ini apa sayang, ini, ini dan ini.” Fika menanyakan semua makanan yang terhidang di meja saat itu. Fiki hanya tersenyum, Fika memang mempunyai rasa ingin tau yang cukup tinggi.
“Nicoise sallad, Foie gras, coq auvin. Semua makanan ini adalah makanan Eropa, sayang.” Fiki tersenyum. Ia mengambil Beef Bourguignon. Dan menaruh diatas piring Fika. “Cobalah, pasti kamu suka.” Fika tersenyum. Ia mengambil garpu, mengiris tipis daging sapi itu dan memasukkannya ke dalam mulut mungilnya.
“Hhhmmm... Nyummy.. enak sayang. Aku tak pernah makan daging selembut ini.” Fika sangat suka makanan ala Eropa tersebut. Mulutnya terlihat mengunyah perlahan. Ia begitu sangat menikmati.
“Syukur kalau kamu juga menyukainya.” Fiki mengambil Nicoise sallad. “Selamat makan.”
Mereka berdua makan dengan begitu lahap. Dessert dan makanan inti, semua disantap dalam waktu sekejap. Makanan di restauran ala Eropa yang mereka kunjungi memang terkenal enak dan romantis. Banyak orang yang mengunjungi restauran itu. restauran ala Eropa buka setiap harinya mulai jam 08.00 sampai tengah malam. Begitu mempesona restauran itu. gaya klasik dan artistik, Live Music yang menemani selagi menyantap hidangan. Juga makanan yang semuanya enak. Itulah mengapa banyak orang yang selalu memadati meja-meja di restauran itu. Fiki sebelumnya sudah memesan satu meja untuk mereka tempati. Kalau saja ia tak memesan hari sebelumnya, pasti tak akan dapat tempat untuk makan di restauran yang hebat itu.
“Enak sekali sayang.” Fika tertawa kecil, bahkan ia bersendawa pelan. Fiki tertawa melihat sendawa Fika. “Sayang, kamu begitu tahu soal makanan Eropa ini.”
“Pamanku mempunyai restauran Eropa, dan aku sering mengunjunginya. Jadi secara tak langsung aku menghafalnya. Terkadang aku juga ikut membantu paman menyiapkan makanan-makanan itu kepada para pengunjung disana.”
“Ikut memasak juga kah?” Tanya Fika sambil mengelap bibirnya menggunakan tissue.
“Ya.. benar sekali. Terkadang aku juga menjadi koki. Memasak makan ini. iseng-iseng aku belajar masak juga. Hahhaha..” Fiki tertawa renyah menyombongkan dirinya yang bisa masak makanan Eropa.
“Hebat kamu sayang. Sekali-kali kamu harus masakin aku makanan Eropa se enak makanan di restauran ini ya? Fika menghardik Fiki supaya mau memasakkan makanan Eropa nanti. Fiki hanya tersenyum.
“Oke sayang. Siap dengan tantangan memasakmu.” Fiki mengambil tissue dan mengelap mulut Fika yang clemotan dengan es krim. Fika tersenyum dengan perhatian Fiki. Begitu romantis. Fika tertawa kecil. “Aku begitu mencintaimu Fiki.” Gumam Fika dalam hati.
“Kemana lagi kita?” Tanya Fiki.
“Ke taman yuk, lihat Sunset.”Ajak Fika. Ia mengajak Fiki untuk pergi ke taman. Dan akhirnya kencan mereka dilanjut ke taman yang sering Fika kunjungi.
Sesampainya ditaman. Terlihat begitu ramai saat itu, seperti hari-hari yang lain, taman ini tak pernah sepi pengunjung, mungkin karena pesonanya yang begitu anggun. Bunga-bunga yang sangat indah menghiasi seisi taman. Hembusan anginpun membuat jiwa ini semakin tenang. Bahkan suasana senja yang begitu indah. Matahari terbenam adalah peristiwa yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pengunjung. Mereka bisa melihat keindahan sunset dengan jelas di tempat ini.
“Sayang, lihat.. sebentar lagi matahari yang perkasa itu akan terbenam. Keindahannya, cahaya yang ada disekelilingnya, sungguh begitu anggun. Senja yang penuh dengan rasa cinta dan kehangatan. Aku ingin cinta kita seperti matahari itu. Yang akan terus bersinar hingga Tuhanlah yang nanti akan memisahkan cinta kita.” Fika menujuk kearah matahari yang akan terbenam.
Fiki tersenyum kearah Fika, ia kembali memandang sunset yang begitu indah. “Lihatlah kearah matahari itu, begitu mempesona. Sebentar lagi, matahari itu akan menuju peristirahatannya. Senja ini akan menjadi malam yang begitu gelap. “Fiki menghela nafas panjangnya. Menyusun kata-kata indah yang akan di ucapkan kepada Fika. “Jangan takut akan malam, jika nantinya malammu akan menjadi indah. Janganlah takut akan perpisahan, jikalau nantinya ada perjumpaan setelah itu.”Fiki tersenyum dan menggenggam erat tangan Fika. Fika membalas senyumannya. Tak kuasa Fika meneteskan air matanya, Fika tak bisa berkata apa-apa saat itu, ia memeluk Fiki dan Fiki membalas pelukan Fika dengan penuh kasih sayang.
“Fiki, aku tak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ke dua kalinya. Aku tak mau secepat itu senja menjadi malam. Aku belum siap untuk itu. Aku masih butuh kamu, cintamu dan kasih sayangmu. Aku masih rapuh akan semuanya. Aku belum sekuat matahari. Maka aku mohon kamu jangan meninggalkanku lagi. Tetaplah disini bersamaku, merajut cinta dan kasih sayang. Hanya ada aku, kamu dan cinta kita.” Ungkap Fika dengan terus memeluk Fiki dengan tulus.
“Aku berjanji dengan diriku, aku takakan meninggalkanmu sendiri, aku akan selalu bersamamu. Karena diriku sudah menjadi satu denganmu. Tepatnya disini.” Fiki menunjuk hati Fika.
“Terima kasih Fiki. I Love You.”
__ADS_1
“I Love you to.” Balas Fiki. Dan akhirnya mereka mengakhiri kencannya kali ini. Fiki mengantarkan Fika untuk pulang kerumahnya.
Keindahan cinta memang begitu mempesona, seperti keindahan senja yang akan berganti dengan malam. Matahari dengan gagahnya akan menuju peristirahatannya. Empat puluh tujuh menit sunset yang mengesankan. Empat puluh tujuh menit, matahari sempura menuju peristirahatannya. Bulan dan bintanglah yang akan menggantikan tugasnya, menjadikan langit begitu indah saat malam. Ribuan bintang yang bersinar menambah malam-malam ini begitu romantis. Bulanpun dengan sinarnya yang cerah telah membius hati dan perasaan menjadi damai. Cinta akan selalu terpancar keindahannya. Tak ada cinta, tak kan ada lagi keindahan dan kedamaian.