Romantice In Love

Romantice In Love
Secepat Itu, Dia Melamarku


__ADS_3

Sore itu, setelah Fika pulang dari bekerja. Seperti biasa ia meneyempatkan diri untuk pergi ke Taman. Ia duduk seorang diri. Terlihat Fiki tak bersamanya. Ia duduk di kursi taman yang dekat dengan pohon mahoni besar. Ia menatap kearah langit dengan tatapan yang kososng.


Tiba-tiba bayangan itu muncul kembali, terlihat begitu jelas difikirannya kereta yang melaju cepat, terdengar pula klakson kereta yang berbunyi sangat kencang. Kepalanya mulai pusing dan tak tertahankan. Nafasnya kian tersengal-sengal dan pandangannya mulai kabur. Fika terus menjambak-jambak rambutnya untuk menahan rasa sakit dikepalanya. Tak ada yang tau keadaan Fika saat ini. Fika masih merasakan sakit yang begitu hebat dikepalanya. Arrggg... ia menggerang kesakitan. Terlihat lalu lalang orang difikirannya, terdengar jeritan orang-orang bahkan suara sirinemobil pemadam kebakaran membuat telinganya mau pecah. Seperti ada bom yang akan meledak. Fika terus menjambak-jambak rambutnya, dan mengerang kesakitan. Dan tak lama bayangan itupun hilang difikirannya. Nafasnya pun mulai kembali normal. Bahkan penglihatannya sudah tidak kabur. Fika mengambil air mineral di tasnya, ia meneguk air itu untuk menenangkan jiwanya. Ia terlihat meneteskan air mata, ia selalu dihantui oleh fikiran itu. Entah dari mana bayangan-bayangan tersebut. Semakin ia mencoba mengingat-ingat, bayangan itu semakin kuat. Fika sangat tersiksa dengan semua itu. Ia terus menangis. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Padahal, pernah ia pergi ke psikiater maupun dokter untuk menanyakan penyakitnya. Tak ada satupun dari mereka yang tau penyakit penyakit apa yang Fika derita. Mereka hanya mengatakan bahwa Fika hanya trauma pada suatu kejadian. Tapi kejadian apa? Kapan? Dan dimana? Pertanyaan itu sering muncul difikirannya. Hingga akhirnya ia biarkan bayangan itu muncul dan menyiksa dirinya.


Fika masih memandang langit-langit sore saat itu. Begitu indah ia pandang. Sesekali ia mengusap air matanya akibat tangisannya tadi. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menutup mata Fika dengan tangannya.


“Siapa sih ini?” Fika penasaran dengan orang yang menutupi matanya. Orang tersebut tak menjawab pertanyaan Fika. Ia terus menutupi mata Fika dengan tangannya.


“Ohh.. aku tau siapa orang ini. orang yang paling jahil dikehidupanku. Siapa lagi kalau bukan. FIIIIKIIIII.......” Fika berteriak keras.


“Wow.. wow.. gak usah berteriak begitu neng.” Fiki kaget dengan teriakan Fika. “Hampir saja jantungku copot dengerin teriakanmu.” Fiki  mengelus dadanya yang kaget akibat teriakan Fika. Setelah itu Fiki duduk disamping Fika.           “Sayang maaf ya aku telat. Banyak sekali pekerjaan yang aku selesaikan di hari ini.”


“Tak apa-apa sayang. Aku nyaman kok ditempat ini. Baru nungguin kamu satu jam aja kok. Aku pernah menunggumu disini tiga bulan lamanya. Hahaha..” Balas Fika menyindir.


“Iya-iya sayang, gak bisa berkutik deh kalau begitu. Eh.. sayang, kamu habis nangis ya? Kok aku menutup matamu terasa basah?” Tanya Fiki yang merasa Fika baru saja menangis.


“Tak apa sayang, aku baru saja membaca novel yang aku beli kemarin. Ceritanya sungguh mengharukan.” Fika menutupi apa yang baru ia alami. Tentang bayangan itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia menunjukkan novel itu kepada Fiki. Ia tak mau jika apa yang ia alami akan membebani Fiki juga.


“Ohh.. aku kira, kamu lagi ada masalah makanya kamu menangis. Sayang, kalau ada masalah, ada sesuatu yang perlu diceritakan, kamu boleh kok curhat semuanya  ke aku.  Fiki tersenyum kearah Fika. Ia membelai rambut Fika dengan lembut. Fikapun membalas senyumannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Fiki.


“Iya sayang, makasih banyak kamu sudah sangat perhatian denganku. Aku sangat mencintaimu.” Fika tersenyum lembut saat itu. Ia senang bahwa Fiki sangat mengkhawatirkan dirinya. Kekawatiran dirinya menunjukkan bahwa ada rasa cinta yang besar di dalamnya.

__ADS_1


“Aku juga sangat mencintaimu sayang, ada yang perlu aku tunjukkan ke kamu. Ikutlah denganku sekarang.” Fiki mengajak Fika untuk ikut dengannya.


“Apa sayang.” Fika penasaran.


“Ayolah nanti kamu akan mengetahui sendiri.” Fiki mengajak Fika untuk mengikutinya. Ada sesuatu yang akan ia tunjukkan. Fiki terus menggandeng tangan Fika untuk menju kesuatu tempat. Mereka menuju ke bagian taman paling belakang. Hanya terlihat rumput-rumput dan padang ilalang disekitarnya. Bahkan tak ada pengunjung yang menjangkau tempat itu. terlihat dua buah kursi, satu meja bundar di bawah pohon mahoni besar, dan terdapat danau yang tak jauh dari situ. Sepertinya Fiki telah mempersiapkan semuanya, karena sebelumnya tak ada kursi ataupun meja ditempat itu.


“Sayang aku minta kamu menutup mata.” Fiki memberikan kain kepada Fika untuk menutup matanya.


“Buat apa sayang?” Fika penasaran.


“Kamu akan tahu nanti, tenang saja aku tak akan berbuat macam-macam denganmu.” Akhirnya Fika mau untuk ditutup matanya. Fiki membantunya untuk memasangkan kain yang akan menutupi mata Fika. Setelah itu tangan Fika ia gandeng dan membawanya ketempat kursi dan meja tersebut. Fiki mendudukkan Fika yang masih tertutup matanya. Fiki ikut duduk didepannya.


“Sayang... iituu...” Fika sungguh tak percaya.


“Iya sayang ini semua aku persembahkan untukmu.” Fiki menunjuk kearah danau. Terlihat begitu indah panorama disana. Matahari bersiap untuk menepi dari cakrawala. cahayanya dipantulkan oleh air danau dan menyebar kemana-mana. Cahayanya yang berwarna orange membuat serasa jiwa ini begitu tenang, seperti rasa dahaga yang terbayar oleh tegukan air segar. Hembusan angin yang lembut sekaan membuat hati ini merinding. Keindahan itu sungguh terpancar indah di sore itu.


“Sayang, lihatlah pesona itu, itulah yang ingin aku tunjukan kepadamu saat ini, senja akan berganti menjadi malam, dan malampun akan indah untukku dan untukmu.” Fiki terus memandang Fika dengan seulas senyuman yang tak putus-putus ia berikan. Fika tak bisa berkata-kata, air matanya berlinang saat melihat semua itu, keindahan itu bak seperti obat bius yang telah membius jiwanya. Ia melihat keindahan senja yang begitu mempesona. Sesekali ia menghela nafas panjangnya sambil tersenyum indah kearah Fiki.


“Terima kasih sayang, kamu sudah menunjukkan ini kepadaku, aku sangat menyukainya. Tak pernah aku melihat keindahan itu disini. Aku merasa terenyuh melihatnya. Betapa megah alam raya ini, betapa indah suasana kali ini. Senja ini akan selalu mengingatkanku pada dirimu yang telah membawaku kesini. Aku akan selalu mengingatnya, mengingat cintaku disini.” Fika meletakkan kedua tangannya didadanya. “Dihati ini sayangku.” Fika memberikan senyumannya tak henti henti, ia mengagumi keindahan senja itu.


“Fika, ada yang mau aku ungkapkan sekarang.” Sepertinya Fiki akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Ia hembuskan nafasnya panjang. Sesekali ia harus menelan ludahnya untuk mengatasi kegugupannya. Fika juga agak kaget mendengarnya, ia penasaran apa yang akan dikatakan oleh Fiki. Mendadak tubuhnya panas dingin. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Fika memandang dengan seksama kearah Fiki. Ia menunggu satu kata terucap pada bibirnya.

__ADS_1


“Apa sayang?” Fika terlihat agak gusar oleh semua itu. Ia terus memandangi Fiki. Entah mengapa iya begitu deg-degan saat ini. Benar-benar beberapa kata itu telah membuatnya penasaran dan tak karuan. Ia menanti Fiki mengucapkan seseuatu dari bibirnya.


Fiki terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia merogoh saku bagian belakang celananya. Ia agak kesulitan mengeluarkannya. Fiki berusaha tetap tenang di hadapan Fika. Ia melempar senyum kearah Fika, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Setelah ia mendapatkan sesuatu itu. Ia mengeluarkannya dan menunjukkan kearah Fika. Sebuah kotak kecil berwarna merah tua. Fiki memperlihatkan kotak itu kepada Fika.


“Aku begitu mencintaimu Fika, maukah kamu menikah denganku?” Fiki membuka kotak itu. Terlihat didalamnya terdapat satu cincin berlianS yang sangat indah. Tak terasa Fika berlinang air mata menyaksikan itu semua. Fiki telah melamarnya. Fika tak henti-hentinya menangis. Rasa bahagianya tak bisa ia bendung. Orang yang sangat ia cintai akan menikahinya. Ia sangat terharu. Fika memegang pipinya dengan satu tangan. Apakah ini sebuah mimpi? Ia bertanya pada hatinya. Linangan air mata terus membasahi pipnya.


“Maukah kamu menikah denganku?” Tegas Fiki lagi dengan tetap memperlihatkan cincin indah itu dihadapannya. “Are you marry me?” Fiki tersenyum kearah Fika. Tapi tetap saja Fika tak berkata apa-apa. Tak tau harus bagaimana ia mengungkapkan perasaan bahagianya. Ia hanya menangis dan sesekali menunjukkan senyumannya.


“Fika...” Panggil Fiki dengan senyuman yang indah kearahnya


“Iya sayang, aku bersedia menikah denganmu.” Rasanya air mata Fika sudah semuanya tumpah. Suaranya terisak-isak saat ini. Tak tahu apa yang harus ia katakan. Fika langsung memeluk Fiki dengan tangisan yang semakin keras. Fiki membalas pelukan Fika dengan lembut dan hangat.


“Fika, aku sangat berharap kamu nantinya bisa menjadi istriku, aku menginginkanmu untuk selamanya. Menjadi pendamping hidupku. Menyiapkan makanan dan sarapan untukku, menyambut kedatanganku setelah selesai bekerja. Menemani anak-anak kita mengerjakan PR. Membawa anak kita keluar rumah untuk melihat bulan dan bintang yang indah. Itu semua yang harus kamu lakukan jika nanti kamu menikah denganku. Aku begitu mencintaimu, dan aku ingin mencintaimu seumur hidupku. Menikahlah denganku, dan aku akan berusaha menjadi suami yang akan menjadi imam terbaikmu. Dan aku sangat yakin, kamu akan menjadi istri terbaikku dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti.” Fiki terus memeluk Fika. Sesekali Fiki membelai rambutnya dengan lembut. Fika masih tak bisa berkata-kata. Ia hanya terisak-isak dalam tangisannya. Tak tau ia harus berkata apa, perkataan Fiki, lamaran Fiki telah membiusnya saat ini. Bahkan sesekali ia memegang pipinya dengan satu tangan dan menanyakan, apakah ini hanya sebuah mimpi? Ia masih tak percaya akan semua ini. Air matanya sudah sering ia hapus dengan tangannya, tapi air mata itu tak henti-hentinya keluar. Dan tak ada habis-habisnya. Air mata bahagia.


Fiki melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Fika. Ia melihat wajah Fika yang basah dengan air mata, ia terlihat terisak-isak dan mengatur nafasnya. Sesekali ia menghembuskan nafas panjangnya. Fiki menatap wajahnya cantik yang menangis itu, ia tersenyum kearah Fika.


“Fika jangan menangis.” Fiki memegang pipi Fika dan menghapus air matanya. Fika terus menangis. Serasa ia tak punya kekuatan untuk menghentikan tangisannya. “Fika sudahlah, ini hanya sebuah lamaran biasa.” Fiki mencoba menenangkan Fika. Ia mengambil cincin yang ada di dalam kotak merah tua itu dengan jemarinya. Ia lihat sebentar, Fiki meraih tangan kiri Fika. Ia memegang jari-jari indah Fika, tepatnya ia memilih untuk memegangi jari manisnya. Ia pasangkan cincin yang indah itu di tangan Fika.+


“Aku sangat mencintamu, untuk saat ini dan selamanya.” Ucap Fiki setelah melingkarkan cincin itu di jari manis Fika. Fika tak bisa berkata apa-apa. Tangisannya semakin deras, kedua tangannya menutupi mulutnya. Serasa ia tak bisa membendung perasaan bahagianya saat itu. Fikapun memeluk Fiki untuk yang kedua kalinya. Fiki membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.


Senja itu telah menjadi saksi antara cinta mereka berdua, bahkan keindahan itu telah menghiasi cinta mereka. Mataharipun dengan gagahnya undur diri, dan menuju peristirahatannya. Empat puluh tujuh menit yang mengesankan. Dan senja itu telah berubah menjadi malam yang indah.

__ADS_1


__ADS_2