Romantice In Love

Romantice In Love
Kejutan Yang Tak Pernah Ku Lupakan


__ADS_3

Fika menuju kearah kamar madi untuk mebersihkan wajahnya. Ia melihat wajahnya di kaca. Ia terlihat tak karuan, kusam, bahkan linangan air mata itu mengering dan menimbulkan suatu bekas putih-putih dipipinya. Ia tertawa melihat wajahnya dikaca. Begitu jelek saat ini, dengan matanya yang bengkak akibat lelah menangis dan masih terlihat memerah. Fika mulai membasuh mukanya dengan air. Ia usapkan facial soap ke wajahnya dan mulai membersihkan mukanya. Ia bilas wajahnya dengan air lagi untuk menghilangkan facial soap yang ada diwajahnya. Ia raih handuk yang tak jauh dari kaca itu. Ia tempelkan wajahnya ke handuk itu dan mulai mengusap-usapkan. Ia pandangi wajahnya lagi di kaca itu. “Nah ini sudah agak lumayan.” Ia tersenyum kearah kaca. Melihat wajahnya yang sudah bersih seperti semula.


Setidaknya Fiki telah mengantarkannya untuk pulang kerumah. Fiki tahu bahwa Fika harus beristirahat saat ini. Ia tahu kondisinya, yang tak henti-hentinya menangis saat itu.


Fika menuju kamarnya, ia sandarkan kepalanya pada kasur kesayangannya. Ia hembuskan nafas panjang itu. Ia terus memegang pipinya dengan satu tangan, apakah ini mimpi? “Benar, ini bukan mimpi, Fiki telah melamarku, yeeee..” Fika berdiri dan jingkrak-jingkrak dikamarnya. Tak beberapa lama ponselnya berdering. Satu pesan dari Fiki.


“Fika, ayo cepat tidur, aku tahu kamu perlu istirahat sekarang.” Dalam hati Fika bertanya, kenapa ia harus disuruh cepat tidur? Ia memandang jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. Masih pukul 19.30, kenapa harus menyuruhku untuk tidur secepat itu? Fika melanjutkan membaca pesan dari kekasihnya.


“Ayo tak usah menggerutu seperti itu, sekarang kamu ambil selimutmu dan tidur secepatnya. Have nice dream my love, bye-bye..”


Fika hanya mengangkat kedua alisnya. Ia terlihat tersenyum picik setelah membaca pesan darinya, apa maksud dari semua ini? mengapa aku disuruh tidur lebih cepat dari biasanya? Padahal setiap malam ia pasti disuruh untuk menemaninya begadang, sekedar untuk menemaninya melihat acara bola. Ia kembali merik jam dinding itu. “Masih pukul 19.32. Ah sudahlah lagian aku juga sudah sangat capek hari ini. Tangisanku dari tadi telah menghabiskan semua tenagaku untuk hari ini. Memang benar juga saran Fiki untuk menyuruhku tidur cepat-cepat. Setidaknya aku bisa bangun lebih pagi dan lebih segar untuk hari esok. Ia meletakkan ponselnya ke meja. Dan merebahkan dirinya ke atas kasur yang empuk. Tak beberapa lama Fika terlelap tidur.


****


Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang berdering keras. Fika masih enggan untuk membuka matanya. Ia biarkan ponselnya berdering. Dering ponsel itu terdengar lagi, bahkan sudah berkali-kali berdering. Fika masih memejamkan matanya. Matanya enggan untuk membuka, apalagi untuk meraih ponsel itu dan mengangkat telfon. “Ah.. siapa sih malam-malam menelfonku.” Gerutu Fika yang masih memejamkan matanya. Ponsel itu berdering lagi, entah sudah berapa kali ponsel itu berdering. Fika agak terganggu dengan suara posel tersebut. Ia kumpulkan tenaganya mencoba membuka matanya lebar-lebar dan berniat untuk mematikan ponselnya. Setelah dirasa ia bisa membuka matanya, ia menuju ke arah posel yang diletakkannya dimeja. Ia raih ponsel itu. Ia melihat layar ponselnya, dua puluh panggilan masuk dari Fiki. Tak lama ia melihat layar ponsel tersebut, ponsel itu berdering lagi. Kali ini Fika mengangkat telfon itu.


“Hallo..”


“Hallo sayang?” Ternyata Fiki yang menelfon.


“Ada apa Fiki?”


“Tak ada apa-apa, aku mau menanyakan tentang kabarmu.” Sahut Fiki.


“Hanya itu, huuuhhh..” Fika menghembuskan nafas panjangnya. Ia kecewa Fiki menelfon hanya untuk menanyakan kabarnya saat ini. “Aku baik-baik saja sayangku?” jawab Fika dengan ketus.


“Hehehee.. syukurlah kamu baik-baik saja sekarang.Temui aku di depan rumahmu sekarang.”


“Apa?” Fika terbelalak matanya. Ia menelan ludahnya serasa tak mengerti ucapan Fiki.


“Iya temui aku sekarang di depan rumahmu.” Fiki memerintahkan Fika untuk menemuinya di depan rumahnya.

__ADS_1


“Iya, iya tunggu.” Serasa Fika tak percaya. Ia tak pedulikan pertanyaannya. Cepat cepat ia berlari menuju pintu depan untuk melihat keberadaan Fiki, apakah sudah berada di depan rumah ataukah belum. Ia menyalakan semua lampu di bagian teras dan ruang tamu. Ia membuka pintu. Ia melihat sekeliling luar rumahnya. Ia tak melihat Fiki didepan rumahnya, bahkan tak satupun orang dia lihat sedang melewati jalan rumahnya.


“Huuhh.. sudah kuduga. Ia pasti ngerjain aku.” Fika menutup pintunya kembali. Setelah ia menutup pintunya, tiba-tiba lampu ruang tamu mati. Tak tau siapa yang mencoba mematikannya. Ataukah sedang terjadi konsleting atau pemadaman bergilir? Dari kejauhan terdengar suara goresan korek api, “srreeekk.. jesss.” Tiba-tiba ada seseorang yang menghidupkan lilin di ruang tengah. “Ahh mungkin ibu atau ayah mencoba menyalakan lilin karena lampu telah mati. Ia terus mengamati cahaya lilin tersebut. Semakin lama-cahaya itu semakin mendekatinya. Dan tak begitu jelas siapa yang membawa lilin itu menuju kearah Fika. Setelah beberapa meter dari arah Fika orang tersebut berhenti, Fika masih tak melihat siapa yang membawa lilin tersebut, apakah ibunya? ataukah ayahnya? Mengapa tak bersuara? Tiba-tiba lampu menyala.


“Surpraiissssee... selamat ulang tahun.” Kali ini Fika bisa melihat dengan jelas siapa yang telah membawa lilin tersebut. Terlihat Fiki membawa kue ulang tahun dan diatasnya terdapat lilin bernomor 21.


“Selamat ulang tahun Fika.” Terlihat pula ibu dan ayah Fika muncul dari belakang Fiki dan memberikan selamat kepada anaknya.


Fika tak bisa berkata apa-apa. Kali ini ia menangis lagi melihat kejutan dari Fiki. Tangannya menutupi mulutnya. Serasa tak percaya. Ia mengingat-ingat dalam memori otaknya. Hari ini tepat jam 00.15, tanggal 6 mei 2013, ia teringat di tanggal ini ia berulang tahun. Kenapa secepat ini? bahkan ia sempat lupa dengan hari ulang tahunnya. Ia masih tak percaya, Fika masih berdiri dan tanpa suara.


Fiki mendekati Fika. “Selamat ulang tahun kekasihku.Happy birthday.” Fiki tersenyum kearah Fika sambil menyodorkan kue ulang tahunnya.


Fika teringat kenapa hari ini ia disuruh untuk tidur lebih awal oleh Fiki. Mungkin ini semua taktik Fiki agar bisa mempersiapkan kejutan di hari ulang tahunnya. Ia menelfon tengah malam dan menyuruhku untuk menemuinya di depan rumah. Dan ternyata... ia mengakui kecerdikan Fiki saat ini. Bahkan hari ini Fika disuguhkan oleh dua buah kejutan. Yang pertama di tepi danau itu Fiki melamarnya, dan yang kedua ia menemuiku dirumah dan memberi ucapan ulang tahun.


“Selamat ulang tahun Fika, kenapa melamun.” Fiki mengagetkan lamunan Fika saat itu. Fika tersenyum kearah Fiki. Juga kearah Ayah dan Ibu Fika. Fika hanya tertawa kecil melihat semua itu. Fiki menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun, dari band jamrud.


Hari ini, hari yang kau tunggu


Yang ku beri, bukan jam dan cincin


Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati


Maaf bukannya pelit, atau tak mau bermodal dikit


Yang ingin aku beri padamu, doa setulus hati***


Semoga tuhan melindungi kamu,


Agar tercapai semua angan dan cita-citamu


Mudah mudahan diberi umur panjang

__ADS_1


Sehat selama-lamanya


“selamat ulang tahun”


Terlihat pula ayah dan ibu Fika antusias dengan bertepuk tangan mengiringi Fiki menyanyi.


Happy birthday to you..


Happy birthday to you..


Happy birthday happy birthday..


Happy birthday to you.


Ibu dan ayah Fika juga ikut menyanyi saat itu, membuat kejutan itu semakin meriah.


Tiup lilinya, tutup lilinya, tiup lilinya sekarang juga


Sekarang juga


Sekarang juga..


Fika bersiap-siap untuk meniup lilin ulang tahunnya.


“Stop... sebelum kamu meniup lilin itu. Alangkah baiknya kamu mengajukan permohonan dan harapanmu di hari ulang tahunmu ini.”sahut Fiki.


“Emmm.. baiklah..” Fika memejamkan matanya dan menggenggam kedua tangan didepan dadanya. Fika mulai mengajukan permohonnya didalam hati. “Sudah selesai..” Fika meniup lilin ulang tahunnya.


“Horeee... hahhahaa...” Kemeriahan terjadi saat itu. Fiki dan kedua orang tua Fika tertawa, Fikapun juga ikut tertawa seperti mereka.


“Kalau boleh aku tau, apa permohonanmu tadi?” Fiki menanyakan apa yang diucapkan dalam hati Fika sebelum meniup lilin.

__ADS_1


“Ohh.. rahasia. Hahahhaa..” Fika tertawa terbahak-bahak. Seraya ia tak mau menceritakan permohonan apa yang diucapkan tadi. Semuapun ikut tertawa juga saat itu.


__ADS_2