Runner (Awal Mula)

Runner (Awal Mula)
awal kisah


__ADS_3

langit yang cerah. udara sejuk didaerah pedesaan. itu adalah hari yang tak seperti biasanya, dimana kondisi cuaca saat itu sedang buruk. suasana yang begitu dingin tetap tak dihiraukan para santri di salah satu desa di kota bandung. para santriwati tetap keluar dan beraktivitas seperti biasanya. hanya saja, sebagian besar dari mereka menggunakan jacket tebal agar kondisi tubuh mereka tetap hangat.


disudut salah satu ruangan, terlihat seorang santriwati berkerudung panjang menjuntai hingga menutupi pergelangan tangannya.ia menggunakan salah satu gaun umberellanya yang menjuntai hingga menyapu lantai ruangan itu. ia bergerak sangat lihai, seperti seorang pelatih profesional. gadis muda itu berusia sekitar 14 tahun. namanya adalah Mujahidah Al Fasha. seorang gadis muda yang cantik dan pintar. hari itu ia sedang melatih salah satu keahliannya, yaitu beladiri kungfu yang diajarkan oleh sang ayah.


tiba - tiba dirinya teringat dengan kejadian sebelum ia menjadi sangat lihai dalam kungfu. sebuah kejadian yang terjadi ketika dirinya dulu sangat polos. - flash back-


saat itu ia berusia 13 tahun. hari yang paling dinanti oleh para santri, yaitu perpulangan. tak ada satu pun yang tak bahagia dengan hari spesial itu, termaksud fasha. fasha dan sahabatnya ,amira sedang menunggu kedua orang tua mereka datang untuk menjemput mereka. amira dan fasha adalah santri yang masuk dan tes bersama, itulah sebabnya mereka terlihat sangat akrab dan dekat. fasha adalah salh satu tipe anak yang lebih suka menyendiri dan cuek. sedangkan amira adalah anak yang banyak bicara dan selalu merasa penasaran dengan segala kejadian apapun itu.


saat keduanya sedang menanti datangnya ayah dan ibunda tercinta. amira dan fasha tak sengaja mendengar ceramah salah satu ustadz ternama. amira mendengarkan dengan seksama, namun beda dengan fasha yang asyik melihat burung - burung merpati putih yang terbang bersamaan. saat ia sedang asyik mendengar, tiba - tiba terdengar suara sang ustadz yang mengatakan bahwa wanita itu teramat lemah dab harus dilindungi.


fasha terlihat kesal." sha, anti kenapa, kok kayaknya lagi kesel banget? burung merpatinya ada yanv mati? " tanya amira dengan heran.

__ADS_1


" apan sih, mir.... ana itu kesel sama itu!" ujar fasha dan menunjuk ke arah radio yang berada di samping amira.


" oh.... anti kesel sama ustadz yang lagi ceramah? tapi, kenapa?" tanya amira.


" ana kesel. karena gak seharusnya wanita itu dibilang lemah!" bentak fasha.


" kenapa harus marah? kan memang itu yang udah Allah takdirkan buat kita?" ucap amira dengan tenang.


" tapikan.... ah, pokoknya ana bakalan buktiin klo ana bisa bikin wanita gak direndahkan lagi dan dijunjung tinggi!" fasha berlalu dari hadapan amira. amira hanya tersenyum kecil, ia sudah faham dan mengerti dengan sahabatnya yang masih kekanak - kanakan itu.


" fasha. kenapa anti disini sendirian?" suara seseorang yang memanggilnya.

__ADS_1


" gak ,ustadzah. ana lagi latihan aja." jawba fasha gugup.


" anti gak main diluar bareng akhwat yang lain?" tanya ustadzah qonita.


fasha hanya mengelengkan kepala. " yaudah ustadzah pegi dulu ya... assalamualaikum" ucap ustadzh dan kemudian berlalu dari hadapannya.


" wa'alaikumussalam warah matullah" jawab fasha.


ia segera merapihkan barang - barangnya dan menagambil salah satu tas ranselnya yang berwarna biru. sebelum keluar dari ruangan ia tak sengaja melihat sebuah cermin. terlihat dirinya yang lebih berbeda. kini, dirinya terlihat lebih dewasa dan cool. IT dan beladiri kungfu telah ia kuasai. dirinya kini terlihat lebih hebat. namun, itu tak pernah membuatnya menjadi angkuh dan besar kepala.


fasha kembali meraih tas ranselnya. lalu, kakinya melangkah keluar dari kelas. entah apa tujuanku selanjutnya...

__ADS_1


Fasha menatap ke bawah, pandangannya tak tentu arah. bagaimana ini, apa yang harus ana lakukan? batin fasha tak tenang. kelas 8 adalah kelas dimana masing - masing santri yang telah menduduki kelas tersebut memiliki kewajiban untuk memegang sebuah amanah. fasha mendapatkan amanah menjadi ketua OSIS di akhwat. namun, ia merasa binggung dengan para akhwat yang tak menyukai ekskul beladiri. padahal, ekskul thifan adalah salah satu ekskul wajib.


amira sang sahabat segera mengetahui penyebab kemurungan sahabatnya itu. akhirnya ia dan beberapa anggota OSIS lainnya datang membantu fasha. usaha mereka tak sia - sia ,banyak akhwat yang mulai bersemangat dalam mengikuti ekskul thifan. ya allah, ana bersyukur bisa memiliki teman seperti mereka.


__ADS_2