
Musim semi disalah satu sudut kota di jerman yang sudah tidak asing lagi untuk kontingen peserta lomba sains terkecuali untuk ilmi yang berasal dari keluarga sederhana,tapi tidak membuat dirinya merasa kecil apalagi rendah dirinya secara keilmuan bukan di lihat dari status keluarga mereka yang tergolong orang berada pantas saja bila di jerman sudah tidak asing bagi mereka yang sudah pernah disinggahinya bisa jadi ini sudah kunjungan untuk kesekian kalinya ke negara ini bagi mereka
Sebagai buktinya mereka tahu tempat-tempat favorit yang biasanya di kunjungi pelancong sepeti restoran terbaik di salah satu kota di jerman begitupun dengan makanannya,mereka tahu betul apa yang jadi ciri khasnya termasuk souvenir apa yang biasanya mereka bawah pulang sebagai oleh-oleh sebagai buah tangan untuk orang terdekatnya.
Mr kenzein dan beberapa perwakilan dari pihak sekolah memberikan waktu pada siswa siswanya kebebasan untuk menikmati sudut kota selepas menerima hasil lomba yang sangat kebetulan keberuntungan berpihak pada negara tercinta khususnya sekolah dimana mr kenzein sebagai pembimbingnya.
Kebebasan bukan berarti bebas semaunya mr kenzein memberikan waktu pada mereka untuk melihat-lihat sudut kota dan memberikan ijin untuk membeli buah tangan tapi ada batasan yang mr kenzein tentukan tidak yang berbahaya dan tidak memberatkan.
Mr kenzein sangat puas dengan pencapaian yang didapat oleh siswa siswanya tidak hanya sekedar juara tapi juara favorit yang mereka capai.
Semua siswa siswi yang jadi perwakilan sangat senang dengan ijin yang mr kenzein berikan tidak terkecuali dengan ilmi yang dia sadar betul tidak membawa bekal uang banyak yang orang tuanya berikan padanya hanya sekedar pegangan cukuplah untuk sekedar makan di restoran sederhana bisa jadi hanya bisa beli ice cream di kedai pinggir jalan disalah satu sudut kota.
Ilmi hanya ingin menikmati sudut kota tidak lebih sekedar berjalan-jalan saja tidak seperti yang lain masuk ke dalam salah satu toko souvenir dan berniat membelinya,tapi mereka tidak ingin meninggalkan ilmi sendiri dan mereka paham dengan keadaan ilmi tapi tidak salah bila mengajak serta walaupun hanya sekedar melihat-lihat saja pemilik toko pun tidak melarang itu.
Dan ada keuntungan dari mereka membawa serta ilmi masuk kedalam toko dengan memanfaatkan kemampuan yang ilmi miliki,dia pandai berbicara dengan mengunakan bahasa jerman dan ilmi tidak keberatan bagi dirinya ini kesempatan untuk mempraktekkan kemampuan bahasa yang dia kuasai.
Ilmi tahu betul dirinya di awasi seseorang dan siapa seseorang itu tapi dengan kehadiran seseorang itu ilmi merasa nyaman di negara yang asing untuk dirinya,ilmi anggap seseorang itu pengawal yang tidak perlu di bayar.
Didalam toko souvenir ilmi hanya bisa melihat-lihat dan sesekali memegang lalu di kembalikan lagi ke tempat asalnya setelah melihat sebaris angka yang tertulis yang harganya bisa untuk uang jajannya dua bulan menurut dirinya.
Menurut ilmi sayang sebab masih ada hal yang lebih penting dari sekedar barang yang akan dipajang di sudut rumah sebagai hiasan dan menjadi kenangan,yang sebenarnya kenangan itu tidak akan pernah hilang dalam isi otaknya selama dirinya masih tuhan berikan kesehatan.
Dan seseorang seakan tahu ilmi menyukai benda itu sebab bisa di hitung dengan jari barang-barang apa saja yang ilmi pegang di toko souvenir itu dan barang yang ilmi pegang sama dengan miliknya yang ada di kamarnya yang di belinya bebarapa tahun lalu saat berkunjung bersama orang tuanya.
Alton hanya ingin membelikan barang souvenir itu untuk ilmi tanpa sepengetahuan ilmi tentunya sekedar tanda perkenalan saja,kalau pun akan ada sesuatu hal lain itu sebagai bonus tapi yang sebenarnya ada harapan dari bonus itu walaupun tipis harapannya saat ini.
Salah satunya miniatur dari mobil buatan jerman terkenal yang ilmi lihat dan alton membelinya memang nampak lucu dan unik.
Alton memiliki karakter yang sama sebenarnya dalam pemilihan barang tertentu dengan ilmi,kesamaan keduanya menyukai sesuatu yang simpel dan unik serta klasik tidak menyukai sesuatu yang terlalu memberikan kesan berlebihan salah satunya souvenir ini yang alton pilihkan sengaja untuk ilmi sebagai benda kenangan kalau dirinya pernah menginjakkan kaki di negara ini.
Alton merasa bingung bagaimana caranya memberikan benda yang sudah di belinya untuk ilmi bawa pulang sebagai buah tangan dari dirinya yang pasti ilmi akan menolaknya secara halus pemberiannya.
Alton berdiam diri sejenak dan seperti biasa alton yang terbilang banyak ide gila di kepalanya ada saja rencana yang terlintas di otaknya agar dua benda itu jatuh ketangan ilmi dengan tepat itu harapan alton.
Setibanya di tempat penginapan alton mencari teman yang satu kamar dengan ilmi dan semua seperti harapan alton kawan satu kamar dengan ilmi baru saja berniat masuk dan dengan santai alton meminta tolong pada kawan ilmi untuk menyampaikan benda yang terbungkus rapi pada ilmi.
"Maaf dek..kamu satu kamar kan dengan ilmi?" tanya alton pura-pura tidak mengetahui.
"Iya..kak ada yang bisa dibantu?" tanya kawan ilmi dengan sopan.
"Boleh kakak minta tolong sampaikan sama ilmi barangnya ketinggalan" alton menjelaskan dengan menyakinkan kawan ilmi dengan harapan kawan ilmi tidak curiga.
"Oh..yah nanti saya sampaikan" dengan bingung kawan ilmi menerima dari alton.
"Oh..iya maaf kakak tidak bisa langsung memberikan pada ilmi karena ada keperluan,sekali lagi terimakasih sudah merepotkan" alton seperti tergesa meninggalkan kawan ilmi yang masih bingung.
Di dalam kamar terlihat ilmi yang sedang merapikan beberapa buku kedalam tasnya,sepertinya dia sudah rindu akan negara tercintanya.
"Mi..ko sampai lupa kalau bawa barang,untung ada kak alton yang tahu kalau ini punya mu !" kawan satu kamar memberikan barang yang alton titipkan padanya.
Ilmi masih bingung dengan pernyataan kawan satu kamarnya ucapkan,tapi ilmi tidak ingin ada kesalah pahaman antara dirinya dengan kawan satu kamarnya perihal barang yang alton bawakan untuk dirinya,seakan ilmi berpikir dahulu sebelum bertindak sebab akan banyak kemungkinan yang terjadi bila dirinya menolak barang ini dengan berdalih ini bukan barang miliknya yang pada akhirnya membuat kecurigaan kawan satu kamarnya tentang dirinya dengan alton.
"Maaf..terimakasih sudah merepotkan" balas ilmi yang masih memikirkan ada apa dan ada maksud apa ?.
"Salah mi..bukan sama gue tapi sama kak alton ucapan terimakasihnya" ujarnya yang terlihat lelah dengan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ok..saya akan berterimakasih sama kak alton" ilmi ingin rasanya mencari tahu apa isinya tapi dia tahu ini bukan miliknya.
Ilmi hanya bisa membolak-balik serta memegang benda yang masih terbungkus rapi tanpa tahu isinya dan sesekali di dekapnya dalam pelukan karena dirinya bingung.
"Mi..apa yang kamu beli?" tanyanya ingin tahu tapi ilmi bingung untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Hanya benda murah saja ko" balas ilmi dengan berharap kawan satu kamarnya tidak ingin tahu.
"Yang penting oleh-oleh ga penting juga soal harga" dengan tersenyum kawan ilmi menjelaskan.
Ilmi hanya bisa membalas dengan senyuman tidak ingin terlalu jauh sebab dia tidak ingin dia semakin ingin tahu dari barang yang masih dipegangnya.
"Mi..mau loe kasih ke siapa ?" pertanyaan yang tidak ingin ilmi mendengarnya harus dia terima.
"He..he pastinya ibu sama kakak ku" balas ilmi asal membalas.
"Pasti kakak kamu suka" ujarnya yang menghampiri ilmi.
"Boleh kan gue tahu" dengan berat hati ilmi menyerahkan barang yang masih terbungkus rapi ilmi sendiri tidak tahu apa isinya.
"Ih..pasti ibu loe senang mi" ujar kawan ilmi yang melihat piring dengan gambar bangunan kastil dan tulisan nama negara yang saat ini mereka kunjungi,ilmi hanya tersenyum dan bernapas lega ternyata isinya tidak membuat kaget dirinya.
Dan untuk kesekian kalinya ilmi di buat waswas sebab kawan ilmi ingin membuka bungkus barang yang satunya lagi,ilmi seakan di buat ketakutan akan isi barang yang terbungkus rapi itu.
"Mi..loe paling bisa bikin kakak loe senang"kembali kawan ilmi memperlihatkan benda yang tidak membuat ilmi kaget semua masih dalam batas wajar menurut dirinya.
Ilmi merapikan kembali barang-barang yang kawan ilmi ingin lihat kembali kedalam bag semula terlihat secarik kertas note kecil tertulis dengan tulisan tangan sang pemilik barang ~mohon di terima sebagai tanda pertemanan ~ alton.
Ilmi bersyukur kawan ilmi tidak mengetahui note yang alton selipkan di bawah bag bukan ilmi tidak ingin mempermasalahkan soal barangnya tapi akan ada gosip-gosip yang tidak ingin dirinya mendengar itu,ilmi hanya ingin sekolah dengan baik itu saja tidak lebih sesuai harapan dirinya juga kedua orang tuanya.
Kini giliran ilmi yang berpikir bagaimana caranya mengembalikan barang yang alton belikan untuk dirinya karena menurut ilmi ini bukan miliknya.
Sepertinya tidak ada kesempatan untuk ilmi menyampaikan maksudnya pada alton hingga kepulangan dari jerman,alton yang sepertinya sudah disibukkan dengan rutinitas di sekolah maklum saja dia juga salah satu anggota tim inti basket sekolah yang akan bertanding antar sekolah dalam waktu dekat,seperti alton mengejar ketertinggalannya karena harus ke jerman.
Alton sepulang sekolah harus menjalani latihan yang membuat waktu istirahatnya sedikit berkurang tapi dia senang sebab tidak membuang waktunya dengan hanya duduk didepan layar komputer bila di rumah.
Tanpa sengaja kawan latihan melempar bola mengenai wajah alton tepatnya hidung alton yang lansung darah segar keluar dari hidung,alton yang menyadari itu bergegas berlarian kamar mandi untuk membersihkan darah dari hidungnya.
Alton sudah membersihkan darah dari hidungnya dan bersiap menuju lapangan basket lagi untuk kembali berlatih bersama kawan satu timnya.
"Kakak..kenapa hidungnya?" ilmi memberikan saputangan miliknya pada alton berharap alton membersihkan darah yang masih keluar.
"Terimakasih..kena bola" alton menjelaskan pada ilmi yang terlihat khawatir dengan keadaan alton.
"Ih..hati-hati kak" ilmi masih terlihat mengkhawatirkan alton yang membersihkan sisa darah yang masih keluar dari hidungnya.
"Namanya juga main pasti ada sedikit kecelakaan wajar laki ini"ujar alton yang tidak melihat bagaimana khawatirnya ilmi.
"Oh..iya kak,soal barang milik kakak kapan ya mau ilmi kasih ke kakak" alton terlihat kecewa mendengar ucapan dari ilmi.
"Kamu tidak mau menerima pemberian kakak berarti kamu ga mau berteman" ilmi melihat wajah kecewa alton rasanya tidak ingin mengecewakannya.
"Ga..gitu kak" ucap ilmi singkat tapi alton mengerti dari ucapan ilmi.
"Kakak ikhlas ko ingin memberikan itu untuk mu" dengan menahan sakit alton mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Ok..ok mi terima,terimakasih kakak" ucap tegas ilmi dengan tersenyum untuk pertama kalinya alton melihatnya.
"Mi..kamu tambah manis kalau tersenyum" tanpa sengaja alton mengeluarkan ucapannya membuat ilmi tertunduk.
"Eh..maaf maaf mi spontan tanpa kakak sengaja" alton merasa bersalah.
"Ko..belum pulang?" tanya alton mengalihkan pembahasan.
"Ada tugas yang harus mi kerjakan sebab hanya ada di perpustakaan bahan tugas itu" ilmi memberikan penjelasan pada alton.
"Boleh kakak tahu tugas apa?" alton sedikit mengkhawatirkan ilmi karena sudah sore.
"Ini.." ilmi menunjukkan beberapa buku tebal yang di pegangnya.
"Kakak punya besok kakak bawakan untuk mi.." alton ingin ilmi secepatnya pulang.
__ADS_1
"Terus ini..?" sepertinya ilmi ingin meminta persetujuan dari alton.
"Kapan tugas mi di kumpulkan?" alton berusaha mencari tahu.
"Lusa.." ilmi menjelaskan pada alton.
"Biar kakak temani mi ke perpustakaan mengembalikan semua buku itu" alton mengambil alih membawakan buku yang membuat ilmi hanya bisa pasrah.
Sepanjang lorong menuju perpustakaan banyak yang alton tanyakan pada ilmi seputar pelajaran tentunya.
"Bila ada kesulitan boleh tanya sama kakak ga usah sungkan" alton mengambil ponsel ilmi dan memberikan nomor dirinya tanpa bertanya terlebih dahulu pada ilmi dan ilmi hanya bisa diam tanpa penolakan.
Ruang perpustakaan sudah mulai terlihat sepi hanya terlihat dua atau tiga orang bersama penjaga perpustakaan yang sibuk memeriksa dan merapikan buku sesuai judul buku.
Alton senang bisa sedekat ini dengan ilmi tapi masih terlihat ada batasan yang alton bisa mengerti,baginya ini sudah lebih dari cukup apalagi setelah ilmi tahu seperti apa kebiasaan buruknya selama ini di sekolah.
Ilmi tidak menghindar darinya saja sudah membuatnya senang apa lagi ilmi saat ini bisa bersama sudah luar biasa untuk seorang alton yang terbilang tidak sempurna masih memiliki kekurangan.
Dan alton faham ilmi bukan menghindar dari lawan jenis hanya membatasi diri itu saja tidak ada maksud lebih dan ilmi berharap tidak salah menilai dirinya.
Ilmi sudah keluar dari lingkungan sekolah setelah berpamitan pada alton yang menemaninya mengembalikan buku di perpustakaan dan alton sendiri kembali melanjutkan latihan basket.
Menjelang magrib ilmi masih berdiri di halte sekolah karena bis yang akan dia naiki belum juga datang,ilmi sedikit gelisah sebab ibunya sudah berkali-kali menghubungi dirinya mengkhawatirkan keadaan dirinya yang belum juga pulang dan ilmi sudah menjelaskan tapi namanya juga seorang ibu pasti khawatir akan anak gadisnya yang masih di luar rumah.
"Mi..ko belum pulang?" tegur alton yang kebetulan melewati halte.
"Bisnya belum datang" terlihat wajah pucat ilmi yang tahu malam akan datang mengantikan sore.
"Mau kakak antar" alton menawarkan diri dengan memberikan helm miliknya.
"Ga..kak terimakasih" jawab ilmi dengan meremas tangannya sendiri tanda dirinya takut juga gelisah.
"Baik kakak temanmu mi sampai naik bis" sepertinya alton tahu apa yang dirasakan ilmi dan alton menghentikan motornya dan duduk diatasnya menemani ilmi menunggu bis ya g belum tiba.
Hampir menjelang magrib bis baru datang dan ilmi langsung naik dan alton mengikuti dari belakang perlahan mengikuti laju bis yang sepertinya alton mengkhawatirkan keselamatan ilmi.
Sesekali orang dalam bis menggoda ilmi yang hanya bisa tersenyum tanpa membalas dengan kata-kata baginya tidak penting.
"Neng..sayang betul pacarnya" goda kenek bis pada ilmi saat meminta ongkos.
"Kenapa ga mau dibonceng,lagi marahan ya" goda penumpang lain yang duduk tidak jauh dari ilmi yang membuat ilmi hanya bisa tertunduk malu.
Tidak lama ilmi turun dan masih dengan godaan yang sama yang penumpang lain ucapkan untuk ilmi "cie..cie romantisnya" ilmi hanya bisa menggelengkan kepala.
Alton merasa tenang ilmi sudah didepan rumahnya dan tanpa bicara alton meninggalkan ilmi hanya isyarat dari bunyi klakson motornya yang alton berikan pada ilmi dan ilmi mengerti.
Ilmi disambut ibunya yang langsung memeluknya sepertinya beliau begitu mengkhawatirkan dirinya yang biasanya sudah pulang tidak sampai menjelang magrib.
Ilmi mencium tangan ibunya dan meminta maaf telah membuatnya khawatir dan menjelaskan keadaan sebenarnya dan ibunya cukup mengerti dengan keterbatasan keluarganya membuat ilmi harus menyelesaikan tugas di sekolah yang seharusnya sudah pulang beberapa waktu lalu.
ilmi tidak menyalahkan keberadaan keluarganya baginya dirinya yang terlalu memaksakan diri ingin bersekolah ditempat yang seharusnya bukan untuk kalangan dirinya.
Bagi ilmi menyalahkan keadaan adalah salah tapi dari keadaan dirinya menjadi terpacu untuk jadi seseorang yang lebih baik dan tidak ingin membuang waktu untuk terus merenung tapi harus jadi termotivasi untuk jadi yang terbaik walaupun dalam keadaan serba terbatas.
Bagi yang memiliki fasilitas lebih ini hal yang biasa tapi bagi yang serba terbatas menjadi semangat kalau dirinya harus bisa sama seperti yang mereka punya tapi dengan cara yang baik tentunya yang tidak membuang waktu dan berusaha mencari solusi dari tiap kesulitan itu.
Ilmi bisa membuktikan itu dengan cara dirinya tetap jadi yang terbaik di angkatannya walaupun dengan keterbatasan fasilitas tapi tidak dalam keterbatasan ilmu.
Ilmi masih bisa membanggakan kedua orang tuanya dalam presentasi di sekolahnya dan berprilaku santun itu sudah plus untuk orangtuanya.
Ilmi hanya bisa memberikan kebahagian sebisa ilmi bisa lakukan saat ini sebagai pelajar untuk meraih masa dengan dengan ilmu yang bermanfaat sesuai harapan ayah dan ibunya,terdengar sederhana tapi bagi ilmi dan kakaknya usaha ayahnya sudah semaksimal mungkin dengan memberikan sekolah terbaik untuk anak-anaknya berharap mendapatkan ilmu yang lebih bermanfaat untuk orang banyak.
Secara harta ayahnya orang yang tidak bisa membagikan harta pada putra putrinya dan hanya bisa memberikan ilmu sesuai harapan masa depan lebih baik darinya dan berharap lewat ilmu membuat putra putrinya tuhan tinggikan derajatnya.
Begitu mulia harapan seorang ayah dan anaknya walaupun dalam keadaan keterbatasan berharap selalu tuhan berikan kemudahan dalam setiap langkahnya,untuk jadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupannya.
__ADS_1