
Dan juga, Akademi ini sangatlah luas, tiga kali luasnya dari sekolahku yang lama. Apakah Para siswa di ajarkan sihir di Akademi ini.
Aku segera masuk ke dalam gerbang sekolah akedemi ini, dalam perjalanan masuk kedalam Akademi, Tiba-tiba Ponselku berdering.
Aku segera merogoh Ponselku yang berada di kantong ku.
Dari siapa ini...?
Layar ponsel menunjukan tulisan Ilya.
oh..Dari Ilya yah... Angkat tidak yah...?
Angkat saja lah ...
"Hallo.. Ilya, Ada apa?"
"Takuma- Kun, apakah kau sudah sampai di akademi?"
"Ya, aku sudah sampai, Memang kenapa?"
"Aku... Aku.... "
"Ada apa? apakah terjadi sesuatu kepadamu?
"Tidak... Tidak terjadi apa- apa, Sampai jumpa di ruang kelas Takuma- Kun."
__ADS_1
"Baiklah jika tidak terjadi apa- apa, sampai jumpa."
Aku menutup teleponku, dan kembali berjalan menuju ruang kelas.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Dalam perjalanan menuju ruang kelas, yang ditakutiku sekarang telah tiba, Sekelompok orang yang biasa membullyku sekarang telah muncul di hadapanku .
"Selamat pagi..."
"... Tolong bawakan tasku sampai ke kelas Ta- Kuma- kun!."
Rambut berwana pirang di bagian tengahnya seperti anak punk, berbadan besar dan kancing baju terbuka itu Saeki.
"Se- selamat pagi.... Baiklah..." dengan ekspresi Senyum yang berbohong, Aku mengambil dan membawakan tas Saeki dan teman- teman lainnya, menuju ruang kelas.
Aku tahu ini adalah salah... Tetapi aku tidak boleh menyinggung orang seperti dia.
Diantara semua itu Tomura Saeki, dia adalah anak dari pejabat penting di kota ini, dan teman- teman lainnya juga orang tuanya merupakan tokoh- tokoh penting di dalam kota ini.
Dengan kata lain mereka adalah tokoh sentral yang ada di kelasku.....
Waktu menunjukan pukul 8:00 Tepat pagi, bel masuk akademi sudah berbunyi. Setelah selesai menaruh tas Saeki dan teman- temannya, aku segera duduk di mejaku yang bersebelahan dengan Ilya.
__ADS_1
Kelas yang kumasuki ini adalah kelas sihir, Sebuah kelas untuk belajar dan mengembangkan sihir.
"Takuma- Kun apakah kamu baik- baik saja? Apakah Saeki melakukan hal aneh lagi kepadamu?."
"Tidak, tidak apa- apa, Aku hanya mengantarkan tas dia saja dan Saeki tidak melakukan hal tidak- tidak kepadaku."
"Oh, baiklah kalau begitu, kalau kau baik- baik saja aku merasa lega..."
".... Dengan ayahnya seorang pejabat penting di kota ini, Saeki menjadi begitu sombong, sama seperti teman - teman lainnya juga..."
"...Jika ada hal- hal lain yang bisa ku bantu untukmu Takuma- Kun, aku merasa senang sekali."
"Iya, terimakasih untuk kebaikanmu Ilya, aku merasa senang sekali punya teman baik seperti dirimu."
" Aku juga merasa senang berteman dengan mu Takuma- Kun, Baiklah sepertinya Guru pengajar kita akan segera tiba."
Suara langkah kaki terdengar di luar kelas, Mungkin itu adalah Guru Pengajar di kelas ini pikirku.
Seorang Guru bertubuh mungil seperti anak 12 tahun berjalan memasuki kelas dan berdiri di depan kelasku
"Baiklah, Murid- murid bodoh seperti kalian! Sekarang Kalian berada di kelasku, ini adalah mata pelajaran sihir yang sulit kalian Bayangi."
"Pertama- Tama, saya akan menguji IQ kalian semua, emm...." sambil melihat dan menatap para murid- murid lainnya dan mulai mencari mangsanya.
Semoga saja bukan aku... Semoga saja bukan aku... Jangan pilih aku... Jangan pilih aku....
__ADS_1
"Murid yang ada di sebelah sana.." Guru sambil menunjuk murid yang berada di sudut belakang .
Fwuhhh.... aku merasa lega, karena bukan aku yang di tunjuk Guru loli itu.