Sekolah Sihir (Complete)

Sekolah Sihir (Complete)
Part 13_ Terbongkar


__ADS_3

Brenda mengemasi barang-barang nya ke dalam koper. Dia mengingat kejadian lalu yang mengharuskanya berkemas.


Orang tuanya memaksanya bersekolah di akademegicial, yaitu sekolah sihir paling tersohor sedunia.


Dirinya menolak keras keinginan orang tuanya, namun apalah daya orang tuanya sangat keras kepala.


Dan hari ini adalah kepindahanya ke asrama sekolahanya. Memang sekolahanya memaksa semua murid untuk tinggal di asrama.


Tidak sadar ternyata Brenda sudah berada di depan gedung sekolahanya. Pasti Ayahnya menggunakan sihir untuk menuju kesini sehingga dirinya cepat sampai.


"Jaga dirimu baik-baik, Brenda." Pesan Ayahnya yang hanya diangguki.


Brenda berjalan gontai menuju ruang kepala asrama perempuan, sekolahan yang sangat luas membuatnya sangat lelah.


"Pasti jika aku punya kekuatan seperti Ayah, aku bisa teleportasi." gerutunya.


Brenda tergolong penyihir tingkat rendah karna kedudukanya hanya magician, padahal orang tuanya tergolong penyihir kuat namun entah kenapa dirinya sangat lemah. Itulah alasan brenda menolak sekolah disini karna pasti dirinya akan jadi paling lemah.


Tidak sadar ternyata Brenda sudah berada di depan ruanganya, saat Brenda hendak mengetuk, pintunya sudah terbuka sendirinya.


'Kenapa aku bisa lupa jika mereka semua penyihir.' Batinya lalu mulai duduk.


"Kamu Brenda Carolyn, kan?" Tanya orang didepan Brenda.


"Iya, Bu." Jawabnya segan. Karna sejujurnya orang dihadapan nya kini nampak sangat ..... menyeramkan.


"Kenalkan saya Sofia, kepala di asrama perempuan ini." Brenda hanya mengangguk sopan.


"Apakah kedudukanmu hanya magician?" Tanyanya.


Brenda mengangguk kecil.


"Lumayan aneh karna kamu bisa diterima pemimpin untuk sekolah disini, karna setahuku tidak ada magician di sekolah ini." Jelasnya.


Brenda sedikit kikuk. Ini pasti ulah orang tuanya sehingga dirinya bisa sekolah disini karna sejujurnya Brenda tidak yakin bisa diterima di sekolah ini.


"Baiklah ini peta ruanganmu." Tiba-tiba ada secarik kertas melayang didepan Brenda.


"Terimakasih saya permisi." Pamitnya lalu mengikuti arah kertas itu.


::::::::::::::::::


Brenda menatap langit kamarnya kosong, tidak lama ada bola yang mengenai jendelanya sampai pecah.


Brenda terkesiap kaget dibuatnya, tidak lama ada seseorang yang melompat melewati jendela pecah tersebut lalu mengambil bolanya.


"Eh maaf yha tadi aku menendangnya kekencengan, hehe." Ujarnya cengengesan, seolah ucapanya sangat bertolak belakang dengan ekspresinya.


"Iya tidak pa-pa, tapi..." Brenda menggantung ucapanya sambil menatap jendela kamarnya yang pecah.


Seolah paham gadis itu berkata. "ah tenang saja..."


Lalu entah apa yang dirapalkan gadis itu, jendela kamar Brenda yang semula pecah menjadi baik seperti semula.


Brenda terkejut dibuatnya.


"Sudah selesai," gumamnya lalu beralih menatap Brenda. "Kamu terkejut seolah baru pertama kali melihatnya saja." Ujarnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Brenda menatap gadis itu sebentar lalu tersenyum simpul. "memang." Jawabnya.


"Hah?! Kamu sedang bercanda, kan?" Tanyanya meyakinkan.


Brenda menghembuskan napas lelah. "Aku hanya setingkat magician." Jelasnya.


Gadis didepan Brenda nampak terkejut. "ba-bagaimana bisa eum ... maksudku, bukankah yang diterima disekolah ini harus yang emm-"


"Iya aku mengerti maksud mu," Brenda menatap ramah gadis didepanya ini. "Mungkin aku juga bisa sekolah disini itu hanya sebatas keberuntungan saja." Lalu Brenda tersenyum miris.


Gadis itu nampak tidak enak hati pada Brenda. "Maaf jika-"


"Tidak usah minta maaf karna yang kamu ucapkan memang benar adanya," paparnya.


"Namamu siapa? Kenalkan aku Teresa." Kenalnya.


"Aku Brenda." Balas Brenda.


"Kalau gitu mulai saat ini kita berteman yha." Putusnya yang disambut senang Brenda.


"Tentu!" Jawabnya semangat.


DING DONG DING DONG.


Tidak lama suara loceng menggema ke seluruh penjuru sekolah.


Brenda langsung berjingkat kaget. "apa ini?!" Bingungnya.


"Tenang saja. Bila lonceng berbunyi itu tandanya waktunya jam makan," jelasnya. "Ayo kita ke aula!" Lalu gadis itu menarik Brenda.


.


.


.


"Brenda, kenalkan ini temanku namanya Bia dan Megi." Teresa datang membawa dua temanya.


"Hay aku Brenda." Brenda tersenyum manis tanpa di buat-buat.


"Hay juga, semoga kita bisa berteman ya!!" Bia nampak sangat senang.


"Hay." Tambah megi.


"Brenda apa benar kau hanya setingkat magician?" Tanya Bia tidak percaya.


"Iya, kalian setingkat apa?" Jawab dan tanya Brenda langsung.


"Kalo aku dan Bia adalah wizard (menggunakan roh) sedangkan Megi adalah sorcerer (menguasai banyak ilmu)." Jelas Resa.


"Waw kamu seperti ibuku!" Kagum Brenda pada Megi.


"Benarkah?" Tanyanya yang diangguki Brenda.


"Ayahmu apa?" Sahut Resa kepo.


"Penyihir." Jawab Brenda polos.

__ADS_1


"Duhhh ... maksud ku tingkatanya Brenda!" Sepertinya menjahili Resa akan menjadi salah satu hobi Brenda sekarang.


"Ayahku necromancer (menghidupkan orang mati)." Jawab Brenda enteng.


"HAH?! Kamu serius, Ayahmu dan lbumu bagaimana bisa menikah?!" Bingung Resa.


Brenda menatap mereka satu persatu. "aku juga kurang tahu karna sejujurnya hubunganku dengan kedua orang tuaku kurang baik." Jawab Brenda jujur.


"Tapi Bren bagaimana kamu hanya setingkat magician sedang orang tuamu tingkatanya sangat tinggi?" Tanya Bia heran.


Brenda menggendikkan bahu. "mungkin aku hanya anak pungut," Brenda menatap miris hidupnya. "aku bahkan juga tidak yakin mereka orang tua ku." Lanjutnya.


"Kamu tidak boleh berujar begitu Bren, mereka pasti orang tuamu!" Sanggah Bia yang tidak terima Brenda berujar seperti itu.


Brenda diam tidak mengiyakan maupun menyanggah.


"Tapi seorang sorcerer dan necromancer menikah, aku baru tau." Ujar Resa.


"Aku juga!" sahut Bia.


"Hm." Tambah Megi bergumam.


Sepertinya Brenda mulai tahu watak temanya ini, Resa dan Bia yang cenderung cerewet, dan Megi yang pendiam.


"Pasti ini merupakan sejarah persihiran." Jelas Resa lagi.


"Hahaha ... kamu bisa saja." Brenda nampak geli mendengar ucapan Resa.


Resa yang diejek pun melotot lucu,


"yee dibilangin kok!" Kesalnya.


Dan mereka pun tertawa bersama.


"Eh .. kita sekelas, kan?" Tanya Resa tiba- tiba.


"Iya."


"Wah asikk kita sekelas!" Semangat Bia.


Tidak lama acara makan pun selesai dan mereka semua kembali ke kamar masing-masing.


Namun ditengah perjalanan Brenda tidak sengaja melihat seorang lelaki sedang membaca buku sendiri. Brenda yang penasaranpun mendekatinya namun tidak mengganggunya.


Pemuda itu nampak tenang dengan buku yang dibacanya, kulit seputih salju dengan bibir semerah darah membuatnya sangat tampan dimata Brenda.


"Dari pada kamu menatapku terus lebih baik kamu pergi sekarang juga." ujarnya dingin.


Brenda mendelik kaget, dirinya tertangkap basah sedang menatap lelaki. Oh ... no ini sangat memalukan.


"Maaf." Ujar Brenda pelan lalu beranjak pergi dari sana, namun sebelum itu mereka sempat bertatapan beberapa saat.


Setelah Brenda pergi lelaki itu melotot kaget. Bahkan buku yang dibacanya jatuh begitu saja.


"Bagaimana bisa..." ujarnya monolog.


"Aku tidak bisa membaca pikiranya." Lanjutnya masih dengan kekagetan yang tidak bisa dia jabarkan.

__ADS_1


*****


TBC.


__ADS_2