Sekolah Sihir (Complete)

Sekolah Sihir (Complete)
Part 09_ Babak Penyisihan


__ADS_3

Di belakang sekolah.


"Gimana sih kamu, kan udah aku ajari dari tadi masa masih gak bisa juga?!" kesal Adrian sambil mengacak rambutnya, sepertinya dirinya sangat frustasi.


Brenda mencuatkan bibirnya kesal. "Tadi kamu ngomongnya kan pake tenaga dalam, tapi yang bagian mana, sih?" Bingungnya.


"Yang bagian perut Brendaaaaa!" Gemas Adrian.


Dan seharian ini akan menjadi hari yang panjang untuk Adrian.


1 jam kemudian.


"Huwaa ..... aku bisa terbang!" Seru Brenda girang.


Adrian memutar bola mata malas. "Adek aku yang SD aja udah bisa terbang sendiri," sindirnya.


Brenda menatap Adrian kesal. "itukan karna Adek kamu sekelas wizard, lah aku apa cuma sekelas magician!" Balas Brenda ngotot.


Adrian melengos pelan. "Makanya kalo merasa gak sebanding yha ngapain kamu sekolah disini!" Semburnya.


Brenda mengejar Adrian. "tauk tuh Ayah sama Ibu yang maksa banget." Jawab Brenda sambil mensejajarkan jalanya dengan Adrian.


"Emangnya kamu sekelas apa sih, Rian?" Tanya Brenda.


"Sorcerer."


Brenda mengangguk. "Kayak Megi dan lbu kalo gitu," gumamnya.


Adrian menghentikan langkahnya. "Memangnya Ibu kamu setingkat sorcerer?" Tanyanya memastikan.


Brenda mengangguk. "Iya."


"Kalo Ayah kamu?" Tanyanya lagi.


Brenda menjawab. "Necromancer."


Adrian melongo, bener-bener melongo yang gak di buat-buat. "Kamu serius?!" Pekiknya.


Brenda mengernyit. "Kenapa sih emangnya?" Tanya Brenda bingung.


"Setahu aku tuh gak ada pasangan sorcerer sama necromancer sepanjang sejarah, selain orangtua kamu!" Terangnya.


Brenda mengangguk setuju. "Tadi temen aku juga udah bilang gitu." Ujarnya tenang.


"Dan yang paling aneh tuh gimana bisa kamu cuma sekelas magician (penyihir paling rendah) sedangkan orangtua kamu kelasnya tinggi?" Bingung Adrian.


Brenda tersenyum simpul. "Aku gak tau yha Rian, mungkin aku anak pungut kali," jawab Brenda santai lalu melenggang pergi. "Duluan yha, Rian!" Lalu melambai pergi.


Meninggalkan Adrian dengan segala kekagetanya.


::::::::::::::::::


Pembagian ruangan di sekolah ini:


Ruang pengendali

__ADS_1


-1. Ruang pengendali angin.


-2. Ruang pengendali api.


-3. Ruang pengendali air.


-4. Ruang pengendali tanah.


(Setiap siswa diwajibkan mengikuti salah satu dari pengendali tersebut, berdasarkan kemampuanya)


Ruang kelas belajar:


-kelas 1 (terdiri dari A sampai J)


-kelas 2 (terdiri dari A sampai O)


-kelas 3 (terdiri dari A sampai Z)


Tingkatan kelas penyihir:


-1. Sage (tertinggi / sekelas dewa dan dalam sejarah hanya tercatat satu orang saja namun sudah meninggal).


-2. Enchanter (tertinggi ke dua).


-3. Necromancer (tertinggi ke tiga).


-4. Sorcerer (tertinggi ke empat).


-5. Wizard (tertinggi ke lima).


-6. Magician (terendah).


:::::::::::::::::


Memang aslinya dirinya tidak punya bakat apapun tapi karna diwajibkan jadilah dia masuk kelas pengendali angin.


Sekedar info setiap penyihir punya keahlian dalam satu bidang entah api, angin, tanah, atau air. Dan semakin tinggi tingkatan mereka maka akan semakin besar kemampuan mereka mengendalikanya.


Terkecuali untuk sage karna tingkatanya tertinggi bahkan hampir sejajar dengan dewa maka orang dengan tingkatan ini bisa menguasai semua elemen tadi.


Sayangnya dalam sejarah hanya tercatat satu orang dan sekarang belum tercatat lagi.


"Bren, kamu masuk kelas pengendali angin juga?" Tanya Resa kaget.


Brenda kaget, "loh kamu juga ikut kelas ini, Re?" Ujar Brenda tidak percaya.


Resa mengangguk semangat, "yeay kita sekelas lagi dong, kita sekelas dalam belajar dan sekarang sekelas dalam ruang pengendali. Wah... kita kayak jodoh deh!" Cerocosnya kayak bajaj rombeng.


"Trus Bia sama Megi juga disini?" Tanya Brenda sambil celingukan.


"Nonono. Sayangnya mereka nggak sekelas sama kita." Kata Resa.


Brenda mengernyit. "Trus mereka di kelas mana?" Tanyanya.


"Bia dia masuk pengendali air, sedangkan Megi dia pengendali api." Jelas Resa.

__ADS_1


Brenda mengangguk, "wah lucu pasti kalo mereka berantem, satunya nyembur api yang satunya madamin. Gitu terus sampek bumi kotak." Brenda terkekeh pelan membayangkanya.


Resa tertawa ngakak ."HAHAHA!!! Percaya gak percaya aku pernah liat mereka gitu loh."


"Lah mereka bertarung, gitu?" Tanya Brenda tidak percaya.


"Tapi nggak serius amat kok, yha biasalah bocah sableng." Terang Resa dan mereka pun kembali tertawa.


Tidak lama pintu kelas terbuka mereka melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah wali kelas mereka, Bu Sisi.


"Pagi semua hari ini kita adakan tes." Jelasnya membuat sekelas pucat semua, padahal Bu Sisi belum duduk di kursinya dan sudah membuat mereka semua tegang begitu, trus coba bayangin aja apa yang terjadi setelah bu sisi duduk di bangkunya.


"Waktu latihan kalian 5 menit!" Ujarnya setelah duduk di kursi.


Savage!


"Bu tambahin kek waktunya." Tawar salah satu teman Brenda.


"Ga siap, silakan keluar!" Dan seketika kelas hening.


"Kita tes nya ngapain, sih?" Tanya Brenda tidak paham.


"Kita harus bisa buat benda yang dipilih Bu Sisi terbang menggunakan kekuatan angin kita." Jelas Resa.


WHAT THE?! Brenda mati kutu. Coba bayangkan Brenda bahkan tidak bisa mengendalikan angin, tamatlah riwayatnya.


"Kenapa kok muka kamu pucet sih.  Bren?" Tanya Resa sambil menerbangkan penanya.


Brenda menatap Resa lesu, "aku gak punya kekuatan angin, Re. Bahkan mungkin aku gak yakin punya kekuatan elemen apapun." Jelasnya.


Mata Resa terbelalak, "kok kamu ikut kelas pengendali, sih?!"


Brenda menidurkan kepalanya di meja sambil menatap lesu Resa. "Kan setiap siswa diwajibkan ikut kelas pengendali, Re." Jawabnya lemah.


"Trus kamu mau gimana?" Tanya Resa.


Brenda menggedikkan bahunya acuh. "Palingan di keluarin dari kelas ini," ujarnya santai.


Resa memegang bahu Brenda agar duduk menghadapnya, "kamu pasti bisa Bren, mau aku ajari caranya."


"Boleh deh," ucap Brenda tidak yakin.


"Pertama-tama kamu harus pusatkan energi dalam kamu ke tangan karna tangan tempat kita mengeluarkan energi." Jelas Resa.


"Itu aja?"


"Gak lah, yang kedua kamu harus fokus ke benda yang mau kamu kenakan energi. Jangan pikirkan apapun kosongkan pikiran, lalu kalau sudah yakin keluarkan energi mu ke benda tersebut." Terang Resa melanjutkan.


Brenda mencoba melakukan apa intruksi Resa tadi namun hasinya ...... nol besar.


"Aku gak bisa gimana, dong?!" Bingung Brenda apalagi setelah mengatakan itu Bu Sisi berkata.


"Waktu latihan habis, yang lbu panggil maju ke depan!"


Brenda dan Resa saling bertatapan, sepertinya hari ini Brenda bakal terkena masalah besar.

__ADS_1


****


TBC.


__ADS_2