Sekolah Sihir (Complete)

Sekolah Sihir (Complete)
Part 08_ Pembagian Lawan


__ADS_3

Kelas Brenda mendapat tugas untuk bermain voli, mungkin jika bermain voli biasa itu cukup wajar tapi mereka diharuskan bermain voli sambil terbang, pikirkan bagaimana Brenda bisa.


"Hei kamu murid baru yang katanya hanya sekelas magician, kan?" Tanya salah satu teman Brenda dengan nada remeh.


"Iya."


"Hahaha kok bisa sih kelas rendahan kayak kamu masuk ke akademegicial? Kamu pasti nyogok, kan!" Sindirnya sarkas bahkan sudah banyak teman sekelas yang mengerubunginya.


Brenda menunduk malu, karna dia merasa apa yang dikatakan temanya memang benar.


"Heh! Kamu pasti juga gak bisa terbang ya, ck! Memalukan!" Tambah orang disebelahnya.


Tidak lama Resa, Bia, dan Megi datang.


"Heh kamu bisa diem gak sih, jadi orang julid banget!" Bentak Resa.


"Apa! Kamu tuh juga sama kayak dia," ujarnya nunjuk Brenda. "penyihir kelas ren-da-han!" Ketusnya dengan menekan kalimat akhir.


"Bisa diem!" Tiba-tiba Megi berkata dingin.


Mereka menatap Megi sekilas lalu tanpa mengucapkan apapun pergi.


"Dasar! Giliran Megi aja yang ngomong langsung kicep!" Kesal Bia.


"Mereka siapa, sih?" Tanya Brenda heran.


"Mereka itu Dona dan antek-anteknya, yah karna tingkatan mereka itu sorcerer mereka jadi sombong." Jelas Resa.


"Tapi kok kayaknya mereka takut sama Megi, ya?" Heran Brenda.


"Asal kamu tau aja yha Bren. Megi tuh yang paling kuat diantara perempuan disini, jadi ya jelas mereka takut." Bangga Bia.


"Apaan sih kamu!" Kesal Megi.


"Dih kan emang bener!" Balas Bia.

__ADS_1


"Ya gak usah sombong juga dong." Sahut Megi kesal.


"Iya iya maaf." Ujar Bia.


"Trus gimana aku main voli nya?" Bingung Brenda.


"Wah susah juga ya, gimana nih, Gi?" Tanya Resa ke Megi.


Megi mengerutkan dahi berpikir. "Kamu mending bilang ke Pak guru aja deh," saran Megi yang disetujui semua.


"Oke deh kalo gitu aku cari Pak guru dulu." ujar Brenda.


"Mau ditemenin, nggak?" tawar Resa namun ditolak Brenda.


::::::::::::::


"Jadi kamu tidak bisa terbang?" Ulang Pak guru tadi.


"Iya, Pak." Jawab Brenda jujur.


"Cari Adrian kelas 1C, minta bantuanya." Lanjutnya.


Brenda mengangguk paham. "baik, Pak."


Brenda berjalan menuju kelas 1C, dirinya mengingat semua perkataan Dona dan Pak guru tadi, memang sepertinya benar penyihir rendahan sepertinya tidak pantas sekolah disini.


Entah kenapa Brenda merasa hidupnya tidak adil, orang tuanya adalah penyihir kelas tinggi bagaimana bisa dirinya jadi penyihir kelas rendahan seperti ini.


"Maaf bisa panggilkan yang namanya Adrian." Ujar Brenda kepada orang didepanya.


Orang itu menatap Brenda sekilas lalu mengangguk, dan tiba-tiba orang itu membuat surat melayang diarahkan masuk ke kelas.


Brenda menggumam takjub di buatnya.


"Ah elah gak usah takjub juga kali, jika kamu sekolah disini pasti bakal banyak hal yang lebih mengejutkan lagi." Ucapnya membuat Brenda sedikit malu.

__ADS_1


"Kamu yang sekelas magician itu kan, namamu siapa?" Tanyanya.


Brenda sepertinya harus sabar karna semua orang yang bertemu dengannya  pasti menyindir halus dirinya dengan perkataan.


'Kamu yang sekelas magician, kan?'


"Iya, namaku Brenda" Jawab Brenda tersenyum simpul.


"Oh kenalin, aku Johan." Balasnya.


"Eh kamu kenapa manggil aku?" Tiba-tiba ada orang yang datang.


"Bukan aku, tapi tuh!" Johan menunjuk Brenda.


"Kenapa?" Tanya orang itu yang Brenda yakini adalah Adrian.


"Aku Brenda kamu Adrian, kan?" orang itu hanya mengangguk. "Jadi aku disuruh Pak Ridwan buat minta tolong kamu ajarin aku terbang." Lanjutnya.


"Kamu gak bisa terbang?!" Adrian nampak syok.


Brenda menggaruk tengkuknya kikuk. "iya, aku hanya setingkat magician." Jawabnya jujur.


"Ck! Gimana penyihir rendahan kayak kamu bisa masuk sekolah ini sih!" Gerutunya.


"Heh punya mulut kok kayak lindesan, pedes amat!" Sahut Johan. "Eh Bren, kamu harus banyak sabar ya sama nih bocah soalnya kalo ngomong gak ada filternya." Ujar Johan menatap Brenda.


Brenda tersenyum maklum, toh dari kemarin dirinya sudah biasa mendengar sindiran orang-orang.


"Iya, gak pa-pa kok asal Adrian mau ngajarin aku." Brenda memaksakan seulas senyum.


"Oke, selesai kelas ke belakang sekolah," perintah Adrian lalu masuk kembali ke kelas.


Brenda menghela nafas berat, dirinya harus bisa membuat Adrian yang setengah hati mengajarianya menjadi tulus mengajarinya.


******

__ADS_1


TBC.


__ADS_2