
"Stev kamu apa-apaan, sih?!" Sentak Adrian.
Stev menatap datar Adrian lalu raut mukanya berubah seketika. "Bukan urusan kamu." Jawabnya.
Adrian menggertakkan rahangnya emosi, "masalahnya itu, kamu ngelibatin anggota Sartro, Stev!" Bentak Adrian akhirnya.
Adrian mengepalkan tanganya menahan emosi, "kamu itu nggak tahu apa-apa." Ujar Stev kemudian.
Adrian memejamkan matanya emosi, "tapi Tuan belum menyuruh kita untuk memberitahu semua hal ini pada Brenda, kenapa kamu bisa mengambil keputusan seenakmu, HAH?!" Tuntut Adrian.
Stev menghela nafas panjang. "Lagipula apa yang perlu disembunyikan lagi, Tuan juga sudah memberitahu semuanya kepada Brenda, kan?" Stev tersenyum kemenangan.
"Tapi meskipun begitu, Tuan pasti sudah memikirkan konsekuensi atas tindakannya sedangkan kamu!" Tunjuk Adrian kepada Stev, "apa sudah kamu memikirkan konsekuensi atas tindakan mu, hah?!" Lanjutnya dengan nada naik satu oktaf.
Stev terkekeh pelan, "tindakanku?" Gumamnya sambil melirik Adrian, "tindakanku harusnya dibenarkan oleh Tuan karena pada akhirnya Brenda juga harus mengetahui semuanya. Karena apa?" Tanya Stev entah pada siapa.
"Karena Brenda adalah ... Putrinya." Bisik Stev kepada Adrian menjawab pertanyaannya sendiri. Adrian sudah kehilangan kata-kata membuat Stev menyunggingkan seulas senyuman kemenangan lagi, setelah itu dia pergi meninggalkan Adrian yang masih mematung sendiri.
"Stev brengsek!" Umpat Adrian.
:::::::::::::::::::
"Permisi Tuan." Ujar Andrew membungkuk hormat.
Mr Jorse melirik sekilas lalu melanjutkan membaca bukunya, "katakan." Mr Jorse berucap meski masih fokus membaca.
Andrew berdehem pelan, "semua anggota sudah siap jika anda membutuhkan mereka, Tuan." Jelas Andrew pelan.
Mr Jorse menutup bukunya kemudian berdiri lalu membenarkan jubahnya singkat. "Hm..." gumamnya seperti biasa, "bagus." Lirihnya sambil memandang kosong namun syarat akan kedengkian.
Mr Jorse menolehkan kepalanya ke arah Andrew lalu menarik sebelah ujungnya. "Putramu anggotaku juga, bukan?" Tanya Mr Jorse tiba-tiba.
Andrew mengernyit namun sedetik setelahnya langsung menormalkan ekspresinya. "I-iya Tuan, ada apa kalau saya boleh tahu?" Ujar Andrew sopan seperti biasa.
__ADS_1
Air muka Mr Jorse berubah aneh atau mungkin ...... misterius. "Apakah dia anggota inti?" Bukanya menjawab, Mr Jorse malah balik bertanya.
Andrew mengangguk kecil, "benar, Tuan." Jawab Andrew meski masih bingung.
"Bagus!"
Andrew menoleh ke arah Mr Jorse dengan kaget karna mendengar seruanya.
Mr Jorse tersenyum lebar malah membuat Andrew termundur selangkah karna takut. Mr Jorse dengan senyum itu merupakan hal yang patut dicurigai.
"Datangi dia dan suruh dia menemuiku."
Andrew langsung membeo. "HAH?!"
::::::::::::::::
Brenda berguling-guling di atas kasurnya dengan muka ditekuk, dia jadi heran sendiri sebenarnya ini itu hidup apa sebuah teka-teki silang coba, semuanya selalu penuh misteri. Kesal Brenda.
Dia mendudukkan tubuhnya pada sandaran ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tangan menopang dagunya, "aku pikir setelah semuanya terungkap sudah tidak ada masalah lagi...." gumamnya dengan raut muka yang berubah menyendu. "Nyatanya hidupku memang ditakdirkan seperti ini oleh sang pencipta, ribet." lanjutnya bermonolog sambil mengetuk-ngetuk dagunya seolah ucapannya itu benar.
"Iya juga, ya!" Gumamnya lalu bibirnya membentuk seulas senyuman lebar, "kalau Stev mau main detektif detektif-an sama aku. Aku bakal selidiki sendiri." Ujarnya penuh yakin lalu setelahnya dia berlari keluar kamarnya meninggalkan keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah.
Dasar Brenda!
Brenda berlari disepanjang koridor tidak memperhatikan orang-orang yang sedang menatapnya aneh, masa bodoh pemikiran mereka. Batin Brenda.
Dia terus berlari Sampai...
BRUK!
"AAKH!!" Jerit Brenda refleks saat dia terduduk diatas ubin lantai, bokongnya rasanya sangat sakit sekali.
Brenda mengerucutkan bibirnya sebal, kenapa dalam satu hari ini dia bisa dua kali menabrak orang sih! Sepertinya ini memang hari sialnya.
__ADS_1
Dengan pelan Brenda mengangkat wajahnya, seketika dia mematung.
"eh ... Paman!" Ujar Brenda sambil meringis.
Andrew tidak membalas ucapan Brenda wajahnya pun juga tetap datar tapi dia membantu Brenda berdiri.
"Paman kesini ngapain?" Tanya Brenda penasaran setelah bangkit.
Andrew melirik Brenda lalu berucap, "Saya sedang ada urusan, Nona." Ujarnya formal membuat Brenda kikuk sendiri. Ini pertama kalinya dia disebut Nona, rasanya gimana gitu...
"Tidak usah terlalu formal begitu Paman, ngomong-ngomong urusan apa Paman ke Akademegicial ini?" Tanya Brenda lagi dengan penuh penasaran.
Andrew menegang sebentar lalu setelahnya dia berdeham pelan,
"cuma mengurus berkas-berkas tentang sekolah ini saja, Nona." Jawabnya sambil menggaruk pelipisnya. Brenda memicingkan matanya, sepertinya ada sesuatu yang ditutup-tutupi Andrew darinya.
"Oh ya sudah kalau gitu, aku duluan ya Paman." Pamit Brenda melambai setelahnya dia melenggang pergi.
Setelah kepergian Brenda, Andrew menghembuskan nafas lega. "Hampir saja," gumamnya sambil memegang dadanya.
Andrew melangkah maju ke depan dengan wajah leganya seperti habis menang lotre. Dia berjalan ke tempat yang sudah jadi tempat tujuanya sejak awal.
Tanpa diketahui bahwa ada seonggok bocah sedang membuntutinya dari belakang. "Untung aku pinter, ya." Gumamnya sambil terkikik pelan.
Andrew memberhentikan langkahnya di halaman belakang sekolah. Dia melangkahkan kakinya mendekati seseorang yang kini tengah memunggunginya dari belakang.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Andrew mendekati orang tersebut.
Orang itu berbalik badan lalu tersenyum tipis. "Seperti yang Ayah lihat, hm." Jawabnya kemudian.
Dan Brenda hanya bisa melongo ditempat.
*******
__ADS_1
TBC.