Semua Karena Gengsi

Semua Karena Gengsi
Tenang tapi Populer


__ADS_3

Tilia


Hari baru telah datang ditandai dengan sinar matahari muncul dengan terangnya padahal ini baru jam  7:15 pagi di sekolah.


" Tilia sini dulu " aku yang baru sampai di sekolah dan tentunya tepat waktu.


" Kenapa Kila,  dimana  Falda" tanyaku sedikit melirik kelas yang bersadang dengan nama IPS 1


" Gak,  aku cuma pengen ngobrol aja sama kau, kok jarang banget main ke kelas "


" Iss...  Guru tempat kami masuk terus jarang yang gak masuk, nanti ajah kita puasi ngobrol kan nanti ada eskul  PMI "


( Palang Merah Indonesia ) sejenis ekskul kegiatan pertolongan pertama dll.


" Oke..  Oke... "


Aku meningalkan Kila menujuh kelas aku melihat Ara melambaikan tangan dari temapt duduk kami aku menyambutnya dengan senyuman.


Ada seseorang yang menghalangi jalanku karena itu aku bermaksud berjalan ke arah kanan tapi dia juga ke kanan karena tak mau ambil pusing aku ambil kiri saja  tapi dia menghalangiku lagi.


Aku melihatnya dengan emosi karena sepertinya dia sengaja mempermainkanku.


" Muda....  Udah gak ada kerjaan. Ngalai orang jalan ajah " dengan tatapan emosi


" Aku mau lewat,  emang ini sekolahan Loe " ada dihadapanku menatapku dengan tajam seakan tidak mau kalah.


" Udahlah, ini masih pagi " ujar Ara yang sudah ada disampingku menarikku pergi dari hadapan Muda.


.


.


Muda


Aku hanya sedikit menguji nyaliku dengan membangunkan watak singa yang ada dalam perempuan pagi - pagi alhasil iya berhasil.


" Tapi kalau diperhatii lebih dekat gini Tilia cantik juga. Shittt...  Apa yang gue pikiri orang yang cuma manfaati orang sama gak mau kerja ke gitu di puji gak pantas banget " umpatku terus saat melihat celah positif dalam diri Tilia.


" Muda,,,  ngalah ajah sama cewek, apa lagi Tilia banyak penggemarnya "


Datang sepupukku yang juga satu kelas dengannya yang namanya Gino Flytio yang biasanya di panggil Gino.


" Masa sih " melirik Gino dengan tatapan tidak percaya


" Iya, loe tau rombongan Haris ada yang suka sama Tilia termaksud Haris tapi itu pas kelas 1, iya gue denger - denger pas eskul Seni.


" Haiiiss Haris loh emang banyak ceweknya banyak yang deketi " seruku merasa lumrah.

__ADS_1


" Iya karena itu dia gak lagi ngejar Tilia katanya ceweknya terlalu polos "


" Apaan Polos kayak cewek penggoda gitu " seruku dengan gaya menghina mungkin kalau yang bersangkutan dengar pasti dia akan sangat benci dengan yang mengumpatnya.


" Jangan sembarangan Muda kalau belum kenal, nanti kau kena karma suka sama dia, kalau aku lihat dia cewek yang manis dan baik " bela Gino yang membuat aku tambah jengkel.


" Gue kira Tilia ini cewek yang pendiam tapi lihat ini banyak cowok yang udah dia goda mulai dengan Satria,  Haris dan siapa lagi temannya Haris itu dan itu yang di omong polos apaan polos " Raut wajahku yang jijik lalu memandang Tilia dari kejauhan.


Kelaspun dimulai, pelajaran berjalan tenang sampai kami dideri tugas kelompok dan kali ini kami lagi - lagi berempat termaksud Tilia.


Aku gak mau lihat dia tapi dia membuka pembicaraan hingga aku nenoleh ke arahnya.


" Joko...  Kapan buat tugas Bahasa Indonesianya, siapa tau ada yang bisa di bantu " aku melihatnya malas.


" Kenapa baru sekarang nanyanya, minta enak ajah " Joko hanya diam tapi mala aku yang menjawab dengan kata - kata tajam. Sebenarnya belum buat sama sekali sih.


" Baru juga kelewatan sehari, apa udah selesai dikerjakan ? "


" Iya belumlah, enak ajah loe gak kerja gitu " masih dengan nada kesel dan raut muka menyepelehkan


" Kenapa sih kau Muda, sensi banget sama aku " dia duduk memalingkan tatapannya dengan raut muka marah ditahan hingga keringat yang ada dipelipisnya sangat terlihat seiring mukanya yang memerah.


" Udah...  Udah...  Belum di kerjai kok Tilia nanti di kabari lagi " ucap Joko menenangkan kami berdua yang ber adu cekcok.


Hingga kami kembali saling bertatapan tajam seakan kami berdua adalah musuh bebuyutan.


Aku hanya memalingkan mukanya menghadap depan.


.


.


Tilia


Siang ini aku,  Kila, Falda bersama di kegiatan eskul PMI yang membuat aku tambah senang hari dan jamnya sama dengan eskul anak Seni.


Haris cowok yang aku suka dengan satu pihak itu adalah anak Seni jadi sekalian curi - curi pandang.


Aku terpanah melihatnya yang bercanda dengan temannya, andaikan aku teman yang di ajak bercanda itu pasti aku sangat bahagia.


Tapi itu hanya harapan tabu.


" Tilia...  " aku kaget saat Kila dari belakang memegang pundaku serta memanggilku dengan nada tinggi.


" Kila...  Gue kaget ...." kesalku


" Kau juga, kenapa bengo ke gitu,  bantui ngajari adik tingkat kita " aku kembali masuk ke kelas untuk mengajari adik tingkat yang baru masuk ke eskul kami tanpa menggubris kata - kata  Kila.

__ADS_1


" Woy...  Tilia kemana ajah...  Ajari tuh adeknya " seru cowok yang bagiku nyebeli. Aku heran sama cowok - cowok zaman sekarang apa ke gini - gini banget ngeseli,  sok ganteng padahal aku paling males banget buat masalah tapi mereka selalu saja menyalahkan api - api kemarahan.


" Iya Fadil,  aku keluar sebentar juga " melototi dia tapi tidak meninggikan nada suara karena tidak enak dengan adek - adek tingkat.


Dia adalah Fadil Refli yang sering disapa Fadil. Dia termaksud anggota PMI jadi gak salah dia ada disini tapi aku gak tau sejak kapan hubungan kami ini jadi bertentangan begini.


Yang lebih sial Fadil ini salah satu teman baiknya Haris. Coba ajah hubunganku sedikit akrab dengannya pasti bisa untuk cari - cari informasi tentang  Haris gitu tapi sayangnya mungkin itu hanya wacana pasalnya kami seperti kucing dan tikut tidak pernah akur.


" Gila...  Kemarin aku lihat Kak Rio datang ke sekolah ya ampun dia makin ganteng,  sumpah...  Makin kesemsem gue " Seru Falda yang memang ecengannya kakak tingkat udah dari kelas 2 tapi kini kakak itu udah lulus.


" Dia kuliah disini? " seru Kila yang sedikit penasaran


" Belum tau,  kalau dari foto - foto di IG nya bukan deh,  pemandangannya bugus jok " seru Falda semangat benget.


" Iya gak ketemu lagi dong "


" Biarlah, tapi aku adalah fans setianya semoga ajah nanti aku dipertemukan dengannya " dengan


gaya berdoa.


Kami berdua tertawa melihat halunya teman sudah diluar jangkauan.


.


.


Di rumah aku sejenak berpikir kenapa sih si Muda itu begitu kasar apa aku ada berbuat salah dengannya.


Padahal aku baru kenal dia kelas dua itu saja tidak pernah tegur sapa atau apalah.


Hingga kelas 3 ini barulah aku duduk tepat di belakangnya jadi iya mau tidak mau akan melihat dan berinteraksi dengannya.


.


Perkataan bagai seperti Pisau


Tak terlihat tajam tapi menyayat


Tidak terlihat tapi terasa sakit


Akankah ini yang disebut sakit hati.



Haris Haryadi


- Happy Reading -

__ADS_1


__ADS_2