
Kisah kami tidak jauh - jauh dari Sekolah, cinta sepihak, kesombongan, populer, cinta lokasi dan juga citra diri.
Padahal kalian tahu masa SMA itu sangatlah cepat berlalu mau kau lewati dengan menyenangkan, menjengkelkan, meyedihkan ataupun membosankan tapi kalian tetap saja membuang waktu dan tidak menikmatinya dan akhirnya hanya akan ada rindu dimasa depan.
Lagi - lagi aku bercerita tentang tempat yang membosankan ini tapi bagaimana lagi aku masihlah anak penurut yang masih banyak hal yang tidak aku tau.
Tilia
Pagi itu seperti biasa awal cerita dunia gedung putih abu - abu ini
" Kau sedang apa? Pagi - pagi sudah duduk melamun didepan kelas " menghampiri Ara duduk disebelahnya.
" Aku punya kabar gembira " dengan raut wajah yang senang
" Kabar apa, wajahmu sangat bahagia " ujarku sedikit tersenyum melihatnya senang
" Kenzo... Dia menembakku dan kami sudah resmi jadian "
" Benarkah, ahhh... Aku ikut bahagia. Ceritakan bagaimana dia menembakmu "
" Dia memintaku menemaninya berenang saat di kolam renanglah dia menyatakan perasaannya di depan teman - temannya " dengan penuh raut kebahagian
" Wauuu... Romantis banget "
" Makanya cari pacar sana biar gak singgel terus. Ngenes tau "
" Mentang - mentang sudah punya pacar kau mengejekku "
Kami berdua tertawa bersama
Setelah berbincang - bincang kami masuk karena kami rasa bel sebentar lagi berbunyi
Di dalam kelas ada keributan
" Revan kok cuma kertas ini ajah, lalu ini sepertinya ceritannya ada yang hilang " seru Joko gusar
" Aku buru - buru ngeprinnya jadi cerita bagian tengahnya ketinggalan, maaf banget Joko " Revan merasa bersalah
Joko kembali ke tempat duduknya yang masih gelisah.
Muda
" Kenapa Joko? " Aku melihat raut wajah Joko aneh
" Tugas kelompok kita bahasa indonesia jadi kacau muda " jawab Joko yang merasa sangat kecewa
" Kacau gimana? "
" Tanya ajah sama Revan "
Aku berjalan menujuh bangku Revan yang ada di belakang
" Revan ada apa? " ucapku pelan
" Maaf Muda yang ngprin cerita itu kurang ada yang ketinggalan karena tadi waktunya mepet "
__ADS_1
" Baiklah, udahlah seharusnya aku yang berterimakasih sudah di prinkan" aku kembali ke bangku.
" Iya mau gimana lagi Joko kita harus maju sama - sam kan kita satu kelompok " aku menatap Tiara, Joko dan terakhir Tilia
" Gak masuk akal ini Muda lihat ajah ini gak utuh mana ada bisa kita kerjai, aku gak mau maju " seru Tiara tegas
" Aku sedikit muak dengan tingkah parah orang ***** ini tapi aku harus sabar orang akan melihat aku menjadi orang yang sombong " membatin dalam hati.
" Ayolah, kitakan satu kelompok " tertawa mencairkan suasana
" Iya kitakan satu kelompok " didukung oleh Joko
Aku melihat Tiara dan Tilia yang tidak terlihat tanda - tanda akan setuju terutama Tilia tidak berkomentar apapun.
Kelas di mulai dengan pelajaran bahasa indonesia dan benar saja ibu guru menagi tugas kami semua.
Beruntungnya kami bukan yang pertama tapi sadarlah itu bukan beruntung itu hanya di tunda.
" Kelompok Joko " suara itu seakan menggema keras di telinga.
Muda dan Joko sudah berdiri dari tempat duduk dan menatap ke Tilia dan Tiara.
" Di wakilkan ajah majunya " Seru Tiara
Aku dan Joko berjalan ke depan untuk menjelaskan tugas kami.
Saat kami di depan aku melihat Tilia berdiri dan berjalan kedepan tepat di sampingku.
" Baiklah kami mulai penjelasan kelompok kami "
.
Cerita tidak lengkap bukannya kita lari tapi harusnya kita lengkapi hingga Akhir bukan.
.
Tilia
Aku hanya diam saja mengimbangi semua yang di katakan Tiara, Joko dan Muda.
Saat aku melihat Muda dan Joko sudah maju aku merasa juga harus maju, aku berdiri dan mengajak Ara
" Ara ayo maju " seruku lirih
" Kamu ajah sana Tilia "
Tanpa memperpanjang lebar lagi aku segera maju tidak menunggu Ara.
.
Setelah selesai kami kembali lagi ke tempat duduk walaupun kacau kami masih mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari mereka semua.
Saat di tempat duduk ada yang membuat aku tercengang dan aneh.
" Tilia... Makasih iya udah mau maju bareng " jawab Joko dengan senyum
__ADS_1
Aku sedikit kikuk tapi aku balas
" Iya Joko " sembari tersenyum
" Tilia Makasih juga kau lah maju " kata Muda sambil menatapku dengan menghadapku sempurna sambil memainkan tangannya seperti menggenggam tangannya sendiri.
" Iya, kok aneh ajah " seruku sedikit bingung.
Iya aku melihat ini sih biasa namanya kerja kelompok iya kewajiban bersama.
Saat istirahat
" Tilia gak kantin " seru Ara yang sudah bersiap
" Gak ah Ara, aku lemes banget udah terkuras banyak tenagahku berpikir tadi jadi aku ngantuk banget sekarang yang aku butuhkan hanya tidur "
Aku menyenderkan tanganku berselonjor di meja diikut sertakan tanganku yang bertumpuh pada lengan, dan sudah mantap posisi nyaman untuk tidur.
" Itulah, tadi kenapa kau maju padahal sudah jarang sekali otakmu itu di pake. Esssssttt.. Anak ini udah tidur " meninggalkan Tilia yang tidur menyangdar di meja.
.
Muda
Aku masih sibuk mengerjakan tugas karena aku habis pulang akan sibuk tugas bimbel kalau tidak main futsal jadi aku selalu sempatkan mengerjakan secepatnya saat istirahat pertama.
" Aaauuuuhhhh... Akhirnya selesai " meregangkan otot yang terlihat kaku karena dalam posisi sama dalam waktu yang lama.
Tanganku ke belakang dengan kaku tanpa sadar aku menyentuh sesuatu lalu ku genggam karena penasaran apa yang aku genggam aku menoleh ke belakang.
Ternyata aku menyentu tangan Tilia yang tepat dibelakang kursi, aku tak tau setelah aku menggenggam tangannya dan melihat dia didepanku sedang tertidur aku merasa gugup, jantungku berdetak jauh lebih cepat padahal aku dari tadi hanya duduk.
Apa yang terjadi padaku? Hanya itu yang mengisih otakku hingga ku lepaskan genggamanku yang sebenarnya enggan aku lepas
Tiara berjalan mendekat aku langsung pura - pura memasukkan buka yang masih menghadap ke arah Tilia.
" Kenapa kerjaan temanmu hanya tidur saja " Jawabku menyeringah mengejek.
" Jangan ganggu Muda, ini semua karena dia tadi maju semua tenagahnya sudah habis terkurang karena di memakai otaknya lebih bekerja keras, jadi yang di butuhkan hanya tidur "
" Wauu.. Kau membawahkan roti untuknya, enak sekali. Aku juga mau " ucapku menggoda Tiara
" Beli saja sendiri, kau kan punya kaki " menatapku tidak suka lalu duduk.
" Aku bukan tak punya kaki, aku tak punya uang "
" Ehhhh... Memangnya aku tidak tau kalau kau cukup kaya Muda, tidak mungkin kau tak punya uang "
" Orang tuaku yang kaya bukan aku "
" Eeemmmhhh... " sepertinya perdebatanku dengan Tiara mengganggu tidurnya Tilia hingga dia bangun dan meregangkan tubuhnya hingga duduk dengan posisi sempurna
Karena aku melihat dia sudah bangun aku bangkit dan meninggalkan mereka berdua ke arah luar.
# kata - kata
__ADS_1
Yang ku dapatkan hanya sentuhan bukan kecupan ataupun pelukan tapi bisa dengan hebat menggetarkan hingga ke hatiku tak tau aku kau punya sihir yang kuat