Semua Karena Gengsi

Semua Karena Gengsi
Alur Yang Membingungkan


__ADS_3

Kita tidak bisa mencap seseorang hanya dengan penampilan luar dan dari cerita orang lain.


Pasalnya kau tidak tau,  begitupun mereka kecuali kau mau nencari tau.


Selagi kau masih menarik aku akan tertarik itulah ungkapan untuk Muda yang masih penasaran dengan sosok Tilia.


Aku keluar dan langsung bergabung dengan yang lain


" Waiissshhh...  Baru datang ajah, dari mana? " sahut Dika


" Dari mana lagi,  ya dari kelaslah.  Bahas apa dari tadi "


" Kita tanding futsal lorr...  ditantangi  sama anak SMK  nanti sore " Seru Revan


" Oke siapa takut,  kito tujuki tendanga obong kito " sambil bergaya pemain bola nasional


" Gayamu... " Dika Ikuti tawa beserta yang lain


" Aiiisshh...  Kembaran Nyamar dak tau bae kau lor...  " tertawa bersama


Bel pun berbunyi


Aku masuk menujuh kelas tapi pas didepan pintu aku menabrak bahu seseorang dengan keras saat aku melihat ternyata dia ada Tilia yang meringis kesakitan memegang bahunya.


Aku yang melihat merasa tabrakan itu tidaklah keras kenapa ekspresinya seperti itu.


" Udahlah gak usah lebay, sok kesakitan " dia hanya menatapku tajam sekilas lalu melewatiku.


" Tilia...  mau kemana ini udah masuk " aku meperhatikan percakapan ketua kelas Celvin dengan Tilia.


" Sebentar Vin,  mau ke toilet udah gak tahan " dia berlari berlalu pergi


" Ngapa gak dari istirahat tadi " Celvin  mendongak sekilas ke atas seperti merasa bingung.


" Tadi kerjaannya hanya tidur kok mana sempat ke toilet " batinku hingga sedikit tersenyum sinis.


Tilia


Setelah dari toilet kelas belum dimulai.


" Beruntung kau kelas belum di mulai " langsung menghadap ke arahku


" Itulah jarang sekali aku beruntung "


Tidak ada hal yang menarik berlalu biasa saja sampai pulang.


Siang ini aku harus ke sekolah untuk mendidik adek tingkat karena mereka sebentar lagi akan mereka akan berlomba.


Saat aku sampai sekolah aku heran karena lapangan yang biasanya sepi sekarang full dengan orang yang kurasa bukan murid dari sekolah ini muka - muka baru.


" Kok rame  " bertanya ke Kila yang sedang memperhatikan.


" Tanding Futsal sama SMK " orang yang gak di ajak ngomong malah nyaut iya siapa lagi kalau gak Fadil


Di pergi je gerombolan yang aku lihat banyak anak kelasku seperti Satria,  Dika,  Revan,  Celvin Muda dan yang lainnya.


Datanglah Haris masuk dalam kelompok itu.

__ADS_1


" Aiisss urong mulai kan?  " kata Haris iya memang dia ada keturunan jawanya


" Santai bro...  baru pemanasan " aku kembali fokus untuk mengajari adek tingkat.


" Gak nonton seru loh. Oh iya aku lupa kau kan gak suka futsal " seru Kila yang masih terus melihatnya sedangkan aku kembali masuk kelas.


Pertandingan sudah berlangsung aku keluar dan melihat pertandingan itu saat kulihat kalau Haris sedang menggiring bola


Adek tingkat menghampiriku dengan membawah hasil kerjanya untuk aku periksa sejenak aku periksa sambil memegang bukunya


Tanpa sadar sekali aku melirik pertandingan aku melihat Haris disikut dengan lawan hingga dia terjatuh dengan keras aku geram melihatnya tanpa sadar aku mencekram kertas itu.


" Kak....  Kak maaf kertasku " adek itu menyadarkanku dan aku langsung melepas cengkramman itu


" Padahal gak suka futsal tapi kok sampai begitunya hahah...  " seru Kila dengan semringa mengejek


" Apaan sih? " tangkisku


" Eleh...  Jujur pasti ada yang kau suka di antara mereka " merapatkan diri kesampingku


" Tau ah...  Gelap " masuk kembali ke kelas.


Saat praktek balut membalut serta memasang tandu kami harus di luar agar mencukupi ruang bergerak bebas.


Kami putuskan di pinggir lapangan walaupun sedang ramai.


Aku masih fokus mengamati kegiatan mereka sampai di mana benda bulat menggelinding di kakiku dan semua orang melihatku dan melihat bola itu.


Aku langsung berpaling meninggalkan bola dengan cepat.


.


.


"Ternyata dia ikut eskul itu toh,  bisalah curi - curi kesempatan " pikiran jahat Muda tapi kini fokusnya adalah memenangkan pertandingan fusal ini.


Di tengah pertandingan bola menggelinding tepat di kaki Tilia kami semua langsung fokus kearahnya melihat bola itu.


Kami mengirah dia akan meleparnya atau menedangnya tapi semua itu salah beaar pasalnya dia hanya menoleh ke arah kami lalu kearah bola dan langsung menghindar pergi seperti orang sombong itu.


" Sitt... Dasar cewek sombong " ujarku dalam hati dan menatap kepergiannya ke arah kelas dengan tatapan jijik.


Bukan hanya aku saja yang berpikir seperti itu banyak yang memprotes tindakan Tilia


" Apa cewek - cewek disini pada sombong iya "


" Sombong banget,iiii"


Banyak desus - desus yang terdengar dengan telingaku semakin membuat aku jengkel.


.


.


Pertandingan telah selesai tapi aku masih mengatur nafas beristirahat sekolahan semakin sepi satu persatu orang mulai pulang diikuti pulangnya mentari ke ufuk barat


" Kau mau " ada dua orang dihadapanku salah satunya menyodorkan air mineral gelasan

__ADS_1


Aku tidak langsung mengambil air itu aku hanya fokus memandang orang yang memberi dengan tajam.


" Tenang ajah, itu masih segel, gak bekas air liurku kok " dia sadar akan tatapanku


" Kenapa kau berbaik hati sekarang sedangkan tadi kau berlaku sombong tidak mengambil bolanya " tatapanku tak beralih padanya.


" Orang masih mending _.." Temannya belum selesai ngomong Tilia langsung menjawab pertanyaanku


" Aku tidak nyaman banyak pasang mata langsung memperhatianku"


Diam sesaat lalu melanjutkan kalimatku "Alasanku merasa tidak nyaman dan bila kau tak mau minumannya _.." sebelum dia selesai berbicara dan menarik minuman itu aku langsung mengambilnya.


Dia melihatku mengambilnya dia langsung berjalan melewatiku tanpa berkata apa - apa.


.


Di rumah saat ingin mengerjakan pekerjaan rumah aku mengingat kata - kata Tilia


Flashback on


" Aku tidak nyaman banyak pasang mata langsung memperhatianku"


Diam sesaat lalu melanjutkan kalimatku "Alasanku merasa tidak nyaman dan bila kau tak mau minumannya _.."


Flashback off


Senyum terukir di bibirku aku merasa kejujuran dan keluguanterlihat di wajahnya hingga aku yang sangat jengkel saja bisa redam sesaat


" Tapi kalau ke gitu dia orangnya pemalu dong bukan sombong, kok aku makin tertarik tentang Tilia " menggaruk - garuk rambut frustasi


" Muda... Muda.... Muda... " suara cempreng itu masih tak terdengar karena pikiranku masih melayang - layang kemana - mana.


Hingga dia mencengkram pundakku aku pun kaget.


" Ais.... Apaan sih kak " ujarku kesal dia datang disaat yang tidak tepat padahal aku lagi asik bayangi Tilia


" Kamu kok dari tadi di panggili gak respon ajah " ujarnya yang memukul pundaku


" Sakit kak, aku bukan gak dengar kakak ajah suaranya kecil banget " aku ngeles gak mau kalah


" Enak ajah suara kuat dan merdu gini juga "


" Anjai merdu dari hungkung. Ngapai kalau gitu manggil - manggil "


" Pinjam leptop, yang aku eror pemgen nontot drakor "


" Tuh disitu sono ambil "


Kakakku mengambil dan langsung keluar.


# Kata - kata


Bahkan seekor ulat bulu yang tidak dipandang orang berhak menjadi kupu - kupu yang bersayap cantik yang sering di dambah.



Tiara Kestafi

__ADS_1


__ADS_2