Senior High School

Senior High School
Episode 10


__ADS_3

Hari Jumat, Tanggal 5


Tara P.O.V.


05.45


Pada saat ini aku baru


sampai di rumah ku, aku baru pulang dari clubbing. Saat aku mulai


memasuki rumah keadaannya sepih. Aku berjalan mengendap - endap untuk


menuju kamar ku. Saat aku hampir sampai di kamar ku, tiba - tiba lampu


ruang tamu menyala.


"Dari mana aja kamu Tara"


"Ah mengagetkan ku saja. Itu bukan urusan mama" Setelah itu aku langsung pergi ke kamar ku.


"Tara mau kemana kamu" Kemudian mama mengikuti ku menuju kamar.


"Tar mama belum selesai ngomong kamu udah pergi aja"


"Udah lah ma. Mama urus aja urusan nya mama. Mama gak usah ikut campur dalam urusan ku"


"TARA sejak kapan kamu menjadi orang yang tidak punya sopan santun"


"Sejak papa dipenjara dan aku mulai dibully sama orang - orang. PUAS?" Setelah itu aku langsung membanting pintu.


"TARA"


Sabiya Taraka. Itu


adalah nama gue.Gue berada di kelas 11 E. Nyokap gue adalah seorang


pengusaha dan bokap gue juga seorang pengusaha, tapi sayang nya bokap


gue terlibat kasus penggelapan dana yang akhirya mengharuskannya di


penjara. Pada awalnya aku mengetahui itu aku tidak percaya akan hal itu,


karena papa dimata ku adalah seorang superhero dalam hidup ku. Papa


selalu baik kepada orang lain dan tidak pernah jahat kepada orang lain.


Setelah mengetahui semua kebenaran dunia terasa mulai berputar, dulu


waktu aku berada di atas aku merasa sangat bahagia, aku merasa banyak


orang yang menyayangiku. Tapi sekarang saat aku berada di bawah semua


orang mulai menjauhi ku. Saat teman - teman ku mengetahui bahwa papa ku


masuk penjara, semua orang menjauhi ku, membully ku, menghina ku dan


banyak lagi. Saat itu aku sangat membutuhkan dukungan dari mama, tapi


semenjak kejadian itu mama menjadi orang yang workaholic. Aku hanya bisa


melupakan emosi ku melalui hal - hal buruk.


"Tara buruan turun, teruss.." Saat mama hendak mengatakan sesuatu aku langsung pergi keluar rumah.


"Loh Tar gak makan dulu"


"Gak usah"


Saat di mobil ku nyalakan lagu untuk menenangkan hati ku.


Sound : How Far I'll Go


I've been standing at the edge of the water


'Long as I can remember, never really knowing why


I wish I could be the perfect daughter


But I come back to the water, no matter how hard I try


Every turn I take, every trail I track


Every path I make, every road leads back


To the place I know, where I can not go


Though I long to be


See the line where the sky meets the sea it calls me

__ADS_1


And no one knows, how far it goes


If the wind in my sail on the sea stays behind me


One day I'll know, if I go there's just no telling how far I'll go


Oh oh oh, oh, oh oh oh oh, oh oh oh


"How far I'll go oh oh.."


Kelas 11 E


Saat aku memasuki kelas


semua mata tertuju padaku, karena mereka semua sangatlah membenci ku.


Aku mulai berjalan menuju bangku ku dan menghiraukan mereka yang menatap


ku seakan - akan mereka ingin melahap ku hidup - hidup.


"Woi lu tumben lu masuk sekolah Gas, biasanya lu bolos wkwkwk"


Dia adalah Cakra


Bagaskara. Biasa dipanggil Bagas. Dia berada di kelas 11 E. Teman


sebangku ku yang sudah seperti best friend ku. Bagas, dia adalah seorang


pemain Basket. Dia tergabung dalam klub basket Pelita Jaya. Dia kerap


kali bolos sekolah karena dia harus tanding basket. Tampan, tinggi


adalah andalan nya. Dia banyak di idam - idam kan oleh para perempuan di


sekolah. Karena kedekatan ku dengan dia menjadikan aku dimusuhi banyak


peremuan.


"Enak aja lu kalau


ngomong dasar jelek. Cewek tu kalau dandan tu yang rapi gak kayak lu


acak - acakan. Sakit mata gue lihat penampilan lu yang udah kayak preman


aje"


Setelah aku mengatakan itu, tiba - tiba Bagas melihat ku sejenak.


"Ngapain si lu liatin gue terus"


"Dih gr banget lu. Lu pikir gue mau apa sama lu"


"Yee dasar monyet lu. Btw lu gak ada jadwal pertandingan?"


"Kenapa emang?"


"Gak gue tanya aja"


"Ooo"


Kantin


Pada saat jam istirahat aku langsung menuju ke kantin.


"Sepi banget gak ada bagas"


Aku


biasanya ke mana - mana selalu bersama bagas, tapi sekarang karena dia


harus kumpul bareng klub basketnya jadi aku harus ke kantin sendirian.


Saat


aku hendak meuju ke meja yang kosong di kantin, tiba - tiba ada


seseorang yang menabrak ku dan dia sedang membawa mie goreng. Aku pun


terjatuh dan makanan yang dia bawa mengenai baju dan badan ku.


"Woi lu kalau jalan tu liat - liat"


"Maaf Tara aku gak sengaja"


"Siapa nama lu, terus lu dari kelas mana?"


"Nama ku Clarissa Mili. Aku dari kelasn 11 E"


"Lu anak reguler"

__ADS_1


"Iya" (Berbicara sambil menatap Tara)


"Lu berani banget ya kalau ngomong sambil natap mata gue. Lu pikir status lu setara sama gue apa hah?"


"Iya maaf Tara"


"Wah


lu udah anak reguler, terus lu berani numpahin makan lu ke gue, terus


lu ngomong sambil natap mata gue. Wah berani banget ya lu. Gak nyangka


gue anak reguler kayak lu udah berani sama gue"


Setelah mengucapkan itu aku langsung mengambil makanan yang ada di meja kantin lalu ku tumpahkan makanan itu ada Mili.


"Sekarang lu berlutut dan minta maaf sama gue"


Lalu setelah itu Mili berlutut di depan ku. Aku kemudian mengambil air comberan, setelah itu ku siramkan air tersebut pada Mili.


"Gimana


rasaya hah? Dasar upik abu. Lu kalau gak punya uang lu gak usah sok -


sok an sekolah di sekolah elit kayak gini. Lu sadar diri dong. Lu ngaca


dong"


"Ada apa ini anak - anak kok ramai - ramai"


Tiba - tiba pak Sam datang.


"Ada apa ini Tara. Kenapa Mili sampai kotor dan basah kuyup seperti ini"


"Bapak ini buta apa gimana sih. Masa gitu aja masih tanya. Udah jelas aku bully dia ta[i masih tetep nanya"


"Berani sekali kamu Tara sama bapak"


"Kenapa gak berani? Kan aku ngelakuin hal yang bener pak"


"Benar bagaimana, pembullyan kamu anggap benar begitu hah?"


"Saya tu hanya mengingatkan dia pada kastanya dia saja pak"


"Di sekolah ini tidak ada yang namanya kasta - kasta semua murid itu sama"


"Kenapa harus sama pak"


Tiba - tiba saja Chaca datang.


"Maksud kamu apa Chaca?"


"Dia


si anak reguler gak pantes berada di sekolah ini. Dia gak ikut bayar


uang sekolah tapi bapak minta dia dierlakukan sama seperti kita yang


sudah membayar penuh uang sekolah. Bapak sadar dong, di dunia ini tu gak


ada yang gratis pak. Iya gak temen - temen"


"Betul tu pak. Bapak


seharusnya tidak menyamratakan semua murid pak. Gimana bisa ceritanya si


anak reguler di samakan dengan anak VIP dan anak VVIP. Bapak pikir dong


kita tuh risih pak" (Celetuk seorang murid)


"Iya betul tuh pak.


Sekolah ini mulai gak adil. Kita udah bayar mahal - mahal tapi malah


diperlakuin sama kayak anak reguler yang gak bayar apa - apa" (Celetuk


seorang murid)


"Kalian jangan ikut campur ya"


"Kenapa gak boleh ikut campur pak. Bapak takut akan fakta itu?" (Sahut ku)


"Kalian berdua. CHACA, TARA nanti temui bapak di ruang kepala sekolah"


Cerita Berlanjut...


 


 

__ADS_1


__ADS_2