Serpihan Rindu

Serpihan Rindu
BAHAGIA


__ADS_3

Sebaik nya kita makan dulu , karena Arin sudah menyiapkan semua nya.. ucap Pak Adam.


" Wah jadi gak sabar mau mencicipi masakan menantu " , ucap Ayah Raka.


" Mama yang masak Om bukan Arin " ucap nya.


" No Om dan panggil saya Ayah " ucap Pak Nandra.


" Iya Ayah ".


" Nah gitu , sekarang Arin juga anak Ayah sama Bunda " jelas Ayah Raka.


Mereka semua beranjak menuju meja makan.


" Silahkan duduk , dan nikmati hidangan nya" mohon maaf seadanya saja , ucap Mama Arin.


" Hemm jadi gak sabar tiap hari di masakin sama istri " celoteh Raka.


" Masih lama sayang , kuliah dulu" ucap Bunda dengan tatapan tajam.


" Becanda kali Bun " hehehe.. kata Raka.


"Wah menu kesukaan Ayah ni , udang goreng dan tumis kangkung yang di potongin cabe merah" kata Ayah dengan mencoba mencicipi nya.


" Gimana rasa nya Yah ?" tanya Arin dengan penasaran menunggu jawaban.


Rasa nya ... enak kok, ada asin , manis dan juga pedas. Wah kalau tiap hari Ayah makan nya begini jadi gemuk ni Bun badan Ayah.


"Awas nanti kolesterol nya naik Yah" ucap Raka.


" Iya Pak dokter " ucap Ayah dan langsung di sambut tawa semua nya.


Yang ini jus kesukaan Raka , kata Mama Arin dengan meletakkan jus di samping Raka.


Loh , kok Mama tau jus kesukaan Raka? tanya nya bingung.


Bukan Mama , tapi calon istri mu yang membuat nya tadi. Hampir saja kelupaan , ucap Mama Arin.


Memang gak salah Raka memilih nya Ma , ucap Raka dengan memandang Arin yang duduk di depan nya.


" Apaan sih Mas " malu tau ada Mama sama Ayah, ucap Arin lirih tetapi masih terdengar.


" Ngapain malu sayang " anggap saja kita gak ada, kata Bunda.


Ah Bunda, bukan begitu maksut Arin.


Gak papa sayang , kita juga pernah muda kok jadi paham dengan situasi kalian ini.. kata Bunda dengan tersenyum.


Gara - gara kamu ni Mas , Arin jadi malu. Awas saja nanti ya.. lirih Arin dengan melotot ke arah Raka.


Setelah selesai makan kedua orang tua beranjak ke ruang tamu. Tinggallah Raka dan Arin saja. Karena memang tugas Arin membersihkan semua nya.


" Ternyata selain cantik , pinter juga masak " ucap Raka.


" Ih gombal " jangan mulai deh Mas , ucap Arin.


" Loh kenyataan ini sayang " Ayah sama Bunda saja bilang begitu , jelas Raka.


" ya ya ya " puas , jawab Arin ketus.


Kok gitu sih , gak senang Mas puji ya ? tanya Raka.


Arin tuh lagi sebel sama Mas , ucap Arin dengan ketus.


" Kenapa ?" tanya Raka.


" Pikir saja sendiri "!. ucap Arin.


" Ih bisa galak juga ternyata calon istri Mas " goda Raka.


" Bisa lah , dan bisa lebih galak lagi dari saat ini " ucap Arin.


"Hemmm , jadi mikir ulang tentang pertunangan nya." Goda Raka dan langsung mendapat cubitan kecil dari Arin.

__ADS_1


" Ampun " ucap Raka dengan mengatupkan kedua tangan nya.


Arin merasa gemas dengan sikap Raka.


Mas sebenarnya Arin masih berat ditinggal pergi jauh, apalagi kalau kita sudah sering bersama kayak gini. Arin jadi gak mau pisah. Gumam nya dalam hati dengan wajah sendu nya memandang Raka.


Mas, sudah ngurus pendaftaran kuliah nya? tanya Arin.


Sementara ini semua sudah diuruskan teman Ayah yang ada di sana. Kenapa sayang? ucap Raka.


" Gak papa sih Mas , Arin cuma pengen tau saja".


Kenapa wajah nya berubah murung sayang? tanya Raka dengan selidik.


Pasti Mas tau jawaban dari pertanyaan Mas. Jawab Arin.


Raka pun menghempaskan napas nya.


Sayang , ucap nya dengan memegang lembut tangan Arin.


Mas lakukan ini demi masa depan kita. Bersabarlah menunggu Mas mu ini sampai selesai kuliah. Dan jika nanti Bunda kesana bisa kan sesekali kamu ikut. Atau Mas yang akan pulang jika libur semester. Jelas Raka menguatkan hati Arin.


" Baiklah Mas , Arin akan coba pahami dan mengerti."


" Nah gitu dong " ucap Raka dengan mencolek dagu Arin.


Yasudah Mas kedepan sana , biar Arin beresin ini dulu.


Mas ikut bantu saja biar cepat selesai dan kita bisa sama sama ke depan, ucap Raka.


" Modus , bilang saja mau berduaan" ucap ku.


"Yap , memang pintar sekali calon nya Mas " ucap Raka dengan tersenyum.


Mereka berdua membersihkan meja dan mencuci piring - piring kotor. Raka begitu kagum dengan cara kerja Arin yang cekatan.


Arin sedang mencuci piring , dan Raka tak melepas pandangan nya menatap Arin. Arin pun jadi salah tingkah dibuat nya.


" Mas , kenapa menatap Arin seperti itu ?" ucap Arin.


" Sayang , gimana kalau kita langsung menikah saja?" tanya Raka dengan pelan.


Arin yang masih mencuci piring dengan seketika menghentikan kegiatan nya.


" Mata nya melotot ke arah Raka ".


" Jangan becanda deh Mas " Arin masih kelas 3 SMA dan Mas juga mau mulai kuliah. Perjalanan kita masih panjang. Kenapa harus terburu - buru? jawab Arin.


"Mas gak mau kehilangan mu" karena jarak diantara kita yang jauh, ucap Raka.


Tapi Mas, ucap Arin tanpa melanjutkan nya.


" Tenang saja , Mas gak akan meminta hak sebelum kamu lulus sekolah". ucap Raka dengan menatap kedua bola mata Arin.


Lebih baik kita halalin dulu , jadi pacaran nya setelah menikah, lanjut Raka.


"Percayakan semua nya sama Mas".


"Jika sayang setuju, Mas yang akan bicara dengan kedua orang tua kita." jelas Raka.


Arin pun mengangguk tanda setuju.


" Makasih sayang ".. ucap Raka dengan semangat.


" Sama - sama Mas , Arin juga gak ingin berjauhan dengan Mas" ucap Arin dengan pipi merona.


Ayo kita kedepan, ajak Raka.


Sementara di ruang tamu terdengar senda gurau sahabat lama. Saling bercerita masa lalu meraka yang mengesankan. Hingga mereka tak menyadari kedatangan anak kesayangan.


" Yah " sapa Raka .


" Kenapa nak, ada yang mau disampaiakan?" tanya Ayah.

__ADS_1


" Yah , bagaimana kalau Raka langsung menikah dengan Arin ?" ucap Raka serius.


Kedua orang tuanya saling berpandangan. Sedangkan Arin jangan ditanya. Gemuruh detak jantung nya berpacu begitu cepat. Ada rasa malu dan rasa takut jika kedua orang tuanya menolak permintaan Raka.


Bapak ingin bertanya kepada nak Raka. ucap Bapak Arin.


" Apa yang menjadi alasan sehingga meminta Arin menikah di usia nya yang masih muda ?"


" Raka mencintai Arin Pak , begitu juga sebaliknya dan bukankah niat baik itu harus disegerakan. Lebih baik kita pacaran setelah halal." ucap Raka tegas.


" Alhamdulillah " itu jawaban yang Bapak tunggu - tunggu.


" Gimana nak setuju dengan niat baik Raka ?" tanya Bapak ke Arin.


Arin menatap Bapak dan mengangguk kan kepala nya.


" Iya Pak " Arin setuju jawab nya lirih tapi masih bisa didengar semuanya.


" Barakallah " semoga niat baik kalian diijabah allah swt ucap Pak Adam.


Mereka saling berpelukan kecuali Raka dan Arin. Hanya saling melempar senyuman dan tatapan penuh cinta.


" Tapi dengan satu syarat " ucap Arin mengejutkan mereka.


"Arin ingin perhikahan nya hanya dihadiri keluarga saja".


"Tapi sayang , ucap Bunda.


" Bun, hargai keinginan calon menantu kita" lanjut Pak Nandra.


" Baiklah Yah".. Bunda setuju dengan syarat nya.


Masalah hari baiknya kami serahkan semuanya kepada mempelai wanita. Dan tempatnya juga. ucap Pak Nandra.


"Baiklah nanti akan kita bicarakan dulu " ucap Pak Adam.


" Anak mama sudah mau menikah " kata Mama dengan memeluk Arin.


Arin pun menyambut hangat pelukan Mamanya. Dan tak terasa berlinang air mata nya. Begitu juga dengan Mama, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.


"Sudah jangan menangis sayang" ucap Mama lirih dengan membelai kepala Arin yang berbalut hijab.


"Bunda jadi ingin memeluk anak bunda" ucap nya dengan mendekat ke tempat duduk Arin.


" Makasih ya sayang sudah mau menjadi bagian dari hidup kami" ucap Bunda di telinga Arin.


"Arin juga makasih , Bunda mau menerima Arin apa adanya." ucap nya dengan air mata yang berlinang.


" Sudah , jangan menangis " kasihan tuh Raka mulai khawatir. kata Bunda.


Untung kita gak mudah baperan ya Pak Adam , ucap Pak Nandra.


Keduanya pun tertawa.


Yah , namanya juga wanita Pak. Yang di beri hati selembut sutra. Tergores sedikit saja sudah mengeluarkan air mata. Walaupun goresan nya itu bahagia. Jadi bingung membedakan bahagia dan duka. ucap Pak Adam dilanjutkan tawa nya.


" Sudah - sudah drama nya Bun " Ayah seperti nonton drama Korea saja. ucap Ayah menggoda Bunda.


Pak Adam , karena waktu sudah malam dan kami sudah mengutarkan niat baik, kami sekeluarga mohon pamit. ucap Pak Nandra.


Baik, terima kasih atas kunjungan nya dan secepat nya kami akan memberikan jawaban mengenai pernikahan anak kita. ucap Pak Adam.


"Arin, Ayah Bunda pulang dulu ya" ucap Ayah.


" Baik Ayah "... kata Arin.


" Sayang , jangan berpikir yang macam - macam dan cepat istirahat".. ucap Raka.


" Iya Mas".. ucap Arin.


Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan membawa kabar bahagia. Arin dan Raka memutuskan untuk segera menikah. Walau masih duduk di bangku sekolah , itu tidak menjadi masalah bagi keduanya. Niat baik tak perlu menunggu waktu lama. Karena kebaikan akan membawa keberuntunga.


💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen nya ya.


__ADS_2