SETANGKAI MAWAR BUAT IBU

SETANGKAI MAWAR BUAT IBU
SETANGKAI MAWAR BUAT IBU 27


__ADS_3

"Bu Arum, sudah ketemu pak Aryo?" tanya dokter Bram.


"Apa?"


Tiba-tiba bu Suryo keluar, mengikuti orang-orang desa yang berjumlah empat orang. Rupanya pembicaraan sudah selesai. Barangkali tentang pembelian pupuk, atau bagi hasil yang harus dirembug lagi.


"Itu nak dokter masih ngomong? Mana, saya tadi belum sempat bicara. Ponsel yang dipegang Arum diminta oleh bu Suryo. Arum mengulurkannya sambil bertanya dalam hati, mengapa dokter Bram bertanya tentang Aryo? Apa Aryo bilang mau ketemu dia?  Untuk apa ketemu? Ah, paling tentang perceraian itu. Perceraian yang ditolak Aryo. Entahlah, Arum tiba-tiba merasa bingung sendiri. Tapi ia harus memastikan tentang apa yang dimaksud dokter Bram. Ganjalan  utama yang membuatnya ragu  adalah karena adanya Rini yang dianggapnya telah menjadi isteri Aryo.


"Iya Nak Dokter, itu benar, kami sedang berlibur."


Terdengar tawa renyah bu Suryo ketika bicara dengan dokter Bram.


Arum dan yu Siti masih duduk di depan rumah. Yu Siti melihat wajah Arum murung, tapi segan menanyakannya. Ia hanya merasa iba. Tanpa sadar sebelah tangannya menggenggam tangan Arum yang diletakkan di pangkuannya. Arum menoleh, menatap yu Siti sambil tersenyum. Arum tahu yu Siti sangat memperhatikannya. Barangkali yu Siti juga bisa merasakan gundah seperti yang dirasakannya.


"Tadi ada yang mau membawakan jagung muda kemari. Nanti kita bisa membakarnya sebagian, atau untuk campuran sayur asem besok, atau .. ah ya.. nak Arum suka bakwan jagung?" kata yu Siti, mungkin untuk mengalihkan rasa gundah yang tampak di wajah Arum.


"Oh, bakwan jagung? Suka Bu, suka, besok Arum bantuin masaknya ya.." 


"Iya, baguslah..'


Didengar oleh Arum, suara bu Suryo terdengar semakin jauh, mungkin masuk ke dalam, sehingga tak ada yang tahu apa yang dibicarakannya. Arum juga tak ingin mengetahui, apakah itu.


"Oh, iya.. besok kan hari libur, saya tunggu Nak dokter, pasti enak makan makanan orang dusun. Iya, itu alamatnya sudah saya sebutkan tadi. Baiklah, ini Arum. Tapi ingat pesan saya tadi ya Nak dokter.." kata bu Suryo, seperti menyembunyikan sesuatu.


Bu Suryo mengulurkan ponsel kearah Arum.


"Ini, nak dokter ingin bicara sama kamu."


Bu Suryo duduk di samping yu Siti. Duduk berderet bertiga. Tampak sekali bu Suryo ingin mendengar apa yang dibicarakan Arum dan dokter Bram.


"Ya, Dokter, bagaimana?" sapa Arum.


"Saya sudah bicara sama ibu. Besok boleh menyusul kemari kan?"


"Tentu saja boleh, sudah tahu tempatnya?"


"Sudah, ibu sudah memberi tahu tadi."


"Baguslah Dokter. Sebetulnya ada yang ingin saya tanyakan."


Bu Suryo menatap Arum, tatapan itu membuat Arum sungkan melanjutkan kata-katanya.


"Tentang apa Bu Arum?"


"Ooh, itu.. tentang obat yang harus saya minum.." kata Arum meralat kata-katanya. Ia tahu bahwa bu Suryo tak menyukai pembicaraan tentang Aryo, padahal Arum ingin bertanya tentang apa yang dikatakan dokter Bram tadi. Tepatnya pertanyaannya tentang apakah dia bertemu Aryo. Mengapa dokter Bram bertanya begitu? Tapi Arum berjanji akan menanyakannya besok pagi kalau dokter ganteng itu datang.


"Obat? Bukankah sudah saya terangkan semuanya?"


"Besok saya akan menanyakannya lagi. Ada yang terasa nggak enak kalau diminum." lagi-lagi Arum berbohong.


"Baiklah Bu Arum, sampai besok ya."


"Terima kasih banyak Dokter, selamat sore."


***


Malam itu, di rumahnya, dokter Bram merenung sendirian. Tadi ia bicara dengan bu Suryo, tapi sebenarnya dia kurang suka atas sikap bu Suryo terhadap hubungan Arum dan suaminya. Tampak sekali bu Suryo menghalangi kalau Arum kembali bersatu dengan suaminya, padahal jalan itu sudah ada.


Dokter Bram menyesal  tadi menceritakan pertemuannya dengan Aryo. Dia mengira bu Suryo akan senang karena sesungguhnya Arum salah sangka, mengira suaminya menikah dengan Rini, padahal tidak. Tapi sikap yang dilihatnya adalah bu Suryo menentang rujuknya kedua pasangan itu. Bram tidak setuju.


Masih terngiang ditelinganya ketika ia mengatakan bahwa Aryo sesungguhnya tidak menikahi Rini.


"Nak Dokter jangan percaya. Dia bilang begitu karena ingin agar Arum kembali. Kasihan Arum kalau nanti disakiti lagi."


"Tapi pak Aryo berkata dengan sungguh-sungguh Bu."


"Mengapa kita harus percaya kepada kata-katanya? Dia sudah menghianati isterinya, berarti apa yang dikatakannya tidak bisa dipercaya. Laki-laki memang mau menang sendiri."


Aduh, waktu itu Bram juga merasa tersinggung. Dia kan juga laki-laki?


"Nak Bram menyusul saja kesini, nanti kita bicara lebih banyak. Dan ingat, jangan sampai Arum tahu bahwa nak dokter ketemu suami Arum."


"Oh,* hanya itu jawaban Bram, bingung.


"Tadi pagi si Aryo itu datang ke rumah, tapi saya bilang bahwa Arum tak ada. Jangan sampai ketemu, lalu dia akan menyakiti hatinya lagi. Kasihan Arum."


Dokter Bram akhirnya sudah bisa menangkap, jadi kepergian bu Suryo ke rumahnya yang didesa, adalah untuk mencegah Arum bertemu suaminya. Sungguh kejam bu Suryo, tapi bagaimana aku harus bersikap? kata hati dokter Bram.


Lalu bu Suryo memberikan alamat dimana mereka sekarang berada. Tapi kemudian  ia minta bicara sama Arum, tapi tampaknya Arum juga ragu-ragu untuk bicara. Seperti ada perasaan yang tertahan. Tapi Bram berjanji, besok kalau bertemu akan dicarinya kesempatan untuk bicara.


Tiba-tiba dokter Bram terkejut. Sebuah mobil berhenti dijalan depan rumahnya.


  "Aduh, itu kan mobilnya pak Aryo. Bagaimana aku harus menjawabnya nanti," gumam Bram yang kemudian berdiri menyambut tamunya.


"Selamat malam," sapa Aryo.


"Selamat malam, ayo silakan masuk."


"Terima kasih dokter."


"Sebenarnya jangan memanggil saya begitu, panggil saja nama saya, Bram, begitu."


"Ah, baiklah Pak Bram."


Keduanya duduk berhadapan. Bram menata batinnya, dan memikirkan apa yang harus dijawabnya nanti, karena dia tahu apa yang akan ditanyakan Aryo . Pasti karena tidak ketemu Arum, lalu bertanya kepadanya, mungkin nomor ponselnya, atau kira-kira dia ada di mana.


Bram berdiri untuk mengambilkan minuman untuk tamunya.


Aryo menunggu. Ia berharap akan mendapatkan sesuatu dari dokter Bram.

__ADS_1


"Silakan diminum. Ma'af pak Aryo, ini rumah bujangan, jadi tak ada tersedia teh hangat atau semacamnya. Semua tinggal minum, nggak ingin terlalu repot."


"Tidak apa-apa Pak Bram, apalagi kan Pak Bram sudah capek melayani pasien."


"Benar, tapi terkadang saya suka masak sendiri. Masak yang gampang-gampang saja. Misalnya ca sayur, bakso kuah, bukan yang rumit-rumit."


"Baguslah kalau masih sempat memasak."


Lalu keduanya diam sejenak. Masing-masing sedang berpikir, satunya bagaimana mulai bertanya, satunya kalau bertanya akan dijawab bagaimana.


"Oh ya, tadi pagi saya sudah ke rumah bu Suryo," kata Aryo pada akhirnya.


"Oh, benarkah? Tidak kesasar?"


"Tidak, alamatnya kan jelas dan rumahnya gampang ditemukan."


"Mm... sudah.. sudah.. ketemu?" tuh, pertanyaan itu yang terlontar padahal dia sudah tau kalau tidak ketemu.


"Tidak."


"Oh..."


"Dia pergi, tapi tampaknya bu Suryo menghalangi saya ketemu Arum," kata Aryo pilu.


"Oh... mengapa ya?"


"Pak Bram, apakah Pak Bram tahu kemana mereka pergi?"


"Oh..." tiba-tiba dokter Bram merasa bahwa  dia kebanyakan bilang 'oh'.


"Tahukah?"


"Maaf, saya... tidak tahu.."


"Kalau nomor telepon Arum? Kemarin saya lupa menanyakannya."


"Oh...." lagi-lagi.. 'oh'..


"Nomor telepon.... tidak.." lanjut dokter Bram.


"Tidak punya?"


"Setahu saya, bu Arum tidak punya nomor.. eh.. ponsel... eh.. maksud saya.. tidak .. saya tidak punya.. biasanya saya .. menelphone bu Suryo." jawab Bram terbata. Tapi itu benar, karena Arum tidak pernah menerima telepon. Ponsel yang diberi oleh bu Suryo tidak pernah digunakan, jadi kalau Bram menelpon, itu adalah nomor bu Suryo.


"Adanya nomor bu Suryo?"


Bram mengangguk.


Aryo putus asa. Kalau itu nomornya bu Suryo, sama saja dia tak akan bisa menghubungi Arum. Lalu apa yang harus dilakukannya? Bram yang menatap Aryo merasa iba. Laki-laki gagah suaminya Arum ini sebenarnya patut dikasihani, tapi Bram agak segan melangkah. Ia harus mencari kesempatan baik untuk menolong sepasang seami isteri ini.


"Pak Aryo, bersabar dulu ya, saya akan mencari informasi tentang bu Arum. Tapi nomor kontaknya bu Suryo ini akan saya berikan. Mungkin ... . siapa tahu tiba-tiba bu Arum yang menerima."


"Terima kasih banyak Pak Bram."


"Terima kasih Pak Bram," kata Aryo, sedikit bergetar karena haru. Ia mencatat nomor ponsel bu Suryo yang diberikan dokter Bram.


"Tapi... tunggu pak Aryo," tiba-tiba dokter Bram teringat sesuatu.


"Ya pak Bram?"


"Tadi siang saya melihat Pak Aryo di rumah sakit."


"Oh, iya, mengantarkan saudara periksa. Mau menemui pak Bram sekalian, takut mengganggu."


"Tidak, waktu pak Aryo pulang, saya juga sudah mau pulang, saya melihat Pak Aryo di parkiran, tapi saya merasa aneh."


"Ya, aneh bagaimana ?"


"Waktu itu pak Aryo bersama seorang wanita, yang wajahnya persis sekali sama bu Arum. Saya pernah melihat wanita itu di sebuah toko buku, dia sedang bersama seorang anak kecil."


"Oh, itu namanya Ratih, gurunya Angga anak saya. Saya juga heran, wajahnya persis seperti Arum. Dan itu sebabnya Angga menganggap bahwa dia itu ibunya."


"Ya Tuhan..."


"Karena gurunya itulah Angga tidak terlalu rewel, karena bu Ratih sangat bisa menghiburnya. Pokoknya dia bisa bersikap seperti ibunya."


"Aneh ya. Bukan saudara kembar?"


"Bukan, Arum anak tunggal, tidak punya saudara kembar."


"Aneh, seperti pinang dibelah dua."


"Baiklah Pak Bram, saya mohon pamit.


Aryo pulang hanya membawa nomor kontak bu Suryo, perempuan yang dianggapnya nyinyir tak berperasaan itu. Baiklah, mungkin ada gunanya, gumam Aryo sambil mengendarai mobilnya, pulang.


***


Malam itu entah mengapa Arum tidak bisa tidur. Ia selalu teringat tentang pertanyaan  dokter Bram. Apakah Aryo memang ingin menemuinya? Ada perasaan tak peduli, tapi ada perasaan ingin tahu, untuk apa menemuinya. 


Bayangan masa lalu, ketika hari-harinya masih dipenuhi dengan suasana manis, penuh kasih sayang dan cinta, kembali menghiasi angan-angannya.


"Benarkah kamu mencintai aku?" tanya Aryo ketika itu.


"Ah, pertanyaan macam apa itu?"


"Jawab saja, apa susahnya sih?" kata Aryo sambil memainkan anak rambut yang melingkar-lingkar dikeningnya.


"Apa sikapku selama ini tidak menunjukkan bagaimana isi hatiku?"

__ADS_1


"Ingin mendengar saja, agar aku yakin. So'alnya aku mendapatkanmu tidak mudah, banyak saingan."


"Iih, ngaco ah !!"


"Benar kan?" 


"Buktinya aku memilih mas Aryo, itu tandanya bahwa aku cinta sama mas Aryo."


Aryo merasa senang, didekapnya kepala Arum di dadanya. Lalu dielusnya rambut ikalnya.


Arum tersenyum membayangkannya. Itu sa'at manis ketika baru beberapa hari menikah. Tak pernah dibayangkannya, kalau sa'at ini dia berada jauh dari suaminya, terpisah oleh amarah yang tak terkendali. Lalu pengkhianatan berlanjut. Arum terisak.


Yu Siti yang tidur di ranjang sebelahnya mendengar isak itu, mengangkat sedikit kepalanya, memandangi Arum yang kemudian memeluk guling. Pasti ia menyembunyikan tangisnya di sana.


Yu Siti bangkit, mendekati ranjang Arum, memegang tangannya yang erat memeluk guling.


Arum mengangkat guling itu, matanya yang sembab menatap yu Siti yang memandanginya penuh iba.


"Bu Siti belum tidur?" bisiknya pelan.


"Nak Arum mengapa? Sedih ya?"


"Saya bingung bu, tak tahu apa yang harus saya lakukan."


"Tenangkan pikiranmu nak, "


"Salahkah saya kalau menuntut cerai dari mas Aryo?"


"Saya dengar suami Nak Arum tidak mau menceraikan nak Arum."


"Katanya juga begitu."


"Berarti dia masih mencintai Nak Arum."


"Tapi dia kan sudah punya isteri?"


"Menurut yu Siti, sebaiknya Nak Arum bertemu nak Aryo. Bukankah selama ini kalian belum pernah bertemu, apalagi bicara? Barangkali di situ nanti nak Arum bisa mengerti semuanya, alasan dia menikah, alasan dia tak mau menceraikan nak Arum, atau mungkin masih banyak hal lainnya yang bisa dibicarakan."


"Tadi dokter Bram bertanya, apakah saya sudah bertemu mas Aryo. Itu menjadi pikiran saya, apa mas Aryo ingin menemui saya? Kok dokter Bram yang bilang, apa mas Aryo ketemu dokter Bram?"


"Tadi kan dokter Bram menelpon, mengapa Nak Arum tidak menanyakannya?"


"Saya merasa ibu menghalangi saya untuk bicara banyak. Tampaknya ibu tidak setuju kalau saya kembali pada mas Aryo."


"Tampaknya begitu."


"Ibu ingin Nak Arum menikah dengan dokter Bram."


Arum menghela nafas.


"Mudahkah menikah dengan seseorang walau nanti saya sudah bercerai dengan mas Aryo sekalipun? Saya suka dokter itu, karena dia baik, karena dia menjaga saya, memperhatikan saya lebih dari pasien yang lain. Tapi cinta... barangkali saya harus memikirkannya. Lagipula maukah dokter Bram menikah dengan perempuan yang sudah memiliki anak seperti saya? Ibu berpikir terlalu sempit."


"Saya juga berpikir begitu."


"Ini jam berapa Bu?"


"Sudah jam sepuluh malam. Mau ke kamar mandi?"


"Tidak, mumpung tidak ada ibu, saya ingin menelpon dokter Bram, tapi bu Siti jangan bilang sama ibu ya."


"Ya Nak, silakan. Tapi sudah jam sepuluh, apakah pak dokter belum tidur?"


Arum yang sudah memegang ponselnya kembali meletakkannya di meja. Ponsel itu jarang atau hampir tak pernah digunakan.


Yu Siti benar, ini sudah malam. Pasti dokter Bram sudah tidur.


"Besok katanya dokter Bram mau kemari, nanti nak Arum kan bisa bicara banyak."


"Kalau ada ibu?"


"Nanti yu Siti akan buat supaya Nak Arum bisa berduaan."


"Bagaimana caranya?"


"Belum tahu, yang penting sekarang tidurlah, semoga besok ada waktu yang baik untuk berbincang."


***


Pagi itu hari Minggu. Dengan berharap Angga tak rewel Ratih berjalan ke pasar karena harus membelikan kebutuhan-kebutuhan untuk dirinya dan juga untuk ayahnya. Pak Kardi yang sudah merasa  lebih baik, sebetulnya meminta Ratih agar menemui Angga, tapi Ratih harus belanja terlebih dulu.


Di sebuah toko, ia membeli sabun, handuk yang dipakai bapaknya sudah usang, oh ya, kaos, ****** *****, harus diganti dengan yang baru. Ratih agak kurang memperhatikan ayahnya karena sibuk merawat Angga. Sekarang, ketika bisa agak lama di rumah karena ayahnya sakit, baru kelihatan barang-barang yang sudah harus diganti yang baru. 


Lalu ia mampir kesebuah toko roti. Harus ada camilan untuk ayahnya. 


Sangat banyak bawaan Ratih.


Tadi pak Kardi berpesan agar perginya jangan terlalu lama.


"Nanti Angga rewel karena kamu kan sudah janji akan datang pagi-pagi," kata pak Kardi


"Iya, hanya belanja beberapa barang."


 Ratih sedang menunggu taksi, ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Ratih melangkah menjauhi mobil itu, karena ada taksi kosong sedang mendekat ke arahnya. Tapi tiba-tiba...


"Bu Ratih..?" seseorang menyapanya.


Ratih meletakkan bawaannya yang terasa berat. Ia menatap laki-laki ganteng yang baru turun dari mobil. Ia belum pernah mengenalnya.


***

__ADS_1


besok lagi ya


 


__ADS_2