SETANGKAI MAWAR BUAT IBU

SETANGKAI MAWAR BUAT IBU
SETANGKAI MAWAR BUAT IBU 34


__ADS_3

Arum tertegun. Seketika menghentikan langkahnya.. Orang yang diharapkan belum datang, yang tidak diharapkan malah nongol, menebar senyum manisnya, yang sama sekali tak enak untuk dinikmati. Arum tahu bu Suryo akan segera mengajaknya pulang.


"Arum.." panggil bu Suryo sambil mendekat.


"Kok ibu sampai kemari?"


"Iya,  sekalian pulang, sekalian nyamperin kamu. Dan sekalian juga ingin kenalan sama ibu kamu."


"Oh, silakan masuk Bu. Silakan masuk kedalam saja."


Bu Suryo mengikuti langkah Arum yang bergegas menuju rumah. Dalam hati terus bertanya, mengapa Aryo tidak segera datang.


"Silakan duduk Bu," kata Arum sambil masuk ke dalam,,, setelah mempersilakan bu Suryo duduk.


Bu Suryo mengamati rumah bu Martono. Rumah sederhana, jauh sekali bedanya dengan rumahnya yang mewah, yang di ruang  tamunya penuh perabotan antik yang mahal harganya. Namun bu Suryo mengakui, perabotan sederhana yang terpajang, ditata dengan apik oleh pemiliknya. Sofa kuna yang masih tampak utuh, almari berisi cangkir-cangkir dan gelas yang ditata manis. Ada foto perempuan cantik bersama seorang gadis kecil, yang pastinya Arum.


Tak lama Arum keluar, menghidangkan secawan teh, dan segelas yang lebih besar untuk diberikannya kepada Pono yang menunggu di depan.


"Silakan diminum Bu, hanya teh."


"Itu foto kamu sama ibu ya?" tanya bu Suryo sambil menunjuk kearah pigura ukuran 10 R yang tergantung di dinding.


"Iya, itu Arum. Ketika Arum baru masuk SD. Masih culun ya Bu."


"Kamu dari kecil sudah tampak cantik."


"Ah, Ibu..." kata Arum sambil duduk di hadapan bu Suryo.


"Ibu membawa oleh-oleh untuk ibu kamu," kata bu Suryo sambil meletakkan bungkusan yang agak besar, di meja di depannya."


"Ibu repot-repot, tadi saya sudah membelikan ibu macam-macam."


"Nggak apa-apa Rum, itu kan dari kamu, sekarang ini dari aku. Ibu mana?"


"Baru mandi Bu, sebentar lagi akan keluar. Ibu dari mana?"


"Tadi dari kantor imigrasi , sudah tutup sih, tapi ibu ketemu kenalan yang juga pegawai di sana. Menanyakan tentang pembuatan paspor untuk kamu."


"Oh, Ibu kok sudah memikirkan paspor," kata Arum dengan wajah tak senang.


"Itu penting Rum, jadi atau tidak, atau kapanpun  mau berangkat, kalau sudah punya paspornya lebih gampang."


Arum menghela nafas berat, agak kesal yang sesungguhnya tak ingin diperlihatkannya.


"Kalau status kamu menikah, mereka minta salinan buku nikahnya. Cuma menurut ibu, menunggu kalau surat cerai itu sudah keluar." kata bu Suryo yang oleh Arum dirasakannya sangat mengiris perasaannya.


"Ya Tuhan," jerit Arum dalam hati. Ia memalingkan wajah untuk menutupi kekesalannya yang tak bisa ditahan, pura-pura menunggu ibunya.


"Ibu mana ya, lama benar."


"Biarkan saja,  kita tidak usah tergesa. Ibu minum tehnya ya?" kata bu Suryo yang langsung mengambil cawan berisi teh yang disuguhkan Arum.


Arum menoleh kearah jalan, berharap Aryo segera datang. Tak apa seandainya ketemu bu Surya  sekalian. Sesak dadanya memikirkan bagaimana nanti.. dan  bagaimana nanti... karena ada bu Suryo disini. Arum memantapkan hatinya. Barangkali sekaranglah saatnya memberi pengertian kepada bu Suryo bahwa dirinya masih mencintai suaminya.


Tiba-tiba dilihatnya sebuah taksi berhenti di depan pagar. Arum melongok keluar.


"Ada tamu? Sepertinya ada taksi berhenti," kata bu Suryo.


Arum berdiri, lalu melangkah keluar. Seseorang dilihatnya turun dari dalam taksi, Laki-laki tegap yang melangkah dengan mantap memasuki halaman. Dada Arum berdebar kencang. Laki-laki itu, adalah orang yang sangat ditunggunya. Ia menyunggingkan senyum, senyum yang masih menawan seperti dulu, yang membuatnya jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya. Aryo mendekat, sambil mengembangkan kedua tangannya, lalu memeluknya erat.


"Arum, Arum... maafkanlah aku..."


"Mas Aryo, isak Arum di dada Aryo."


"Seandainya aku harus bersujud kepadamu, aku akan melakukannya Rum, asalkan kamu memaafkan aku," bisik Aryo masih dengan pelukan eratnya. Bertahun rindu dipendamnya, tak malu seandainya ada yang melihatnya. Beberapa saat mereka berpelukan. Arum pun berurai air mata.


"Aku yang harus minta maaf mas, meninggalkan kamu, meninggalkan anak kita."


"Aku sudah tahu semuanya."


Sesaat terbuai dalam rindu yang sudah lama dipendamnya, Aryo tak memperhatikan bawa dua pasang mata memperhatikannya dari dalam rumah. Bu Suryo dan bu Martono yang sudah selesai mandi dan menemui tamunya.


Arum yang kemudian tersadar, mendorong tubuh Aryo pelan.


"Ada bu Suryo di dalam," bisiknya.


Aryo mengusap air mata Arum dengan telapak tangannya.


"Kamu datang bersama dia? "


"Tidak, baru saja dia datang, menyusul aku. Mas Aryo kok lama sekali datangnya. Hampir sejam sejak mas Bram mengabari saya.


"Iya, mendadak banku kempes di jalan, aku tinggalkan saja, lalu aku naik taksi."


"Oh, pantesan."


Keduanya melangkah perlahan memasuki rumah. Bu Suryo menatap tak senang, sedang bu Martono berdiri, lalu Aryo mencium tangannya. Aryo juga menghampiri bu Suryo, memegang tangannya dan menciumnya. Bu Suryo memalingkan muka.


Arum sedih melihatnya.


"Duduk Aryo. Ini Bu, ini suaminya Arum," kata bu Martono memperkenalkan.


"Iya, saya pernah melihatnya, waktu dia mencari Arum tapi tidak ketemu."


"Saya berterima kasih karena Ibu telah membantu Arum, melindunginya dan menyayanginya," kata Aryo pelan sambil menatap bu Suryo.


"O, iya, saya ini kan kasihan melihat perempuan disakiti, dikhianati.." kata bu Suryo sinis.


"Saya minta maaf, saya khilaf."


"Kalau saja sebuah kata maaf bisa menghapus sebuah dosa, maka tak akan ada orang yang sengsara." kata bu Suryo masih dengan nada sinis.

__ADS_1


Aryo terdiam. Arum yang keluar sambil membawa secangkir teh untuk suaminya, sempat mendengar kata-kata bu Suryo yang menyakitkan. Tampaknya susah meredakan kemarahan bu Suryo terhadap Aryo.


"Diminum mas, tehnya.."


"Ya, duduklah disini," kata Aryo sambil menunjuk kearah tempat duduk disampingnya. Arum menurutinya. 


Aryo menyeruput tehnya dengan nikmat. Tampaknya kemarahan bu Suryo tak berpengaruh baginya.


"Sepertinya aku harus segera kembali. Bu Martono, kami kan masih tinggal didesa karena masih ada keperluan, jadi takut kemalaman, saya pamit dulu."


"Mengapa tergesa Bu, belum banyak kita bercerita."


"Masih ada waktu lain yang lebih baik Bu, saya minta maaf, bolehkah Arum saya ajak serta sekarang?"


"Tapi Bu..." kata Arum ragu dan takut-takut.


"Ini sudah malam, yu Siti pasti menunggu."


"Saya masih ingin bicara sama Arum bu."


"Arum, kamu mau ikut ibu, atau tetap akan berada disini?" kata bu Suryo ini seperti sebuah pisau tajam yang diacungkan ke dadanya. Ada terbersit arti, bahwa perempuan baya itu memaksanya.


"Mas Aryo, intinya Mas sudah tahu, nanti aku akan segera menyelesaikannya." kata Arum sambil mencium tangan Aryo, dan meneteskan setetes air mata disana. Aryo mengelus kepala Arum lembut. Rupanya Arum ingin mengendapkan hati bu Suryo terlebih dulu. 


Bu Suryo sudah berjalan ke arah luar. Sekali lagi Aryo memeluknya erat.


"Aku akan kembali Mas," bisik Arum.


Aryo dan bu Martono melepas kepergian bu Suryo dengan perasaan tak menentu. 


"Arum merasa berhutang budi, tak bisa memaksa begitu saja. Semoga perlahan lahan Arum bisa mengendapkan hatinya."


Aryo mengangguk. Walau kecewa, ada sedikit lega yang membuncah karena Arum ternyata masih mencintainya. Rasa lega yang kemudian membuatnya bahagia.


"Sabar ya Nak Aryo.." kata bu Martono sambil memeluk Aryo.


"Iya Bu, mohon didoakan agar semua baik-baik saja."


"Pasti ibu akan mendo'akan kalian Nak."


***


  Memasuki rumah kemudian melihat Angga menyambutnya, Aryo merengkuh dan mengangkat tubuh Angga tinggi-tinggi, membuat anak kecil itu berteriak-teriak kesenangan.


"Bapaaaak....  " teriak Angga kesenangan.


Angga terkekeh, Aryo menurunkannya setelah menciuminya bertubi-tubi.


"Dengar, coba tebak.. tadi bapak ketemu siapa..?"


"Mm.. ketemu pak dokter bukan? Itu temannya bapak tadi kemari."


"Benar, tapi ada lagi yang lebih menyenangkan."


"Tebak dulu, bapak ketemu siapa lagi?"


"Ibu peri ?"


"Benaaaar, dan karena benar.. Angga boleh dapat hadiah.."


"Hadiah apa bapak?"


"Hadiah peluuuk...." teriak Aryo sambil memeluk Angga kembali dan menciuminya tanpa henti.


Ratih menyaksikan kegembiraan Aryo dengan rasa syukur. Berarti tadi sudah ketemu bu Arum, dan itu sebabnya pak Aryo sangat gembira, kata batin Ratih. Iapun ikut tersenyum bahagia.


"Biar saya tebak... ketemu kan?" kata Ratih ketika mendekat.


"Benar, tapi sayangnya ada bu Suryo disana, jadi belum leluasa berbicara."


"Lhoh, tadi bukannya dia pergi sendiri hanya bersama sopir?"


"Bu Suryo menyusulnya ke sana. Kata-katanya sangat menyakitkan saya. Tapi saya tak peduli, bagi saya, yang penting adalah isteri saya bisa kembali."


"Mengapa tidak sekalian pulang?"


"Tidak, tadi karena sungkan dia ikut bu Suryo pulang. Biar saja, saya sudah menemukannya, dan tak lama lagi dia akan kembali."


"Syukurlah, saya ikut senang," lalu direngkuhnya Angga dengan segenap perasaannya. 


"Apakah nanti akan bisa seperti ini?" bisiknya dalam hati, sambil mencium pipi Angga.


***


Bu Suryo diam di sepanjang perjalanan pulang. Dia tak mengira Arum akan bertemu suaminya di rumah ibunya. Mungkin sudah kencan sebelumnya, masa sih kebetulan? Dan bu Suryo merasa dikhianati. Sudah tau dirinya benci sama Aryo, mengapa Arum justru ketemuan disana, berpelukan dengan mesra..


"Ibu..." Arum yang merasa bu Suryo sedang marah merangkul pundak bu Suryo, meletakkan kepalanya di bahu orang yang sudah sangat baik kepada dirinya.


"Kalau ibu diam saja, Arum sedih lho... "


Bu Suryo masih terdiam.


"Ibu tahu, Arum sangat menyayangi Ibu.." kata Arum sambil mempererat pelukannya.


Bu Suryo terdiam, tapi perlahan rasa haru merayapi hatinya. Ia tak pernah melahirkan seorang anak, tapi mendengar seseorang mengatakan sayang pada dirinya, tiba-tiba luluh perlahan segala kesal yang tadi melandanya. Luluh perlahan, sampai ketika masuk ke dalam rumah desanya, lalu memasuki kamarnya.


Yu Siti yang menyambutnya tak jadi mengikutinya masuk, melihat Arum yang kemudian memeluknya.


"Ibu ada apa? Seperti marah, atau sakit?" tanya yu Siti pelan.


"Tidak apa-apa, ayo Bu.. Arum minta teh panasnya , didapur saja, kata Arum sambil menarik tubuh yu Siti diajaknya ke dapur. Sementara yu Siti membuat teh yang diminta, Arum membersihkan dirinya di kamar mandi. Ada senandung kecil terdengar dari sana. Senang yu Siti mendengarnya. Senandung itu masih terdengar, ketika Arum duduk di kursi di depan meja dapur, menunggu teh hangat dihidangkan.

__ADS_1


"Tampaknya lagi senang nih," sapa yu Siti sambil meletakkan teh yang diminta.


Arum mengangguk, menyeruput teh perlahan, dengan nikmat.


Yu Siti ikut duduk didepannya. Menatap wajah cantik yang tampak berseri walau belum mandi dan pakaian juga belum berganti.


" Berita bagus? Jadi berangkat keluar negri?" goda yu Siti.


Arum cemberut, memelototi yu Siti dengan tatapan lucu.


"Lhah, kan tadi ibu bilang mau nyari paspor buat nak Arum?"


"Nggak nyari, baru tanya-tanya. Siapa sih yang mau keluar negri?" Arum menghirup lagi tehnya, sampai habis. Enak sih.


"Mau ditambahin?"


"Nggak Bu, sudah cukup."


"Ada berita apa? Seneng benar, jadi ketemu pak Aryo? Tapi kok pulangnya bisa barengan sama ibu?"


"Iya, ibu nyusul ke rumah ibu saya, aduuh.. deg-degan aku bu.." pelan kata Arum.


"Kenapa deg-degan?"


Arum menutupkan jari telunjuk dibibir..


"Ketemu mas Aryo.." kata Arum berbisik.


"Oh, bagaimana ibu ?"


"Tampak kurang suka, lalu mengajak saya kembali kemari."


"Oh.. ya ampuun.. ibu kok gitu ya."


"Tapi saya senang, sudah ketemu mas Aryo, walau bicara sedikit tapi penuh makna. Kami selalu saling mencintai Bu. Dan saya akan segera kembali."


"Syukurlah, yu Siti ikut senang. Tapi sedih kalau Nak Arum nanti kembali ke sana, yu Siti akan kehilangan..." kata bu Siti sendu.


"Tidak Bu, Bu Siti tetap akan menjadi ibu saya, yang akan selalu saya kunjungi setiap saat.


"Benarkah?"


Arum mengangguk lalu merangkul yu Siti erat.


"Anakku...." bisiknya lirih, seakan menemukan anaknya kembali.


"Mau mandi dulu ya bu, ceritanya nanti malam saja."


"Ya, mandi sana Nak, biar seger. Yu Siti mau menyiapkan makan malam dulu."


***


  Malam itu bu Suryo hampir tak keluar kamar. Ia hanya makan sedikit tanpa banyak bicara, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Arum memasuki kamar bu Suryo setelah mengetuknya pelan. Bu Suryo terbaring di ranjang, kedua matanya tertutup, tapi Arum yakin bu Suryo tidak sedang tidur. Ia mendekati ranjang, dan berbaring di sisinya. Sedikit merapat karena bu Suryo berbaring agak kepinggir. Sebelah tangan Arum memeluk bu Suryo.


"Ibu, belum begitu malam, ibu sudah ingin tidur? Ibu ingin saya memijitin kaki ibu?"


Bu Suryo tidak menjawab. Arum bangkit, bersimpuh disisi sebelah .. lalu mulai memijit kakinya pelan, sambil sesekali melirik kearah wajah bu Suryo.


"Bu.. enak kah? Biasanya kalau dipijit begini, kantuk segera datang. Dulu waktu Arum sakit, ibu sering memijitnya, lembuuuut sekali, sampai Arum tertidur."


Mengoceh tak henti--henti tidak membuat Arum lelah. Ia harus bisa menundukkan hati bu Suryo. Harus bisa meluluhkan rasa bencinya kepada Aryo. Kalau bisa malam itu juga.


"Bu, tahukah Ibu.. baru sekali ini Arum menemukan kasih sayang begitu besar. Hanya dari Ibu, walau Ibu bukan wanita yang melahirkan Arum. Arum berhutang nyawa pada Ibu. Kalau saja nyawa Arum bisa untuk menukar semua kebaikan ibu, Arum akan memberikannya."


Bu Suryo tiba-tiba membuka matanya. Menatap wajah cantik yang memijit kakinya sambil ter-kantuk-kantuk, sementara bibirnya terus bergumam seakan tak butuh jawaban.


"Itu benar Bu, sungguh membebani perasaan berhutang itu. Arum rela seandainya itu yang bisa menebusnya."


Tangan bu Suryo bergerak, menangkap tangan Arum yang masih memijit kakinya, lalu menariknya kedalam pelukannya.


"Ibu..." bisik Arum lirih.


"Benarkah kamu menyayangi ibu.."


"Kalau ibu tidak percaya, belahlah dada Arum ini," kata Arum bercanda.


Bu Suryo mengelus kepala Arum, air matanya mengambang. 


Tak mengira mendapat reaksi, Arum menjatuhkan kepalanya di dada bu Suryo, sebelah tangan merangkulnya erat.


"Sesungguhnya ibu takut kehilangan kamu..." bisiknya lirih.


"Bagaimana ibu bisa kehilangan saya? Kalau ibu kehilangan saya, berarti saya juga kehilangan Ibu. Kita saling memiliki, saling menyayangi, tak akan ada yang kehilangan Bu.."


"Benarkah?"


Arum mengangguk-angguk, bu Suryo masih mengelus kepalanya.


"Ibu ingin yang terbaik untuk kamu. Ibu ingin kamu berada disisi laki-laki yang baik, yang bisa melindungi kamu, bukan yang menyakiti kamu."


"Ya bu, Arum tahu."


"Itu sebabnya, ibu memilih dokter Bram  sebagai suami kamu nanti."


Aduuh, kok kembali kesitu lagi? 


***


besok lagi ya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2