SETANGKAI MAWAR BUAT IBU

SETANGKAI MAWAR BUAT IBU
SETANGKAI MAWAR BUAT IBU 07


__ADS_3

"Ibuuu.." teriak Angga yang segera mengacungkan tangannya ke arah Ratih. Rini membiarkannya, lalu mengangguk ke arah Ratih dan dengan cepat berlalu.


"Terima kasih, bu Ratih," kata Aryo kepada Ratih.


"Mengapa bapak marah sama Rini?"


"Nggak apa-apa, ayo kita ambil mobilmu."


Angga merosot turun dari gendongan Ratih, dan berlari kearah mobil yang tadi dipilihnya.


Ratih mengikutinya dari belakang, sambil bertanya dalam hati siapakah perempuan yang berlagak genit tadi, yang menggendong Angga seperti sudah akrab, tapi Aryo seakan sangat membencinya?


Mobil pilihan Angga sudah dibungkus rapi, Angga tak akan kuat menggendongnya. Ketika Ratih mau mengangkatnya, Aryo memintanya.


"Biar saya saja bu Ratih," katanya sambil tersenyum. Ah, mengapa tersenyum begitu, Ratih mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Ayo kita pulang," kata Angga sambil melangkah keluar.


Angga berlari-lari kecil mengikuti langkah ayahnya, Ratih mengikutinya. Anak kecil yang menggemaskan. Kata batin Ratih.


Begitu memasukkan mobil-mobilan itu ke mobil, Angga sudah mendahului masuk ke dalam.


"Ibu duduk di depan ya," kata Angga.


Ratih maklum, di jok belakang hampir penuh bungkusan mobil-mobilan itu, 


"Mari bu Ratih, biar Angga di belakang sendiri," kata Aryo.


Ratih memang tidak merasa dirinya istimewa sehingga harus duduk di belakang. Tadi dia di situ karena Angga memintanya. Memang sebaiknya dia di depan. Tapi ada rasa canggung ketika duduk berdampingan dengan si ganteng berkumis itu. 


"Ma'af ya, habisnya Angga ingin memeluk mobilnya," kata Aryo sambil menoleh ke belakang.


Ratih hanya mengangguk.


"Bagaimana kalau kita mampir makan siang dulu?"


"Mobilnya dibawa turun Bapak?"tanya Angga yang terus mendekap bungkusan mobil kecilnya.


"Ya enggaklah Ngga, mobil kamu biar di mobil saja, kita turun untuk makan. Kamu suka es krim?"


"Suka, bapak.. kita makan es krim?"


"Ayo kita cari rumah makan yang ada es krim nya ya.."


Ratih menghela nafas. Ia ingin menolak karena sungkan kalau harus makan bersama Aryo, tapi Angga tampaknya suka.


"Bu Ratih tidak keberatan bukan kalau kita mampir makan sebentar?"


"Sebetulnya... saya kenyang," jawabnya sekenanya.


"Kok bisa kenyang? Kita makan masih pagi, dan sekarang sudah saatnya makan siang. Nggak percaya ah."


"Benar."


"Nggak apa-apa, nanti pilih menu yang ringan-ringan saja," kata Aryo.


Maksa nih? Batin Ratih. Mana mungkin dia bisa menolak? Hatinya mau, tapi luarnya sungkan. Ya sudahlah, apa boleh buat.


"Ibu, nanti sampai dirumah ibu ajarin Angga naik mobilnya ya."kata Angga.


"Lho, kok ibu, bapak kan lebih canggih," kata Ratih sambil menoleh ke belakang.


"Bapak, sama ibu, nanti main di halaman bersama-sama."


Waduh, maunya langsung pulang tuh, gimana cara menolaknya? Sungguh Ratih tak ingin Angga kecewa. Anak itu haus kasih sayang ibunya, jadi kalau dia bisa memenuhinya, mana mungkin mengecewakannya?


"Ibu kan capek, Angga," kata Aryo ketika melihat wajah Ratih tampak ragu.


"Apakah Ibu capek?" tanya Angga kepada Ratih.


"Mm..iya sih.."


"Kalau Ibu capek, nanti tidur di kamar bapak seperti biasanya."


Ratih terperanjat. Tidur di kamar bapak? Iya lah, kan dikiranya dia ibunya, jadi apa salahnya tidur di kamar bapak? Sayangnya Ratih bukan ibunya. Ia adalah seseorang yang hanya mirip dengan ibunya.


"Ibu kan harus bekerja," kata Aryo mencoba menghentikan keinginan Aryo.


"Bapak nggak tau, ibu juga libur seperti Bapak, kemarin kan Angga sudah bertanya sama ibu."


Tuh kan, Angga bukan anak biasa. Kecerdasannya sungguh luar biasa. Padahal umurnya belum lima tahun.


"Ah, ya.. bapak lupa," kata Aryo.


"Jadi.. boleh kan nanti ibu tidur dikamar Bapak?"


"Tidak Angga," kata Ratih cepat-cepat. Ngeri membayangkan dia masuk ke kamar Aryo, lalu berbaring di tempat tidurnya.


"Mengapa Ibu?" Angga mengejarnya. Biasa kan anak kecil kalau dikasih tahu pasti dia bertanya.. 'mengapa'.


"Mm.. ibu tidur di kamar Angga saja," kata Ratih. Ia berharap nanti setelah Angga tidur dia bisa meninggalkannya.


"Horeee... Angga mau tidur sama ibu," teriak Angga.


Aryo hanya geleng geleng kepala. Sesungguhnya dia bingung, kapankah ini akan berakhir? Pasti Ratih tidak akan selamanya bisa melayani semua keinginan Angga. Dia bukan apa-apanya. 


Di sebuah rumah makan Aryo menghentikan mobilnya.


***


Angga makan sangat lahap. Rupanya dia juga lapar. Tadi makan pagi-pagi, lalu jam sepuluh lebih baru berangkat. Sekarang tengah hari, saatnya makan. Aryo mengawasi anaknya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Enak ya ayamnya?" tanya Aryo.


"Enak, ini seperti masakan ibu kemarin," jawab Angga sambil menggigit paha yang tersisa.


Melihat mulut Angga berlepotan minyak, Ratih mengambil tissue lalu mengelap mulutnya.


Ibu mengapa tidak makan nasi?" tanya Angga ketika melihat Ratih hanya makan gado-gado. Sebetulnya Ratih lapar juga sih, tapi tadi terlanjur bilang kalau tidak lapar, jadi sungkan kalau memesan nasi juga.


"Bu Ratih, benar, nggak mau makan nasi ?" tanya Aryo.


"Benar Pak, ini cukup."


Dari luar tampak seperti sebuah keluarga bahagia, membuat beberapa orang iri melihat keakraban ibu dan anaknya. Si anak yang cerewet, ibunya menanggapi dengan penuh perhatian. Aryo merasa bahwa kebahagiaan ini hampir cukup. Kurangnya adalah bahwa Ratih bukan isterinya.


Lalu wajah Arum terbayang. Lalu dipandanginya wajah Ratih yang dengan penuh perhatian melayani anaknya. 


Aryo menghela napas, lalu menyuapkan nasinya yang terasa sarat di lehernya. Ia meneguk minumannya sehingga merasa lega.


Ingatannya akan Arum membuat nafsu makannya hampir hilang.


"Bapak, mana es krimnya." kata Angga membuyarkan lamunan ayahnya.


"Oh iya, bapak lupa, tadi Angga pesan rasa apa?"


"Angga mau coklat, sama strobery. Ibu mau apa?"


"Bu Ratih apa?"


"Saya...." Ratih ragu-ragu mengatakannya.


"Bapak, Ibu dipesenin sama saja."


"Benar, Bu Ratih mau yang seperti Angga?"


"Terserah Bapak saja."


"Baiklah, kalau begitu Bapak mau pesan tiga." kata Aryo sambil melambaikan tangannya kearah pelayan.


"Tapi makannya dihabiskan dulu Angga, nggak boleh makan es krim kalau makannya nggak dihabisin." kata Aryo.


"Tapi Angga sudah kenyang, Bapak."


"Kan baru separo tuh nasinya."


"Tadi porsinya banyak Pak, saya kira itu cukup buat Angga."


"Lihat nih, perut Angga sudah gendut," kata Angga sambil menepuk perutnya."


"Baiklah, kalau Ibu mengijinkan, bapak ngikut deh."


Ratih tersenyum. ibu dan bapak, alangkah manisnya. 


Hampir jam dua siang ketika acara makan itu selesai.


"Lho, kan belum naik mobil-mobilan." sanggah Angga.


"Baiklah, nanti main sebentar, lalu tidur," kata Aryo.


"Tidur sama Ibu kan?" Ratih mengangguk.


 ***


"Wuri, kenapa sih kamu marah-marah terus?" kata Rini ketika berjalan di samping Wuri setelah berbelanja.


"Aku kesal sama kamu. Kemarin kamu menghilang ternyata ada di parkiran. Ini tadi juga menghilang, ketika tiba-tiba kamu berlari ke dalam toko mainan. Aku menunggu sampai pegal.


"Ya ampuun, gitu aja marah. Nanti biar aku pijitin kakimu yang pegal, sudah jangan marah-marah lagi."


"Sebenarnya kamu tadi mencari siapa sih?"


"Tadi tuh aku melihat pak Aryo turun dari mobil, sedangkan Angga sudah berlari masuk ke dalam. Spontan aku mengikutinya, siapa tau dia mau menambah uang yang malamnya diberikan sama aku."


"Ternyata...?"


"Ternyata dia bukan cuma sama Angga. Aku kurang pemperhatikan Angga masuk sama siapa, Ternyata ada seorang perempuan yang bersamanya, yang semula aku kira orang lain yang ingin membeli sesuatu."


"Lalu?"


"Ternyata lagi, dia itu bu Arum."


"Lhoh, katanya bu Arum masih menghilang, kemudian kamu mau memeras bekas majikanmu itu."


"Aku juga heran. Kemarin wajahnya pucat waktu keluar dari rumah sakit. Jelas aku melihatnya karena dia lewat persis di depanku, Tapi tadi itu kelihatan segar dan cantik."


"Berarti kemarin kamu salah lihat."


"Nggak mungkin Wuri, aku kan sudah bilang bahwa dia lewat di depanku. Aku sembunyi di balik meja satpam, pura-pura sedang membuka ponsel. Dan nyatanya kan pak Aryo juga bilang bahwa isterinya belum pulang."


"Berarti semalam isterinya pulang."


"Tapi wajahnya kok segar ya. Bener deh."


"Ya sudah, kamu itu ngurusin rumah tangga orang, hanya karena ingin memerasnya kan? Hentikan perbuatan kamu itu. Kamu sudah bersalah karena menggoda suaminya kan?"


"Ah, salah dia juga kenapa mau sama aku."


"Laki-laki terkadang begitu, tapi salah si perempuan kenapa menggodanya."


"Mengapa hanya perempuan yang disalahkan?"


"Tapi kamu mengaku salah tidak, mengganggu suami orang, ketika isterinya tak ada pula."

__ADS_1


"Tapi itu menyenangkan.." kata Rini seakan tak berdosa. Tapi Wuri kesal meladeninya. Sungguh ia kurang suka pada perbuatan temannya. Dia menampung dirumah kost nya karena kasihan, mengingat dulu teman satu sekolah.


"Wuri, kamu kok terus diam, jangan cemberut dong.."


"Aku sebagai teman hanya mengingatkan kamu, bahwa perbuatan kamu itu tidak baik. Jangan teruskan kalau kamu tak ingin celaka."


"Lhah, kok malah menyumpahi aku sih?"


"Bukan menyumpahi, itu benar, siapa menanam maka dia akan menuai."


Rini terdiam, apakah dia akan memakan nasehat sahabatnya? Melihat wajahnya yang menjadi muram, tanpa rasa terima kasih atas ucapan sahabatnya yang menasehatinya, tampaknya susah membuatnya sadar.


***


Semestinya Ratih mau turun dijalan, tapi karena Angga masih menahannya, Ratih terpaksa menurut. Untunglah sebelum berangkat Ratih sudah memasak untuk ayahnya, cukup untuk sehari, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkannya. 


Sesampai dirumah, Angga segera meminta ayahnya membuka kardus bungkus mobilnya.


"Angga, cuci kaki tangan dulu, lalu ganti bajumu," teriak bu Nastiti yang keluar dari dalam rumah.


"Ayo, sama Ibu..." kata Angga sambil menarik tangan 'ibunya'.


Ratih menggandeng Angga kebelakang. Bu Nastiti mendekati Aryo.


"Kasihan nak Ratih disuruh meladeni Angga terus," kata bu Nastiti.


"Iya bu, Aryo juga sungkan. Tapi bagaimana caranya menghentikan keinginan Angga. Kalau begini terus, kasihan bu Ratih kan Bu."


"Menyuruh bu Ratih tinggal disini, lalu kamu memberinya uang tip, bagaimana Yo?"


"Aryo mau saja, tapi apakah dia mau? Di dekat Aryo tampaknya dia seperti kikuk, atau gimana, gitu."


"Iya Yo, bisa dimengerti. Kamu kan pria beristeri, sedangkan dia gadis lajang. Dia perempuan baik, mengerti akan jarak yang harus dipegangnya. "


"Itulah bu. Tadi saja waktu makan, kepalanya tertunduk terus, nggak berani menatap Aryo."


"Jangan-jangan kamu yang menatapnya terus, sampai dia malu."


"Ah Ibu ada-ada saja. Tapi dicoba saja bu, barangkali dia mau tinggal disini, dia kan bisa tidur bersama Ibu."


"Tapi dia kan punya orang tua Yo, mana mungkin meninggalkannya."


"Kalau begitu ya biar seperti ini saja, dia pagi mengajar, disini sampai sore, yang penting Angga bisa merasa dekat dengan ibunya. Nanti Aryo akan memberi dia tip."


"Belum tentu dia mau."


"Cari cara supaya bisa diterima."


"Bapaaak, ayo main mobil-mobilaan !!" tiba-tiba  Angga berlari dari dalam rumah.


"Nggak usah lari-lari, nanti jatuh Angga."


"Ayo Ibu,,,"


"Sini, Bapak saja yang ngajarin. Ibu biar istirahat sama eyang."


Angga menurut, ia senang ayahnya mengajarinya, bagaimana kalau mau jalan, bagaimana belok dan bagaimana kalau mau berhenti. Angga tampak gembira, ayahnya mengikutinya dari belakang.


"Nak Ratih, pasti capek meladeni Angga yang kemauannya terkadang aneh-aneh," kata bu Nastiti sambil duduk di samping Ratih di teras rumah.


"Nggak Bu, saya senang kok. Angga sangat lucu dan menggemaskan. Saya sudah jatuh hati sama dia," kata Ratih sambil tersenyum, tulus.


Bu Nastiti memegang tangan Ratih dengan hangat.


"Terima kasih ya Nak Ratih, membuat Angga seperti menemukan ibunya kembali."


"Sama-sama Bu, jangan sungkan, saya suka melakukannya."


"Tadi terbersit keinginan saya untuk mengajak Nak Ratih tinggal saja di sini. Tapi kan Nak Ratih juga harus melayani ayah kan?"


"Iya Bu, saya tidak bisa meninggalkan bapak yang sudah tua. Tapi saya sudah bilang sama bapak, kalau terkadang saya harus pulang sore kalau Angga rewel."


"Bapak tidak marah kalau Nak Ratih pulang sore?"


"Tidak Bu, bapak senang kalau saya bisa menolong orang lain."


"Syukurlah Nak. Mudah-mudahan Arum segera kembali, sehingga tidak merepotkan Nak Ratih lagi."


"Saya ikut mendoakan Bu, kasihan Angga."


"Ibuuu... ayo sini.. " tiba-tiba Angga berteriak.


Ratih turun ke halaman. Dilihatnya Angga sudah bisa menjalankan sendiri mobil barunya. Aryo berdiri di bawah pohon sambil memandangi anaknya yang tampak gembira. 


"Seandainya ibunya ada, maka pasti akan sempurnalah kebahagiaan ini," bisiknya lirih.


"Angga, tadi kan sudah janji, main mobilnya sebentar saja, karena saatnya Angga tidur siang. Ya kan?"


"Nanti boleh main lagi kan?"


"Iya, sekarang bobuk dulu yuk."


Angga turun dari mobil. Aryo menghampiri, membawa mobil itu ke dalam rumah.


Ratih menggandeng tangan Angga, diajaknya tidur.


"Ya Tuhan, dia benar-benar seperti Arum. Terkadang aku merasa aneh, terkadang aku memandangnya seperti memandangi isteriku. Bagaimana kalau lama kelamaan aku jatuh hati pada Ratih?


***


besok lagi ya

__ADS_1


 


 


__ADS_2