
Bu Suryo heran. Mengapa yu Siti bertanya begitu.
"Tahi lalat diatas bibirnya? Aduh, aku kok nggak begitu perhatian ya, aku bertemu hanya sekilas, ketika Arum mengajak ke sekolah Angga. Tapi mengapa kamu bertanya begitu yu?"
Yu Siti bingung untuk menjawabnya. Ia keceplosan menanyakan hal itu. Padahal dia masih takut mengakui bahwa anaknya yang diberikan orang itu kembar. Bu Suryo menganggapnya hanya seorang. Bagaimana kalau bu Suryo memarahinya lagi seperti ketika ia mendengar bahwa dia telah menyerahkan anak bayinya?
"Buk..bukan apa-apa Bu, saya pernah melihat .. itu.. seorang gadis mirip nak Arum.. tapi nggak persis kok.. Ya sudah Bu, saya bawa makanan ini keluar dulu." kata yu Siti agak gugup, lalu keluar dari dapur.
"Yu Siti bersikap aneh hari ini. Apa dia stress karena ditinggal Arum ya. Hm, aku maklum lah, dia kan selalu menyesali anaknya yang diberikan ke orang itu. Tapi ya menyesallah, aku yang bukan orang tuanya saja menyesal. Duh, seandainya bayi itu masih ada, dan dirawat di sini, alangkah menyenangkan, aku punya yu Siti, punya anaknya yu Siti..." bu Suryo bergumam sendiri sambil membersihkan meja dan sisa-sisa makanan yang harus dibuang.
***
Yu Siti pergi ke jalan, membagikan bungkusan nasi kepada abang becak dan siapa saja yang ditemuinya dan yang sekiranya mau menerima nasi bungkusnya. Tidak mudah memberikannya, dan harus cermat bahwa orang yang diberinya benar-benar mau menerimanya dan membutuhkannya. Pernah pada suatu kali, ia melihat seorang perempuan setengah tua, dengan pakaian lusuh, duduk ditepi jalan. Ketika bu Siti mengulurkan nasi bungkus yang dibawanya, perempuan itu menolaknya.
"Oh, tidak bu, saya sudah punya nasi di rumah."
Aduh, yu Siti sangat menyesal. Sebenarnya maksudnya baik, tapi terkadang orang mengira bahwa dirinya direndahkan, dianggap hina atau miskin. Dengan terbungkuk-bungkuk ia meminta maaf. Setelah itu ia harus lebih cermat mengamati siapa yang benar-benar butuh dan yang tidak. mampu.
Di sebuah gerombolan abang-abang becak, yu Siti memberikan 10 bungkus yang tersisa. Dengan wajah sumringah mereka menerimanya, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Tapi bukan ucapan terima kasih itu yang dibutuhkan, rasa gembira ketika menerimanya, sungguh cukup membuat lega.
Yu Siti kembali berjalan ke arah rumah. Ia belum membersihkan dapur, nggak enak apabila nanti bu Suryo melakukannya, walau bu Suryo tak pernah membiarkannya bekerja sendiri.
Ketika ia akan menyeberang jalan, sebuah mobil berhenti disampingnya. Pengemudi mobil membuka kaca, dan melongok kearah bu Siti.
"Bu Siti dari mana?"
Yu Siti terkejut, menatap pengemudi mobil itu.
"Pak Dokter ?"
"Darimana Bu? Mau pulang? Mari saya antar sekalian."
"Tidak Pak Dokter, cuma dari situ, saya berjalan kaki saja."
"Sungguh nggak mau diantar?"
"Terimakasih Pak Dokter, pak dokter mau mampir?"
"Tidak untuk kali ini Bu, saya harus mengantar dia pulang. Lain kali pasti saya mampir."
Bu Siti menatap gadis disamping pak dokter.. terkesiap melihat wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengan Arum. Bu Siti mendekat kearah mobil, tapi mobil Bramasto sudah berlalu. Gugup bu Siti melambaikan tangannya.. meminta agar Bramasto berhenti, tapi rupanya Bramasto tak melihat lambaian tangan itu. Lemas bu Siti, mundur kearah pinggir dan terus menatap mobil Bramasto yang semakin menjauh.
"Gadis itu... gadis itu.. apakah itu dia? Gadis yang wajahnya seperti nak Arum? Pak dokter mengenalnya? Aduh, mengapa aku terlambat menatapnya." gumam yu Siti dengan perasaan tak menentu.
Rasa sesal terus menghantuinya sampai dia masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju dapur, tapi dapur itu telah bersih, bu Suryo telah membersihkannya.
"Yu, Sudah selesai?"
"Sudah, mengapa Ibu kerjakan ini semua, nanti Ibu kecapekan."
"Nggak apa-apa, kamu kan agak kurang enak badan dari pagi, sekarang kamu istirahat saja, aku juga mau rebahan di kamar."
"Tadi saya melihat pak dokter."
"Masa? Di mana ?"
"Lewat sini bu, tapi belum bisa mampir katanya, saya melihat pak dokter sama seorang gadis, yang sangat mirip nak Arum."
"Benarkah? Itu namanya Ratih, jalan sama nak Bram? Hm, baguslah kalau sampai jadian. Dia kan mirip Arum, mungkin nak Bram suka wajah seperti Arum."
"Apakah dia yang ibu maksud? Yang bisa menggantikan nak Arum sebagai ibunya Angga?"
"Lha tadi aku tidak melihat, mana tahu apa benar dia."
"Saya pengin sekali melihatnya."
"Lain kali aku akan minta Arum agar mengajaknya kemari."
"Sungguh ya bu.. penasaran saya.."
"Iya, nanti setelah istirahat aku akan menelpon Arum."
Yu Siti merasa senang. Mudah-mudahan benar dia bisa ketemu gadis itu.
***
Bramasto sengaja melewati rumah bu Suryo, supaya Ratih tahu bahwa Arum pernah tinggal di situ selama setahun.
"Pasti bu Suryo mengomeli saya, sudah lewat nggak mau mampir."
"Mengapa tadi tidak mampir?"
"Habisnya sudah siang, nanti bapak mengira saya menculik Ratih."
Ratih tertawa.
"Tadi mengganggu, sekarang menculik..."
"Iya benar. Senang dong menculik gadis cantik, kan yang diculik juga mau."
"Iih... bisa aja.."
"Kalau nggak mau pasti sudah berteriak-teriak minta tolong dong."
"Ngomong-ngomong.. tadi itu bu Siti?"
"Iya, lupa ngenalin ke Ratih. Itu pembantunya bu Suryo, tapi seperti tidak dianggap pembantu."
"Maksudnya.?"
"Bu Suryo sangat baik. Yu Siti ditemukan dalam keadaan sakit dan tak berdaya, lalu ditolongnya, diajaknya ke rumah dan dianggapnya sebagai keluarga."
"Sungguh baik ya hatinya bu Suryo? Dan penampilan bu Siti juga tidak seperti pembantu kan? Bajunya bagus, wajahnya bersih dan sisa-sisa kecantikannya masih ada kan?"
"Benar, dulunya pasti cantik sekali."
"Kapan-kapan saya ingin minta bu Arum agar mengajak saya ke rumah bu Suryo."
"Mengapa tidak minta saja sama saya?"
"Haaa.."
"Saya juga bisa lho mengantarkan.."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Kapan-kapan saya akan ajak Ratih ke sana. Biar bu Siti kaget dan mengira Ratih adalah bu Arum."
"Iya, dia belum pernah ketemu saya, kalau bu Suryo sudah pernah."
"Nah, sudah hampir sampai rumah, Mampir ke rumah makan itu sebentar ya?"
"Kan kita sudah makan, masih laparkah?"
"Mau beli oleh-oleh buat bapak..."
"Aduh, mengapa repot-repot..."
"Biarin aja, biar bapak senang."
Bramasto memberhentikan mobilnya disebuah rumah makan.
"Ayo turun dan pilihkan makanan apa yang bapak suka," kata Bram sambil turun dari mobilnya.
***
Hari-hari yang berjalan, dilalui oleh keluarga Aryo dengan sangat bahagia. Kemelut telah berlalu, dan sebuah janji untuk saling setia dan menjaga selalu dibisikkan Aryo ke telinga Arum setiap kali sedang berduaan di kamar.
"Kemarin aku menelpon pak Bram, tak tahunya dia sedang jalan sama Ratih," kata Aryo pada suatu hari.
"Benarkah? Itu menyenangkan sekali. Semoga Ratih benar-benar bisa menjadi jodohnya."
"Iya, urung menjadi jodohmu, mendapatkan Ratih yang wajahnya mirip denganmu," kata Aryo menggoda.
"Iih.. bukan maunya dia masalah jodoh itu... cemburu nih?"
"Ya jelas lah cemburu, kan cemburu itu tandanya cinta?"
"Ibuuuu... " tiba-tiba terdengar teriakan Angga dari kamar sebelah. Arum turun dari ranjang dan masuk ke kamar Angga.
"Ada apa Angga ?"
"Aku mau tidur sama Ibu, mengapa Ibu tidurnya sekarang sama bapak?"
"Memangnya nggak boleh, ibu tidur sama bapak?" tanya Arum sambil membaringkan tubuhnya di samping Angga.
"Biasanya Ibu nggak mau.."
Arum tertawa, iyalah.. nggak mau.. kan itu bukan ibu tapi bu Ratih? Kalau berani tidur di kamar bapak... hm.... kata batin Arum sambil mengelus kepala Angga.
"Sekarang ibu mau, kan ibu sudah tidak bekerja lagi, jadi tidur di rumah ini."
"Kalau Angga sudah bobuk.. Ibu kemari ya." tiba-tiba Aryo muncul di balik pintu kamar Angga.
"Nggak boleeeeh..." teriak Angga sambil merangkul ibunya. Arum meleletkan lidahnya ke arah Aryo.
"Awaasss kamu ya!" ancam Aryo sambil tertawa.
***
Pagi itu Arum mendapat telepon dari bu Suryo, ia minta agar Arum datang, tapi bersama dengan Ratih.
"Bener ya, soalnya yu Siti nggak percaya ketika ibu cerita tentang wajah Ratih yang persis sekali dengan wajah kamu."
"Oh iya, bu Siti belum pernah melihatnya ya bu, baiklah, nanti Arum akan membuat kejutan untuk bu Siti. Bagaimana kalau besok Minggu?"
"Nggak apa-apa hari Minggu Rum, supaya suami kamu ada waktu untuk mengantar. Kalau bisa ajak ibu kamu sekalian. Dulu saya dan ibumu bertemu hanya sekilas, belum bisa cerita banyak. Sekarang kan kita sudah menjadi keluarga."
"Iya benar Bu, menyenangkan sekali bisa rame-rame ke rumah Ibu."
"Aku tunggu ya Rum, yu Siti itu lho, penasaran katanya."
"Baik Ibu, nanti saya bilang mas Aryo, dan juga mengabari bu Ratih."
***
Bramasto yang datang ke rumah Ratih hari Minggu itu tidak kecewa kalau Ratih mau diajak Arum kerumah bu Suryo. Itu karena Ratih kemudian juga mengajaknya serta.
"Beberapa hari yang lalu kan mas Bram janji mau ke rumah bu Suryo, nah, janji itu harus dipenuhi hari Minggu ini. Mau kan?"
"Baiklah, kalau bersama Ratih, biar keujung dunia juga saya mau kok."
"Hm.. gitu ya," jawab Ratih tersipu...
"Bukan gitu...Tapi giniii.." kata Bramasto sambil mengacungkan jempolnya.
Ratih tersenyum lebar. Ternyata Bramasto terkadang lucu, terkadang menggemaskan.
Ketika kemudian sebuah mobil berhenti di halaman, Ratih dan Bramasto keluar. Ia tahu itu mobilnya Aryo.
Dari dalam mobil Angga berteriak.
"Bukankah itu ibu peri?"
Arum menurunkan Angga yang lalu berlari mendekati Ratih. Ratih membuka kedua tangannya, kemudin memeluk Angga.
"Ibu peri ada disini?"
"Iya, ibu peri mau pergi bersama Angga..."
"Ibu peri .. bukankah itu pak dokter ?"
"Karena pak dokter itu anak baik, ibu peri mendatangi pak dokter.." kata Arum yang juga sudah turun dari mobilnya.
Aryo tertawa sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Bramasto melotot lucu menatap sahabatnya.
"Apa ibu peri akan pergi bersama kita?"
"Iya Angga, kita kemari karena akan mengajak ibu peri. "
"Apa pacarnya ibu peri boleh ikut?" kata Bram bercanda.
Ratih tersipu.
__ADS_1
"O.. jadi benar..sudah jadian...Baguslah."
Arum dan Aryo tertawa senang.
"Ayo kita berangkat..." teriak Angga
"Baiklah, kita pamit dulu sama bapak," kata Bramasto yang lalu masuk kedalam. Beberapa minggu ini telah membuat Bramasto terbiasa dirumah Ratih.
"Nanti Angga bersama ibu peri ya, di mobilnya pak dokter," kata Ratih yang tampak sangat kangen dengan Angga.
"Ibu, bolehkah Angga ikut ibu peri?"
"Boleh, ibu peri tampaknya kangen sama Angga."
Mereka pergi bersama ke rumah bu Suryo. Bramasto membawa mobilnya sendiri karena di mobil Aryo ada bu Nastiti dan bu Martono, ibunya Arum.
***
Yu Siti sebentar sebentar melongok ke luar rumah. Bu Suryo sudah mengatakan bahwa mereka akan datang bersama, dan itu membuat yu Siti tak sabar menunggu. Degup jantung terasa lebih kencang, rasa gelisah mengiringi setiap apa yang dikerjakannya.
"Yu Siti, kamu itu mengapa, dari tadi keluar masuk rumah," tegur bu Suryo yang sudah duduk di teras menunggu tamunya."
"Benarkah mereka akan datang?"
"Pasti benar lah, masa mereka akan membohongi kita."
"Iya Bu, saya itu ingin sekali melihat wajah mereka, semirip apa.. "
"Mirip seperti kembar. Lihat saja nanti."
"Iya Bu."
"Baru saja aku menelpon, mereka sudah di jalan. Katanya dokter Bram juga ikut bersama mereka."
"Kalau begitu saya akan menuangkan tehnya ke cawan-cawan sekalian, biar nanti tinggal menghidangkan."
"Baiklah, terserah kamu saja"
Yu Siti melangkah ke belakang, menuang teh-teh panas kedalam cawan, dengan tangan gemetar. Beberapa tuangan meleset membasahi meja. Yu Siti membersihkannya dengan gugup.Tangannya terasa panas karena sebagian terkena tumpahan teh panas.
"Ada apa aku ini... aduh.. tenang.. tenang...jadi basah semua begini.."
Yu Siti mengelap cangkir-cangkir yang basah, meletakkannya di baki yang lain, lalu menuanginya kembali dengan lebih hati-hati.
"Benarkah dia, benarkah dia.. Ya Tuhan, apakah kali ini engkau perkenankan hamba bertemu dengan anak-anak hamba? Dan itu adalah jawaban atas permohonan hamba yang tak pernah henti?"
Semua cangkir yang disiapkan untuk tamu-tamunya sudah terisi, yu Siti membersihkan meja dari air teh yang tertumpah.
Lalu piring-piring berisi makanan dibawanya ke depan terlebih dulu, ditata di meja dengan rapi. Dilihatnya bu Suryo yang masih duduk di teras juga sebentar-sebentar melongok ke jalan.
Yu Siti berjalan ke teras.
"Yu.. makanan yang kamu siapkan, letakkan ke meja situ saja sekalian," kata bu Suryo.
"Sudah Bu, nanti tinggal tehnya saja."
"Menunggu itu hal yang paling mengesalkan ya Yu, rasanya lama sekali."
"Iya Bu.."
"Duduklah di sini saja, jangan ke depan.. ke belakang.. ke depan,, ke belakang.. capek kamu nanti."
"Baiklah Bu."
Yu Siti duduk dikursi yang ada didekat pintu. Menatap ke arah jalan dengan perasaan gelisah.
Lalu ketika sebuah mobil masuk, bu Suryo berdiri, diikuti yu Siti.
Dan sebuah mobil lagi masuk.
"Itu mobilnya nak Bram..," seru bu Suryo.
Arum turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk ibu dan untuk mertuanya. Kemudian menggandengnya mendekati bu Suryo.
"Apa kabar, bu Martono, kita kan pernah bertemu."
"Iya benar. Ini ibunya Aryo...bu Nastiti."
"Selamat bertemu bu Nastiti, saya juga ibunya Arum," kata bu Suryo.
Yu Siti tegak berdiri, yang dicarinya belum kelihatan. Ia tak peduli pada tamu yang keluar dari mobil pertama. Barangkali yang namanya Ratih ada di mobil pak dokter, pikir yu Siti.
Lalu Bram turun, bersama Ratih, dan yu Siti melebarkan matanya. Mengamati wajah cantik yang memang benar sangat mirip. Tanpa sadar yu Siti melangkah mendekati Ratih, menatapnya tajam.
"Ya Tuhan, ini benar.. ada tahi lalat di atas bibir kiri," bisik yu Siti pelan. Tubuhnya gemetar, kemudian limbung dan nyaris terjatuh kalau Bramasto tidak menangkapnya.
***
besok lagi ya
__ADS_1
"