
Shaquita sangat bahagia karena hari ini sahabatnya datang ke rumahnya setelah begitu lama.
"Hai Ken, kemana aja kamu ,?" tanya Shaquita dengan senyum merekah di wajahnya yang cantik di hiasi lesung pipit .
"Hai Sha, apa kau rindu padaku,?" sahut Kenzo sambil mencubit hidung mancung Shaquita yang sedang sibuk menaburkan pelet ikan buatannya sendiri ke kolam lele di belakang rumahnya.
Shaquita tersenyum geli melihat tingkah Kenzo yang semakin manis di matanya.
"Hei Kenzo, kamu jangan mau di rayu sama si Saquita biar mau minjam uang di Bank Emok . Itu haram hukumnya Ken, mama juga saranin kamu bergaul dengan wanita yang baik ya nak,!!" ucap bi Raqima pada anaknya . Dia berdiri berkacak pinggang dari arah sebrang kolam lele milik Shaquita.
Mendengar sindiran ibunya kenzo dengan nada yang sedikit keras membuat Shaquita berhenti tersenyum dan berganti dengan tatapan yang sulit di artikan ke arah bi Raqima.
Lalu dia berkata ,"Bibi jangan marah-marah terus, nanti gula darah bibi naik lagi,!!" ucap Shaquita setengah tertawa.
"Kau jangan khawatirkan aku, ada Kenzo yang merawatku. Khawatirkan dirimu sendiri jangan sampai seperti kemarin. Niat mau menagih hutang malah di todong golok." sindir bi Raqima.
Kenzo menatap dengan penuh tanya ke arah Shaquita. Wajahnya yang semula terlihat bahagia berubah menjadi sedih.
"Ya ya bibi benar, tapi aku hanya ingin membantu mereka yang membutuhkan pinjaman," jawab Shaquita sambil menambah air minum ayam broiler miliknya dengan air bersih. Hanya tersisa 10 ekor ayam di kandang yang masih belum terjual.
"Dasar gadis Absurd, itu bukannya membantu tapi malah membuat mereka menjadi terlilit hutang,!!" ucap bi Raqima dengan nada yang sedikit keras. Di dekat bi Raqima berdiri ada pagar yang membatasi, dari kolam lele milik Shaquita langsung terlihat sisi kiri rumah dimana bi Raqima berdiri.
Shaquita terdiam sambil sibuk melakukan rutinitas pagi yang sudah menjadi hobinya. Memberi makan ikan , ayam dan yang lainnya. Lalu menyiram sayuran. Setelah itu Shaquita akan berangkat ke kantor cabang bank permodalan lokal tempatnya bekerja selama enam tahun terakhir.
Sejak tadi Kenzo asyik memberi makan kelinci kesayangan Shaquita tanpa memperhatikan perdebatan dua wanita beda generasi ini yang sudah berlangsung lama sejak Shaquita lulus SMK jurusan akuntansi dan bekerja menjadi salah satu karyawan bank permodalan lokal.
__ADS_1
Sebagai lulusan akuntansi dan sudah lulus sarjana dengan biaya kuliah sendiri Shaquita cukup bangga pada dirinya sendiri.
Ayah ibunya sudah lama meninggal sejak Shaquita masih kecil. Untunglah masih ada nenek dan kakek yang sangat menyayanginya.
Kenzo menarik tangan Shaquita dan mengajaknya duduk di tempat duduk yang di buat dari papan kayu di tepi kolam ikan koi. Shaquita yang membuat tempat duduk ini sendiri. Dia meniru gaya kakeknya yang seorang kuli bangunan.
Di kampungnya tidak ada kuli bangunan sehebat kakeknya Shaquita . Meski tanpa sekolah , banyak orang yang mempekerjakannya sebagai arsitek.
"Kau kemana saja Ken,?" tanya Shaquita sambil menatap mata Kenzo dengan pupil yang membesar.
"Jadi benar , kau merindukan aku,?" tanya Kenzo sambil menatap lekat hezel mata kecoklatan milik Shaquita. Tak heran jika teman-temannya memanggilnya 'bule'.
"Aku hanya sedikit merindukan mu, tak ada yang membantu ku memberi makan kelinci sebaik dirimu. Kau belum menjawab pertanyaan ku, kemana saja selama sebulan ini,?" tanya Shaquita dengan senyum lesung pipitnya.
"Aku hanya ada sedikit masalah, kau tau tetangga kita yang rumahnya besar itu,? " tanya Kenzo.
"Jangan sembarangan,! Orang tua itu belum meninggal. Mereka orang tua ku sekarang,!" kata Kenzo malas.
"Bagaimana orang tua itu bisa menjadi orang tua mu,? Mereka sudah tua dan....
"Mereka memaksaku menjadi anak angkat mereka, dan aku harus mengurus seluruh bisnis keluarga. Selama sebulan aku berusaha tapi itu sangat sulit. Andai ada kau di sana," ujar Kenzo yang memotong ucapan Shaquita yang sedang bercanda.
"Berarti kau sudah menjadi bos sekarang, bisakah kau memberiku pekerjaan yang gajinya lumayan. Aku mau berhenti bekerja di bank," ucap Shaquita.
"Apa kau yakin.?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Ya, aku yakin," jawab Shaquita.
"Kalau begitu tunggu kabar dariku. Aku akan meminta orang tua itu untuk memberikan pekerjaan untuk mu. " ucap Kenzo.
"Ya baiklah,"
Kenzo meninggalkan Shaquita dan kembali ke rumahnya. Di sana bi Raqima sudah berkacak pinggang dan menyentil telinga anaknya.
"Mama gak setuju kamu pacaran sama si Shaquita itu,!" ucap bi Raqima pada anaknya.
"Belum mah, Shaquita belum jadi pacar Ken," jawab Kenzo.
"Mama sudah pesankan meja di restoran Egaliter , kamu temui Zuwena nanti malam. Dia anak dari teman arisan mama. Cantik dan juga baik." ucap bi Raqima.
Tanpa menjawab sepatah kata pun. Kenzo langsung masuk ke kamarnya.
Sekarang dia merasakan ada jarak di antara dirinya dan Shaquita. Bahkan antara dirinya dan persahabatannya dengan Shaquita sudah berjarak karena Kenzo tidak ingin menemui Shaquita jika hanya di anggap sahabat.
Kenzo sudah sering menyatakan cinta tapi Shaquita tak pernah menerima cintanya. Sekarang jarak Kenzo dan Shaquita menjadi sepuluh kali lipat lebih jauh dengan kehadiran gadis bernama Zuwena di tengah- tengah Kenzo dan Shaquita.
"Jarak ini menjadi paling jauh , lebih jauh di bandingkan saat aku berada di luar negri sekalipun, Zuwena, siapa dia.?" gumam Kenzo.
Kenzo sangat menghormati ibunya, oleh karena itu dia selalu menuruti perintah wanita yang 20 tahun lalu melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawanya.
Bi Raqima sangat yakin jika Kenzo mau menurutinya untuk menikahi Zuwena, gadis pilihannya. Karena dia tidak suka pada Shaquita yang pekerjaannya sebagai pegawai bank emok. sudah banyak warga yang kesusahan dan terlilit hutang di lingkungannya.
__ADS_1
Bersambung ke bab selanjutnya...
Salam Author