Shaquita Merindukan Musuh

Shaquita Merindukan Musuh
Bab 4. Apa aku Bisa Menepati Janji


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Shaquita bergegas membuka laptopnya dan menekan tombol pencarian. Ia menekan kata kunci 'Sembuh Diabetes tanpa obat' . Kemudian munculah alamat youtube sebuah organisasi yang mengirim banyak testimoni dari para penyintas.


Shaquita terus tenggelam dalam dunia maya. Kata demi kata ia coba pahami dan kaji pelan-pelan. Di vidio, seorang mentor mengatakan Saya tidak ingin anda harus di tempat yang terpencil. Dimana tumbuhan tidak bisa hidup dan dingin, tetapi jurnal pengetahuan penelitian tahun 1950 tentang suku inuit alaska memberikan contoh pada kita bahwa pola makan non karbohidrat mereka selama ribuan tahun membuat mereka terhindar dari sakit diabetes dan jantung.


"Oh begitu, " gumam Shaquita dalam hati.


Dia bahkan terus mencari informasi dari berbagai sumber untuk mengetahui lebih jauh tentang cara ini. Karena menurut Shaquita cara ini cukup ekstrem. Dia tidak bisa asal coba-coba begitu saja.


Apalagi mengingat hubungannya dengan ibunya Kenzo yang tidak begitu baik.


PoV Shaquita..


Ah sayang sekali, cara ini bisa di coba. Tapi aku tidak yakin Bi Raqima mau menuruti ku Apa lagi jika aku yang menyuruhnya. Wanita ini pasti akan menghina ku lagi, jika ku suruh dia berhenti makan karbo dan hanya memakan protein dan lemak saja. Darah tinggi dan kolestrol sudah pasti jadi alasan utama,


Aku tetap tidak aka menyerah, lebih baik aku menonton vidio lain. Orang ini pasti punya banyak narasumber dari penyintas diabetes.


Tak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukan seorang dokter yang juga mengikuti pola makan ini untuk menyembuhkan penyakit yang di deritanya.


Semua penjelasan sang dokter lebih mudah di pahami, mungkin karena dia berbicara tentang bidang yang ia kuasai.


Aku menonton semua detailnya walau durasi vidio nya sampai satu jam, sungguh membosankan. Aku melakukan hal bodoh demi ibunya Kenzo yang bahkan tidak mau melihat wajah ku.


Tapi tunggu dulu, masalahnya kebanyakan orang yang mengikuti pola makan non karbo ini kehilangan berat badan mereka. Apa jadinya jika bi Raqima yang kerempeng begitu kehilangan berat badan juga. Bisa-bisa jadi tinggal tulang.


Baiklah, satu vidio lagi aku tonton. Kali ini testimoni dari seorang penyintas yang badannya sama kerempengnya seperti bi Raqima.


Hoeemz.... Membosankan tapi penasaran. Sabar Shaquita, wanita cerewet itu harus hidup lebih lama. Aku sungguh tidak tega melihat Kenzo menangisi ibunya yang selalu sakit.


Wah ternyata detoks nya parah, tubuh orang ini beruntusan dan keluar air. Kalau tidak salah bi Raqima juga pernah mengalami beruntusan seperti ini. Aku dan Kenzo sampai pusing keluar masuk apotik hanya untuk mencari obat gatal untuk bi Raqima.


Nah kan, kolestrol nya jadi tinggi karena kebanyakan makan telur. Yah jadinya aku takut makan omlet telur lagi. Hanya itu makanan yang menggugah selera ku.


Syukurlah orang ini sembuh dan berat badannya naik lagi. Aku harus beritahu Kenzo segera.


Setelah dua jam menyimak, entah mengapa hati ini masih merasa tidak percaya. Sebuah vidio saja bisa di rekayasa oleh manusia.


Apalagi aku harus melawan asumsi masyarakat yang mendeklarasikan bahwa diabetes dan darah tinggi tidak bisa di sembuhkan sampai kontrak kita dengan Tuhan selesai.


Apa aku bisa menepati janji ku pada Kenzo tentang menyembuhkan mamanya. Aku tidak mengira jika caranya sesulit ini. Bi Raqima tidak akan setuju melakukan hal baru ini apalagi jika aku yang memintanya.


Bi Raqima hanya akan menuruti orang yang dia sukai. Bukan orang yang dia benci seperti aku.

__ADS_1


Aku juga harus pergi bekerja di siang hari, Kenzo sangat sibuk dengan bisnis orang tua angkatnya.


Hanya satu orang yang bisa membantu ku, Zuwena.


Author POV.


Keesokan harinya Kenzo melewatkan rutinitas pagi hanya demi menjemput Zuwena.


Melihat Zuwena datang Shaquita langsung mencoba mendekati Zuwena demi mencapai tujuannya.


"Hai Zuwena, " sapa ramah Shaquita.


"Hai, kalian tinggal serumah,? " tanya Zuwena.


"Andai saja, " bisik Kenzo hingga membuat Zuwena menengok ke arahnya.


"Ini rumah ku, dan itu rumah Kenzo. Kamu bisa main ke rumahku jika bosan." tawarnya.


Sementara Kenzo membawa koper Zuwena masuk ke rumahnya.


"Ah kalian tetangga yah, baiklah akan ku pikirkan tawaran mu itu, selama kamu tidak mencoba menggoda Kenzo, " ucap Zuwena.


"Sebenarnya Kenzo sudah puluhan kali menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tidak bisa menerimanya,! " jujurnya.


"Tidak, aku belum menikah. Hanya saja nanti kau pun akan tahu alasannya, " jawab Shaquita.


"Yah terserahlah.. " ucap Zuwena.


Dalam hatinya dia merasa insecure melihat kecantikan Shaquita. Apalagi mengingat kedekatannya dengan Kenzo.


ZUwena masuk ke rumah Kenzo dan terkejut melihat ibunya Kenzo yang terbaring lemah tidak bisa bangun sama sekali.


"Aku tidak menyangka jika bibi sakit separah ini, pasti sangat merepotkan. Jika bukan karena sekarang Kenzo banyak uang aku tidak mau melakukan ini, " gumam Zuwena dalam hati.


"Zue, kenapa diam saja,? " tanya bi Raqima.


"Ah tidak bi, aku hanya membayangkan betapa sakitnya bibi yang hanya bisa berbaring seperti ini. Kemarin bibi masih kuat pergi ke dokter tapi sekarang sudah tidak bisa bangun. " kata Zuwena mengiba.


"Kemarin pun bibi berjalan di bantu oleh Ken, Maaf yah Zue, Bibi sudah merepotkan mu,! " ucap bi Raqima.


"Gak apa-apa bi, aku senang bisa menolong," kata Zuwena menimpali.

__ADS_1


Kemudian Zuwena membantu bi Raqima bangun untuk makan dan minum obat. Tentu saja pemakaian insulin injek sudah menjadi suatu keharusan . Sementara Kenzo bersiap pergi bekerja, dia tidak tega melihat ibunya yang semakin memburuk.


"Zue, nanti ada bi Ningsih bantu mamaku di sini. Kamu bisa tanya sama dia kalau butuh sesuatu. Aku pergi dulu, " Kenzo pamit berangkat ke kantor.


"Iya Ken, jangan khawatir aku pasti mengurus mamamu dengan baik, " sahut Zuwena penuh semangat.


Karena keadaannya ibunya Kenzo tertidur pulas dan Zuwena merasa bosan. Bi Ningsih yang di ceritakan akan datang pun tak kunjung datang. Melihat keadaan rumah yang berantakan Zuwena bergegas merapikannya.


Setelah selesai dia pergi keluar rumah tapi dia merasa ragu untuk menemui Shaquita.


Zuwena hanya memperhatikan halaman sekitar yang tertata rapi dan cantik meski banyak hewan peliharaan dan juga ikan.


Sesekali terdengar derit kincir angin yang terpasang indah di setiap sudut halaman.


Sementara di kantor Shaquita merasa gelisah dan stress memikirkan apakah Zuwena mau membantunya atau tidak.


Shaquita mengajak Eva untuk membeli alat cek gula seperti yang di sarankan bi Ningsih.


Menurut bi Ningsih alat cek itu penting karena penggunaan obat suntik sangat rentan mengalami kekurangan gula darah.


Yang menurutnya itu bisa berakibat fatal.


"Sha, kamu yakin mau beli alat itu,? Kamu tau sendiri kan sikap ibunya Kenzo padamu bagaimana,? " tanya Eva memastikan.


"Aku tahu maksud mu Va, sebanyak apapun yang ku lakukan untuk bi Raqima tetap saja hubungan ku dengannya tidak akan ada Progress. Di tambah lagi sekarang ada Zuwena." tuturnya.


"Lalu kenapa kamu harus melakukan ini Sha,? " tambahnya.


"Mau bagaimana lagi Sha, aku sangat mencintai Kenzo. Aku tidak akan mengakui perasaan ini sebelum ibunya merestui hubungan kami, " ujar Shaquita.


"This is impossible Sha, bi Raqima punya banyak kesempatan untuk memahami mu tapi dia tidak pernah mau membuka mata dan melihat kebaikan mu, " keluh Eva.


"Do'akan saja Va, bukan membuka mata, tapi terkadang orang hanya butuh sedikit menutup mata untuk melihat orang lain tersenyum," ucap Shaquita.


"Yah aku mengerti Sha, bi Raqima tidak pernah melihat atau membiarkan mu tersenyum sedikit pun, " ujarnya.


Shaquita hanya mencetak senyum tipis di wajahnya dengan sedikit lesung pipit.


"Aku tidak memikirkan itu Va, aku hanya Khawatir apa aku bisa menepati janjiku pada Kenzo atau Tidak,? " guman Shaquita dalam hati.


#Thank you dah mampir...

__ADS_1


jangan lupa like yah..


__ADS_2