
"Pergi Sana Dasar pembawa Sial."
"Ya, Pergi sana dasar sampah."
Teriakan demi teriakkan bergema disepanjang lorong saat iring iringan Yang membawa Sant pergi keluar dari Sarang.
Sant berjalan sambil menundukkan kepalanya, menahan air matanya agar tidak menetes. Ia berjalan sambil dilempari dan disoraki Semut semut di sarangnya.
Saat ia sudah berada jauh dari sarang ia terduduk, Memejamkan matanya mengingat yang selama ini terjadi.
Sant yang dari kecil Notabane nya di bilang lemah, Ceroboh tapi walau begitu apa yang tidak diketahui orang lain adalah Sant adalah Semut yang Cerdas.
Tapi itu semua sia sia, Awalnya ia merupakan Semut yang termasuk dalam divisi Pekerja, tapi itu hanya setetngah hari sebelum dipindahkan karna badannya yang lemah.
Ia di pindahkan ke divisi penjaga tapi langsung di tolak mentah mentah oleh kapten penjaga karna badannya yang lemah, Terpaksa ia pun pinda ke divisi Makanan.
Tapi karna kerjanya yang lelet ia pun dipindahkan lagi ke Divisi ter akhir yaitu divisi Penjagaat telur. Tapi siapa sangka ia malah ceroboh sehingga memecahkan telur.
Berita dan rumor tentangnya menyebar luas, bahkan bukan hanya disarang tapi diluar sarang juga, sering kali ada hewan lain yang lewat di depan sarang mendengar itu lalu mengejek sarangnya.
Semut semut yang lain yang sudah geram karns di ejek melaporkan semuanya kepada Raja dan Ratu semut. Raja dan Ratu semut hanya cuek apalagi sang pangeran yang slalu membully Sant bersama geng nya.
Akhirnya telah di putuskan oleh warga sendiri bahwa Sant harus dihukum di usir dari sarang. Sant yang mendengar itu hanya pasrah tak bisa berbuat apa apa karna bagaimanapun ia mengaku bahwa ia yang salah.
__ADS_1
"Huh..." Sant menghela nafas panjang.
"Sebaiknya aku mencari tempat untuk berteduh dulu malam ini." Gumamnya sambil berjalan mencari tempat yang aman, setelah beberapa saat berjalan ia menemukan sebuah Jamur yang tumbuh dibawah sebuah pohon besar, tempat pas untuk berteduh.
Tik....tik....
Hujan mulai turun dengan derasanya, Sant sudah membuat api unggun dan sekarang ia sedang membakar sebuah daging yang ia bawa dari sarannya.
"Kemana aku harus pergi? Oh tuhan, kenapa nasibku seperti ini? Apakah aku memang di takdirkan begini?" Semua pertanyaan ber kecamuk di pikirannya, ia bingung akan takdir yang seperti mempermainkannya.
Hujan telah berhenti di gantikan cahaya sang Rembulan, Sant menyimpan segala peralatannya lalu membentangksn tikar tipis.
Ia merebahkan dirinya dan terlelap menuju dunia mimpi.
Ciit....ciiit...
Suara burung burung bersahutan menemani sang mentari yang menampakkan sinarnya.
"Hoaaam." Uap Sant saat bangun dari tidurnya, Ia berjalan mematiksn api unggunnya lalu mengambil minum dan meminumnya.
"Baiklah Aku harus semangat, Tak boleh pantang menyerah." Semangatnya.
Sant pun langsung membereskan semuanya dan membawa ranselnya berjalan menuju tengah hutan.
__ADS_1
"Sssst..."
"Roaaar...."
suara desisan bercampur auman mengagetkan Sant, ia mencoba melihat dari semak semak disitulah jantung nya berpacu cepat.
Terlihat seekor ular berwarna putih besar sedang bertarung melawan seekor harimau, tubuh ular itu sudah luka luka dibeberapa titik yang sangat parah sedangkan Hari mau itu tampak lemas dengan sebuah gigitan di lehernya.
"Kau kalah harimau sombong, Racunku akan menghabisimu dalam beberapa detik." ucap ular itu.
"Dasar ular lic-" Mulut harimau itu mengeluarkan busa dan matanya memutihkan lalu terbaring jatuh dan mati.
Ular itu juga ambruk seketika, pandangan matanya ter arah pada Sant yang sedang melihatnnya, tubuh Sant tegang.
"Ti-Titip a-anakku di pinggir sungai."
Bruug.... Setelah mengucapkan itu ia kehilangan nafsa terakhirnya.
Sant yang melihat itu hanya memejamkan matanya mencoba menenangkan diri lalu berbalik kembali berjalan kedlam hutan.
----------------------------
READ FOR THE FUTURE
__ADS_1