
Setelah selsai keributan di luar tadi, tampak anak-anak aliya donnie dan putri terlihat ketakutan akibat melihat warga memukuli si tukang ojek. walaupun mereka tadi berada di dalam rumah karena ke gaduhan di luar akhirnya mereka melihat dari jendela. Aliya sang ibu coba untuk menenangkan mereka, karena hari sudah malam Aliya mengajak kembali mereka untuk shalat magrib.
Aliya: Alhamdulillah... di rumah udah bersih, kita masak yuk
Putri: ayo mah... ade bantuin
setelah shalat magrib perasaan mereka kembali tenang dan kembali ceria, waktunya makan malam Aliya memasak seadanya. Tak lama dari itu terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Aliya menyuruh donnie untuk membukakan pintu.
Pintu pun di buka oleh donnie, donnie pun merasa kebingungan siapa yang datang?? sepasang anak muda bertamu malam-malam begini. tanpa mempersilahkan masuk donnie langsung memanggil Aliya.
Donnie: mah itu ada tamu
Aliya: siapa nak..??
Donnie: ga tau, masih muda kok, lelaki sama perempuan.
Aliya pun menghampiri tamu tersebut, apa mungkin tukang ojek yang tadi?? dan ternyata yang datang Mutia dan suaminya Bagas. Aliya sangat senang dengan kehadiran mereka begitu pun Mutia, 2 tahun sudah mereka tak bertemu, terakhir bertemu saat pemakaman orang tuanya di lanjut dengan tahlilan. Mutia datang membawa sedikit makanan dan cemilan. rencananya mereka akan menginap semalam di rumah Aliya. Belum banyak berbincang aliya kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya, sementara Mutia dan Bagas melihat-lihat rumah yang dulu sama-sama aliya dan mutia tempati.
Tertuju pandangan Mutia pada motor bebek tahun 70an itu. Mutia mengelus bagian motor itu dan terlihat masih ada bercak darah bekas tabrakan ke almarhum orang tuanya. mata Mutia mulai berlinang karena ingat sosok almarhum, motor itu terlihat rusak parah. pada saat kejadian 3 tahun yang lalu memang Mutia orang yang paling terpukul, karena saat itu Mutia belum menikah. masih tinggal dengan orang tuanya, dan Mutia lah orang pertama kali yang mendapat informasi bahwa ayah dan ibunya kecelakaan. kecelakaan yang sangat tragis dimana mereka hendak menuju pantai tiba-tiba truk menghantam mereka dari belakang, lalu mereka terlempar sejauh 300 meter, sang ibu tewas dalam keadaan terjepit mobil dan sang ayah masih selamat, tapi dalam jangka 2 hari setelah kecelakaan ayah dari Mutia dan Aliya ini menghembuskan nafasnya yang terakhir, karena badannya sudah di penuhi ring. sudah tidak mampu lagi untuk bangun.
Padahal kurang lebih sekitar dua bulan lagi Mutia akan menyelenggarakan pernikahannya dengan Bagas. dan pernikahan Mutia dan Bagas pun tanpa di hadiri orang tuanya. kakak pertama dan aliya lah yang menjadi wali pendamping.
Aliya: Nah... sudah jadi masakan nasi goreng nya, ayo kita makan
__ADS_1
Donnie & Putri: ayoo... serbu
Mendengar keceriaan mereka Mutia langsung tersenyum dan merasa terhibur, di tambah lagi Mutia di usia pernikahan yang ke dua tahun ini masih belum di beri momongan.
Putri yang cerewet mengajak tantenya ngobrol.
Putri: Tante... tante itu siapa sih, kok tiba-tiba dateng ke rumah ini
Mutia: (sambil tersenyum melihat kelucuan keponakan nya) tante adiknya mamah kamu.
Putri: ooohhh.... kalo om, siapa??
Bagas: om... siapa ya, emh... siapa ayo??
Putri: pasti pacarnya tante muti
Donnie: iya aku juga ga kenal sama Tante
Mutia: iya... waktu itu putri masih bayi ketemu tante nya, terus kalo donnie ketemunya pas masih kecil segede putri
Donnie: kapan tante ketemu nya??
Mutia: waduh ini anak mamah aliya pada pinter ngomong ya... kamu inget engga waktu tahlil di gendong sama tante
__ADS_1
Donnie: lupa hehehe (sambil garuk-garuk kepala)
Aliya: udah makan dulu... nanti lagi ngobrol nya, ga baik makan sambil ngobrol
Makan malam pun sudah beres dan Mutia membereskan semua bekas makanan nya. sementara Bagas pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena masih ada waktu untuk shalat magrib.
Pada saat itu pula terdengar kembali orang yang mengetuk pintu, "assalamualaikum" terdengar suara bapak-bapak dari luar rumah. Aliya menjawab "walaikumsalam". sebelum membuka pintu Aliya melihat dari jendela, di luar ada sekitar 4 orang tapi wajahnya tak terlihat jelas, mungkin itu pa RT...!!!
Aliya segera membukanya... dan yang datang keluarga nya Aldi, Aliya mempersilahkan masuk mereka. dan ayahnya Aldi tidak banyak basa basi langsung sajah menjelaskan maksud dan tujuan mereka untuk datang ke sini. mereka meminta maaf atas kejadian tadi sore dan juga sekalian bersilahturahmi, saling memperkenalkan diri.
pada saat bersamaan Mutia yang sedang beres-beres, segera dengan cepat membereskan pekerjaan nya, karena sang suami Bagas mengajak untuk shalat berjamaah.
Setelah selesai shalat mereka mendengar seperti ada tamu di ruangan depan. Mutia dan Bagas pun menghampiri tamu yang ada di ruang depan. dan ternyata Mutia yang mengenali mereka. dan akhirnya mutia ikut ngobrol sama mereka, mutia bercerita bahwa mereka ini orang yang mengurus jenazah almarhum orang tuanya hingga hanya tak sempat ikut ke pemakaman.
Pa Rahman ayahnya Aldi membenarkan soal itu, terlebih dia mengenal sosok ayah Aliya. Pa Rahman pun bercerita almarhum ayahnya sering datang ke rumah Pa Rahman untuk mendalami agama, hanya sajah sebulan saat sebelum meninggal ayahnya menitipkan sebuah wasiat, ayahnya meminta kepada beliau pa Rahman untuk mengajarkan perihal agama kepada anak-anaknya karena almarhum sadar betul belum mampu mengajarkannya pada mereka sehingga anak-anaknya lupa akan kepada saudaranya sendiri.
Aliya yang tengah duduk di kursi paling tengah, menundukan kepalanya, ingat sosok almarhum ayahnya dan di sisi lain dia masih kesal dengan tingkah laku Aldi.
Mutia yang senang hal itu, dia mau di bimbing masalah agamanya oleh pa Rahman. tapi Aliya yang masih kesal kepada anaknya pa Rahman yaitu Aldi, menolak keras. Aliya mengatakan bahwa ayahnya sudah cukup mengajarkan anak-anaknya agama, dia tidak percaya dengan omongan dari pa Rahman. itu sesuatu yang mengada-ada, almarhum ayahnya begitu sempurna di mata Aliya.
Aldi yang tidak terima bahwa ayahnya di bilang pembohong, dia menyangkal semuanya dan dia jadi saksinya bahwa almarhum orang tua Aliya benar berbicara begitu. Mutia yang percaya kepada pa Rahman mencoba membujuk kakanya dan menyatakan bahwa pa Rahman ini ga pernah bohong, dia berani mengatakan itu karena Mutia cukup kenal dengan pa Rahman, terlebih lagi Mutia anak yang paling dekat sama orang tua nya. saat semua kakanya tidak tinggal bersama keluarga nya, Mutia dan ibunya lah yang sering mendengar cerita ayahnya.
Tapi kembali Aliya menyangkal dan memarahi adiknya itu, "ayah bukan seorang pria yang lemah, dia lelaki tangguh karena itu ibu mau hidup bersama dengan ayah. jadi ga mungkin ayah menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain" begitu kata aliya.
__ADS_1
Situasi yang semakin kurang membaik karena perbedaan pendapat, pa Rahman akhirnya memutuskan untuk pamit dan memutuskan dengan bijak dari ucapannya. "Mungkin hal ini alangkah baiknya kalian selsaikan secara baik-baik, untuk saya pribadi. saya hanya menyampaikan wasiat saya kembalikan lagi kepada keluarga almarhum apakah mau atau tidak nya itu silahkan, jika memang mau insyaallah saya siap jika tidak ya engga apa-apa" kata pa Rahman.
Mendengar ucapan dari pa Rahman itu Aliya dan Mutia sedikit mencair dan mulai saling memikirkannya. dan pa Rahman dan keluarga nya pamit dari rumah aliya.