
Waktu malam kini sudah habis, hari pun sudah berganti. Orang-orang yang berada di rumah Aliya tadi malam beristirahat dengan cukup. Bagas pun pamitan untuk pergi kerja sangat pagi sekali, maklum dia seorang pedagang yang tiap harinya buka grosir di area pasar. dia pergi setelah shalat subuh. memang kondisi hari ini kurang baik, tengah malam tadi hujan belum berhenti sampai pagi ini.
Setelah suami Mutia pergi berangkat kerja, badan Mutia terasa panas dingin. mungkin karena faktor cuaca yang kurang baik.
..."ka... apa kaka ga ngerasa dingin" tanya Mutia kepada Aliya, sambil dia menutup pintu...
......"ga terlalu" jawab aliya sambil berjalan menuju kursi dengan membawa secangkir kopi......
......"mending kamu bikin kopi gih... biar aga angetan" ujar aliya......
..."aku coba" jawab Mutia dan dia pergi ke dapur untuk membuat kopi....
Kopi di minum sedikit-sedikit oleh Aliya sampai habis setengah gelas, sesekali dia menghela nafasnya, dia berfikir harus mencari kerja kemana??
Aliya mengambil handphone nya, satu persatu dia mengontak teman-temannya, meminta informasi dan saran buat dia mencari uang buat hidupnya.
Mutiapun menghampiri Aliya dan duduk di samping Aliya.
..."gede banget gelasnya ti...??" tanya aliya kepada Mutia...
......sambil heran "memang kenapa gitu ka..??" Mutia bertanya kembali......
..."coba rasain kopinya" kata Aliya sambil tersenyum...
..."owalah.... ga ada rasanya, kebanyakan aku ngasih airnya" jawab Mutia sambil tertawa...
..."udah minum tuh bekas kaka ajah" ujar aliya sambil menggelengkan kepala...
Mutia meminum sedikit kopi punya aliya, tiba-tiba Mutia merasa mual dan kepalanya aga puyeng. dia pun segera ke air dan muntah
Keringat dingin ke luar, Aliya yang berada di luar kamar mandi panik, apa yang terjadi dengan adiknya.
__ADS_1
..."ka... aku tidur dulu ya, kayanya aku kurang istirahat" kata Mutia...
..."iya ti... istirahat dulu" jawab Aliya...
..."kakak telepon bagas ya" kata Aliya...
..."ah... ga usah nanti dia kerjanya ga tenang" kata Mutia sambil pergi ke kamar tidur...
selagi Mutia tidur dan anak-anak aliya pun masih pada tidur, aliya menyiapkan sarapan. waktu seperti cepat bergulir, walaupun menjelang siang langit masih tetap mendung. hujan masih turun.
Sarapan sudah jadi dan sudah di hidangkan, Aliya membangunkan ke dua anaknya dan Mutia. mereka pun bangun dan menuju meja makan untuk sarapan. hanya mutia saja merasa kedinginan. tidak tahan dengan rasa dinginnya Mutia mengambil jaket di tasnya, tapi sayang jaketnya ga kebawa. akhirnya dia mengganti bajunya dengan stelan hijab rumahan, seperti dia saat menerima tamu.
Mutia memang satu-satunya dari keluarga nya yang berhijab, dari dulu ga pernah menampakkan auratnya sama bukan muhrimnya. terlihat wanita baik, anggun dan lugu.
Kali ini semua yang ada di rumah mensyukuri atas kenikmatan yang Tuhan berikan pagi ini, menyantap sarapan yang sudah di sediakan oleh Aliya.
Seperti biasa layaknya suami istri, Mutia ingat kepada suaminya dan menelepon suaminya untuk menanyakan kabar, apakah dia sudah sarapan atau belum.
..."percuma di hijab, jika kelakuannya ga pernah dia jaga" kata yang terucap di dalam hati aliya...
Kali ini aliya sangat sensi melihat adiknya, dan semuanya tidak ada yang sadar bahwa suasana hati Aliya sedang kacau. semenjak kejadian kemarin Aliya masih kebayang kagetnya hari itu.
Dengan suasana hati yang kurang baik. tak ingin menghabiskan waktu aliya kembali beres-beres rumah di lantai dua.
Dan Mutia hari ini karena badannya kurang fit, dia hanya bisa tiduran di sopa.
Terlihat oleh Aliya, Mutia sedang berbaring di sofa, Aliya semakin kesal dengan adiknya.
Dengan sengaja Aliya menyimpan buku dengan sedikit membanting buku ke meja di depan Mutia. serentak Mutia kaget.
Mutia menyadari hal itu, mutia memaksakan bangun, ingin membantu kakaknya yang mungkin sangat kelelahan.
__ADS_1
tapi apalah daya, Mutia malah kembali perutnya mual-mual. dan mualnya itu terdengar oleh Aliya yang sedang membereskan rumah di lantai dua.
Diam-diam Aliya menelepon bagas, dan sedikit memprovokasi suami Mutia itu. tapi memang rasa sayang yang sangat sempurna. bagas menutup grosirnya dan berniat akan pulang kembali.
cuman ada yang janggal, bagas menelepon dulu kepada Mutia
..."dek... kamu kenapa?? mas pulang yah, ga enak hati" kata bagas berbicara di telepon...
......karena mutia tak ingin merepotkan suaminya, dia bilang "mas... aku ga apa-apa cuman kecapean, waktu malem mas minta jatah jadi kurang tidur ajah" ......
setelah bagas menelepon istrinya, bagas kembali buka grosir nya dan melanjutkan pekerjaannya.
di samping itu mutia kecewa dengan sikap kakaknya, karena diam-diam dia menelepon bagas. tapi Mutia beristigfar tak mau hatinya terkotori, mutia hanya menyalahkan dirinya, dan dia menyadari bahwa kondisi dirinya merepotkan kakaknya.
Lama-lama Mutia makin terasa pusing, tapi masih tetap di paksakan. untuk membantu kakaknya, dan Mutia pun pingsan tapi untungnya jatuh ke sofa dan dia tertidur di sofa.
Donnie yang sedang bermain tak sengaja melihat tantenya yang tiba-tiba jatuh ke kursi, penasaran donnie pun mendekati Mutia yang sedang pingsan. Donnie mengira bahwa tantenya itu meninggal, karena sewaktu ayahnya meninggal donnie melihat nya seperti itu.
Tapi dengan kecerdasan nya donnie, karena iya pun sering melihat di tv atau informasi dari teman nya, iseng dia cek urat nadinya. ternyata masih berdetak. donnie pun aga tidak terlalu panik dan sedikit lega. bahwa tantenya lagi tidur.
Donnie yang usianya sangat kecil, dia tidak tau kalau itu namanya pingsan. jadi donnie kembali bermain dengan adiknya. saat itu juga putri ingin pergi keluar tapi di tahan sama donnie dan akhirnya terjadi keributan di lantai satu.
Aliya yang berada di lantai dua, makin menjadi-jadi kemarahannya. di tambah lagi aliya melihat ketika ke dua anaknya ribut, Mutia hanya tidur saja di kursi sofa.
saat kondisi itu Aliya yang tak pernah memarahi ke dua anaknya. tiba-tiba Aliya pergi ke bawah dan memarahi putri, serentak putri nangis dengan keras sambil memanggil ayahnya.
Tangisan putri membangunkan Mutia yang sedang pingsan. dengan pandangan yang muter-muter Mutia bangun melihat kejadian itu.
dengan reflek Mutia menggendong putri dan menyuruhnya untuk tidak nangis lagi.
Mutia semakin sadar dengan kondisi mentalnya sang kakak. Mutia memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. tanpa panjang lebar dia pun mengemas pakaiannya ke dalam tas. lalu memesan ojek online. karena cuaca masih hujan Mutia kesulitan mendapatkan ojek online. karena hal itu pula Mutia mengundurkan niatnya untuk pulang ke rumah. dia nunggu hujannya reda.
__ADS_1