
Mengambil kuliah jurusan kedokteran mulai membuat Riki menyesal, dia tidak tahu kalau akan ada praktik membedah mayat.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar praktik membedah mayat," kata dosen mereka dengan senyum lebar.
Riki terkejut mendengar pengumuman tersebut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kuliah kedokteran akan melibatkan praktik membedah mayat.
Ia mulai merasakan penyesalan yang mendalam karena tidak mempertimbangkan dengan cermat sebelum memilih jurusan ini.
Saat praktik dimulai, Riki takut dengan apa yang akan ia hadapi. Ia mengingat semua film horor yang pernah ia tonton dan membayangkan adegan menyeramkan di dalam ruang bedah.
Ia berusaha untuk tetap tenang dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini adalah bagian dari proses pembelajaran.
Ketika melangkahkan kakinya ke dalam ruang bedah, Riki merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut dan fokus pada tugasnya.
Ia berdiri di samping meja operasi, melihat mayat yang telah disiapkan untuk praktik.
Pandangan Riki tertuju pada instrumen medis yang berjejer rapi di atas meja. Ia tahu bahwa praktik ini penting untuk memahami anatomi tubuh manusia dan mengembangkan keterampilan operasi.
Namun, rasa takutnya tetap mempengaruhi pikirannya.
"Host, ternyata Anda bisa takut juga ya?" kata Lala mengagetkannya.
"Gimana kalau mayat ini bangun?" ucap Riki berkeringat dingin.
"Maka dia akan menangkapmu!" ujar Lala sengaja menakutinya.
Riki hampir saja berteriak ketakutan, tapi dia berhasil mengendalikan dirinya lagi.
Praktik dimulai, dan Riki berusaha untuk mengontrol emosinya. Ia berpegang pada keyakinannya bahwa ini adalah proses pembelajaran yang harus dilalui.
Melihat instrumen medis yang diberikan oleh dosen, ia memulai dengan hati-hati.
Ia memeriksa dan mempelajari tubuh mayat dengan seksama, mencoba memahami setiap bagian dengan baik.
Semakin lama Riki melibatkan diri dalam praktik ini, ia merasa lebih baik.Ia menyadari bahwa praktik membedah mayat adalah bagian penting dari pendidikan kedokteran.
Setelah pelajaran selesai, Riki dan yang lainnya tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak muntah.
Kemudian, Riki bertemu lagi dengan Susan yang wajahnya sama-sama terlihat pucat.
"Tadi kamu sangat tenang sehingga dosen memujimu. Aku tidak tahu bahwa kamu juga menghadapi kesulitan yang sama seperti yang aku punya," ucap Susan dengan rasa kagum.
Riki tersenyum kecil. "Awalnya memang sulit, tapi aku belajar untuk mengatasi ketakutan dan menjalani proses ini dengan pikiran terbuka. Aku yakin ini adalah bagian penting dari pendidikan kami sebagai calon dokter."
__ADS_1
Susan mengangguk, mengerti kata-kata Riki. "Kamu benar, ini memang pembelajaran yang berharga. Kita harus belajar untuk mengendalikan emosi dan mencoba memahami setiap aspek profesi ini."
"Andai dia tahu kalau Host dibantu oleh sistem," sindir Lala setelah Susan pergi.
"Aku akui diriku bisa membedah mayat dengan baik itu karena bantuan sistem, tapi tetap saja aku merasa mual dan tidak nafsu makan jika terbayang hal itu lagi," ungkap Riki.
[Ding! Misi baru telah dibuat]
Belum juga Riki membaik dari kondisinya yang lemas dan mual, sistem malah memberinya misi baru.
[Memulai Transfer Jiwa]
[Proses : 1%, 10%, 60%, 100%]
[Transfer berhasil]
Sekali lagi, Riki terbangun di tubuh milik orang lain dan terjebak situasi yang tidak menguntungkan.
"Lala, apa aku kembali ke dunia dewa?" tanya Riki bingung, di depannya berdiri beberapa monster mengerikan.
"Bukan, Host. Kali ini kamu masuk dunia yang mirip negeri fantasi. Di sini, kamu bisa menggunakan sihir," jelas Lala.
Setelah mendengar penjelasannya Riki pun paham, tapi dia baru saja melakukan kesalahan fatal.
"Jangan bilang tongkat kecil yang barusan itu adalah tongkat sihir seperti milik Harry Potter," kata Riki yang malah melempar tongkat tersebut ke arah monster-monster itu sebelum Lala selesai menjelaskan.
Dengan tongkat tersebut, setidaknya Riki dapat mencoba kekuatan sihir tanpa mengkonsumsi poin skillnya.
"Ah, tidak pilihan lain. Aku harus menggunakan poin skill untuk menghadapi monster-monster bermuka babi ini," kata Riki bersiap.
Riki pun segera menggunakan poin skillnya untuk menggunakan sihir serangan agar dapat menghadapi monster yang mengepungnya.
Dalam cerita fantasi, monster yang dihadapi Riki adalah ras Orc.
Ras Orc dikenal sebagai makhluk kuat dan ganas. Mereka memiliki tubuh yang besar dan kekuatan fisik yang luar biasa. Riki tahu bahwa dia harus menggunakan strategi yang cerdas untuk melawan mereka.
Riki lalu mengaktifkan poin skillnya yang berfokus pada serangan jarak jauh. Dia memilih sihir serangan api, yang tidak hanya akan memberikannya keuntungan jarak, tetapi juga efektif melawan musuh tipe Orc yang rentan terhadap elemen api.
[Ding! Kemampuan sihir telah digunakan]
[-100 Poin Skill]
[Sisa Poin : 1.400 Poin Skill]
Dengan memusatkan energi magisnya, Riki meluncurkan serangan api besar-besaran ke arah kelompok Orc yang menyerangnya.
__ADS_1
Serangan itu menghantam mereka dengan keras, menghasilkan ledakan besar yang membuat beberapa Orc terbakar dan terjatuh.
Namun, serangan itu hanya merusak beberapa Orc saja. Beberapa dari mereka berhasil menghindar atau melindungi diri mereka sendiri.
Riki sadar bahwa dia harus bertindak cepat dan tidak memberi mereka kesempatan untuk pulih.
Riki mengulangi serangan serupa dengan cepat. Dia meluncurkan sihir serangan api yang terus menerus, mengurangi jumlah Orc yang menyerang satu per satu.
[Ding! Kemampuan sihir telah digunakan]
[-300 Poin Skill]
[Sisa Poin : 1.100 Poin Skill]
Beberapa dari mereka mencoba melawannya dengan serangan fisik dan senjata mereka, tapi Riki telah menguasai keahliannya dalam pertarungan jarak jauh yang membuatnya sulit dijangkau.
Setelah beberapa waktu berlalu, Riki berhasil mengalahkan seluruh kelompok Orc yang mengepungnya.
Dia mengambil napas dalam-dalam, merasa lega karena berhasil menghadapi monster-monster bermuka babi tersebut dengan poin skillnya.
[Ding! Berhasil mengalahkan kelompok Orc]
[+750 Poin Skill]
[Sisa Poin : 1.850 Poin Skill]
Namun, setelah pertarungan tersebut selesai, wajah Riki malah terlihat cemberut.
"Poin Skill yang digunakan kok mahal banget!" keluh Riki.
"Suruh siapa membuang tongkat sihir itu tadi!" sindir Lala.
Riki pun segera mencari di mana keberadaan tongkat sihir itu jatuh, tapi tongkat itu sudah patah menjadi dua ketika Riki menemukannya.
"Selamat Host, mulai sekarang kamu harus mengalahkan banyak monster untuk mendapatkan banyak poin, setidaknya sampai kamu mendapatkan tongkat baru," kata Lala terkekeh.
Riki terpaksa menerima situasinya karena itu memang adalah kesalahannya sendiri.
[Transfer ingatan selesai]
"Ah, jadi pemilik tubuh ini adalah siswa terbodoh dan lemah dari akademi sihir di dunia ini. Dia baru saja dijebak dan ditinggalkan oleh murid lainnya di hutan wilayah monster ini," kata Riki setelah mendapat ingatan dari pemilik tubuh.
Namun, Riki tiba-tiba mendapat serangan sihir api dari belakang.
Dia berhasil menghindar dengan jongkok, tapi rambutnya sedikit terbakar.
__ADS_1
"Vangke! Siapa itu?!" ujar Riki mencari siapa penyerangnya.
Bersambung.