
[Selamat, Host berhasil bertunangan dengan gadis tercantik di Ignisia]
[+ 500 Poin Skill telah ditambahkan]
[ Total : 5.500 Poin Skill]
Fakta bahwa Iris adalah wanita tercantik di Negeri Kerajaan Ignisia itu tak terbantahkan.
Banyak yang menginginkannya untuk dijadikan istri, tapi Iris hanya bersedia menikahi pria yang mampu mengalahkannya.
Sejak dari lama ini menjadi persaingan yang belum siapa pun dapat memenangkannya.
Namun, siapa pun tidak akan mengira jika pada akhirnya sang bidadari jatuh ke pelukan murid akademi terlemah seperti Riki.
Setelah pesta pertunangannya berlalu, Riki masih tidak percaya dengan keadaan tersebut.
Kemudian, Riki mengajak Iris ketemuan untuk membahas pertunangan mereka.
"Iris, apa ini benar-benar tidak masalah kamu bertunangan denganku?" tanya Riki.
Iris tersenyum lembut, matanya penuh dengan kebaikan. "Riki, aku tahu bahwa pada awalnya aku hanya memenuhi janjiku. Namun, hatiku benar-benar tersentuh ketika duel melawanmu."
Riki terkejut mendengar kata-kata itu dan ia merasa hangat di hatinya. "Apa yang kamu lihat padaku, Iris? Aku hanyalah seorang murid biasa di akademi. Aku menang melawanmu karena beruntung."
Iris menggenggam tangan Riki dengan lembut. "Kamu tidak perlu merendah. Aku tidak akan memaksakan jika kamu memang tidak ingin meneruskan pertunangan ini."
Sebagai laki-laki normal, Riki tampak senang jika memang bisa mendapat wanita secantik Iris.
"Siapa yang bisa menolak wanita secantik dan sekuat dirimu," kata Riki sangat jujur.
Iris tersenyum lagi, "Berhenti mengatakan itu!" katanya tersipu malu.
Setelah mengobrol dengan Iris, Riki kembali ke akademi.
"Jadi, misi aku sekarang apa?" tanya Riki kehilangan arah.
"Misi kamu sekarang telah diubah," jawab Lala.
Sejak Roki muncul, semuanya menjadi kacau, termasuk daftar misi yang menjadi agenda Riki ke depannya.
Karena itu, Riki menjadi bingung karena sistem belum memberi informasi baru mengenai misinya.
Namun, kabar mengenai bangkitnya raja iblis telah sampai ke pihak Kerajaan Ignis dan Akademi Magic sky clouds.
Dengan begitu, pihak Kerajaan Ignis dan kerajaan lainnya mulai mengirim pasukannya ke wilayah perbatasan.
Tidak hanya itu, pihak akademi sihir juga telah memilih murid-murid terbaiknya untuk ikut membantu pasukan kerajaan.
Mereka semua telah dikumpulkan dan besok pagi baru pergi ke wilayah Elvina.
Wilayah Elvina sendiri dihuni oleh berbagai ras, seperti elf, demi human, manusia, dan ras lainnya.
Riki, setelah menang duel melawan kesatria terbaik Ignisia, Iris, namanya ikut tercampur dalam daftar murid akademi yang terpilih untuk berangkat ke Kota Alvina.
Setiba di kota perbatasan Alvina, Riki melihat benteng yang berbatasan langsung dengan wilayah iblis.
__ADS_1
Di sana, tampak para prajurit dari berbagai kerajaan dan ras saling bahu membahu menghadapi gelombang pasukan raja iblis.
Mereka bertarung dengan gigih, menggunakan keahlian dan sihir yang dimiliki untuk melawan kekuatan jahat yang ingin menguasai wilayah tersebut.
Riki merasa tegang namun juga termotivasi untuk ikut berjuang bersama pasukan kerajaan.
Ia ingin membuktikan kemampuannya sebagai seorang murid akademi sihir dan membantu memenangkan pertempuran melawan raja iblis.
Riki berdiri di atas benteng, mengayunkan tongkat sihirnya untuk menyerang iblis yang menyerbu. Namun, ia mulai merasa situasinya kurang menguntungkan.
Ketika Riki menggunakan kekuatan asli pemilik tubuh, kekuatannya itu tidak seberapa dan mana atau energi sihirnya sangat terbatas.
Selain itu, kekuatan pemilik tubuh belum seberapa sehingga Riki kesulitan untuk menghabisi satu pun iblis yang menyerbu.
Sebaliknya, Riki dapat menggunakan kekuatan dari sistem dan memberikan serangan mematikan.
Namun, hal itu sangat menguras Poin Skill miliknya jika digunakan secara terus menerus.
Mengalahkan monster iblis hanya mendapat 5 poin skill, sementara poin yang digunakan untuk mengaktifkan kekuatannya membutuhkan minimal 10 poin skill.
Jelas-jelas Riki hanya merugi, meskipun ia sudah mencoba memungut kristal-kristal sihir dari monster iblis yang ia kalahkan untuk ditukar dengan poin skill.
Kemudian, ia juga tidak bisa terus-menerus mengandalkan Mochi dan Gon.
Memanggil mereka menghabiskan cukup banyak poin skill dan memiliki batas waktu tertentu untuk mereka berada di dunia ini.
Poin Skill Riki benar-benar akan habis jika terus memanggil mereka.
"Tidak berguna!" ujar Riki seraya mematahkan tongkat sihirnya dan membuangnya ke kerumunan monster iblis yang sedang berusaha memanjat benteng.
"Host, kamu kenapa?" tanya Lala.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" sahut Riki.
"Jangan pura-pura enggak tahu! Lihat poin skillku tinggal 2000!" keluh Riki.
Sementara itu, orang-orang di sekitarnya mulai menganggap Riki gila.
Mereka tidak bisa melihat Lala sehingga mengira Riki bicara sendiri.
"Mungkin dia sudah kena mental karena gelombang pasukan iblis ini tiada hentinya berdatangan!" ucap seorang prajurit berspekulasi menurut pikirannya sendiri.
"Apa aku sebentar lagi akan menjadi gila juga?" ucap salah satu murid dari akademi yang datang bersama Riki.
Kembali pada Riki yang saat ini tiba-tiba mendapatkan ide gila.
"Benar juga! Kenapa aku tidak kepikiran itu!" ujar Riki.
Riki pun meminta izin kepada pemimpin pasukan karena ia ingin segera merealisasikan ide yang baru saja terpikirkan olehnya.
"Baiklah, lagipula sebentar lagi memang sudah waktunya pergantian tugas," ucap komandan pasukan memberi izinnya.
Gelombang pasukan iblis yang menyerang tiada hentinya membuat pasukan pertahanan membagi shift agar bisa istirahat.
Mereka harus menjaga tetap prima dan fokus agar tidak ada monster iblis yang berhasil menerobos.
__ADS_1
Satu-satunya keuntungan yang mereka miliki adalah fakta monster iblis itu hanya menyerang seperti hewan buas karena tidak memiliki kecerdasan.
Meski demikian, mereka harus waspada jika sewaktu-waktu monster bos atau jendral mereka muncul.
Monster Jendral iblis memiliki kekuatan yang mengerikan dan mereka punya pikiran atau akal sehingga sulit dihadapi.
"Baiklah, aku hanya punya waktu enam jam sebelum kembali bertempur di benteng perbatasan," kata Riki ketika sudah kembali ke area perkotaan Alvina.
"Kamu mau ngapain sih?" tanya Lala penasaran.
"Kamu lihat saja nanti!" jawab Riki.
Enam jam kemudian.
Tampak Riki berdiri dengan gagah berani di atas benteng pertahan dan ia juga berpenampilan aneh.
"Matilah kalian!" teriak Riki yang ternyata membawa senapan mesin untuk menembaki monster-monster iblis itu.
Dereded! Derered!
Riki terlihat sangat menikmatinya, ia bercosplay ala Rambo, lengkap dengan rambut panjang, ikat kepala, senapan mesin, dan coretan jari di pipinya.
"Awas ledakan!" teriak Riki yang punya beberapa granat juga.
Beberapa orang yang melihatnya hanya terkesima dan sudah yakin bahwa Riki benar-benar menjadi gila.
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
[+5 Poin Skill telah ditambahkan]
Lala hanya bisa geleng-gelang kepala dan tidak pernah menyangka Riki akan berbuat sejauh itu.
Beberapa jam sebelumnya, Riki menggunakan Poin Skillnya untuk merakit beberapa senjata modern.
Dia bahkan tidak membutuhkan peralatan atau menyewa pandai besi karena ia memanfaatkan sihirnya.
"Senjata yang bocah itu gunakan sungguh luar biasa!" ujar seorang prajurit dari ras Dwarft atau kurcaci.
Dwarf tersebut tertarik dan ingin Riki mengajarinya untuk membuat senjata tersebut.
"Hahaha! Hahaha!" Riki tanpa ampun menghujani monster iblis dengan pelurunya dan mendapatkan poin skill sangat banyak.
Namun, peluru yang dia miliki akhirnya habis juga.
"Anak muda, apakah kamu bisa memberi tahu tentang senjata yang kamu gunakan?" tanya Dwarf tadi.
Riki tersenyum karena mengenali ras prajurit tersebut. Dalam benaknya, Riki berpikir bisa mendapatkan keuntungan jika Dawf tersebut membantunya membuat senjata serta pelurunya.
"Bagus kamu datang. Aku memang ingin mengajakmu bekerja sama!" kata Riki tersenyum lebar.
Dwarf tersebut merasa firasat aneh ketika Riki tersenyum padanya.
__ADS_1
Bersambung.