Sistem Murid Bodoh

Sistem Murid Bodoh
36 : Akademi pahlawan.


__ADS_3

Peran terbalik akhirnya terhenti setelah menaklukan tower dungeon pertama. Meski begitu, dunia ini masih dipenuhi monster dan masih tersisa beberapa menara tower lagi yang harus ditaklukan.


"Lia, bangunkan dia!" ujar Pak Guru Han.


"Tidak perlu, Pak. Saya sudah bangun!" sahut Riki.


Lagi dan lagi, Riki kembali ke titik awal, tepatnya kembali ke momen ketika ia mendapat sistem untuk pertama kalinya.


"Pengulangan ini mulai membosankan!" gumam Riki.


"Kau! Kenapa tidak serius mengikuti kelas?" kata Pak Han tampak marah kepada Riki.


Kemudian, Riki diminta untuk menjawab pertanyaan dari Pak Han sebagai hukuman.


"Sekarang jelaskan pada kami, apa kelemahan dari monster iblis tingkat ketiga?" tanya Pak Han.


Gin tiba-tiba mengangkat tangannya. "Pak Han, dia adalah calon pahlawan yang lemah dan bodoh. Hukum saja dia karena tidak disiplin dan tidak menghormati kelas Anda."


Pak Han tersenyum tipis. "Kamu benar. Jika Riki tidak bisa menjawabnya, nanti akan saya hukum untuk membersihkan seluruh toilet sekolah!"


Riki terkejut mendengar ancaman tersebut, namun dia sudah banyak pengalaman melawan monster iblis sekarang.


"Dalam pertarungan melawan monster iblis tingkat ketiga, kelemahannya adalah pada kecepatannya yang lambat. Monster ini memiliki serangan yang kuat, tetapi gerakannya lambat dan mudah diprediksi. Jadi, strategi yang tepat adalah dengan menggunakan serangan yang cepat dan mengambil keuntungan dari ketidakcanggihan gerakan monster tersebut," jawab Riki dengan mantap.


Pak Han mengangguk mengiyakan. "Jawabanmu benar, Riki. Kehadiranmu dalam kelas sangat penting untuk menjadi pahlawan yang kuat. Jadi, jangan lupakan disiplin dan hormat pada guru. Sekarang, mari kita lanjutkan pembahasan kita," ucap Pak Han sambil tersenyum puas.


[Ding! Berhasil menjawab pertanyaan Pak Han]


[+5 Poin]


[Total : 50.465 Poin Skill]


"Akhirnya kamu muncul, Lala! Apa kamu bisa jelaskan kenapa selalu kembali ke titik ini lagi?" ucap Riki lewat telepati.


"Semua itu karena ruang dan waktu dikacaukan oleh Roki. Tapi, pihak kami sudah berusaha keras memperbaiki ini," jawab Lala.


Lala menjelaskan bahwa pengulangan akan terjadi sekali lagi jika dunia ini benar-benar kembali normal.


Namun, Riki harus mengalahkan Roki jika ingin semua itu terwujud.


"Apa sekolah ini sekarang berubah menjadi akademi pahlawan?" gumam Riki ketika melihat perubahan yang terjadi.


Setelah kelas selesai, Riki melihat teman-temannya adalah calon pahlawan yang memiliki kekuatan super.


Ada yang punya kekuatan untuk terbang, ada yang punya kekuatan super kecepatan, ada yang punya kekuatan super kekuatan fisik, dan ada juga yang punya kekuatan super manipulasi elemen.


Riki merasa kagum dan iri pada teman-temannya yang begitu kuat dan berbakat. Ia sendiri merasa bahwa dirinya adalah orang biasa tanpa kekuatan super apapun jika tak ada sistem.


Riki pun memutuskan untuk mencari tahu apa kekuatan super yang dimilikinya. Ia berpikir bahwa mungkin saja kekuatannya belum terungkap atau masih tersembunyi.


Ia mulai melakukan berbagai eksperimen dan latihan untuk menggali potensinya.


"Host, jangan bilang kamu ingin punya kekuatan agar tidak perlu menggunakan poin skill?" singgung Lala.


"Ya begitulah!" jawab Riki tidak membantah.


Tiba-tiba Lia menghampiri Riki yang sedang rebahan di bawah pohon pinggir lapangan, tempat favoritnya Riki.

__ADS_1


"Riki, apa kamu kesal karena belum bisa membangkitkan kekuatan supermu sehingga terus diremehkan banyak orang?" tanya Lia.


"Tidak," jawab Riki singkat.


"Terus kenapa belakangan ini kamu tampak tidak bersemangat mengikuti pelajaran dan pelatihan sekolah kita?" tanyanya lagi.


"Tenang saja, Lia. Aku hanya sedang memiliki beberapa masalah, tapi kamu tidak perlu khawatir padaku," jawab Riki berusaha menenangkannya.


Tak jauh dari situ, Otto memperhatikan dengan tatapan sinis dan penuh amarah.


"Hei murid lemah! Berhenti mendekati gadisku!" ujarnya tampak sudah sangat kesal.


"Hei, Otto! Siapa yang gadismu?" protes Lia tidak terima.


"Lia, apa kamu buta? Dia murid lemah dan tidak akan bisa melindungi kamu di masa depan!" sahut Otto.


"Aku tidak perlu dilindungi! Sebaliknya, aku lah yang akan melindunginya!" tegas Lia.


Riki menghela napas, kejadian ini pernah terjadi sebelumnya dan ia merasa malas meladeninya.


"Setidaknya sekarang keadaannya lebih normal. Tapi, kalau Lia sampai melindungiku, itu sama saja kaya sebelumnya," pikir Riki, teringat tentang keadaan dunia yang terbalik sebelumnya.


"Kalau aku dekat dengannya, memang apa urusanmu?" tanya Riki, tidak ingin diremehkan.


"Hei kau, beranikah kau terima tantangan duel dariku? Akan kubuktikan kalau kau lemah dan tidak layak untuknya!" tantang Otto.


"Boleh... jangan menyesalinya jika kau kalah nanti!" ujar Riki.


"Hahaha. Seharusnya aku yang bilang begitu!" sahut Otto tertawa dengan tatapan merendahkan.


Akhirnya mereka sepakat untuk berduel di arena milik sekolah yang khusus untuk latihan bertarung sepulang sekolah nanti.


"Lia, percaya saja padaku! Aku akan memberimu sebuah kejutan nanti!" jawab Riki percaya diri.


Ketika berjalan menuju arena duel, Riki mengamati keadaan sekolahnya yang benar-benar berbeda.


Gedungnya lebih besar dan megah, bahkan melebihi akademi sihir di dunia lain yang pernah Riki kunjungi.


"Di sini kah tempat duelnya?" gumam Riki merasa takjub.


Riki tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi komputer dan alat-alat canggih lainnya.


Dia sempat mengira arena duelnya akan seperti arena gladiator. Namun, ia malah akan berduel menggunakan mesin simulasi.


"Lala, bukankah ini hebat?" kata Riki saat mengenakan kostum khusus untuk duel simulasi.


Pak Han dan Ibu Lan Lan turut hadir untuk mengawasi duel tersebut sebagai penanggung jawab.


"Apa dia beneran ingin bertarung melawan Otto?" kata Pak Han sedikit terkejut. "Tapi kekuatannya lemah dan pasti akan kalah!"


"Biarkan saja, Pak Han. Mereka masih muda dan sangat bersemangat. Lagian, di ruang simulasi mereka tidak akan terluka," kata Ibu Lan Lan.


"Ya, kamu benar. Mereka akan bertarung menggunakan tubuh simulasi," kata Pak Han mengangguk. "Namun, mereka akan tetap merasakan sensasi kesakitan ketika tubuh avatarnya terluka. Selain itu, tubuh avatar mengambil data dari tubuh asli pengguna, jadi Riki benar-benar akan kalah dalam duel ini!" tutur Pak Han meragukannya.


Sementara itu, Riki sudah memasuki ruang virtual dan sebentar lagi akan segera bertarung melawan Otto.


"Keren! Rasanya seperti bermain game virtual reality!" ujar Riki kagum.

__ADS_1


"Perhatian! Satu menit lagi duel akan dimulai, harap segera bersiap!" kata Pak Han lewat mikrofon khusus sehingga Riki dan Otto dapat mendengarnya di ruang virtual.


"Semoga Riki baik-baik saja!" gumam Lia yang menonton dari layar bersama Pak Han dan Ibu Lan Lan.


"Jadi pertarungan ini bukan satu lawan satu, tapi bersaing siapa paling banyak mengalahkan monster simulasi?" kata Riki sedikit kecewa.


Hitung mundur telah dimulai dan monster simulasi mulai bermunculan di depan Riki.


Riki menghela nafas dan mempersiapkan dirinya untuk pertarungan.


Meskipun awalnya kecewa dengan aturan pertarungan ini, dia tetap bersemangat untuk menunjukkan keterampilannya dalam mengalahkan monster simulasi.


Dengan sigap, Riki melompat ke udara dan mulai melancarkan serangan ke monster yang muncul.


Dia menggunakan pedangnya dengan keahlian yang tidak diragukan lagi, memotong dan menyerang dengan kecepatan yang mengagumkan.


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


Monster demi monster berhasil dikalahkan oleh Riki, yang semakin lama semakin termotivasi untuk menjadi yang terbaik dalam pertarungan ini.


Meski hanya simulasi, ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengalahkan sebanyak mungkin monster.


Dalam suasana yang semakin panas, Riki menggunakan berbagai keterampilan dan strategi untuk memaksimalkan efektivitas serangannya.


Dia menghindari serangan monster dengan lincah, mengamati pola serangan mereka, dan menyerang dengan tepat pada saat yang tepat. Kekuatan dan kelenturannya membuatnya menjadi lawan yang tangguh bagi monster simulasi.


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


[-5 Poin Skill telah digunakan]


Momen demi momen, Riki terus mengalahkan dan melewati lebih banyak monster. Desingan pedangnya memotong udara, serangan-serangan bertubi-tubi meluncur keluar dari tangannya, dan monsternya berjatuhan seperti daun di angin.


Waktu berjalan, dan semakin banyak monster yang Riki kalahkan, semakin besar kepuasan yang ia rasakan.


"Host, kamu benar-benar bersenang-senang!" kata Lala.


"Gila! Ini kaya main game sih!" sahut Riki sangat senang.


Saat hitungan mundur mencapai akhir, Riki yang berdiri tegak memandang monsternya yang terakhir dengan wajah puas dan rasa percaya diri yang tinggi.


"Luar biasa! Apakah dia sudah membangkitkan kekuatannya, Pak Han!" komentar Ibu Lan Lan.


"Pak Han?" ucap Ibu Lan Lan heran kenapa Pak Han diam saja.


"Eh?" Ibu Lan Lan terkejut melihat Pak Han terkesima dengan aksi Riki.


Pak Han tidak berkedip sama sekali dan mulutnya menganga tak percaya melihat pertarungan itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2