
MATA ANAK KECIL
Setiap anak kecil takut akan sesuatu di bawah tempat tidur mereka. Jika tidak, mereka takut akan sesuatu di dalam lemari, atau mungkin retakan kecil di hampir semua pintu yang tertutup.
Para ilmuwan tahu bahwa anak kecil lebih tanggap, mereka melihat hal hal yang tidak bisa orang dewasa lihat. Mereka belum ditambatkan untuk hanya menerima apa yang masyarakat ingin untuk diterima. Mereka melihat apa yang benar benar berada disana.
Mereka melihat monster.
Jika kamu meminjam mata anak kecil dan melihat dengan mata tersebut untuk semalam, kamu akan menjadi gila. Untuk dapat melihat apa yang samar-samar kamu ingat, bersembunyi ke dalam selimutmu saat mengenakan piyama, berharap ke Tuhan bahwa kamu baru saja mengetahui jika “Itu” tidak dapat melihat kamu kembali..... akan membuat orang dewasa gila. Karena orang dewasa melupakan peraturannya.
1) Tutupi dirimu dengan selimut, Jika kamu tidak bisa melihat ‘nya’, maka ‘dia’ tidak akan bisa melihatmu. Bahkan jika ini membuat kamu lebih sulit untuk bernafas.
2) Jangan membuat suara apapun. Setiap rengekan bisa memperburuk situasi.
3) Jangan bergerak. Itu dapat menarik perhatian mereka.
4) Hanya cahaya yang membuat mereka pergi. Cahaya yang terang. Senter dapat membuat ini lebih buruk.
Banyak remaja yang terperangkap di pertengahan. Mereka masih dapat merasakan apa yang berada disana, tapi mereka tidak dapat melihatnya.... Dan mereka melupakan peraturannya.
Mengapa kamu pikir banyak orang yang masih mengetik sampai larut malam seperti insomnia, sadar berharap cahaya dari monitor mereka akan cukup untuk membuat ‘mereka’ pergi?
__ADS_1
Tidak, sekarang lihat belakangmu dengan mata anak kecil dan cobalah untuk tidak berteriak...
MAUKAH KAU BERMAIN DENGANKU?
Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan pengalamanku ini, tapi aku sudah terlalu lama menyimpannya sendiri. Tidak ada seorangpun yang tahu. Tapi, sekarang aku mempercayakannya kepadamu, untuk membaca ceritaku ini. Dan cobalah berusaha untuk memahami kengerian yang ku alami. Jari-jemariku berkerut dan gemetar, air mataku terus mengalir di pipiku ketika aku berusaha untuk mengetik tulisan ini.
Ketika itu adalah malam yang sangat biasa. Aku kelelahan, pekerjaan di kantor agak membuatku sedikit stres, dan aku sangat ingin tidur.
Tapi malam ini terasa agak berbeda.
Hembusan angin sepertinya terasa mengerikan. Langit terlihat lebih gelap. Ketika aku bersantai di sofa dan menonton acara favoritku, aku melihat bayangan seperti siluet berdiri di luar jendelaku, bayangannya terlihat dari tempat ku duduk. Aku mencoba fokus! Benar-benar memperhatikan sosok apakah itu.
Tapi tidak ada apapun selain kegelapan. Aku berfikir kalau aku hanya kelelahan saja. Pekerjaanku cukup banyak hari ini, itu saja.
Ternyata itu bukan nafasku.
Aku melompat bangun dan membuka mata. Mendadak tubuhku menjadi beku ketika aku melihat seseorang di sudut tempat tidurku. Seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 6 tahun, berambut panjang yang hitam, dalam balutan gaun tidur berwarna putih. Dia menatapku tanpa berkedip dan tersenyum lebar. Dia mempunyai luka sayatan yang cukup dalam di wajahnya, tangannya yang diletakkannya disamping, terlihat penuh oleh sesuatu yang berwarna merah. Kami berdua duduk dan saling pandang beberapa waktu, sampai dia mengeluarkan jeritan yang menyeramkan. Saat itu, aku mencoba berlari menggapai pintu, tapi dia melompat ke arahku, menancapkan kukunya ke wajahku, matanya yang hitam hanya berjarak beberapa inci dari mataku dan terus menjerit dengan suara melengking. Suaranya kencang sekali, aku terus berontak dan sekuat tenaga menjauhkan dia dariku. Tapi akhirnya, kepalaku terbentur meja disamping tempat tidurku. Aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun dan mendapati diriku berada di basement yang kosong. Pakaianku masih lengkap, kecuali kaos ku. Aku berjuang untuk mendapatkan kembali keseimbanganku. Kulihat kepalaku sudah penuh dengan darah kering. Terdapat sayatan di lenganku yang bertuliskan “maukah kau bermain denganku?”. Itu terasa sakit dan perih sekali.
Lalu aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku dengan persaan takut dan horor, dan aku melihat pintu besi dengan rembesan darah dibawahnya. Perlahan aku berjalan ke arah pintu itu. Sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis yang kutemui dikamarku tadi. Walaupun diselimuti ketakutan, aku akhirnya mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
__ADS_1
Dibalik pintu itu, aku melihat pemandangan yang menyeramkan. Aku melihat banyak mayat tergeletak di ruangan yang luas itu sampai jalan menuju tangga di sudut seberang ruangan. Mayat laki-laki, perempuan, anak kecil, dan beberapa mayat lainnya terbaring disana. Ada sayatan parah dilengan mereka yang bertuliskan sama dengan yang tertulis dilenganku “maukah kau bermain denganku?”. Lalu aku memperhatikan mayat perempuan, yang tergeletak tidak jauh dari tempatku.
Leher wanita itu terkulai lemas, luka besar di perutnya menganga lebar. Ketika aku beranjak untuk lebih melihatnya lebih dekat, aku melihat truk pemadam kebakaran mainan di antara jeroannya yang hampir terburai. Aku tercekik karena ketakutan. Lalu, didekat mayat perempuan tadi, mayat seorang pria terbaring disana dengan matanya yang sudah mencuat keluar, disebelahnya terdapat pemukul baseball yang sudah patah tergeletak diatas genangan darah. Lalu ada anak kecil yang berbaring tak berdaya ditengah-tengah ruangan. Mulutnya terbuka lebar, dan terdapat truk maèinan yang sepertinya dipaksa masuk ketenggorokannya, dadanya terbelah dan jantungnya tergeletak disebelah badannya dan ditempat dimana jantungnya seharusnya berada, terdapat sebuah boneka kecil. Serta banyak mayat-mayat lain yang tak tak sanggup aku lihat satu persatu.
Aku kehilangan kontrol dan muntah. Aku menangis ketakutan, tetapi tiba-tiba satu pikiran agak menggangguku, “dimana gadis itu?”
Aku sebenarnya tak ingin tahu dimana ia berada, tentu saja. Tapi aneh saja, setelah aku sampai ditempat ini, dia malah tidak terlihat lagi. Yang kutakutkan juga, dia ada disekitar sini menunggu untuk menyakitiku. Aku mulai berpikir untuk keluar dari basement ini, maka aku berjalan menuju anak tangga. Tapi kemudian, langkahku terhenti...
Ada nafas yang berat berhembus di belakangku.
Aku menoleh dengan takut-takut. Dan di belakangku, aku melihat gadis kecil itu. Kemudian dengan suara yang dalam, dia berkata, “maukah kau bermain denganku?”
Dia mulai berteriak histeris lagi. Aku berbalik dan bersiap untuk berlari, tapi dengan sigap dia menangkapku. Kukunya yang setajam pisau mencakar punggung dan leherku. Aku berusaha melawan sekuat tenaga dan akhirnya aku berhasil menghempaskannya ke lantai.
Aku menaiki tangga dengan berlari ke arah pintu keluar diujung anak tangga tapi secepat kilat dia mendahuluiku dan menghalangi pintu. Kurasakan darah mulai mengalir di punggungku akibat cakarannya tadi. Dia menerkamku lagi, membuat kami terguling ditangga. Lalu aku menyiku mukanya, berusaha mendorongnya menjauh. Ketika dia hendak menendangku, aku menangkapnya. Matanya yang lebar dan hitam memandangku dengan tatapan liar dan ganas, kukunya mencakari mukaku yang terasa sudah hancur akibat cakarannya. Teriakannya memekakkan telingaku. Dia mengangkat tangannya dan tersenyum lebar sekali, lalu tangannya menusuk mataku.
Semuanya mendadak gelap.
Ketika bangun, aku sudah berada dirumah sakit, perban memenuhi tubuhku, juga mataku sebelah, tapi aku bersyukur aku masih bisa melihat. Seorang polisi berdiri diruanganku, sedang berbicara dengan dokter. Mereka menyadari aku telah bangun dan tersenyum padaku. Mereka menginformasikan padaku bahwa aku adalah satu-satunya korban yang selamat dari pembunuhan massal yang dilakukan oleh seorang pria yang berumur setengah baya, dan polisi telah mengamankan pelaku. Aku menceritakan pada mereka tentang gadis kecil yang kulihat, tetapi mereka berkata tak ada gadis kecil ditempat kejadian. Aku bersikeras, tapi mereka tidak mempercayaiku. Mereka hanya mengatakan kalau aku membutuhkan istirahat.
Dua minggu berlalu, dan aku sudah diperbolehkan pulang kerumah. Ketika aku keluar dari ruangan dan melewati ruang tunggu, aku melihat beberapa mainan berserak disana. Mobil pemadam kebakaran mainan, truk mainan, dan boneka. Tragisnya, didekat mainan itu, duduklah seorang gadis kecil berambut panjang dan memakai gaun putih, tersenyum manis padaku. Dan dengan suara yang dalam dia berkata,
__ADS_1
“maukah kau bermain denganku?”