
Bagaimana caranya kita tau sebuah tempat itu angker atau tidak? Kebanyakan pasti akan menilai dari kondisi fisik tempat itu. Kita selalu mengira bahwa makhluk gaib pasti akan menempati tempat yang kotor dan jauh dari kegiatan manusia. Misalnya di rumah tua, pemakaman, gua, hutan dan lainnya. Namun jangan salah, karena ternyata makhluk gaib juga doyan tinggal di tempat-tempat yang tidak kita duga, mungkin seperti lapangan sepak bola. Dan itulah yang menjadi pengalamanku beberapa waktu yang lalu.
Namaku Febri. Aku tinggal di sebuah rumah di komplek perumahan. Pada saat itu ada pertandingan bola di komplek perumahanku, karena waktu itu menjelang perayaan hari kemerdekaan. Aku tidak ingin melewati kesempatan ini dan langsung mendaftarkan diri untuk ikut serta. Sebenarnya ada lomba lain yang diadakan, namun aku tidak tertarik. Setelah aku bersama temanku mendaftar, maka kami dibentuk menjadi tim lalu dikelompokkan lagi. Aku cukup antusias dengan diadakannya turnamen ini dan bertekad untuk menjuarainya. Hari pertandingan pun tiba dan aku sampai di lapangan lebih awal.
Saat itu belum terlalu banyak orang di sana, hanya ada beberapa panitia karang taruna yang lalu lalang dan petugas kelurahan yang datang. Mereka sibuk mengatur lapangan. Aku hanya duduk terdiam di samping lapangan melihat kesibukan mereka.
Tiba-tiba saja aku ingin buang air kecil. Aku mencari tempat yang sepi untuk melakukannya. Ketika itu aku melihat tiang gawang di ujung lapangan. Terlintas dalam benakku untuk melakukan sebuah ritual, yang ritual ini bisa mendapatkan kemujuran. Aku bangkit dan menuju ke tiang gawang itu. Aku melihat kanan dan kiri, sepi dan tidak ada orang yang melihat. Aku pun buang air kecil di tiang gawang itu, yang katanya sih bisa mendatangkan kemujuran. Setelah itu aku kembali ke sisi lapangan dan duduk dengan tenang.
Tidak lama setelah itu lapangan dipenuhi orang-orang yang mengikuti lomba. Teman satu timku sudah hampir lengkap. Setengah jam kemudian setelah acara dibuka, lomba pun dimulai. Pertama-tama kami sudah harus menghadapi tim dari RT yang kuat. Aku menyemangati timku dan bilang, "Tenang aja, kita pasti menang!"
__ADS_1
Benar saja, kami menang dari mereka, meskipun skornya tipis. Pertandingan berikutnya pun berhasil kami menangi. Karena hari sudah sore, turnamen dilanjutkan keesokan harinya. Aku dan teman satu tim pulang dengan gembira, karena berhasil maju ke final besok harinya.
Malam harinya aku tidur dengan nyenyak. Namun tiba-tiba aku terbangun, aku merasa seperti ada benda dingin yang menyentuh pipiku. Refleks aku mengusap pipiku, dan bermaksud mengenali benda apa itu, namun tanganku tidak menyentuh apa-apa. Aku mengubah posisi tidurku, yang tadinya menyamping menjadi telentang. Tiba-tiba aku mencium bau yang sangat busuk, baunya seperti bau bangkai, dan benda dingin itu sekarang menerpa hidungku. Sontak aku membuka mataku dan ada sepasang telapak kaki melayang di atas wajahku. Telapak kaki itu bergerak perlahan ke kiri dan ke kanan. Aku sontak melompat bangun dan terjatuh dari ranjang.
Ketika aku melihat langit-langit kamarku, di sana ada seorang pria yang tergantung. Pria itu seperti tergantung di atas langit-langit kamarku dengan seutas tali terlilit di lehernya. Kepala pria itu tertengkuk ke samping, mulutnya menganga lebar dan lidahnya terjulur keluar. Wajah pria itu sangat pucat, matanya melotot ke arahku. Pria itu kemudian meronta-ronta dengan tali masih terikat di lehernya. Dia sepertinya ingin melepaskan diri dari ikatan lehernya dan dia jatuh tepat di atasku, dan semuanya menjadi gelap...
*****
Kedua orang tuaku menceritakan apa yang terjadi kepada orang-orang di sana. Ibuku terlihat menangis sambil memberitahuku kalo aku kesurupan. Orang-orang yang berada di dalam kamar ini adalah ustad dan para tetangga yang sejak tadi sedang mendoakanku.
__ADS_1
Aku langsung teringat dengan sosok pria yang tergantung di kamarku tadi. Aku langsung menceritakannya kepada meraka. Saat mendengar cerita dariku, kedua orang tua dan para tetanggaku menganggukkan kepalanya seolah mereka sudah mengerti kejadiannya. Pak ustad ganti bercerita, kalo tadi aku kesurupan seperti orang gila. Aku berteriak dan tertawa, nada bicaraku juga agak berbeda. Aku berbicara sedikit dengan tersendat-sendat dan seperti orang yang sedang tercekik. Lalu kata beliau, aku berbicara sambil menekuk leherku. Pak ustad kemudian bertanya apakah aku sudah melakukan tindakan yang aneh akhir-akhir ini?
Aku pun bercerita bahwa aku buang air kecil di sebuah tiang gawang di lapangan sepak bola. Pak ustad mengangguk, dia sudah paham akan hal itu. Kemudian beliau menceritakan kalo tadi hantu yang masuk ke dalam diriku sempat tidak mau pergi. Hantu itu berkata, bahwa dia ingin membawaku atau membuatku mati, karena sudah kurang ajar buang air sembarangan di tempat kediamannya.
Aku tambah ngeri dan langsung meminta maaf pada pak ustad. Dia lalu berkata kalo aku tidak perlu meminta maaf kepada dirinya, tetapi lain kali aku jangan sembarang lagi.
Pak ustad kemudian melanjutkan ceritanya. Dulu sekitar tahun 70an ada seorang pria yang gantung diri di tiang gawang itu, konon dia gantung diri karena dicecar di pekerjaannya, lalu frustasi dan tidak bisa lagi menghidupi keluarganya.
Siang itu aku langsung datang ke lapangan. Aku datang bukan untuk kembali main sepak bola, melainkan untuk minta maaf kepada penunggu tiang gawang itu. Aku menyirami tiang gawang itu dengan ember berisi air bersih yang aku bawa.
__ADS_1
Semenjak kejadian itu, aku tidak berani lagi lewat lapangan sepak bola itu sendirian ketika malam hari. Aku takut jika aku melihat ke arah tiang gawang, aku akan melihat sesosok pria yang tergantung di tiang gawang itu.