
"Setiap kali aku melewati tempat itu, entah kenapa aku merasa seperti ada yang menarikku ke situ?"
"Ya kan? Kamu juga merasa begitu kan?"
"Ya, tiap kali aku melewati toilet perempuan lantai dua bagian timur kampus kita"
"Jadi penasaran. Nanti malam kita selidiki yuk!"
"Eeeeeuh?!"
"Kan menegangkan, yuk!", sergah Nadia dengan bersemangat. Dia ini memang paling suka cerita-cerita hantu.
"Yuk!", angguk Meta setuju.
"Malas ah...", tutur Niken.
"Ayolah Niken temani kami, masa hanya kami berdua?", ajak Nadia.
"Kan seru malah, berduaan di tempat yang gelap", ledek Niken.
"Masa berduaaan di tempat yang serem? Lagian aku ogah kalo cuma berdua", ucap Nadia.
"Aku juga ogah", tukas Meta.
"Kalau gitu ya gak usah", ucap Niken.
"Memangnya kamu gak penasaran?", tanya Nadia.
"Cari masalah aja!", jawab Niken.
"Kalau gak mau, nanti kubilang sama dosen, kalau kamu gak ikut kerja kelompok waktu itu lho!", ancam Nadia.
"Huh! Memanfaatkan kelemahan orang lain!", Niken mendengus kesal. "Ya udah aku ikut! Puas kalian?", sambungnya.
"Yes!", Nadia dan Meta tos.
Niken hanya menggeleng-geleng melihat ulah kedua temannya itu.
*****
Malamnya, Nadia, Meta dan Niken mengendap-endap ke kampus. Kebetulan satpam sudah tertidur pulas.
"Ssst! jangan ribut!"
"Tenang saja, satpam kampus ini budeg kalau sudah tidur!"
"Huss!"
Nadia mengeluarkan senter kecil dari sakunya. "By the way, kamu tahu gak, kenapa beberapa ruangan di kampus ini ada yang gak dimatiin lampunya?", tanya Nadia.
"Biar kampus gak keliatan terlalu gelap?", jawab Niken.
"Bukan, karena katanya ada penunggunya, jadinya gak berani dimatiin! Sudah pernah ada kejadian dua orang mahasiswi terkurung di ruangan karena matiin lampunya. Mereka gak bisa keluar padahal gak ada yang ngunci. Dan katanya ada suara menggaruk-garuk meja di ruangan itu. Saking ketakutannya mereka sampai pingsan dan baru diketemuin paginya", tutur Nadia.
"Hiii... Syerem!", ujar Meta sambil melirik ke beberapa ruangan yang lampunya nyala.
"Menarik kan? Tapi tujuan kita malam ini memeriksa toilet di lantai dua itu dulu", kata Nadia.
"Memang apa gosipnya?", tanya Niken.
"Seorang mahasiswi waktu itu masuk ke toilet sekitar jam 5 sore. Saat itu suasananya hening banget. Pas dia lagi cuci tangan, tiba-tiba ada sosok perempuan yang sedang mengawasinya dari atas!", ungkap Nadia. "Lalu ada juga yang waktu lagi flush toiletnya, airnya berubah menjadi warna merah", sambungnya.
"Tipikal", sahut Niken.
"Katanya hantu itu sendiri adalah mahasiswi kampus ini lho. Mahasiswi semester empat", tutur Nadia.
"Angkatan berapa?", tanya Niken.
"Harusnya sih lulusan 2009", jawab Nadia.
"Berarti sudah empat tahun yang lalu?", tanya Niken.
"Sepertinya", jawan Nadia.
__ADS_1
"Kalau bisa, aku malah pingin minta ijin sama kampus untuk bikin klub peneliti hantu. Aktifitasnya adalah meneliti cerita-cerita hantu seputar kampus dan kos-kos dekat sini, dan kemudian menyelidikinya secara langsung", ucap Nadia.
Niken menguap. "Pasti ditolak! Kalaupun gak, anggotanya paling hanya satu atau dua orang", ucap Niken.
"Uh! Rasanya aku sangat excited!", ucap Nadia tanpa mempedulikan kata-kata Niken, dan mengeluarkan kamera yang dibawanya. "Aku harus bisa memfotonya!", sambungnya.
*****
Kini mereka sudah berada di depan TKP. Nadia, Meta dan Niken saling berpandangan. Mereka terdiam di tempatnya berdiri dengan perasaan tegang.
"Ayo!", Nadia memberi komando untuk melangkah masuk.
Dengan hati-hati, Nadia mendorong pintu WC itu. Setelah terbuka, lalu mereka melangkah masuk.
"Lho kok aneh? Memangnya gak dikunci?", batin Niken.
Suasana yang hening membuat mereka semakin deg-degan. Nadia memegang kameranya erat-erat dengan sikap siaga. Tiba-tiba Nadia merasakan bahunya dicolek-colek.
"Hyaaaaaaa!", teriak Nadia.
"Iiiiihhhhhh!", serentak Meta ikut menjerit. Niken tersentak kaget mendengar jeritan mereka.
Nadia dan Meta langsung berlari keluar dengan wajah ketakutan. Suara derap-derap sepatu mereka yang panik semakin menjauh. Kini hanya tinggal Niken seorang diri.
"Oi! kalian tidak setia kawan!", teriak Niken.
"Apaan si Nadia? Tadi dia yang paling bersemangat, tapi dia juga yang paling cepat kabur!", gumam Niken.
Niken bukannya tidak mau lari, tapi dia tidak bisa lari. Niken merasa seperti ada yang menarik dia dari belakang. Niken merasa badannya hampir patah ditarik-tarik.
Niken menatap pintu toilet dengan kesakitan. "Apa pun yang terjadi, aku harus keluar!", gumamnya.
Dengan sekuat tenaga, Niken berusaha melawan kekuatan yang mencegahnya pergi dari sana. "Ukh!" Ia melangkahkan kakinya dengan susah payah menjauh.
Satu langkah...
Dua langkah...
Mendadak Niken seperti terhisap dan dia harus mencengkeram tembok di sebelahnya kuat-kuat. "Kalau begini bisa remuk badanku. Tapi aku menolak untuk menyerah", batin Niken.
Niken merasa jantungnya melompat ketika melihat sebuah sosok yang terpantul di cermin. Dia bukan hanya seorang diri. Ada seseorang di belakangnya. Niken melirik ke belakang, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa. Niken mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan penglihatannya.
Tiba-tiba kran air menyala sendiri. Dan mendadak tubuh Niken seperti bergerak sendiri. Ada yang mendorongnya menuju ke wastafel itu. Dan... BYUR...!!! Kepala Niken tercebur di wastafel yang penuh air itu.
Niken meronta-ronta berusaha melawan. Dia berhasil mengangkat kepalanya hingga ujung dagunya beberapa senti dari air.
"Uhuk! Uhuk!", dia terbatuk-batuk.
BYUR...!!! Nafasnya terasa sesak. "Mungkinkah aku bakal mati?", pikirnya dalam hati.
Tapi tiba-tiba dia bisa mengangkat kepalanya. Seperti terlepas dari kekuatan mistis yang menekannya.
Niken terjatuh lemas di depan wastafel sambil terbatuk-batuk. Ada air masuk ke dalam paru-parunya. Nafasnya memburu. Seperti berusaha menghirup oksigen semaksimal mungkin. Dan dia melihat perempuan itu. Seorang gadis berambut panjang dengan kulit pucat menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kamu mau bunuh aku?! Kenal aja nggak!", damprat Niken tanpa rasa takut.
"Karena kamu sangat mirip dengan orang itu...", jawab sosok itu.
"Orang itu?", tanya Niken heran.
"Nina...", kata sosok itu.
"Eh?! Ka... Kakak?", Niken tidak bisa menahan kekagetannya.
"Dia sudah berjanji kalau dia akan kabur bersamaku, tapi dia malah tidak datang! Aku terus menunggu dan menunggu hingga aku mati di toilet ini dan jadi hantu di kampus ini. Tapi sampai empat tahun berlalu pun dia tidak pernah datang, padahal aku terus menunggunya!", ujar sosok itu lirih, tapi nadanya terdengar penuh dendam.
"Kakak pernah bilang, kalau ada seorang teman yang sangat berharga baginya sampai kakak rela kabur bersamanya. Kalau tidak salah namanya Vera. Apakah yang dia maksud itu gadis ini?", gumam Niken dalam hatinya.
"Tapi kakak sudah...", kata Niken. Tapi segera dipotong oleh sosok itu.
"Dan sekarang kebetulan ada kamu yang sepertinya adiknya! Aku akan membalas pengkhianatan kakakmu selama empat tahun ini...!!!", kata sosok itu. Dia mendekat dan mencekik leher Niken dengan tangannya yang dingin.
"Aakh!", pekik Niken.
__ADS_1
"Matilah kau...", bisik sosok itu.
"Ka... Kau salah! Kakakku tidak pernah bermaksud mengkhianatimu...", ucap Niken. Tapi sosok itu tidak mempercayainya dan tetap mencekik Niken. Bahkan lebih kuat.
"Le... lepaskan...!!!", pekik Niken.
"Kamu harus membayar pengkhianatan kakakmu dengan kematianmu", ucap sosok itu.
"Akh! Kenapa? Apakah cinta memang semudah itu berubah menjadi dendam?", ucap Niken sambil terengah.
Tapi setelah melihat benda di leher Niken, mendadak hantu Vera melepaskannya.
"Uhuk! Uhuk!", Niken memegangi lehernya sambil terbatuk-batuk.
"Kau... Kenapa kalung itu bisa ada di kamu?", tanya hantu itu.
"Oh", Niken melihat ke kalung yang dikenakannya. "Kalung ini milik kakak. Sepertinya kalung ini sangat berharga baginya, jadi aku selalu membawanya", jawab Niken.
"Kalung itu adalah hadiah dariku untuk Nina", ucap Vera.
"Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi aku tahu kalau kakak sangat menyayangimu, kak Vera", ucap Niken.
Vera hanya terdiam. Setelah menarik nafas sejenak, Niken melanjutkan. "Empat tahun yang lalu, kakak diculik dan setelah itu kakakku ditemukan dalam keadaan sudah meninggal", tutur Niken.
Wajah Vera terlihat syok.
"Ketika mayatnya ditemukan, di tangannya tergenggam kalung ini. Tampaknya kakak sangat menyesal karena tidak bisa menepati janjinya pada kak Vera", sambung Niken.
"Jadi kakak tidak pernah bermaksud mengkhianatimu", Niken melepas kalungnya dan memberikannya kepada Vera.
"Tidak! Nina sudah meninggal?", kata Vera tidak percaya.
"Kakak juga sering bercerita tentang kak Vera sama aku, jadi aku tahu kalau kakak selalu memikirkan kak Vera", ucap Niken.
Hantu Vera menangis. "Nina... Nina! Ternyata kamu tidak pernah bermaksud mengkhianatiku!", isaknya sambil memeluk kalung itu di dadanya. "Akunya yang bodoh sudah meragukan perasaanmu!", Vera melolong, menjeritkan seluruh isi hatinya.
Di tengah jeritan yang memilukan itu, entah kenapa Niken merasa bahwa kakaknya kini sudah dapat beristirahat dengan tenang, begitu juga dengan Vera.
Dan setelah empat tahun, kini mereka dapat bertemu kembali di alam sana. Dan sosoknya tidak pernah terlihat lagi di kampus.
*****
"Ni... Niken! Semalam kamu nggak apa-apa?", tanya Nadia khawatir.
"Kenapa?", ketus Niken.
"Soalnya semalam terdengar jeritan hantu itu, hiiiii!", Meta menimpali.
"Huh, padahal kalian sendiri yang lari meninggalkanku terus sekarang malah mengkhawatirkan aku!", gerutu Niken kesal.
"Sorry deh Niken!", ucap Nadia.
"Iya, kami nggak sengaja!", timpal Meta.
Niken menghembuskan nafas lega. Dalam hatinya ia senang karena sudah berhasil menyatukan kakaknya dan Vera.
Seminggu kemudian...
"Hei, malam ini ayo kita selidiki hantu di ruangan yang lampunya gak dimatiin itu yuk!", ujar Nadia dengan bersemangat seperti biasa kalau ada hal-hal yang menyangkut dengan hantu, padahal dia sendiri penakut.
"Eh?! Nanti kalau kita terkurung gimana?", kata Meta.
"Gak perlu takut, kan lampunya nyala!", kata Nadia.
"Nggak kapok juga?", kata Niken sambil menggeleng-geleng kepala.
*****
Penjelasan (biar lebih jelas):
Empat tahun silam, Nina (kakaknya Niken) dan Vera bermaksud kawin lari karena hubungan mereka yang ditentang oleh orang tua mereka. Tragisnya, Nina keburu diculik sebelum mereka sempat menjalankan rencananya itu. Dan Nina terbunuh oleh penculik itu. Sedangkan Vera meninggal karena tubuhnya lemah. Dia terkurung di toilet itu. Tubuhnya membusuk dan tidak ditemukan sampai beberapa hari.
Padahal sebenarnya yang mencolek-colek bahu Nadia adalah Meta sendiri. Tapi karena sudah terlalu deg-degan, Nadia tidak sempat berpikir jernih dan menganggap itu ulah hantu. Meta otomatis ikut kaget karena Nadia tiba-tiba menjerit, dikiranya Nadia melihat hantu.
__ADS_1