
Sudah hampir tengah malam, tiba tiba ponsel Bimo berbunyi. Antara sadar dan tidak, karena sudah hampir terlelap, Bimo melihat siapa yang menelepon. Ada sebuah panggilan video call. Di layar ponsel tertera, 'Private Number calling...'
"Huh, siapa sih, tengah malam begini kurang kerjaan aja", kutuk Bimo dalam hati.
Dia memang paling malas ngangkat telepon dari nomor asing. Teleponnya di-reject. Tak berapa lama, ponselnya berbunyi lagi, masih sama pemanggilnya tanpa identitas. Dan untuk kedua kalinya Bimo me-reject panggilan itu.
Tiga menit kemudian, ponsel berbunyi lagi. Masih private number. Kesabaran Bimo habis. Telepon diangkat.
"Hallo...? siapa ini ?", Bimo menyapa dengan suara parau.
Di layar ponsel muncul gambar aneh, bukan wajah penelepon yang muncul, namun seperti gambar semut-semut ketika televisi sedang tidak ada siaran. Sekilas Bimo teringat adegan film 'The Ring', ketika Hantu Sadako akan muncul memangsa korbannya. Ah..., mana mungkin ada hantu, itu kan cuma film, pikir Bimo dalam hati.
"Hallo..?? siapa sih ini? Kurang kerjaan, gangguin orang aja...", Bimo mulai emosi.
Terdengar balasan dari penelepon. Suara seorang perempuan, dengan suara parau juga.
"Hallooo... sayaaang... kamu lagi ngapain? Aku kangen nih...", kata suara penelepon itu.
Bimo berusaha mengingat siapa pemilik suara itu. Namun rasanya suara itu tidak dikenalnya. Pake acara manggil sayang segala.
"Yaa... tapi ini siapa ??", Bimo mulai tak sabar.
"Sayang... tolooong aku... aku butuh bantuan kamu di sini sekarang...", balas suara si penelepon dengan suara lemah.
Tiba-tiba bulu kuduk Bimo merinding. Dia teringat cerita HANTU TELEPON yang pernah ia baca di *******, dan juga sebuah cerita telepon setan yang pernah heboh di kampusnya. Ternyata yang dibilang suara setan itu, cuma rekaman mailbox suara cewek, kerjaan orang iseng. Tapi masak iya, ada orang iseng nelepon pake video call segala, dalam hati Bimo.
"Heii... jangan kurang kerjaan yaa...", Bimo marah dan menutup telepon.
*****
Besok malamnya, kejadian yang sama terulang lagi. Ada panggilan video call dari private number. Namun Bimo cuek, dia kira, paling orang yang semalam mau ngerjain lagi.
Malam ketiga, si private number masih menghubunginya lewat video call. Penasaran, Bimo mengangkat telepon. Muncul gambar semut-semut lagi seperti ketika televisi sedang tidak ada siaran.
"Hallooo...", Bimo menyapa.
__ADS_1
"Sayaaang... kamu lagi ngapain... aku kangen nih...", masih suara yang sama.
"Uhm...?", Bimo bergumam.
"Sayaaang... tolong aku... aku butuh kamu di sini sekarang...", sambung suara itu lemah.
Bimo makin penasaran, "Gimana aku bisa nolong kamu? Kamu siapa? Lagian kamu butuh ditolong apa?", balas Bimo memberanikan diri.
Dalam hatinya masih mencoba menebak siapa yang mungkin berbuat iseng pada dirinya. Adit gak mungkin, Usy? Tapi Usy kan gak punya HP yang bisa video call, atau mungkin Via, teman kampusnya yang terkenal ratu jahil. Ah, seumur-umur Via jarang menelepon dirinya. Paling kalau telepon lagi ada maunya, karena mau foto copy catatan kalau lagi musim ujian.
"Kamu datang aja ke rumahku, alamatnya di Jalan Puri nomer 67", sambung si penelepon menyadarkan Bimo.
Lho, masak iya kalau yang nelepon hantu pake acara ngasi tahu alamat segala, pikir Bimo. Mana nelepon pake video call, kaya amat ya hantunya bisa beli HP 3G segala. Dia aja harus mati- matian nabung buat beli HP yang bisa video call, Bimo terkekeh sendiri dalam hati.
"Ehh... eh... kamu siapa sih? Kamu manusia atau setan?", Bimo mencoba meyakinkan siapa yang meneleponnya.
"Nama gue Rika...", balas suara si penelepon lemah.
"Rika siapa ya? Apa gue kenal elo?", Bimo menyela.
Tuutt... tuutt... tiba-tiba telepon terputus. Bimo mengutuk lagi. Aah, ngapain juga gue pikirin, capek deh, pikir Bimo sambil memeluk guling kesayangannya, dan dalam hitungan menit dia terhanyut ke alam mimpi.
Selesai jam kuliah, Bimo memutuskan mendatangi alamat Rika, cewek misterius yang meneleponnya semalam. Sekalian ngebuktiin si Rika itu setan atau bukan, demikian Bimo membatin. Cari punya cari, akhirnya alamat yang ditujunya ketemu juga, Jalan Puri 67. Padahal Bimo sudah ketakutan setengah mati kalau alamat yang dicarinya itu adalah kuburan, seperti cerita di sinetron hantu, namun ternyata bukan. Yang didapatnya sebuah rumah yang lumayan mewah. Bertingkat tiga, dengan arsitektur modern, persis seperti rumah-rumah di acara desain rumah yang sering dilihatnya di televisi.
Ting... tong... Bimo memencet bel. Tidak ada sahutan dari pemilik rumah. Ting... tong... Bimo memencet bel lagi. Tetap sepi tidak ada sahutan. Ting... tong... seorang perempuan yang sudah berumur dengan pakaian tradisional Jawa keluar tergopoh-gopoh, kelihatannya pembantu di rumah itu.
"Cari siapa yaa..??", perempuan itu bertanya kepada Bimo.
"Uhm... maaf, apa benar ini rumahnya Rika?", Bimo bertanya.
"Iya... di sini rumahnya Rika, tapi...", si perempuan berhenti berbicara.
"Uhm... maaf ??", Bimo mencoba mempertegas perkataan si perempuan itu.
"Mari den, silahkan masuk dulu...", si perempuan mempersilahkan Bimo masuk.
__ADS_1
Sejurus Bimo memastikan dulu kaki perempuan yang menyuruhnya masuk itu menginjak lantai atau tidak, jaga-jaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun kaki perempuan tua itu menginjak lantai, begitu juga punggungnya, tidak bolong. Aman, pikir Bimo. Dia melangkahkan kaki masuk ke rumah itu.
"Mari... silahkan duduk, nama saya Mbok Kanti, saya pembantu di rumah ini, sebentar saya ambilkan minum", sambung perempuan itu menyadarkan Bimo yang terbengong-bengong sendirian.
"Ohh... ya, terima kasih", kata Bimo.
Tak lama menunggu, pembantu rumah itu keluar membawa segelas minuman dingin. Kebetulan lagi haus, kata Bimo dalam hati. Lagi-lagi dia memperhatikan dengan seksama isi minuman yang disodorkan Mbok Kanti, takut kalau isinya tiba-tiba bukan air. Setelah memastikan gelas di tangannya berisi air beneran, langsung ditenggaknya habis.
"Maaf... aden ini siapanya non Rika ya?", kata Mbok Kanti memecah keheningan.
"Eee... saya... saya Bimo, temannya Rika, Mbok", ucap Bimo pendek.
Tentu saja tidak mungkin dia mengaku, kalau dia datang karena penasaran dapat telepon dari si Rika yang entah setan atau manusia.
"Ngomong-ngomong, Rikanya mana, Mbok?", sambung Bimo lagi.
"Aduh den, maaf, apa aden gak tahu kalau non Rika sudah meninggal karena kecelakaan mobil setahun yang lalu?", Mbok Kanti menjawab pendek.
Bimo tercengang. Dia memastikan si perempuan yang berbicara di depannya berbicara jujur atau tidak. Bisa saja kan si Mbok Kanti ini disuruh cewek misterius bernama Rika yang menelepon untuk ngerjain dirinya, sementara si Rika lagi ketawa-ketiwi di lantai atas rumah itu, karena telah berhasil dengan sukses mengerjainya, demikian pikir Bimo.
"Maaf Mbok, apa benar demikian?", Bimo mencoba memastikan.
"Benar den, non Rika meninggal karena kecelakaan mobil persis setahun yang lalu, tepat di hari ini, hari ulang tahunnya. Dia mengalami kecelakaan ketika sedang menerima telepon dari pacarnya sambil menyetir mobil. Tidak sadar di depannya ada truk tangki yang melaju kencang. Keadaan mobilnya ringsek, tubuh non Rika sendiri hampir tidak bisa dikenali lagi...", mata Mbok Kanti berkaca-kaca.
Kelihatannya dia jujur, pikir Bimo. Karena biasanya pembantu tidak pintar berbohong, apalagi pake acara akting segala, kagak mungkin banget, kata Bimo dalam hati.
Mbok Kanti berjalan meninggalkan Bimo yang masih terbengong-bengong, menganalisa apa hubungan dia dengan peristiwa kecelakaan si Rika itu. Mbok Kanti keluar lagi, kali ini membawa sebuah foto seorang perempuan berusia kira-kira 19 tahun, sedang tersenyum, berkulit putih bersih, dengan rambut rebonding model terbaru, mirip model terkenal, Dominique. Sekilas Bimo memperhatikan foto itu.
"Ini foto non Rika, den...", kata Mbok Kanti menyadarkan Bimo yang masih bingung sendiri sambil manggut-manggut.
Ternyata rasa penasaran Bimo terjawab. Si Rika sudah meninggal. Dan orang meninggal tidak mungkin bisa menelepon. Mustahil banget, pikir Bimo. Sudah jelas pasti ada orang lain yang sedang ngerjain dirinya. Akhirnya Bimo permisi pulang, setelah mengucapkan terima kasih pada Mbok Kanti.
Sambil menghidupkan mesin motornya, Bimo masih berpikir, siapa orang yang iseng pada dirinya. Namun, ketika kira-kira berjalan tiga blok dari rumah yang didatanginya barusan, ponselnya berbunyi lagi. Panggilan video call dari private number. Tiba-tiba entah kenapa bulu kuduk Bimo merinding. Dengan tangan gemetar, Bimo mengangkat teleponnya. Tampak kembali gambar semut-semut seperti ketika televisi sedang tidak ada siaran. Samar-samar kini muncul wajah seorang perempuan, antara jelas dan tidak. Lama-lama makin jelas, wajah cewek yang dilihatnya di foto, di rumah yang barusan didatanginya. Tapi wajah di layar ponsel itu begitu pucat, matanya menatap Bimo dengan sayu.
Jantung Bimo serasa berhenti berdetak. Bimo memacu motornya sejadi-jadinya, hingga hampir menabrak tukang bakso yang kebetulan lewat. Entah karena saking takutnya, tanpa disadarinya, HP Bimo terjatuh ketika menabrak gerobak tukang bakso itu. Si tukang bakso marah-marah, tapi orang yang menabraknya keburu hilang.
__ADS_1
Di jalan, tukang bakso itu merapikan gerobak dagangannya. Ketika itu, tangannya mendapati sebuah benda, HP Bimo yang terjatuh. Dia mengangkat HP itu. Ada gambar semut-semut seperti ketika televisi sedang tidak ada siaran. Perlahan terdengar suara seorang cewek.
"Sayaaang... tolong aku... aku butuh bantuan kamu di sini sekarang..."