Suami Ku Amnesia Sehingga Dirinya Membenci Ku Kembali

Suami Ku Amnesia Sehingga Dirinya Membenci Ku Kembali
Bab 22 : Suasana Korea yang Dingin


__ADS_3

"Indah!" teriak Dirga dari dalam kamar nya sehingga, Indah yang berada di kamar sebelah sangat terkejut.


Langsung yang mendengarkan hal tersebut, kini melangkahkan kedua kakinya menuju ke kamar milik Dirga. Tubuhnya keringat dingin, hatinya tak tenang jika Dirga sudah berteriak kepadanya. Apalagi sedari tadi Dirga dan Indah di perjalanan pulang, Dirga tidak mengatakan apapun kepada dirinya dan hanya membuat wajah yang marah.


Diketuknya pintu kamar Dirga oleh Indah, sang pemilik kamar langsung membukakan pintu tersebut dan dengan kasar menarik tangan Indah secara paksa untuk masuk kedalam kamar.


"Aghhhh... Sakit, tolong lepaskan!" tariak Indah memohon kepada Dirga atas perilakunya.


"Sakit? Kesabaran Saya sudah habis! Percakapan macam apa tadi! Saya tidak sudi untuk memiliki berhubungan badan dengan kamu ya Indah! Apalagi harus punya anak sama Kamu! Itu tidak akan terjadi!" ucap Dirga dengan tangan yang masih memegang paksa tangan milik Indah.


"Tidak! Lepaskan tangan Aku sekarang! Jangan mengatakan sesuatu yang seperti itu!" Indah berusaha memberontak terhadap Dirga. Dan kini Suasana kamar yang sepi, diselimuti tangis Indah setelah mendengarkan perkataan hal yang terasa menyakitkan dari Dirga.


"Kamu melawan Saya?!" suara tamparan terdengar begitu keras, Dirga juga mendorong keras tubuh Indah kelantai yang hanya berlapiskan karpet yang tipis.


"Agh!!" suara teriakan Indah sangat menyayat hati, apabila seseorang ada yang mendengarkan nya.


"Sakit! Kenapa Mas? Kenapa selalu Indah yang menjadi tempat pelampiasan untuk segala hal yang membuat Mas Dirga marah? Indah ini seorang perempuan Mas, Indah juga mempunyai hati. Kalau Mas marah untuk apa yang dikatakan Papah, Mas tidak perlu melakukan hal ini kepada Indah" jawab Indah dengan tubuh yang terduduk di lantai, berbicara dengan terbata-bata akibat tangisnya yang kunjung henti.


"Brengsek! Berani ya Kamu sekarang sama Saya! Berbicara terlalu banyak! Dan sudah berapa kali Saya katakan, jangan panggil Saya dengan sebutan itu! Kamu tidak pantas!" Dirga yang mendekati Indah, dengan memegang erat kerah baju miliknya.

__ADS_1


"Lepas.. Lepas...Tolong lepaskan, Aku tidak bisa bernafas dengan baik" Indah terasa tercekik, nafasnya kini terengah-engah. Dengan payah Indah juga memohon kepada Dirga, kedua tangannya berusa melepaskan cengkraman tangan Dirga yang berada di lehernya.


"Keluar sekarang Bajingan!" teriak Dirga, sembari menyeret paksa tubuh Indah yang sedang duduk dengan keadaan lemah.


"Ughh.. Sakit" Indah mengerang. Tubuhnya terasa sakit ketika bergesekan dengan lantai, Dirga menarik tubuhnya dengan begitu kasar.


"Jangan datang lagi menjumpai saya! Saya tidak ingin melihat wajah Kamu lagi Indah!" untuk yang kedua kalinya Dirga mendorong kasar tubuh Indah, dan ditutup nya pintu kamar tersebut dengan begitu kasar.


"Mas.. Jangan seperti itu, tolong buka Mas.. Aku minta maaf, aku minta maaf sudah berbicara kasar sama Kamu. Mas.." Indah mengetuk perlahan pintu, menangis sesenggukan meminta maaf.


Namun, Dirga tidak menghiraukan Indah sama sekali. Walaupun Indah mengetuk pintu miliknya, sudah hampir satu jam setengah. Dirinya kemudian menyerah, Indah berusaha bangkit dari duduknya. Terasa sakit di seluruh kaki Indah, dirinya perlu bantuan diraba-raba nya tembok di sekeliling, Indah berusaha untuk bangkit.


Indah berjalan dengan perlahan dengan kakinya bergetar hebat, dirinya kini menuju kamar. Tidak terasa kini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Indah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, namun seluruh kakinya terasa sangat sangat menyakitkan. Dilihatnya kedua kaki itu, dan terlihat banyak luka akibat gesekan yang di timbulkan.


"Kenapa Kamu melakukan hal itu Mas? Apa salah Aku begitu besar? Sebegitu hinanya kah Aku di mata Kamu Mas? Aku sangat menantikan kehadiran anak untuk keluarga kita, namun kamu sangat membencinya. Aku akan melakukan apapun untuk Kamu, jika Kamu sangat membenci hal itu. Kita tidak dikaruniai anak, Aku tidak masalah" Indah merangkul dirinya dalam dekapan, Indah menangis sejadi-jadinya. Malam itu terasa sangat dingin, sepi, hanya ada tangisan Indah yang menemani dirinya sendiri.


...****************...


Sekarang sudah pukul tujuh pagi, Indah tanpa dirinya sadari ketiduran ketika air mata yang di keluarkannya membuat Indah lelah, sehingga dirinya tertidur dengan keadaan duduk sambil meringkuk memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Beberapa suara terdengar begitu berisik dari kamar sebelah, sehingga membuat Indah terbangun. Dilihatnya sekeliling kamar yang begitu hampa, Indah perlahan merentangkan bagian tubuhnya agar terasa lebih nyaman. Suara yang berada di kamar sebelah kini menjadi-jadi, kamar tersebut berasal dari kamar penginapan milik Dirga. Karena kamar mereka lah yang hanya di huni, yang lainnya tidak berpenghuni dikarenakan sudah di pesan satu lantai hanya untuk mereka.


Indah berusaha turun dari ranjang, walaupun kakinya masih terasa sangat menyakitkan. Perlahan langkah Indah menuju kamar milik Dirga, namun betapa terkejutnya Indah ketika kamar itu sedang di bersihkan oleh staf penginapan.


"Excuse me? Where is the owner of this room?" tanya Indah kepada salah satu stafnya menggunakan bahasa inggris, mengenai keberadaan Dirga.


"Oh! The owner of this room has already checked out, since three in the morning. So We, clean this room for the next guest." salah satu staf menjelaskannya dengan begitu ramah, dengan mengatakan bahwa Dirga sudah check out sejak pukul 3 pagi.


"Thank you!" Indah mengucapkan terimakasih dengan senyuman kepada semua staf, walaupun hatinya sangat terkejut ketika mendengar berita itu.


Indah dengan cepat kembali ke kamar penginapan miliknya, mencari ponselnya untuk segera menghubungi Dirga. Di ketiknya sebuah nomor telepon di ponsel tersebut, namun dari banyak nya Indah menghubungi Dirga tidak ada satupun jawaban yang Indah dapatkan.


"Mas.. Kamu kemana? Kamu masih di Korea apa sudah kembali ke Indonesia, Aku butuh tau informasi Kamu Mas.. Biar Aku tenang", bicara Indah dengan dirinya sendiri, sembari berusaha menghubungi Dirga.


Sembari menunggu telpon mampu pesan balik dari Dirga, Indah memutuskan untuk membereskan semua barang miliknya kembali masuk ke dalam koper. Terlihat di atas meja tergeletak sebuah sarung tangan bewarna merah muda miliknya, Indah mengambilnya dengan begitu perlahan dan hati-hati. Air matanya langsung tak tertahankan, ketika dirinya melihat sarung tangan pemberian dari sang suami tercinta.


Di peluknya sarung tangan itu di dekap di dadanya, pemberian Dirga yang begitu berharga. Air mata yang tak kunjung berhenti, seketika berhenti karena Indah dikejutkan dengan suara ringtone yang berasal dari ponsel miliknya. Indah berlari, berusaha menggapai ponsel tersebut. Benar, itu panggilan telpon dari Dirga yang dirinya tunggu. Indah secara cepat mengangkat telpon dari Dirga itu menggunakan tangan kanannya, dan tangan kirinya dengan erat memeluk sarung tangan merah muda itu.


"Mas.. Kamu dimana?" kata pertama yang keluar dengan terbata-bata, dan wajah yang begitu khawatir terlihat pada wajah milik Indah.

__ADS_1


"Saya sudah pulang ke Indonesia. Jangan cari Saya karena Saya tidak akan pulang ke rumah, dan bilang ke Papah Kamu itu kalau Saya pulang lebih dulu ke Indonesia karena ada urusan yang penting" ucap Dirga dengan nada begitu datar.


"T-tapi Mas,-.." seketika telpon tersebut terputus, Indah kembali berusa menelpon nomor milik Dirga. Namun, tidak tersambung sama sekali.


__ADS_2