
wajib like sebelum baca😘😘
(prov Re)
Gue dan kak Nick jalan ngitari supermarket yang udah tutup. Jelas aja udah tutup, ini jam 1 dini hari.
Jadi mbak Fhika pergi kemana?? Kenapa dia pergi nggak bilang. Nggak tau apa kalau gue khawatir banget. Mana dia lagi bunting. Gimana kalau dia kenapa-napa?? Perasaan gue jadi nggak enak gini ya,
"Kak, yakin mbak Fhika perginya kesini?"
"Kata tukang parkirnya sih kesini." Jawab kak Nick yang sama celikukan menatap suasana sekitar.
"Tapi kok nggak ada ya??" gue frustasi.
"Dia bilang udah setengah jam yang lalu Re. Itu artinya dia udah bisa pergi sekitar 300 meter dari sini. Jika itu jalan kaki."
"kok perasaan gue jadi galau gini ya??"
"Sama Re. kaya' nya Fhika kabur deh." kak Nick lesu. Sama kaya' gue khawatur campur aduk.
"Kabur gimana sih? kan emang nggak kita kurung." gue bingung sama kata-katanya.
kak Nick duduk di pinggiran trotoar jalan. Gue ikutan nglesot disana.
"Dia pergi ninggalin elo ****!!" nge gas dia.
Mata gue mambelalak kaget. iya gue kaget, kok kak Nick bisa ngomong gitu sih?
"Elo kok ngomong gitu? Gue nggak pernah nyakitin dia. Gue sayang sama dia. nggak!! nggak mungkin mbak Fhika ninggalin gue!!" omong kosong yang dikatakan kak Nick.
"Ya Kamffreett," kak Nick mulai nurunin nada bicaranya. "Sekarang lo pikir baik-baik ye, dia disiksa sama musuh-musuh elo. Dia hampir diperkosa. TIGA orang Re!! Dan elo juga dah liat kan kondisi tubuhnya kaya' apa?? Itu luka-luka ditubuhnya yang bisa kita liat dari luar. Kita nggak tau luka dia yang di dalam gimana."
Deg!!
Jantung gue kaya' berhenti sejenak. Gue ngerasa sesak nafas.
Gue nggak siap kalau harus kehilangan mbak Fhika. Dia udah jadi hal terpenting dalam hidup gue.
Seketika seluruh badan terasa sangat lemas. Gue kembali ingat semua bekas luka di wajahnya, leher, paha,perut, pundak dan bagian yang lainnya. Gue tau pasti itu sangat sakit. Tapi kenapa dia harus pergi?? Apa setelah ini dia benci sama gue?
Gue nangis. Iya tiba-tiba air mata udah netes di kedua pipi. Gue elap kasar pake tangan. Kok gue cengeng gini ya.
"Kalau bener dia ninggalin gue, dia pergi kemana kak?" suara gue kedengar parau karna tangisan.
"Hhhmmmfffttt..." Kak Nick nahan tawa. "Sejak kapan elo cengeng? Sekarang jadi markonah lo??"
"Nggak sah hina deh. Gue beneran sedih. gue nggak mau tanpa mbak Fhika." gue nangis lagi. Yaela ini aer mata kok gampang banget jebol sih. Kaya' bukan gue yang sebenarnya.
"Alay lo!!" Kak Nick nonyor kepala gue. "Dah yok kita cari Zee. Pasti dia bisa nyari keberadaannya Fhika."
Kak Nick jalan balik ke rumah sakit. Karna Kak Zee nyari mbak Fikha di sana.
"Gimana Nick, Fikha ada nggak??" Kak Zee juga keliatan panik dan khawatir.
Seneng, karna banyak yang peduli dan sayang sama bini gue. Sedih nggak ketulung karna bini gue pergi nggak tau kemana.
"Mending lo minta bantuan Roy aja Zee." ide Kak Nick muncul. "Gue yakin Fikha pergi jauhin kita."
"Bentar, gue telfon Roy." Kak Zee mulai sibuk minta pertolongan.
Badan gue rasanya lemes banget. Hati gue sakit, pikiran kacau. Bini gue ninggalin gue brow. Gue pengen lompat ke kolam. Iya cukup kolam aja. Kalau laut gue masih takut sama hiu.
Gue duduk di kursi tunggu rumah sakit sama kak Nick. Kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
Kak Zee masih sibuk ngomong sama orang di ponselnya.
"Udah mau pagi, kita pulang yuk. Roy akan mulai pencariannya." Kak Zee nyamperin gue dan Kak Nick.
Kami pun pergi ninggalin Rumah sakit. kak Zee dan Kak Nick masuk kemobil kak Nick. karna mereka pasti pulang kerumah mama. Gue gondelin lengan kak Zee.
"Kak, gue lemes nggak kuat nyetir." gue ngrengek.
__ADS_1
"Yaelah dasar curut. ya udah gue antar pulang." kak Zee berbalik menuju mobil gue.
Akhirnya gue pulang sama kak Zee. Gue tidur didalam mobil. nggak tau kenapa badan gue rasanya lemes banget.
°
°
°
"Re bangun. ini dah sampai apartemen." Lengan gue di goyang-goyang sama kak Zee.
Gue ngeliat. nutupi mulut gue karna nguap. Langsung turun dari mobil. Pagi ini kak Zee nginep apartemen gue.
masuk ke dalam apartemen, sepi sekali. jelas sepi, disini tak ada penghuninya.
"Nih makan dulu, dari sore belom makan." kak Zee nyodorin sebungkus burger.
"Kakak tadi mampir beli?"
"Ya iya masak bikin sendiri. kan nggak mungkin." Kak Zee nyopot hoddie nya dan rebahin tubuhnya ke sofa depan tv.
Gue duduk di karpet bawah sofa makan burger. Setelah habis gue beranjak naik keatas nuju kamar.
cekkleek
lampunya nyala. kaya' ada penghuninya. buru-buru gue masuk, gue udah ngebayangi mbak Fhika tidur di atas ranjang kita, dia nungguin gue pulang, atau di balkon kaya' waktu itu.
Nihil!!!
Dia nggak ada dikamar. kamar mandi pun kosong. pintu kebalkon juga terkunci. gue lemes lagi, gue duduk di tepi ranjang. nyangga kepala pake dua tangan gue.
ya Tuhan gue mohon, jangan hukum gue kek gini. gue nggak sanggup jika harus tanpa mbak Fhika. gue sayang banget sama mbak Fikha.
mbak Fhika, kenapa elo pergi?? kenapa ninggalin gue? apa gue se merepotkan itu? gue bisa berubah kok. gue bakalan jadi cowok dewasa yang romantis seperti yang elo mau. gue bakalan peka sama perasaan elo. gue nggak akan jail lagi. gue nggak akan tawuran lagi, nggak bolos lagi. asalkan elo balik.
mbak Fikha maafin gue. ini semua karna gue. gue tau, mereka ngincer gue, tapi elo yang jadi sasarannya. maafin gue mbak. gue mohon balik. jangan tinggalin gue. gue nggak mau begini.
Lagi-lagi air mata sialan ini basahin pipi. hati gue terasa sakit dan hancur.
'maafin gue Re. gue harus pergi. tolong jangan pernah cari gue. gue sayang sama elo. jaga diri baik-baik.'
"""Aaaaarrrggggg!!!!!!!!" Gue teriak sekencang-kencangnya. gue nggak bisa jelasin lagi tentang apa yang gue rasain saat ini gengs. ini sakit. sangat sakit.
Ditinggal sama orang saat kita baru aja sayang-sayangnya. Dan dia pergi bawa cebong gue.
"Kenapa ini terjadi sama gue!!!! KENAPA???!!!!"
Gue lempar semua yang ada disamping gue. Gue benci hidup yang seperti ini.
"Re, elo ngapain sih??" Kak Zee keliatan panik sama keadaan gue. Dia raih kertas yang ada disamping gue.
Dia natap gue dalam. Dia prihatin sama keadaan gue. Dia raih tubuh gue buat masuk kepelukannya. dielus punggung gue.
"Sabar, Fhika sayang sama elo. Dia hanya syok dengan pelecehan yang dia alami. Dia butuh waktu untuk tenang. saatnya nanti, pasti dia balik lagi."
"Gue sayang banget sama mbak Fhika kak. gue nggak mau pisah sama dia. Apalagi dia bawa cebong gue." gue nangis di pundak kak Zee.
"Iya gue tau itu Re. Besok kita cari dia lagi. sekarang elo tenang dulu. Elo harus istirahat ya."
Cukup lama gue nenangin pikiran dan hati gue sambil dipeluk kak Zee. Setelah tenang, gue lepasin pelukan kak Zee dan rebahin kepala gue di bantal. Kak Zee juga bobok di samping gue. Dia kelihatan sangat lelah.
Mata gue perih banget, gue cuma merem tapi nggak bisa bobok, sampai pagi menjelang gue cuma tiduran sama mata yang merem.
gue ngerasa ada yang aneh sama ini perut. Segera gue lari kekamar mandi. gue muntahin semua makanan yang gue makan tadi malam. Huuh lemes banget badan gue.
"Elo habis ngapain? kok keringetan gitu? wajah lo juga pucet banget." Kak Zee udah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Muntah." gue lewatin dia dan gue tiduran lagi.
"Elo sakit? kita kerumah sakit ya."
__ADS_1
Gue ngegeleng. "Gue nggak sakit. Tapi badan gue rasanya lemes banget."
"Gue bikinin teh anget." gue cuma ngangguk.
5 menit kemudian.
Kak Zee masuk kamar dengan segelas teh anget. Gue langsung minum teh itu. Agak mendingan, nggak terlalu mual.
"Kita sarapannya pesen ojol aja ya. elo mau sarapan apa Re?" Kak Zee geser-geser ponselnya disamping gue.
"Gue pengen buah dondong kak."
Kak Zee membulatkan matanya sambil natap gue. dia kenapa? gue salah ngomong ya? ini beneran, gue pengen makan buah dondong. lengkap sama sambelnya.
"Re elo jangan ngaco deh. gue tau dari kecil elo belom pernah makan buah dondong."
"Gue serius mbang. gue pengen makan buah dondong sama sambelnya yang pedes."
"Gimana bisa pengen, elo kan belum pernah makan."
"Gue ngebayangin."
"Udah sinting ya. Semalem kepala elo kejeduk apa?"
"Kak gue serius. gue pengen dondong!!!"
"Ini masih pagi Re. nggak ada yang jual dondong curut!!!"
"Ya udah gue makannya ntar aja nunggu siang. pas ada buah dondongnya."
"Jangan gila deh. gue pesenin ayam kesukaan elo aja ya."
Ngikut aja lah. debat sama kak Zee nggak akan menang. Gue raih ponsel, ngirim chat ke Iqbal kalau hari ini nggak bisa masuk sekolah.
"tungguin ojolnya. gue mau mandi dulu." Kak Zee berlalu ke kamar mandi.
Kok gue jadi males mau ngapa-ngapain ya. pengennya cuma bobok.
Ting tung
nah tuh pasti si ojol. gue buru-buru turun buat bukain pintu. Bener si abang ojol bawain pesenannya kak Zee. gue bayar makanannya dan nyiapin sarapan di meja makan.
Karna gue udah lapar, gue makan duluan ayam geprek yang sangat menggoda perut ini.
Baru aja dua suap masuk mulut, perut gue udah nolak. Gue langsung lari ke dapur. Gue muntah di wastafle.
Aannjjiirr, gue lemes banget.
Gue balik, natap ayam sama nasi di atas piring. Rasanya pengen muntah lagi. Langsung jalan tinggalin nasi sama ayam, gue tiduran di sofa depan tv.
"Re, kok nggak dimakan? Ini gue pesen di tempat langganan biasanya lho." Kak Zee udah duduk di meja makan.
"Nggak kak. Perut gue nolak itu."
"Emang tadi udah makan?"
"Udah, baru juga dua kali masuk mulut. gue udah muntah."
"Waaahh nggak beres tuh. ntar kita priksa ya. jangan-jangan perut elo ada cacing pitanya."
"Nggak usah ngarang ya."
"Serius. makannya ntar priksa. kita ke tempatnya Wening."
gue mendegus kesal. "Iye iye." hal paling baik adalah 'nurut'.
Setelah kak Zee selesai makan, dia langsung nyamperin gue. Duduk di lantai bersandar sofa sambil ngurus kerjaannya yang ada di LN. Ngurusnya lewat ponsel ya.
"Kak, ada kabar tentang Mbak Fikha nggak?"
Kak Zee gelengin kepala. "Roy belum kasih kabar."
__ADS_1
Yaampun mbak, elo kemana sih?? Elo tidur dimana? Ah iya, mbak Betty!! Pasti dia tau mbak Fikha dimana.
Gue langsung beranjak ngambil kunci motor yang ada di atas meja.