Suamiku Masih SMA

Suamiku Masih SMA
S2 BK 20


__ADS_3

**Ada sedikit revisi untuk alur ceritanya. Jika bingung, bisa baca ulang bab sebelumnya dulu.


happy reading❤️**


"Gue pindahin bini gue dulu."


"Kuat nggak? gue aja kalau lo nggak kuat." Eros nawarin diri.


plaakk


"Bosen hidup lo ya!" Re memukul bahu Eros.


"Ya kali lo butuh bantuan."


Re langsung ngegendong Fhika menaiki tangga dan menidurkannya dikamar. Dia kembali turun nemuin teman-temannya.


"Seperginya lo semalem, Tiara nangis nyet."


Re ngeryitkan keningnya. "Apa urusannya sama gue?"


"Lo kaya' nggak tau aja. Dia cewek bar bar. Nggak bakal berenti ngejar elo."


"Terserahlah gue nggak peduli."


"Hahahaha.....dia sampe gesek-gesek dadanya biar Re terangsang." Eros tertawa lepas ingat tingkah Tiara semalam.


"Empuk nggak Re?" Pertanyaan Iqbal yang nggak tau diri banget.


"Anjiirr kepo lo!!" Re nonyor kepala iqbal.


"Jelas empuk lah Bal, Haikal aja nempelin dadanya Wira terus." Sahut Eros.


Giliran Haikal yang nonyor kepala Eros. "Ngintipin aja lo!! Gue congkel juga ya mata lo!!"


Re diam dengan pikirannya sendiri. "Itu ukurannya berapa ya?" dia ingat ukuran milik Fhika yang 34. Cowok normal nggak mungkin ya nggak mikir ngeres.


"Ukuran apaan Re?" Tanya Iqbal dengan keponya.


"Sepatu."


"Aahh udah jangan ngomongin itu. Gue jadi panas ngomongin begituan." Haikal mulai nyalain ponselnya.


"Dan Airin....." Ucap Iqbal kemudian.


"Kenapa lagi dia?"


"Tadi dia ngintrogasi kita didepan sekolah." Jelas Haikal.


"Dia nanyain cewek yang lo bonceng kemarin." sahut Eros.


"Kalian ngomong apa?"


"Kita bilang nggak tau. Tapi yang namanya Airin, nggak bakalan percaya. Sampai dia ngintilin kita ke markas."


"Tadi ngancam mau nyium Haikal. Hahahh..." lanjut Iqbal.


"Annjiiirr eneg banget sumpah!" Seru Haikal. "Bagusan Wina kemana-mana. Kalau dia cowok, udah gue tampol!!"


"Re kaya'nya kita nggak bisa diem gini deh." Eros menunjukkan ponselnya. Sebuah chat dari salah satu teman sekelas.


'gengnya Arlan nyerang lewat gerbang belakang'


mereka ber-empat kompak berdiri. Dan bersiap-siap.


"Bawa senjata nyet!"


"Buat apaan?" Tanya Re dengan polosnya.


"Buat kelon." Sahut Iqbal.


"Begonya kebangetan!" Haikal nonyor kepala Re. "Elo mau tawuran pake tangan kosong?"


"Yaudah yuk cabut."


Mereka berempat pun pergi menuju gerbang belakang.


 


Pukul 10.30 pm


Re baru pulang dari tawuran, pakaiannya yang berantakan, wajahnya yang bonyok tubuhnya pun lemas dan lelah.


Dia langsung masuk apartemen dan menuju kamarnya. Sekarang dia cuma pengen kelonin bininya, itu bisa bikin rasa lelahnya sedikit terobati. Tapi saat masuk kamar, Fhika nggak ada di kamarnya. Dia celikukan cari Fhika, samar dengar suara gemercik air dari kamar mandi.


Aah mungkin dia didalam, pikirnya.


Dia langsung jatuhin tubuhnya diranjang. Beberapa menit kemudian Fhika keluar kamar mandi.


"Re, lo tawuran lagi?!" Fhika merhatiin muka bonyoknya Re. Hampir semua memar. bahkan ini lebih parah dari saat mereka pertama kali bertemu.


Yang ditanya nyengir. "Iya mbak."


"Elo bisa nggak sih berhenti tawuran? Ini bahaya." Ucapnya sedikit berteriak. Karna dia sangat khawatir.


"Kalau musuh gue dah mati pasti berhenti Mbak." Jawab Re dengan santai.


"Iya kalau musuh lo yang mati. Gimana kalau elo yang mati?" mata Fhika mulai berkaca-kaca.


"Gue jagoan mbak."


"Jagoan juga nyawanya cuma satu kan. nggak mungkin dikasih double."


"eh gue nyawanya dua lho." Re nyengir.


"Nggak usah bercanda deh Re. Kepala lo kebacok juga keluar darahnya."


"Jangan doain gitu dong mbak. Diobati kek, atau di elus. Ini malah di omelin. au ah tidur!" Re nutupin wajahnya dengan selimut.


Hening, tak dengar lagi omelan dari fhika. Dia buka kembali selimut yang menutupi wajahnya. Ternyata fhika duduk jongkok dilantai memeluk kedua lututnya sambil nangis.


Re segera mendekati istrinya. "Mbak jangan nangis dong. gue kan jadi serba salah.


"Ya emang elo salah!"


"Salah gue dimana? Gue kan cuma ngebela diri. Mereka yang nyerang duluan. Masa' kita diem aja. Gue juga nggak mungkin biarin temen-temen gue digebukin."


"gue tuh khawatir tau nggak sih!!" fhika kesel banget. Dia beneran khawatir tapi Re sama sekali nggak ngrespon.


"Iya iya. Cup cup cup. sini peluk." Re membuka lebar-lebar kedua tangannya.


Tanpa malu, Fhika masuk kedada Re. Re tersenyum sambil mengelus kepala Fhika.


"Udah, jangan nangis lagi ya." Fhika hanya diam tak menyahut. Hanya mengeratkan pelukannya.


Cukup lama, Fhika hanya diam dipelukan Re.

__ADS_1


"Mbak, masih hidup kan?"


"Diem lo!!" Re nurut, dia mengeratkan pelukannya. Nggak pernah kan istrinya minta begini. moment langkaa.


Setelah Fhika tenang, dia lepasin pelukannya.


"Udah peluknya?" Fhika hanya ngangguk. "bobok yuk. gue capek banget." lagi fhika hanya ngangguk.


"Peluk." Fhika jadiin lengan Re bantal dan nenggelemin kepalanya di dada Re. Tangannya pun melingkar di perut Re.


Tumben banget bini gue gini? Apa gue tawuran terus aja ya? Re senyum sendiri dan lingkarin tangannya dipinggang istrinya. Mereka pun terlelap.


Sabtu 8.30 am


Diluaran sana sudah banyak yang beraktifitas. Tapi beda dengan dua insan yang ada di dalam apartemen nomor 115 ini. mereka masih ngebo dengan posisi yang sama seperti awal tidur.


Hingga cahaya matahari masuk keruangan dan menyilaukan matanya.


"Duuuhh masih ngantuk." Ucap Fhika lirih.


Tapi dia tetap membuka matanya karna sadar jika ini udah siang. Perutnya pun sudah terasa perih. Dia pandangi wajah bonyok suaminya, cukup lama.


Tiba-tiba Re buka matanya. "liatinnya lama bener. Udah jatuh cinta belom?"


"iiihh muka lo jelek banget tuh."


"Morning kiss." Re sudah mengerucutkan mulutnya.


Fhika dorong pakae tangannya. "Nggak ada! gue mau mandi."


Re terkekeh ngeliat tingkah Fhika. Dia kembali nutup matanya karna seluruh badannya terasa sakit.


Selesai mandi, Fhika lanjut turun buat bikin sarapan. Setekah semuanya beres, dia kembali keatas buat manggil suaminya. Eh tapi si dia masih dalam balutan selimut dengan PW nya.


"Re bangun." Diem aja nggak nyahut, nggak gerak.


Fhika tarik selimutnya hingga kebuka semua tubuh Re. "Cepetan bangun dek. Kita sarapan. gue udah lapar." Akhirnya Re mengeliat juga. "Mandi gih. gue tungguin dibawah."


"Mandiin dong mbak."


"Ogah. cepetan!" Fhika berlalu ninggalin kamar.


beberapa menit kemudian Re turun dari kamar. Fhika sudah nungguin didepan meja makan sambil asik chatingan. Re memelankan suara kakinya karna penasaran sama siapa istrinya chating.


Dari belakang terlihat pojok paling atas layar ponsel tulisan *bos Nick*.


"Tuh kan chatingan nya sama kak Nick. Katanya nggak suka. Tapi tiap hari chating terus." Re duduk disebelah Fhika.


"Kalau nggak dibalas, dia pasti langsung telfon. mending balas chat nya aja."


"Kak Nick udah lama ya suka sama elo?" Re mulai menggigit sandwicknya.


"kak Nick cuma chat biasa kok. Dia nggak pernah bilang suka sama gue."


"Jadi elo nya pura-pura beg*?"


"Beg* apaan sih Re!"


"Masa' nggak tau kalau kak Nick suka sama elo?"


Ddrrrtttt drrrrttt


Ponsel Re berdering. Telfon masuk dari Papa.


"............"


"Kapan?"


"............"


"Acara apaan?"


"............."


"Liat ntar Pa."


Telfon pun ditutup. Expresi wajah Re langsung berubah. Dia terlihat badmood.


"Papa kenapa Re?" Tanya Fhika yang mulai penasaran.


"Dia nyuruh kita kesana ntar malam." jawabnya dengan malas.


Fhika yang mengerti keadaan, tak lagi menanyakan hal itu. Ade"Abis ini kita ke supermarket yuk."


"Ngapain?"


"mancing!" Fhika langsung membereskan piringnya dan membawa ke dapur.


Re tertawa kecil melihat Fhika yang sebel.


Ting tung


"Siapa sih pagi-pagi gangguin orang pacaran." Re bangkit dan jalan buat bukain pintu.


"Astagaaa!!!" Terlihat Nick berdiri diluar pintu bersama Zee.


"Kenapa lo? kaya' liat setan." ucap Zee yang liat expresi Re kaget banget.


"Bentar deh, 5 menit ya." Re tutup lagi pintunya, tapi dihadang kedua tangan kakaknya.


"Eehh eehh. ngapain sih?"


"Elo nggak perlu malu. kita juga dah tau kalo lo punya istri."


Akhirnya tangannya tak mampu menahan pintu. Dan dua kakaknya langsung masuk kedalam.


Re mengacak rambutnya. Duuhh gimana kalau Kak Nick tau Fhika itu istri gue ya. Huufftt moga nggak marah.


Mereka berdua duduk di sofa depan tv. Re masih berdiri dengan expresi bingungnya.


"Mana adek ipar gue?" Tanya Zee.


"Lo nggak kenalin ke kita?" lanjut Nick.


"Nanti juga kesini kak."


"Cantik nggak?" tanya Nick.


"Eh nick, tadi kan di rumah ada fotonya. Elo nggak liat?"


"Gue nggak sempet liat."


"Asik chatingan sih lo!" Zee nonyor lengan Nick.


"Re yuk kita berangkat." Fhika keluar dari dapur.

__ADS_1


Spontan mata ketiga cowok itu melihat kearah datangnya suara.


"Itu adex ipar gue?" Tanya Zee sambil tersenyum manis.


Zee cowok berambut coklat agak panjang dikit dan sengaja dikuncir. Kulitnya putih bersih dan hudungnya mancung. imut mirip Re.


"Fhika??!!" Mata Nick melotot kaget. Bahkan dia sampai berdiri. Re hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lo kenal Nick?" Tanya Zee yang melihat expresi wajah Nick berubah. Bahkan sangat sangat terkejut.


"Re, jangan bilang dia istri elo." Nick ngedeketin Re yang berdiri di samping tangga.


"Iii-----iiya dia bini gue." jawab Re dengan gugup.


"Jadi elo ke gep sama Fhika?" Expresi terkejutnya Nick masih ada disana. Dia jalan deketin Fhika. "Fhik, kenapa lo nggak cerita sama gue?"


"Kak Nick, maaf." Ucap Fhika lirih.


Nick menggenggam tangan Fhika. "Elo tau kan dari dulu gue suka sama elo."


Re yang liat tangan istrinya disentuh cowok lain, jelas emosi. Apalagi mendengar pernyataan Nick barusan. Ada emosi yang lebih didadanya.


Zee pun langsung berdiri dengar pengakuan Nick. dia sangat terkejut.


Fhika hanya terdiam menatap Nick. mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Nick.


"gue tau Re ke gep. gue tau ceritanya kok. tapi gue sama sekali nggak mikir kalo gadis itu elo Fhik." Fhika menarik tangannya dari genggaman Nick.


Re dan Fhika sama-sama terdiam melihat reaksi Nick yang ternyata diluar dugaan mereka.


"pernikahan kalian ini nggak didasari rasa cinta. Re nggak suka sama elo dan elo juga nggak suka sama dia. jadi kenapa kalian tetap bertahan?"


Mata Re membulat sempurna. "Elo lagi nyuruh gue ceraiin Fhika??!" tanya Re dengan suara lantangnya.


Fhika sampai membuka sedikit mulutnya karna kaget mendengar pertanyaan Re.


"Tuh lo tau." Nick mencibirkan bibirnya. "ceraiin Fhika! tunggu apa lagi?"


"Setan apa sih yang masukin tubuh lo kak??!!"


"Re!! gue cinta sama Fhika. gue suka sama dia udah lama. gue yang perjuangin dia. kenapa elo yang jadi suaminya??"


"gue nggak minta kak. tapi Tuhan yang ngasih. itu namanya rejeki anak sholeh."


Huufft Re ya. dalam keadaan kek gini, masih aja bisa bercanda. Batin Fhika.


"Stop ya!! Kalian itu saudara. Ingat itu! Nggak boleh kek gini. Gue nggak mau dengar kalian berantem lagi." Sahut Fhika.


Jujur, Fhika bingung dengan keadaan ini. dia tau selama ini Nick selalu baik padanya. tapi dia selalu menganggap kasih sayang Nick tak lebih dari pada seorang kakak yang sayang pada adiknya.


"Makanya ceraiin dia dong Fhik!" ucap Nick.


Fhika mengusap wajahnya dengan kasar. "Kak Nick, kakak butuh nenangin diri. berfikirlah positif. Jangan emosi." Ungkap Fhika dengan lembut.


Re? wajahnya susah digambarkan. Yang jelas dia kesal sama Nick yang nyuruh ceraiin istrinya. Awalnya memang dia tak memiliki perasaan apapun. Tapi semenjak seminggu lebih mengenalnya, ada rasa yang aneh dalam dirinya. Rasa yang terlalu cepat jika disebut cinta. tapi rasa nyaman itu terasa.


Nick mengusap wajahnya dengan telapak tangan secara kasar.


"Kalo kalian nggak mau cerai, gue mau ikut tinggal disini." Ucap Nick tiba-tiba.


"Kak!" Teriak Re dengan keras. " Kakak kan punya apartemen sendiri. kenapa harus tinggal disini?"


"Nick, elo jangan egois gini dong. Elo butuh tenangin diri. Ayo lah jangan gini." Zee mengelus punggung Nick dengan lembut.


"ini kan juga apartemen gue Zee. Apa salahnya gue tinggal disini."


"Ini kan hadiah pernikahan gue."


"iya waktu itu. karna gue nggak tau kalo istri elo itu Fhika."


"Nnjjiirr nggak mutu!" umpat Re dengan amat sangat kesal.


"Salah siapa ngrebut calon kakak ipar!"


"Jadi sekarang mau rebut adik iparnya?!"


"Hey udah udah!! Nggak usah berantem. Kalau gitu gue pergi!!" Fhika berjalan keluar dari apartemen.


"Fhik tunggu Fhik." Nick berlari mengejar Fhika.


"Mbak tungguin!" Re juga berlari mengejar istrinya.


Mereka berdua bertabrakan di mulut pintu.


Zee menepuk jidatnya. "Dua orang sinting!" Dia memilih kembali duduk dan menikmati pertunjukan.


"Elo ngapain sih ikutan keluar?!" bentak Nick.


"Mau ngejar istri lah. Elo ngapain ikut lari?"


"Mau ngejar Fhika lah."


"Dia istri gue. Lo nggak usah ikut kejar dia."


"Kalian masih saja berantem ya!!!" Fhika sudah berdiri didepan mereka. Terlihat raut mukanya yang sangat marah. "Kalo gitu gue akan pindah ke kostan gue yang dulu."


Segera tangannya ditarik oleh kedua lelaki didepannya.


"Jangan mbak. Nanti kalo ada yang masuk kaya' waktu itu gimana?" tanya Re.


"Biar gue di gep lagi. terus nikah lagi!" Jawab Fhika sekenanya.


"Ya udah balik aja ke kost. Ntar gue yang masuk, biar kita nikah." Sahut Nick.


Plaaakk


Reflek Re meninju bahu kakaknya. "Emang gila lo ya!!"


bersambung......


jangan lupa like ya🤣🤣🤣


🌺🌺🌺


**ini terakhir gw up ya gaes...maafken...


yang penasaran sama kisahnya Linxi dan Lira bisa inbox gw...


akun Yuwen Aqsa


novelnya Linxi udah tamat, ada dirumah sebelah. yang novel Lira juga udah tamat.


sekarang gw lagi garap novel anaknya Linxi.


maaf ya...maaf**.

__ADS_1


__ADS_2